
Karena ada baju-baju Linda yang tidak bisa dicuci dengan mesin cuci, ibu Mu'idah tentu saja harus menguceknya dengan manual alias pakai tangan.
Sedang asik mengucek baju, tiba-tiba Linda datang membawa sekeranjang baju kotor, lalu melemparkan baju kotor itu kehadapan ibu Mu'idah.
"Linda! Kamu jangan kurang ajar kepada Ibu! Ibu ini mertua kamu! Bukan pembantu kamu!"
Linda seperti tidak suka dengan ucapan ibu Mu'idah. "Memangnya kenapa kalau Ibu itu mertua Linda?"
"Bukankah Ibu sendiri yang mengajarkan Linda untuk jangan mau ditindas! Hei! Ini Linda! Bukan Shanum yang bodoh itu yang mudah sekali Ibu bodohi!" teriak Linda.
"Tapi walau begitu, Shanum tidak pernah membantah Ibu dan selalu sopan sama Ibu, Linda!"
"Oohh! Sekarang sudah berani membanding-bandingkan Linda sama Shanum yang miskin itu ya! Dasar mertua tidak tahu diri! Kalau begitu, sini! Kembalikan uang yang sudah Linda berikan kepada Ibu. Biar uang itu Linda gunakan untuk mencari pembantu!"
Imran yang mendengar teriakannya Linda dari ruang keluarga, langsung berjalan menuju ke ruang cuci baju.
"Ada apa ini?"
"Tanyakan saja sama ibu, Mas! Lama-lama tidak betah juga berada di keluarga ini yang bisanya cuma menghabiskan uang Linda saja!"
Linda langsung berlalu pergi sambil sengaja menabrak lengan Imran hingga Imran terhuyung ke belakang.
"Ada apa Bu? Jika Ibu capek, sudahlah! Tidak perlu ibu kerjakan. Biarkan saja ini semua. Ibu itu bukan pembantu," ucap Imran sambil memegang tangan sang ibu.
Imran sangat terkejut sekali melihat tangan sang ibu yang banyak melepuh dan terkelupas karena sering mencuci baju banyak.
"Astaghfirullah tangan Ibu! Kenapa bisa jadi begini Bu?"
"Apa karena mencuci baju-baju ini semua?"
Ibu Mu'idah langsung mengangguk membenarkan ucapan Imran.
"Astaghfirullah! Ini sudah tidak bisa Imran biarkan!"
Imran pun langsung ingin memarahi Linda, tapi langsung dicegah oleh ibu Mu'idah. Sebab ibu Mu'idah takut jika Imran bertengkar dengan Linda, lalu Linda meminta uangnya dikembalikan. Mau cari di mana uang sebanyak itu.
"Jangan Imran! Biarkan saja! Ibu tidak apa-apa."
"Tapi Bu ... !"
__ADS_1
Ibu Mu'idah menggelengkan kepalanya. "Sudah! Biarlah. Kamu tenang saja. Ibu masih sanggup ko mengerjakan ini semua."
Imran yang tidak betah mendengar ucapan sang ibu memilih langsung pergi berlalu dari hadapan ibu Mu'idah untuk keluar rumah.
Supaya besok tidak terlalu kaku mengendarai motor dinasnya. Imran pun memilih pergi menaiki motornya untuk keliling kampung.
Sangat pelan-pelan sekali Imran mengendarai motornya. Dan tidak tahukah Imran, selama dia berpapasan dengan para tetangganya, mereka semua langsung saja menghujat Imran. Karena sekarang, Imran mendapatkan istri yang akhlak dan sikapnya sangat buruk sekali.
Perangai Linda yang buruk kepada Imran dan ibu Mu'idah sudah diketahui oleh para tetangganya. Dan para tetangga Imran maupun ibu Mu'idah berpikir, jika semua yang didapatkan mereka berdua itu karena karma sudah menyakiti Shanum.
Selama dua bulan itu juga, Dyah sebagai sang adik baru sekali datang ke rumah sang ibu. Itupun atas paksaan Malik untuk menjenguk ibu Mu'idah.
Jika dulu Dyah akan lebih lama berkunjung di rumah ibu Mu'idah, tapi sekarang, dia cuma sekitar satu jam saja.
Imran menaiki motornya tidak tentu arah, dan tanpa dia sadari stir motornya mengarahkannya ke kampung tempat tinggal Shanum, yang memang tidak terlalu jauh dengan kampung tempat tinggalnya.
"Lho! Ini ko aku bisa sampai kampung ini?" Imran merasa heran sendiri, sebab menyetir sambil melamun lagi. Untung tidak nabrak kali ini.
"Biarlah! Aku mau sekalian bersilahturahmi ke rumah Shanum," ucap Imran.
Imran pun akhirnya mantap menjalankan laju motornya menuju ke rumah Shanum. Namun, ketika baru saja sampai, Imran melihat rumah Shanum pintu dan juga pagarnya tertutup semua.
"Ko pintu pagarnya digembok dari luar. Apa Shanum sedang pergi?"
"Mas Imran?"
Pandangan mata Imran langsung teralihkan ke arah Laila yang menghentikan laju motornya di belakangnya.
"Aku Laila, Mas! Sahabatnya Shanum."
Imran yang tadinya sedikit lupa dengan Laila, akhirnya teringat juga ketika Laila mengingatkannya.
"Ada apa Mas Imran datang ke sini!" nada bicara Laila pun berubah menjadi ketus.
"Mau mencari Shanum? Heh! Lebih baik Mas pergi saja dari sini! Laila muak melihat wajah Mas!"
"Apa maksud ucapanmu itu Laila?" tanya Imran.
"Laila sudah tahu semuanya Mas! Laila tidak menyangka Mas tega menyakiti Shanum seperti itu hingga dia terpuruk."
__ADS_1
"Saya bisa menjelaskannya Laila. Walaupun saya malas menjelaskannya kepadamu," jawab Imran.
"Laila tidak terima Mas! Laila selalu mendoakan yang buruk untuk Mas sekeluarga. Tapi apa Mas tahu? Laila langsung dimarahi Shanum, jika Shanum tahu akan hal itu!"
Hati Imran terenyuh mendengar pengakuan Laila, jika Shanum masih peduli dengannya.
"Kurang apa Shanum itu Mas? Anak? Nanti Allah akan berikan, jika Mas mau bersabar sedikit saja."
Imran masih diam saja mendengarkan uneg-unegnya Laila yang sudah dia pendam untuk Imran.
"Tapi sekarang, Laila sangat senang dan bersyukur Shanum tidak mempunyai anak dari Mas Imran. Karena bibitnya saja buruk, pasti hasilnya akan buruk, kasihan Shanum nanti untuk membimbing dan membesarkannya!"
Sungguh pedas sekali ucapan Laila kepada Imran. Bahkan jantung Imran berdetak lebih kencang daripada mendengar Linda memarahi ibunya.
"Dan satu hal lagi. Kalau Mas mencari Shanum di sini, dia sudah tidak ada! Shanum sudah pergi sangat jauh sekali dari sini bersama suaminya yang sangat kaya raya!"
"Bahkan suami Shanum sangat tampan dan pastinya sangat jauh lebih baik dari Mas Imran!" Laila menatap jijik kearah Imran dari atas ke bawah.
Laila langsung menaiki motornya lagi. Lalu ingin pergi dari hadapan Imran. Akan tetapi malah dihadang oleh Imran.
"Ada apa? Minggir! Mau Laila tabrak biar kakinya pincang dan tidak bisa berjalan."
"Tolong katakan kepadaku Laila. Ke mana Shanum pergi!"
"Hah! Apa tidak salah telinga Laila mendengarnya?"
"Ini spion Mas! Mengacalah. Mas itu siapanya Shanum. Cuma mantan busuk yang harusnya dibuang di tempat sampah!"
Setelahnya, Laila langsung mengegas motornya supaya Imran menyingkir dari hadapannya.
Jika Shanum tahu apa yang diucapkan Laila kepada Imran, pasti dia akan marah. Karena ucapan Laila, walau dia tidak sambil berteriak-teriak, tapi sangat ngena sekali di hati Imran.
Imran hanya bisa memandang kepergian Laila dengan tatapan yang tidak bisa diartikan dengan kata-kata.
Hati Imran tiba-tiba merasa cemburu dan tidak rela mendengar Shanum sudah menikah dengan orang kaya seperti kata Laila tadi.
"Tidak! Pasti Laila cuma memanas-manasiku saja. Biar aku tidak mencari Shanum lagi," ucap Imran.
Imran pun lalu pergi dari situ dalam keadaan pikiran yang semakin kacau saja. Untung saja di situ tidak ramai tetangga berlalu lalang. Coba kalau iya! Pasti Laila dan Imran menjadi tontonan mereka semua.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...