
Dyah dan Laila tidak mengatakan kepada Shanum. Jika semua sayurannya tidak jadi dibagikan kepada para tetangga. Sebab mereka berdua tidak mau membuat Shanum semakin tambah pikiran.
Malik yang mendengar cerita dari Laila dan Dyah juga sangat terkejut, ketika mendengar Emyr yang akan memasak untuk dagangannya Shanum besok.
Semua itu Emyr lakukan, supaya Shanum bisa tetap mempunyai penghasilan. Karena Emyr tahu, hanya dengan berjualan, Shanum mempunyai uang.
Bisa saja Emyr memberikan uang untuk pegangan Shanum. Tapi Emyr sangat tahu sekali, orang seperti Shanum tidak akan berpangku tangan dan pasti akan menolak pemberiannya. Jadi, niat Emyr dengan cara seperti itu, pastilah tidak akan ditolak oleh Shanum. Walau sebenarnya, dia tidak bisa memasak sama sekali. Jangankan memasak, masuk ke dalam dapur saja bisa dihitung pakai jari.
Setelah minum obat tadi, dan menunaikan ibadah sholat maghrib, Shanum memilih langsung tidur dan mengistirahatkan badannya. Yang membuat Shanum jatuh sakit, karena dia kecapekan plus kepikiran ucapan Emyr yang melamarnya, apalagi ucapan mama Mulan yang menyuruhnya untuk ikut Emyr pulang.
Shanum sebenarnya masih belum ingin menikah lagi. Ada rasa trauma di dalam hati untuk membina rumah tangga kembali. Dia takut bila memang dirinya mandul dan tidak akan bisa memberikan keturunan. Semua kejadian ketika menikah dengan Imran masih terus berputar-putar diingatannya. Shanum tidak mau mengalami sakit yang sama untuk ke dua kalinya. Sedangkan rasa sakit yang terdahulu saja belum bisa dia sembuhkan dengan sepenuhnya.
Emyr sendiri malam ini setelah selesai sholat maghrib, dia mengaji sebentar. Kakek Idris dan nenek Khadijah yang mendengar Emyr mengaji, hatinya merasa terenyuh. Mereka tidak menyangka, orang kaya seperti Emyr, bisa sangat taat beribadah, bahkan mengajinya terdengar sangat lancar sekali.
Sambil menunggu sholat isya datang, Emyr yang sudah selesai mengaji, mencoba mencari Nasir yang ternyata sedang duduk di teras samping rumah.
"Nasir!"
Nasir yang sedang membaca buku langsung mengalihkan pandangannya kearah Emyr yang baru saja memanggilnya. Emyr pun juga langsung duduk di kursi sebelahnya.
"Eh! Mas Emyr. Ada apa Mas?"
"Kenapa kamu tadi siang mengatakan kepada papa?"
Nasir terlihat takut dan malu kepada Emyr. "Emm! Nasir sebenarnya tidak mau mengatakan kepada tuan besar, Mas! Hanya saja ... "
Emyr langsung menyelanya. "Papa yang menekanmu untuk mengatakannya?"
Nasir langsung mengangguk. "Benar Mas!"
"Nasir tidak bisa berbohong sama tuan Hisyam. Siapa tahu jika tuan Hisyam sudah mengetahuinya, jalan Mas Emyr untuk mendapatkan mbak Shanum menjadi lancar. Seperti nyonya Mulan yang terlihat langsung menyukai mbak Shanum."
Emyr tersenyum tipis. "Mungkin saya sudah gila. Biasanya saya tidak akan seperti ini bila melihat seorang wanita. Tapi dengan Shanum, hatiku berkata lain."
"Itu yang dinamakan cinta pada pandangan pertama Mas."
"Apakah kamu juga pernah merasakan jatuh cinta Nasir?"
__ADS_1
Nasir seperti menerawang masa lalu. "Pernah. Tapi dulu waktu Nasir masih SMA. Dan ternyata cewek yang Nasir sukai, lebih memilih teman Nasir yang ekonominya lebih kaya."
"Sejak saat itu, Nasir lebih memilih bekerja dan bekerja, daripada memikirkan percintaan. Nasir percaya, jika Allah sudah menyiapkan jodoh untuk kita. Jadi! Daripada Nasir mengejar-ngejar yang tak pasti. Lebih baik waktu Nasir gunakan untuk hal-hal yang berguna."
"Umur kamu dan umur saya 'kan lebih tua kamu! Apakah kamu tidak mau mencari pendamping hidup?"
"Apakah nenek Khadijah dan kakek Idris tidak menyuruhmu untuk segera menikah?" tanya Emyr lagi.
Nasir tersenyum. "Semua orang tua sama saja Mas! Ibu dan bapak sama seperti nyonya dan tuan. Selalu menyuruh Nasir untuk cepat menikah. Tapi bila hati belum menemukan yang pas, mau bagaimana lagi?"
"Bukankah kamu sudah ada Laila? Terlihat dari matamu yang selalu menatapnya dengan berbinar?"
Nasir terlihat malu-malu sambil tersenyum. "Apa terlihat jelas sekali ya Mas?"
Emyr mengangguk. "Kenapa kamu memilih Laila bukannya Shanum?"
"Mbak Shanum bukan tipe Nasir, Mas. Nasir sudah minder terlebih dahulu bila bertemu dengan wanita seperti mbak Shanum. Nasir merasa tidak akan bisa membimbing wanita seperti mbak Shanum, bila kita benar-benar ditakdirkan berjodoh."
"Sekarang Nasir mau tanya. Kenapa Mas tidak tertarik dengan Laila. Padahal wajah Laila yang bisa dilihat jelas oleh mata kita, dibandingkan mbak Shanum yang cuma terlihat matanya saja?"
Emyr menaikan pundaknya. "Saya tidak tahu. Bahkan ketika mereka datang ke sini, saya tidak menyadari ada Laila di samping Shanum. Dan mata saya tidak bisa teralihkan dari Shanum sama sekali." Emyr tersenyum sendiri.
Emyr mengangguk. "Iya! Dia memang baik. Dan kehidupannya sungguh sangat menyedihkan."
Nasir cuma mengangguk-angguk saja. "Ayo tidur! Nanti jam satu pagi kita harus ke rumah Shanum untuk membantunya memasak," ucap Emyr.
"Bukankah Mas Emyr tidak bisa memasak?" tanya Nasir.
"Ini cara saya untuk membantu Shanum, Nasir. Karena orang seperti Shanum tidak akan mudah menerima bantuan dari orang lain."
Emyr lalu menepuk pelan pundak Nasir. Setelahnya, ia langsung berlalu masuk ke dalam rumah untuk mengistirahatkan badannya.
"Semoga mas berjodoh dengan mbak Shanum," ucap tulus dari Nasir.
Sedangkan berpindah tempat. Lebih tepatnya di rumah Imran.
Saat ini Imran terlihat mengambil bantal dan selimut yang akan ia bawa keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Linda yang melihat langsung bertanya kepadanya. "Untuk apa bantal dan selimut itu Mas?"
"Mas mau tidur di ruang keluarga!" Imran langsung berlalu pergi dari dalam kamar.
Melihat Imran pergi, Linda langsung beranjak dari atas ranjang untuk mendekatinya. "Mas! Bagaimana kita bisa punya anak, sedangkan Mas sendiri malah menghindari Linda?"
"Biarkan malam ini Mas sendirian dulu Linda. Mas sedang tidak ingin berdebat denganmu!"
"Tapi Mas ... "
"Cukup Linda! Sekali saja berikan ketenangan di dalam rumah ini!"
Imran langsung meninggalkan Linda dan berlalu menuju ke ruang keluarga. Linda sendiri lalu memilih masuk ke dalam kamar dan marah-marah tidak jelas.
Sedangkan Imran yang sudah merebahkan tubuhnya di karpet tebal yang ada di ruang keluarga, malah melamun tidak jelas. Sebab yang ia lamunkan adalah Shanum.
"Kenapa aku merindukan Shanum sekarang. Apa kabar dia di sana? Sungguh aku menyesal sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Shanum." Imran berbicara sendiri di dalam hatinya.
"Jika seumpama aku yang mandul. Pasti aku akan sangat malu sekali bila bertemu dengannya."
Lagipula, jika kamu ingin bersujud di bawah kakinya. Shanum tetap tidak akan mau kembali lagi kepadamu ko Imran. Rasa sakit yang kamu berikan, tidak akan pernah bisa Shanum lupakan sampai kapanpun.
Imran malam itu benar-benar pisah kamar dengan Linda. Sebab malam itu, Imran sedang tidak mood melihat Linda.
Seperti ucapan Emyr tadi. Tepat jam satu dini hari, Emyr dan Nasir sudah datang ke rumah Shanum.
Shanum yang sudah berniat hari itu tidak berjualan, merasa heran ketika mendengar di dapur rumahnya sangatlah berisik.
Dengan langkah kaki yang lemas, Shanum berjalan menuju ke dalam dapur. Sesampainya di dalam dapur, Shanum langsung melihat Dyah, Laila, Emyr, Nasir dan juga Malik, sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Ka-kalian sedang apa?"
"Memasak! Untuk berdagang besok?" jawab serempak dari mereka semua.
"Hah!" Shanum langsung memegangi dadanya karena terkejut.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...