
Berpindah tempat ke rumah super mewah Emyr.
Papa Hisyam yang baru saja masuk ke dalam kamar, merasa heran melihat sang istri sedang tersenyum sendiri tidak jelas begitu.
"Mama kenapa? Kenapa Mama senyum-senyum sendiri seperti orang gila."
Mama Mulan langsung menjawabnya. "Enak saja Papa bilang! Mama ini sedang merasa senang. Karena baru saja melihat wajah calon istrinya Emyr."
Papa Hisyam terlihat berpikir. "Melihat calon istri Emyr? Di mana?"
"Ish Papa!" mama Mulan terlihat gemas dengan sang suami.
"Apa gunanya telepon. Ya melalui sambungan video call lah Pa!"
"Memangnya Emyr mau memperkenalkan calon istrinya?"
Mama Mulan mengangguk semangat. "Mau dong Pa. Emyr mana bisa membantah Mama. Ini lihatlah, tadi Mama sudah menscreenshotnya."
Mama Mulan memberikan ponselnya kepada sang suami, untuk memperlihatkan wajah Shanum yang ketika melakukan video call sengaja di screeshot mama Mulan.
"Dia bercadar Ma?"
Mama Mulan mengangguk lagi. "Huum. Suaranya manis dan lembut sekali. Semoga saja dia benar-benar gadis yang baik seperti penampilannya."
Papa Hisyam terlihat tidak yakin. Sebab Shanum cuma terlihat matanya saja. "Jangan cepat menilai Ma! Sebelum mengenalnya secara langsung."
"Papa tenang saja. Nanti dia akan ikut Emyr berkunjung ke sini ko!"
Papa Hisyam terlihat terkejut. "Apa! Bagaimana bisa?"
Mama Mulan tersenyum simpul. "Bisa dong. Mama gitu lho!"
Papa Hisyam lalu cuma menggelengkan kepalanya saja tidak menanggapi ucapan sang istri lagi. Dia bisa melihat, jika mama Mulan saat ini terlihat sangat bahagia sekali.
Tidak tahukah Emyr. Karena kesibukannya yang tidak pernah memikirkan urusan percintaan dan lebih mementingkan urusan pekerjaan. Cuma karena mendengar dirinya sudah mempunyai calon istri. Mama Mulan bisa sangat begitu bahagia sekali. Apalagi jika nanti istri Emyr hamil. Bisa jadi, mama Mulan akan mengadakan syukuran besar-besaran untuk meluapkan kebahagiaan yang sedang dirasakannya.
Sebenarnya kebahagiaan orang tua itu simple, tidak mahal, dan tidak perlu repot-repot harus ini dan itu. Kita sebagai anak, cuma harus menurut semua nasihat yang mereka berikan. Hati mereka sudah sangat bahagia sekali. Contohnya saja mama Mulan.
Meninggalkan mama Mulan, kita kembali ke Shanum lagi.
Di saat semua orang sedang sibuk menggoda Shanum. Tiba-tiba Laila meminta ijin kepada nenek Khadijah untuk menumpang di kamar mandi.
"Kamar mandinya ada di belakang sebelah sana ya Neng!"
__ADS_1
Laila hanya mengangguk saja, dan dia lalu segera menuju ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan apa yang sedang dirasakannya.
Selesai dari dalam kamar mandi, karena berjalan sambil membenarkan hijab yang dipakainya, Laila sampai tidak sengaja menabrak Nasir yang baru saja keluar dari dalam dapur untuk mengambil air putih.
"Astaghfirullah!" ucap Nasir dan Laila secara bersamaan.
"Aduh Mas Nasir! Maafkan Laila. Laila tidak sengaja. Jadi basah bajunya."
Nasir tersenyum tipis. "Tidak apa-apa ko Neng Laila. Ini cuma baju, nanti saya bisa ganti baju lagi."
Laila masih terus terlihat tidak enak dengan Nasir. "Benar nih! Tidak apa-apa?"
Nasir mencoba tersenyum untuk meyakinkan Laila. "Benar ya Neng Laila."
"Emm! Atau begini saja. Supaya saya mau memaafkan Neng Laila. Maukah Neng Laila memberikan nomor ponselnya kepada saya?"
Laila menatap ponsel Nasir yang sedang disodorkan kepadanya.
Antara mau dan tidak mau, sebab Laila merasa malu. "Kenapa diam saja Neng? Catatlah langsung di sini." Nasir terus mendesak Laila.
Akhirnya, setelah berpikir beberapa saat, Laila mau mengambil ponsel Nasir dan mencatat nomor ponselnya di dalamnya.
"Tulis juga namanya Neng. Kasih nama Neng Laila."
Laila cuma mengangguk saja. Dia langsung memberikan nama nomornya di ponsel Nasir seperti yang dikatakan oleh Nasir.
Nasir tersenyum. "Ok! Terimakasih!"
"Ini! Tolong ambilkan air minum lagi dong, untuk mas Emyr! Saya mau ganti baju dulu."
Laila hanya mengangguk saja. Dia langsung menggantikan Nasir untuk mengambilkan air minum untuk Emyr.
Ketika Laila memberikan air putih itu kepada Emyr, dia langsung di tanya oleh Medina.
"Ko! Mbak Laila yang mengambilkan air putih untuk mas Emyr? Kak Nasir di mana?"
"Dia mau ganti baju sebentar. Tadi tidak sengaja ... "
"Bajuku basah, karena terciprat ketika cuci tangan," Nasir melanjutkan ucapan Laila.
"Oh!" tapi Medina malah menatap curiga kearah sang kakak dan juga Laila. Sebab Nasir menatap Laila dengan senyuman yang tidak biasanya. Apalagi Laila terlihat senyum malu-malu begitu.
Karena dirasa mereka sudah cukup lama berbincangnya, apalagi baby Fatiyah sudah rewel karena merasa mengantuk, akhirnya Shanum dan yang lainnya berpamitan pulang kepada kakek Idris, nenek Khadijah, Emyr, Nasir, Medina dan juga Rafi.
__ADS_1
Salam dari Shanum, Laila, Dyah dan Malik, tentu saja langsung dijawab serempak oleh kakek Idris serta yang lainnya. Dan saat ini Shanum, Dyah, Laila dan Malik sudah sampai di ruang tamu rumah kontrakan Shanum.
"Emm! Shanum! Kamu beneran mau ikut mas Emyr pulang ke rumahnya?"
Shanum terlihat bingung menjawab ucapan Laila. "Entahlah Laila. Aku bingung. Aku bingung harus apa?"
Dyah yang memang ingin menjodohkan Emyr dengan Shanum mencoba mengompor-ngomporinya. "Mbak tadi 'kan sudah berjanji sama mamanya mas Emyr. Jangan membuat hati mama mas Emyr merasa bersedih. Anggap saja kunjungan Mbak sebagai silahturahmi dengannya. Jangan dibuat beban pikiran, santai saja."
"Jodoh tidak akan ke mana Mbak. Jika Mbak benar-benar berjodoh dengan mas Emyr. Setidaknya, Mbak sudah sedikit tahu bagaimana karakternya."
"Kalau tidak! Ya! Bertemanlah sewajarnya dengan mas Emyr dan mamanya."
Seperti sedikit mendapatkan pencerahan dari Dyah. Shanum langsung menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum tipis dibalik niqabnya.
"Mbak mau istirahat dulu di dalam kamar. Di sini cuma ada satu kamar saja. Nanti Mbak bisa tidur di kasur lantai. Dan maaf, Malik nanti tidur di ruang tamu saja ya."
Malik mengangguk. "Mbak tenang saja. Malik bisa tidur di mana saja ko."
Shanum cuma mengangguk saja. Dia pun langsung berlalu masuk ke dalam kamar meninggalkan mereka bertiga. Dirasa Shanum sudah benar-benar masuk ke dalam kamar. Dyah segera ingin memberitahukan siapa Emyr sebenarnya kepada Malik dan Laila.
"Apa sih yang ingin Mbak Dyah sampaikan. Kenapa kita harus bisik-bisik begini?" ucap Laila.
"Ini tentang mas Emyr," jawab Dyah.
"Memangnya mas Emyr kenapa Mama?" tanya Malik.
"Ayah masih ingat laki-laki super kaya yang menemukan ponsel mbak Shanum dulu?"
"Pastilah Ayah masih ingat Ma!"
"Jangan bilang, jika mas Emyr yang tadi adalah mas Emyr yang dulu."
Dyah langsung menganggukkan ucapan sang suami. Dan Malik cukup terkejut mendengarnya.
"Apakah itu benar Ma?" Malik terlihat seperti kurang yakin.
"Benar Ayah! Tadi ada yang menelpon Mama! Dan yang menelpon adalah mas Emyr untuk memastikan kalau kita adalah orang yang pernah bertemunya dulu. Ini lihatlah!"
Dyah memberikan ponselnya kepada Malik, untuk memperlihatkan panggilan masuk tadi di dalam ponselnya.
Sedangkan Laila masih belum mengerti apa yang sedang Dyah dan Malik bicarakan. Jadi yang bisa dilakukannya cuma memperhatikan saja antara Dyah dan Malik.
Mengobrol mereka terhenti sebentar, ketika Shanum tiba-tiba keluar dari dalam kamar. Mereka langsung berpura-pura mengobrol biasa supaya Shanum tidak mengetahui pembicaraan yang mereka bicarakan tadi.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...