JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
BERBAHAGIA


__ADS_3

Emyr menunggu Shanum sambil bersandar di tembok samping pintu kamarnya. Dia terus tersenyum sendiri sambil juga menetralkan degup jantungnya yang sedang bertalu-talu. Tiba-tiba pandangan matanya teralihkan kearah Shanum yang baru saja keluar dari dalam kamar dan sudah berganti pakaian yang lebih nyaman menurutnya.


"Sudah sayang?"


Shanum cuma mengangguk saja. Emyr pun lalu memegang tangan Shanum untuk dia genggam dengan erat.


Semua orang yang melihat Emyr dan Shanum turun dari lantai dua, langsung pada berdiri untuk menyambut kedatangan mereka.


"Maaf!"


"Maaf sudah membuat kalian semua menunggu dan khawatir dengan saya," ucap Shanum lagi.


"Bagaimana keadaan kamu Nak?" tanya mama Mulan.


"Sudah lebih baik Ma! Terimakasih Mama sudah perhatian sama Shanum."


"Tentu saja Mama akan selalu perhatian kepadamu. Kamu ini anak Mama!"


Shanum tersenyum, lalu memeluk mama Mulan untuk menyalurkan rasa terharunya.


"Syukurlah bila kamu tidak kenapa-kenapa Nak!" ucap papa Hisyam.


"Ayo kita selesaikan acara hari ini. Kalian semua bisa menikmati semua hidangan yang sudah kami sediakan," ucap Emyr.


Shanum dan Emyr lalu duduk di pelaminan yang sudah disediakan sebelumnya. Di atas pelaminan, Emyr sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangan Shanum.


Emyr benar-benar bahagia sekali. Dia terus tersenyum sambil memandang Shanum dengan tatapan memuja.


"Kakak kenapa menatap Shanum seperti itu! Shanum malu Kak!"


Emyr lalu berbisik di telinga Shanum. "Boleh nggak sih kita tinggal di dalam kamar saja. Kakak sudah tidak tahan ingin berdua saja bersamamu!"


Shanum yang mendengar, refleks langsung memukul paaha Emyr. Hal itu membuat Emyr langsung berpura-pura merasa kesakitan.


Meninggalkan Emyr dan Shanum. Kita beralih kepada Laila.


Melihat Nasir yang berjalan kearahnya. Senyum Laila pun terlihat mengembang dengan sempurna.


"Kamu sangat cantik sekali Laila!"


Laila semakin malu mendengar pujian dari Nasir. "Apakah Mas Nasir akan selalu menggombal seperti ini bila melihat wanita cantik?"


Nasir menggelengkan kepalanya. "Tidak! Mas tidak pernah menggombal sama sekali kepada perempuan."


"Hanya kamu Laila yang bisa membuat Mas nyaman. Apakah kamu mau menikah dengan Mas, Laila?"


Laila yang awalnya tersenyum, langsung diam seketika mendengar lamaran dari Nasir.


"Mas serius Laila. Mas ingin mengakhiri masa lajang Mas. Apakah kamu mau dengan Mas?"


"Datanglah ke rumah bersama kakek Idris dan nenek Khadijah jika Mas benar-benar serius sama Laila."


"Tapi! Apakah kamu tidak malu jika Mas cuma bekerja menjadi seorang sopir?"

__ADS_1


"Tidak! Untuk apa malu Mas! Selagi pekerjaan itu halal. Untuk apa malu?"


Nasir tersenyum. Hatinya semakin yakin dan mantap untuk meminang Laila.


"Tunggu kedatangan Mas ke rumah ya Laila. Mungkin setelah resepsi pernikahan mas Emyr dan mbak Shanum."


"Dan maafkan Mas sebelumnya jika nanti Mas akan jarang menghubungimu. Karena setiap keluarga mas Emyr mempunyai acara, pasti akan selalu sibuk."


Laila mengangguk mengerti. "Iya! Tidak apa-apa. Laila mengerti ko. Yang penting Mas selalu jaga kesehatan dan jaga hati itu yang paling terpenting."


Nasir dan Laila lalu tersenyum bersama-sama. Mereka mengobrol santai dan ringan cuma berdua saja.


Sedangkan Dyah dan Malik. Mereka saat ini hampir mirip dengan Laila dan Nasir. Cuma bedanya yang menjadi topik pembicaraan mereka adalah Shanum dan Emyr.


"Tadi mbak Shanum pingsan kenapa Ma?"


"Dia syok! Karena baru saja jadi orang kaya." Dyah tertawa pelan.


"Wajar saja lah Ayah. Orang seperti mbak Shanum yang tidak pernah mempunyai uang banyak, pastinya akan syok bila mendapatkan kekayaan secara mendadak seperti itu."


"Iya! Ayah mengerti!" ucap Malik sambil ikut menatap kearah ke dua mempelai yang sedang berbahagia di atas pelaminan.


"Ayah ikut senang melihat mbak Shanum akhirnya bisa berbahagia setelah melawan penderitaannya selama ini."


"Semoga saja mas Imran tidak berbuat nekat," ucap Malik lagi.


"Kemarin, Mama mendengar dari teman Mama. Katanya mas Imran baru saja bertengkar hebat dengan Linda."


Dyah menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu. Mama tidak peduli. Itu urusan mereka."


"Apakah ibu tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga mas Imran?"


"Kemungkinan tahu Ayah. Ayah 'kan tahu sendiri bagaimana ibu."


Malik mengangguk. "Biarlah! Yang penting sekarang mbak Shanum sudah menjadi milik mas Emyr. Dan lihatlah bagaimana cara mas Emyr memandang mbak Shanum. Penuh dengan cinta."


"Ayah benar. Terlihat jelas sekali di mata mas Emyr. Bila dia sangat mencintai mbak Shanum."


"Semoga mereka sakinah, mawaddah dan warrahmah. Aamiin."


Malik pun juga langsung mengaamiinkan ucapan sang istri.


Kembali ke pengantin baru kita, siapa lagi kalau bukan Emyr dan Shanum.


Shanum daritadi hanya bisa tersenyum dan melongo saja ketika para keluarga Emyr sedang menyalaminya. Sebab pasalnya, mereka berbicara kalau tidak menggunakan bahasa inggris ya bahasa Turki. Shanum mana tahu ke dua bahasa itu.


"Shanum terlihat bodoh ya Kak, karena nggak bisa berbahasa inggris dan Turki."


Emyr menenangkan Shanum. "Tidak! Bagi Kakak kamu itu sempurna."


Pembicaraan mereka terhenti lagi, ketika lagi-lagi keluarga Emyr menyalami dan memberikan selamat kepada mereka. Shanum hari itu mendapatkan banyak kado dari para keluarga Emyr dan orang-orang terdekatnya.


Acara pernikahan itu berlangsung hingga pukul dua belas siang. Keluarga besar Emyr pun sudah pada kembali ke hotel tempat mereka menginap. Dan tersisalah orang-orang terdekat Shanum saja yang ada di situ.

__ADS_1


"Nak! Sepertinya Ibu, bapak dan juga Laila harus pamit pulang."


"Biar nanti diantar sama sopir saya, Bu!" bukan Shanum yang menjawab, melainkan Emyr.


"Tidak perlu Tuan Emyr. Kami bisa naik angkot."


"Tidak apa-apa ko Bu. Ini ucapan terimakasih saya karena sudah mau menemani Shanum dan Bapak juga sudah mau menjadi saksi di pernikahan saya," jawab Emyr.


"Terima saja Bu. Kami akan merasa senang," ucap Shanum.


"Terimakasih banyak Tuan Emyr. Shanum."


Shanum dan Emyr hanya mengangguk saja. Laila dan ke dua orang tuanya, akhirnya kembali pulang juga ke rumahnya diantar salah satu sopir Emyr. Sedangkan Nasir, harus mengantarkan ke dua orang tuanya dan juga adik beserta adik iparnya pulang ke rumah.


"Semoga berbahagia ya Nak. Nenek doakan, semoga kamu segera punya momongan," nenek Khadijah memegang lembut ke dua tangan Shanum.


"Percayalah, jodoh, maut dan anak, itu semua hanya Allah yang tahu. Jadi jangan putus asa untuk selalu meminta doa kepada-Nya."


Shanum tersenyum, lalu memeluk nenek Khadijah dengan lembut. "Terimakasih Nek. Hati-hati di jalan ya."


Nenek Khadijah lalu menyusul masuk ke dalam mobil. Mereka saling melambaikan tangan kepada Emyr, Shanum, mama Mulan dan papa Hisyam.


Sekarang cuma tinggal Dyah dan Malik saja. "Sepertinya kita harus berpamitan pulang juga Mbak Shanum."


"Tapi janji ya! Nanti datang ke acara resepsinya."


"Siap Mbak!" Dyah mengangkat tangannya hormat kepada Shanum.


Dyah dan Malik lalu berpamitan kepada Emyr, Shanum, mama Mulan dan juga papa Hisyam. Sekarang karena tidak ada lagi orang yang ingin berpamitan pulang. Emyr langsung mengajak Shanum dan ke dua orang tuanya untuk kembali masuk ke dalam rumah.


"Nanti yang akan membereskan itu semua siapa Kak?"


Emyr menjawab sambil berjalan beriringan dengan Shanum. "Nanti akan ada orang yang membersihkannya. Ayo kita istirahat dulu. Sekalian sholat dhuhur, sebelum tidur siang," Emyr tersenyum menggoda.


Shanum refleks memukul lengan Emyr. "Jangan begitu, malu sama mama dan papa.


Emyr dan Shanum langsung menolehkan kepala ke belakang. "Kami tidak melihat dan tidak mendengar ko. Ayo Ma! Kita sholat dhuhur juga. Rasanya Papa sudah gerah sekali mau mandi. Apa Mama mau mandiin Papa?"


Papa Hisyam pintar juga menggoda sang pengantin baru. Mama Mulan langsung tertawa dan mengikuti langkah kaki sang suami yang masuk ke dalam kamar.


"Sepertinya Kakak juga mau di mandikan deh kayak Papa."


Shanum melotot. "Kakak!"


Tiba-tiba Shanum menjerit, sebab tanpa kode, Emyr langsung menggendongnya ala bridal style untuk dia ajak masuk ke dalam kamarnya.


"Kakak tidak mau menunggu malam tiba. Bila bisa dilakukan sekarang, kenapa harus menunggu malam!"


Shanum langsung menyembunyikan wajahnya di dada Emyr. Dia benar-benar malu dengan sikap Emyr kepadanya yang terlihat sudah tidak sabaran sekali.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2