
Mama Mulan melihat dengan jelas raut wajah Shanum yang sedang bersedih karena kedatangan Imran tadi. Bahkan, saat ini Shanum hanya diam saja dengan tatapan kosong ke depan.
Tidak cuma mama Mulan saja yang memperhatikan Shanum, melainkan Emyr juga.
"Emm! Shanum!"
Shanum bahkan sampai tidak menyadari ketika dipanggil oleh mama Mulan. Emyr yang duduk didekatnya lalu mengusap punggung Shanum untuk menyadarkannya yang sedang melamun.
"Eh! Iya Kak Emyr! Ada apa?"
"Dipanggil mama."
Shanum langsung mengalihkan pandangannya kearah mama Mulan. "Apa Mama memanggil Shanum?"
Mama Mulan mengangguk. "Apakah kita jadi ke makam ke dua orang tua kamu?"
"Mama serius mau mengunjungi makam ibu dan ayah?"
Mama Mulan mengangguk lagi. "Mama serius Nak."
"Baiklah! Di depan nanti lurus sedikit lalu belok kanan ya Kak."
Emyr hanya mengangguk saja. Dia langsung mengikuti intrupsi yang diarahkan oleh Shanum. Dan dari jauh matanya sudah melihat sebuah gapura pemakaman.
"Apakah itu makamnya Shanum?"
Shanum hanya mengangguk saja. Setelah mobil sudah diparkirkan oleh Emyr. Shanum dan yang lainnya langsung turun dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam makam.
Mama Mulan, Emyr dan juga papa Hisyam, mengikuti ke mana langkah kaki Shanum melangkah.
Tidak lama, langkah kaki mereka berhenti tepat di samping sebuah makam.
"Ini Ma! Makam Ibu. Dan di sampingnya itu makam Ayah."
Shanum lalu berjongkok di tengah-tengah makam ke dua orang tuanya. "Ayah! Ibu! Maafkan Shanum yang belum sempat membersihkan makam kalian." Tanpa sadar air mata Shanum menetes.
"Nanti Kakak akan menyuruh Nasir atau yang lainnya membersihkan makam mereka," ucap Emyr.
"Apakah di sini tidak ada pengurus makamnya Shanum?"
"Ada Pa! Hanya saja Shanum tidak mampu membayarnya. Jadi! Shanum usahakan setiap minggu ke sini untuk membersihkannya," jawab Shanum.
"Namun, karena berhubung beberapa bulan ini Shanum pindah ke luar kota, jadinya sudah banyak rumput yang memenuhi makamnya."
Mendengar cerita dari Shanum, papa Hisyam menjadi iba dan juga kasihan.
"Ayo! Lebih baik kita segera berdoa."
Semua orang mengangguk kepada Emyr. Emyr lalu memimpin jalannya doa. Mereka membacakan yasin dan tahlil sebisa mereka dengan niat ingin mendoakan ibu Yasmin dan ayah Umar.
__ADS_1
Selesai berdoa, mama Mulan terlihat mengusap nisan ibu Yasmin.
"Yasmin! Maafkan aku!"
"Sudah lama kita tidak bertemu. Tapi sekalinya bertemu, hanya batu nisanmu yang bisa aku lihat," air mata mama Mulan membasahi pipi.
"Ma! Tenanglah. Jangan membuat Shanum semakin bersedih."
Mama Mulan lalu mengalihkan pandangannya kearah Shanum. "Maafkan Mama, Nak! Mama tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih."
Shanum tersenyum sambil menggenggam tangan mama Mulan. "Shanum tidak apa-apa ko Ma!"
"Mama janji. Mama akan menjadi mama yang baik untuk kamu sebagaimana Yasmin dulu memperlakukanmu."
Shanum tersenyum dan terenyuh. "Terimakasih Ma! Terimakasih!"
"Shanum seperti mempunyai keluarga lengkap lagi sekarang," ucap Shanum lagi.
Papa Hisyam, mama Mulan dan juga Emyr tersenyum mendengar Shanum berkata seperti itu.
Setelahnya, mereka berempat pun lalu beranjak pergi dari makam tersebut. Papa Hisyam sengaja berjalan berdampingan dengan Emyr, karena ada yang ingin dia bicarakan.
Papa Hisyam berbicara sedikit berbisik, supaya Shanum tidak bisa mendengarnya. "Emyr! Kamu bayar penjaga makam untuk selalu membersihkan makam ke dua mertuamu. Kalau bisa diperbagus lagi makam mereka."
Emyr mengangguk setuju dengan ucapan sang papa. Setelah sampai didepan mobil, mereka semua langsung segera masuk ke dalamnya.
Selama perjalanan pulang ke rumah. Shanum sama sekali tidak banyak berbicara. Dia memilih diam dengan menyandarkan kepalanya disandaran kursi. Bahkan mereka pun sampai lupa untuk makan siang, karena kejadian Imran tadi yang datang mengejutkan mereka.
Emyr hanya mengangguk saja. Dan ketika dia melihat ada sebuah restoran, Emyr pun langsung membelokkan setirnya.
Papa Hisyam dan mama Mulan sudah turun terlebih dahulu. Jadi tinggallah Shanum saja di dalam mobil bersama Emyr.
Emyr mengusap pundak Shanum dengan lembut. "Shanum! Ayo kita makan dulu."
Shanum menggelengkan kepalanya. "Shanum tidak lapar Kak! Bolehkah Shanum berada di dalam mobil saja?"
"Jika kamu tidak mau turun. Kakak juga tidak akan turun. Jika kamu tidak mau makan. Kakak juga tidak akan makan."
Shanum mengalihkan pandangannya kearah Emyr. "Kenapa Kakak bilang begitu. Nanti kalau Kakak sakit bagaimana? Kakak punya tanggungjawab terhadap semua karyawan Kakak."
"Kakak tidak cuma bertanggungjawab dengan mereka. Tapi denganmu juga Shanum."
"Buat apa Kakak berhasil menyenangkan mereka, tapi istri Kakak sendiri tidak merasa bahagia."
"Tapi Kak?"
"Tapi apa Shanum?" tanya Emyr.
"Apa kamu masih meragukan cinta Kakak?"
__ADS_1
"Apa kamu masih tidak percaya jika Kakak tidak seperti Imran?"
"Bukalah matamu Shanum. Biar bisa melihat dengan jelas, jika Kakak tidak seperti dia."
Setelah mengatakan itu, Emyr langsung keluar dari dalam mobil dan meninggalkan Shanum sendirian.
Shanum merasa tertampar mendengar Emyr berkata seperti itu kepadanya. Tanpa adanya paksaan lagi, Shanum pun lalu keluar dari dalam mobil dan berjalan menyusul Emyr yang sudah masuk ke dalam restoran.
Selesai mengisi perut yang sudah kosong, mereka lalu melanjutkan lagi perjalanan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Shanum meminta ijin ingin segera masuk ke dalam kamar.
Ketika jam makan malam tiba, mama Mulan, Emyr, dan juga papa Hisyam sangat memperhatikan Shanum sekali. Sebab saat ini dia makannya cuma sedikit. Disuruh nambah pun katanya sudah kenyang. Selesai makan malam, Shanum juga memilih langsung tidur. Hal itu membuat Emyr menjadi khawatir dengan keadaannya Shanum.
Pagi harinya, disaat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Wajah Shanum yang awalnya terlihat bersedih, sekarang terlihat sumringah dan juga bahagia.
Bagaimana dia tidak bahagia, jika saat ini dia melihat Dyah, Malik dan juga baby Fatiyah sedang datang berkunjung ke rumah Emyr.
"Dyah!"
Shanum menyambut dan memeluk Dyah dengan erat. Mama Mulan yang melihat kedatangan mereka bertiga juga menyambutnya dengan ramah.
"Wah! Lucu sekali dia! Siapa namanya?" mama Mulan langsung menyapa baby Fatiyah.
"Fatiyah, Nenek!" jawab Dyah.
"Ayo-ayo mari silahkan duduk!" mama Mulan sangat ramah sekali kepada Dyah dan Malik.
Karena sudah sangat lama sekali ingin mempunyai cucu, mama Mulan langsung mengajak bercanda baby Fatiyah.
"Dyah! Malik! Kalian ko bisa sampai di sini?"
Dyah dan Malik tersenyum kepada Shanum. "Semalam, mas Emyr menelpon Malik, Mbak. Mas Emyr menyuruh Malik untuk mengantarkan Dyah berkunjung ke rumahnya."
"Iya Mbak! Mas Emyr sangat khawatir melihat Mbak terus melamun dan murung," sambung Dyah.
"Jadi kalian, apakah sudah tahu ...?"
Dyah dan Malik mengangguk. "Kami sudah tahu semuanya Mbak. Karena setelah mas Imran datang ke rumah Mbak, dia langsung menemui Dyah. Dan mas Emyr juga sudah menjelaskan semuanya ditelepon," jawab Malik.
"Sudahlah Mbak. Jangan terus Mbak pikirkan."
Shanum mengangguk. "Iya! Mbak sudah tidak memikirkannya lagi ko sekarang."
"Ngomong-ngomong! Mas Emyrnya ke mana ya Mbak?" tanya Malik.
"Tadi sedang keluar sebentar sama papa. Katanya mau mengecek gedung untuk pernikahan kami."
"Cie-cie!"
Dyah langsung menggoda Shanum. Shanum pun langsung malu karena ulah Dyah. Mama Mulan dan Malik juga tertawa melihat Shanum malu-malu begitu.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...