
Sesampainya di dalam kamar, Emyr sama sekali tidak memperbolehkan Shanum pergi dari hadapannya. Dia terus memeluk mesra pinggangnya dan menatapnya dengan begitu memuja serta terpesona.
"Apakah kita berdua harus terus berpelukan begini Kakak?"
Emyr tidak menjawab, dia terus memandangi Shanum sambil tersenyum manis.
Shanum lalu memegang dahi Emyr. "Nggak panas! Apa jangan-jangan Kakak kesurupan?" canda Shanum.
Emyr lagi-lagi hanya tersenyum saja, dia lalu melepaskan dengan perlahan niqab yang menutupi wajah sang istri. Shanum juga diam saja ketika Emyr akan melepaskan niqabnya.
"Sungguh bodoh si Imran melepaskan wanita secantik Shanum. Aku jadi penasaran, seperti apa sih istri Imran saat ini?" Emyr berbicara di dalam hatinya.
"Kamu cantik sayang."
Shanum tersenyum. Emyr lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Shanum. "Apakah Kakak boleh meminta hak Kakak sekarang?"
Dengan malu-malu, Shanum menganggukkan kepalanya. "Silahkan!"
"Tapi sebelumnya, ayo kita sholat dua rakaat dulu sebelum kita melakukan itu Kak. Supaya kehidupan rumah tangga kita selalu dilindungi oleh Allah Subhanahu wata'ala."
Emyr terlihat berpikir. Sebab dirinya jujur baru pertama kali mendengar sholat sunnah dua rakaat itu.
Tapi Emyr sangat pintar sekali menyembunyikan rasa ketidaktahuan itu kepada Shanum. "Baiklah! Kamu bersih-bersih dulu di dalam kamar mandi. Kita nanti sholat dhuhur dulu. Baru menunaikan sholat sunnah itu."
Shanum mengangguk. Dia lalu melepaskan pelukannya Emyr dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Emyr langsung membuka ponselnya untuk browsing tentang sholat sunnah dua rakaat yang di maksud oleh Shanum.
"Oh! Ternyata sholat sunnah ini tho!"
Emyr tersenyum. "Aku tidak salah memilih seorang istri. Bahkan dia mengingatkanku untuk beribadah dulu sebelum meminta hak ku."
"Baiklah! Ayo kita laksanakan!" Emyr terlihat bersemangat untuk segera melakukan sholat dhuhur dan sunnah tersebut.
Hal yang belum diketahui oleh Shanum adalah Emyr orangnya suka usil dan jahil. Sedang asik mandi di bawah guyuran air shower, tiba-tiba Emyr langsung membuka pintu kamar mandinya.
"Aaaaaaa!" Shanum yang terkejut tentu saja langsung membelakangi Emyr.
"Kakak ke-kenapa masuk ke sini!"
Emyr tidak menjawab, dia cuma tersenyum saja sambil melihat pemandangan tubuh Shanum dari belakang. "Memangnya kenapa? Ini 'kan kamar mandi kita berdua sayang. Lagi pula kamu mandi pintunya tidak di kunci."
"Shanum lupa Kak. Sudah kebiasaan! Bisakah Kakak pergi dulu, Shanum malu!"
__ADS_1
"Baiklah!" Emyr langsung menutup pintunya.
Shanum yang mendengar suara pintu tertutup, dia langsung berbalik badan. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika berbalik badan langsung melihat Emyr ada di depannya.
Ternyata Emyr cuma membohonginya saja. Dia tidak pergi, melainkan berjalan perlahan mendekatinya.
"Kakak!" teriak Shanum merasa terkejut.
Tidak pakai lama, Emyr langsung memeluk tubuh polos Shanum dan mencium bibirnya dengan lembut.
Hei! Emyr laki-laki normal. Dia sudah sangat dewasa, jadi jangan salahkan dia jika tiba-tiba bersifat agresif kepada Shanum, ketika melihat pemandangan yang menggugah jiwa liarnya.
Shanum yang terkejut tidak bisa memberontak. Karena baik cepat atau lambat, Emyr pasti akan memintanya.
Walau masih merasa malu, Shanum tetap berusaha mengimbangi ciuman yang Emyr berikan kepadanya. Di bawah guyuran air shower, tubuh mereka berdua basah kuyup diselingi kegiatan indah mereka.
Shanum tiba-tiba melepaskan ciuman mereka. "Biarkan Shanum mandi dulu Kak. Nanti Shanum bisa masuk angin, bila begini ceritanya."
Emyr tertawa terbahak-bahak. Karena dirinya benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Haasraaat ingin melakukan itu dengan Shanum sangat besar sekali semenjak kata sah menggema di telinganya.
"Baiklah! Kakak juga sudah terlanjur basah. Kalau begitu kita mandi berdua saja ya."
Mau tidak mau, walau malu Shanum tetap mengangguk mengiyakan saja ucapan Emyr. Mereka berdua lalu mandi bersama dengan perasaan suka cita.
Hal ini juga dijelaskan oleh istri Nabi, Sayyidah Aisyah RA: “Saya pernah mandi bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dari satu bejana." (HR. Bukhari).
Selesai mandi, Shanum dan Emyr melakukan sholat dhuhur berjamaah untuk pertama kalinya. Dan selesai menunaikan sholat wajib, barulah mereka menunaikan ibadah sholat sunnah dua rakaat.
Shanum menyalami tangan Emyr dengan lembut dan bibir tersenyum senang. "Bimbing Kakak supaya bisa menjadi imam yang baik untukmu ya Shanum."
Shanum mengangguk. "Tegurlah Shanum, bila Shanum melakukan kesalahan ya Kak! Jangan takut menyinggung perasaan Shanum."
Gantian Emyr yang mengangguk. "Iya sayang."
"Ayo kita istirahat. Rasanya capek sekali tubuh Kakak."
"Emm! Apakah Kakak ... "
Belum selesai berbicara, Emyr langsung menyelanya. "Apakah kamu akan memberikannya sekarang? Ini 'kan masih siang?"
"Kenapa harus menunggu malam jika siang pun bisa. Karena wajib hukumnya istri mengiyakan ajakan suami untuk melakukan hubungan suami istri Kak. Akan sangat berdosa bila istri menolaknya."
__ADS_1
Emyr tersenyum. "Apakah kamu sudah siap?"
"Insyaallah. Karena Shanum menikah ingin mengharapkan ridho dari-Nya dan dari suami Shanum." Shanum tersenyum sangat manis sekali.
Mendengar jawaban Shanum. Wajah Emyr menunjukkan ekspresi yang sangat berbeda sekali. Dan pada akhirnya, mereka melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya, walau waktu masih siang seperti saat ini.
Pertama kalinya Emyr merasakan surga dunia, rasanya dia ingin melayang tinggi. Rasa nikmat dan sensasi yang diberikan, melebihi ekspetasi yang dia pikirkan selama ini.
Nafas Emyr tersengal-sengal. Bibirnya tersenyum lebar. "Rasanya Kakak seperti menikahi perawaan sayang. Karena kamu masih sempit."
Shanum malu, dia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Emyr sambil menutupi tubuhnya menggunakan selimut yang mereka gunakan.
Emyr tertawa bahagia, dia langsung memeluk Shanum dengan mesra dan juga erat.
"Nanti malam lagi ya! Rasanya Kakak masih kurang."
"Iya! Tapi ijinkan Shanum untuk tidur siang dulu sebentar. Badan Shanum rasanya sakit semua."
Suara tawa Emyr menggelegar di dalam kamar mereka. Karena Emyr tadi benar-benar membuat Shanum kewalahan dalam melayaninya.
"Tidurlah. Biarkan kita begini saja, karena Kakak menyukainya."
Siang itu, mereka tidur dalam keadaan masih belum berpakaian, dan hanya tertutup selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka.
Emyr dan Shanum tidur sambil berpelukan dengan mesra. Dan itulah siang pertama bagi mereka dalam melakukan hubungan suami istri.
Dari Thalqu bin Ali, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa:
Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya perempuan itu mendatanginya sekalipun ia berada di dapur," (HR.Tirmidzi: 4/387).
Dalam hadis tersebut jelas dipahami bahwa seorang perempuan yang sudah menjadi istri, wajib untuk melayani suaminya meskipun saat itu ia sedang melakukan suatu pekerjaan. Jadi, suami harus diprioritaskan oleh istri dari segala hal yang lainnya.
Hal ini disampaikan dalam HR. Bukhari bahwa:
Jika suami memanggil istrinya untuk tidur bersama (bersenggama), lalu istri menolak sehingga semalam itu suami menjadi jengkel (marah) pada istrinya. Maka para malaikat akan mengutuk istri itu hingga pagi hari," (HR. Bukhari).
Itulah kenapa sebelum kita menikah, bukan hanya materi atau kesehatan fisik yang harus kita perhatikan. Tapi, pengetahuan mendasar bagaimana cara memperlakukan pasangan kita sesuai dengan sunnah dan hadist Nabi.
Supaya mental kita bisa terbangun sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh Nabi kita Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam.
Wallahu A'lam Bishawab. Semoga kita semua selalu berada di dalam lindungan-Nya. Aamiin.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...