JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
KARMA IS REAL


__ADS_3

Saat ini Shanum sudah duduk sopan di ruang tamu rumah sang Nenek sendirian. Karena sang Nenek sedang masuk ke dalam rumah untuk menaruh masakan pemberian Shanum tadi.


Tidak lama, sang Nenek pun keluar dari dalam rumah, bersama seorang laki-laki yang Shanum perkirakan suami sang Nenek.


"Neng Shanum! Ini suami Nenek. Perkenalkan, namanya kakek Idris."


Shanum langsung tersenyum sambil menangkupkan ke dua tangannya di dada.


Kakek Idris pun juga tersenyum sambil langsung duduk di kursi bersama sang nenek. "Neng Shanum orang baru yang tinggal di sebelah ya?"


Shanum mengangguk. "Benar Kek. Saya orang baru. Dan insyaallah semoga betah tinggal di sini."


"Neng Shanum berasal dari mana?" tanya nenek Khadijah.


Shanum pun langsung menjelaskan darimana asalnya.


Nenek Khadijah mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh ya! Nama Nenek Khadijah, maaf lupa memperkenalkan diri."


Shanum tersenyum lagi. "Iya Nek."


"Emm! Di sini ko sepi sekali. Apakah Nenek dan Kakek tinggal berdua saja?"


Kakek Idris tersenyum, lalu menjawab pertanyaan Shanum. "Iya! Kami di sini memang tinggal berdua saja. Anak kami yang perempuan sudah menikah dan ikut dengan suaminya. Sedangkan yang laki-laki, sedang bekerja di kota besar, akan pulang satu atau dua bulan sekali Neng."


Shanum merasa kasihan. Karena dirinya ingin sekali mempunyai ke dua orang tua, tapi mereka sudah tidak ada di dunia ini.


"Apakah Neng Shanum juga tinggal seorang diri di sini? Atau tinggal bersama suami dan anaknya?"


Sebelum menjawab pertanyaan nenek Khadijah, Shanum mencoba menetralkan perasaannya dulu. "Saya juga tinggal sendirian Nek. Saya sudah bercerai dengan suami, dan saya belum mempunyai anak."


"Subhanallah. Lalu ke dua orang tua Neng Shanum di mana?" tanya kakek Idris.


"Mereka sudah meninggal sejak Shanum masih MTs Kek."


"Allahu Akbar. Jadi kamu seorang diri ya Neng di dunia ini? Apakah kamu juga tidak mempunyai sanak saudara?"


Shanum menggelengkan kepalanya. Dirinya memang tidak mengetahui siapa saja sanak saudara dari ayah dan juga ibunya.

__ADS_1


Nenek Khadijah yang melihat gelengan kepala Shanum menjadi iba. Dia seperti bisa merasakan kesepian yang Shanum rasakan selama ini.


"Neng Shanum. Bolehkah Kakek bertanya sesuatu yang cukup pribadi kepadamu?"


"Tanyakan saja Kek. Insyaallah akan Shanum jawab dengan jujur," jawab Shanum.


"Neng Shanum ini 'kan masih terlihat sangat muda. Tapi kenapa ko sudah menjadi janda. Jika boleh tahu, apa yang membuat Neng Shanum menjanda di usia segini?"


"Dan Kakek perkirakan umur Neng Shanum ini seumuran dengan anak Kakek yang perempuan. Anak Kakek yang perempuan baru berumur dua puluh lima tahun."


Shanum tersenyum. Dia sudah mulai terbiasa dengan semua pertanyaan yang sama seperti itu. Dan Shanum juga tidak menyalahkan jika banyak yang bertanya seperti itu kepadanya.


"Suami Shanum lebih memilih wanita lain Kek." Shanum mencoba tersenyum dibalik niqabnya.


"Astaghfirullah," ucap kakek Idris dan nenek Khadijah secara bersamaan.


"Umur Shanum baru dua puluh enam tahun Kek. Iya! Selisih satu tahun saja dengan putri Kakek."


"Neng! Kamu boleh menganggap kami juga sebagai orang tua kamu. Jika kamu membutuhkan apa-apa, bisa bilang sama Nenek dan Kakek. Siapa tahu kami bisa membantu Neng."


Hati Shanum mudah sekali terharu. Tanpa sadar, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan nenek Khadijah. "Masyaallah Nek. Ternyata orang-orang di sini sangat baik semua kepada Shanum."


"Laki-laki itu artinya bukan jodoh kamu Neng. Percayalah! Allah pasti sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu kelak."


Shanum mengangguk pelan sambil tersenyum. "Aamiin Kek."


"Kalau begitu. Shanum pamit pulang dulu ya Kek, Nek. Kapan-kapan bila tidak menganggu Kakek dan Nenek, bolehkah Shanum main ke sini lagi?"


"Tentu saja boleh Neng. Rumah ini selalu terbuka pintunya untukmu Neng," jawab nenek Khadijah.


"Terimakasih Nek. Assalamu'alaikum."


Ucapan salam Shanum langsung dijawab nenek Khadijah dan kakek Idris. Mereka berdua juga mengantarkan Shanum sampai ke teras depan rumahnya. Dan setelahnya, Shanum berjalan santai menuju ke rumahnya. Rumah yang cuma berbatasan dengan tembok saja.


Hari-hari telah berlalu. Tidak terasa Shanum tinggal di situ sudah selama dua bulan lamanya. Dan itu artinya Imran sudah cukup lama juga berada di rumahnya.


"Mas! Mas itu sudah terlihat sehat. Linda tidak mau tahu, pokoknya besok Mas harus berangkat bekerja!"

__ADS_1


"Tapi tangan Mas masih sakit Linda untuk naik motor sendiri," ucap Imran.


"Ya! Linda tidak mau tahu. Mas 'kan bisa naik gojek atau grab gitu kalau Mas nggak bisa naik motor sendiri."


"Sudah dua bulan ini semua kebutuhan rumah Linda semua yang memenuhinya. Nanti lama kelamaan uang Linda bisa habis!"


"Iya baiklah. Besok Mas akan berangkat ke kantor," jawab Imran.


"Nah! Begitu 'kan bagus."


Sambil berlalu pergi dari hadapan Imran, Linda mengatakan sesuatu lagi. "Daripada di rumah terus, merepotkan saja dan membuat mata jenuh memandangnya!"


Mendengar gerutuan Linda, Imran langsung mengusap dadanya dengan lembut. "Astaghfirullah."


"Apakah ini karma untukku karena sudah membuang Shanum dari kehidupan hamba ya Allah," Imran berbicara di dalam hati.


Tiba-tiba Imran melamun. "Mas jangan berbicara seperti itu. Walau uang istri adalah milik istri dan suami tidak berhak ikut campur. Tapi bagi Shanum, uang Shanum ya uang Mas juga."


"Tapi kamu dapat uang darimana sayang?" tanya Imran.


"Shanum menyisihkan dari uang belanja ko Mas. Pakailah jika Mas sedang membutuhkannya."


Lamunan Imran buyar ketika mendengar suara salam yang sudah sangat dikenalnya, siapa lagi jika bukan ibu Mu'idah.


Selama dua bulan ini, ibu Mu'idah setiap hari berkunjung ke rumah Imran dan Linda untuk membantu bersih-bersih rumah. Dia sudah seperti pembantu tanpa dia sadari.


"Ibu! Jika Ibu capek tidak perlu datang ke sini. Istirahat saja di rumah. Biar nanti Imran panggil orang untuk bersih-bersih rumah ini."


Linda yang mendengar ucapan Imran dari dalam kamar langsung segera keluar. "Eh-eh-eh! Enak saja mau manggil orang untuk bersih-bersih rumah ini. Memangnya kamu mampu bayar Mas! Nganggur dua bulan mau bayar pakai apa? Hah!"


"Lagi pula ibu sendiri ko yang menawarkan diri untuk membersihkan rumah ini. Dia juga tidak gratis mengerjakan itu semua. Selama ini Linda juga sudah memberikannya uang lebih dari cukup. Apa masih kurang uang sebanyak itu!"


Ibu Mu'idah yang tidak mau melihat Linda dan Imran bertengkar karenanya, dia memilih mengalah. "Sudahlah Imran. Linda benar. Sudah! Ibu mau mencuci baju dulu."


"Nah! Bagus itu. Sekalian juga baju kotor yang ada di dalam kamar Bu. Cuci yang bersih. Awas saja kalau masih ada noda!"


"Iya!" Ibu Mu'idah langsung berlalu pergi menuju ke belakang, sedangkan Linda masuk lagi ke dalam kamar. Dan untuk Imran, dia semakin rindu dan merasa menyesal sudah membuang Shanum.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...


__ADS_2