JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
MENERIMA HUKUMAN


__ADS_3

Resepsi ke dua pernikahan Emyr dan Shanum selesai sekitar hampir jam dua belas malam. Dan Shanum benar-benar sangat kecapekan sekali. Dia bahkan setelah sholat subuh tadi, memilih tidur lagi sampai sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


Meninggalkan Shanum, kita beralih ke pembuat onar kita. Ya! Kalian bisa menebak lah siapa orangnya.


Imran semalaman tidak bisa tidur sama sekali, karena ponselnya terus berdering dan berbunyi. Sebab para teman-teman dan orang yang mengenalnya pada menanyakan perihal sikap sang ibu di pesta resepsi pernikahan Emyr dan Shanum.


Berita melalui internet sudah menyebar sangat luas sekali. Wajah Linda, Imran dan Linda terlihat jelas di dalam berita tersebut. Bahkan, berita itu pun sudah masuk ke dalam gosip panas yang ada di televisi.


"Kepalaku rasanya mau pecah!" Imran terlihat marah.


Linda pun juga merasa malu. Rasanya komentar netijen semuanya menyudutkannya dan mengatainya sebagai pelakor. Ke dua orang tua Linda, serta para keluarga besarnya yang awalnya tidak mengetahui cerita itu. Mereka semua pada menyalahkannya dan malu mengenalnya.


"Tidak Ayah sangka, kamu perempuan hina, Linda!" ungkap sang Ayah.


"Ayah malu punya anak sepertimu yang tega merebut suami orang hanya demi naafsuumu belaka!" ucap sang ayah lagi.


"Linda! Dosa apa yang sudah Mama perbuat dahulu, hingga kamu tega berbuat seperti itu sesama perempuan?" mamanya Linda terlihat masih tidak percaya dengan pemberitaan yang ada.


"Coba kamu bayangkan, bila ayah kamu direbut sama perempuan lain. Apakah kamu akan merasa senang? Jawab Mama, Linda!" begitulah yang sang mama dan sang ayah katakan kepada Linda melalui sambungan telepon.


Pagi harinya, Imran dan Linda yang terlambat bangun karena semalam tidak bisa tidur, memilih sarapan di luar sekalian nanti langsung berangkat bekerja. Baru saja keluar dari dalam rumah ingin masuk ke dalam mobil, ada tetangga yang lewat langsung menyindir mereka berdua.


"Wah! Pasti Shanum sangat bahagia sekarang, sebab bisa menikah dengan laki-laki super kaya yang ada di negara kita. Bahkan dia juga super tampan sekali. Sangat jauh sama mantan suaminya!"


"Iya! Saya dengar, dia penerus bisnis terbesar di negara kita lho!" sahut ibu yang lainnya.


"Syukur deh! Kalau seumpama saya jadi mbak Shanum, sudah ku pithes orang yang dulu suka merendahkanku!" sindir ibu yang satunya lagi.


"Eh! Ada Mbak Linda dan Mas Imran. Maaf kami tidak melihat." Ibu-ibu itu langsung berakting, padahal daritadi mereka memang sudah sengaja menyindir mereka berdua.


"Tidak melihat bagaimana! Jelas-jelas kalian semua daritadi menyindir kami!" marah Linda.


"Lho! Kami tidak menyindir Mbak! Kami membicarakan fakta! Fakta!" bantah salah satu ibu-ibu.


"Tapi kenapa Mbak Linda merasa tersindir. Hahaha! Apakah Mbak Linda merasa pernah berbuat buruk kepada mbak Shanum?" jawab yang lainnya.


"Sudah Linda! Ayo masuk! Mas sudah terlambat bekerja!"


Linda hanya bisa menggertakan giginya sambil mengepalkan ke dua tangannya, karena Imran sudah menegurnya.

__ADS_1


Sedangkan beralih ke ibu Mu'idah.


Ketika dia sedang berbelanja di tukang sayur, para ibu-ibu langsung menyindirnya juga.


"Wah! Wah! Ada artis pendatang baru nih!"


"Siapa yang kamu bilang artis pendatang baru, hah!" ucap ibu Mu'idah.


"Lhah! Ibu-ibu. Ini ibu Mu'idah pura-pura bodoh apa pikun ya? 'Kan dia dari semalam masuk berita terus tuh. Bahkan sekarang lagi viral dan trending topik di semua stasiun televis dan berita online."


Para ibu-ibu yang sedang berbelanja langsung mengangguk membenarkan ucapan ibu tadi.


"Kalau tidak percaya, sana pulang. Buka televisi lihat berita. Nanti Ibu Mu'idah juga tahu sendiri," ucap salah satu ibu-ibu.


"Jika punya ponsel, buka saja. Di youtube, twitter, berita online, semuanya sedang membicarakan sikap ibu yang sangat baik hati sekali," sindir ibu yang lainnya lagi.


"Hmm! Jika saya jadi Ibu. Saya pasti akan menyesal sekarang. Karena mbak Shanum sudah menjadi orang yang sangat super kaya sekali."


"Iya Jeng! Lihat sendiri 'kan bagaimana mewahnya pesta pernikahan Shanum dan suaminya. Apalagi gaun yang dipakainya tuh! Katanya rancangan desainer terkenal yang harganya, wow!" sahut ibu-ibu yang satunya.


"Iya! Tidak cuma itu saja. Para artis yang di undang sama Shanum dan suaminya juga merasa heran, sudah berapa banyak biaya yang dikeluarkan hanya untuk pesta resepsi pernikahan mereka berdua. Karena pasalnya, souvenir pernikahannya saja, membuat jiwa miskin kita meronta-ronta."


"Sepasang jam tangan asli bermerek ternama dengan harga sekitar lima puluh juta. Sama sebotol parfum yang dilapisi emas dua puluh empat karat asli dengan harga sekitar tiga puluh juta rupiah."


"Hah!" semua ibu-ibu terlihat pada syok mendengar souvenir pernikahan Shanum.


Ibu Mu'idah yang daritadi mendengarkan hanya bisa cemberut sambil menggerutu di dalam hatinya. "Aku juga mendapatkannya, tapi cuma parfumnya saja!"


"Eh-eh! Ibu Mu'idah 'kan kemarin datang ke sana sama mas Imran. Pasti dapat dong sovenirnya. Bisa dijual tuh, bila menantunya nggak ngasih uang lagi!" sindir salah satu ibu-ibu sambil tertawa dan langsung diikuti oleh ibu-ibu yang lainnya.


Ibu Mu'idah akhirnya tidak jadi berbelanja. Dia memilih berputar badan untuk kembali ke dalam rumahnya. Baru saja ingin melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.


"Permisi, selamat pagi. Apa benar di sini rumah ibu Mu'idah?"


Ibu Mu'idah terlihat sangat ketakutan. Sebab di depannya ada tiga orang laki-laki berpakaian polisi sedang bertanya tentang dirinya.


Sedangkan para ibu-ibu yang melihat ke tiga polisi itu langsung pada berbisik sambil bertanda tanya.


"Iya benar. Dan saya sendiri Ibu Mu'idah," jawab ibu Mu'idah.

__ADS_1


"Ayo sekarang Ibu ikut kami ke kantor. Karena sudah mencemarkan nama baik nyonya Shanum dan berniat merusak acara pernikahan tuan Emyr Saddam."


Para ibu-ibu yang berbelanja di tukang sayur langsung mendapatkan gosip terbaru mendengar penjelasan dari salah satu pak polisi.


"Mana surat penangkapannya!" tantang ibu Mu'idah.


"Ini surat penangkapannya Bu! Tuan Emyr Saddam melaporkan atas ketidaknyamanannya dengan sikap Ibu kemarin di acara pesta resepsi pernikahannya." Salah satu pak polisi menjelaskan sambil menunjukkan surat penangkapannya.


"Kalian berdua! Bawa ibu Mu'idah ke kantor!"


"Baik Pak!"


Ke dua polisi yang disuruh, langsung menangkap ibu Mu'idah untuk mereka bawa ke kantor polisi. Tentu saja ibu Mu'idah terus memberontak karena tidak mau dimasukkan ke dalam penjara.


Jika tidak mau terkena bara api. Makanya jangan menyalakan api. Jika tidak mau tertusuk jarum. Makanya jangan bermain dengan jarum. Jika tidak mau diterkam singa, makanya jangan membangunkan singa yang sedang tidur. Sepertinya peribahasa itu pantas untuk ibu Mu'idah.


Dia saat ini harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, karena sudah ingin merusak nama baik Shanum. Kali ini dia salah memilih lawan. Orang seperti Imran, Linda dan ibu Mu'idah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Emyr.


Imran yang sudah sampai di kantor pun sangat tidak nyaman dengan pembicaraan dari para teman sekantornya yang membicarakan perihal sikap sang ibu kemarin.


Berita yang tersebar, semuanya tidak ada yang menjelekkan Shanum. Tidak ada yang merendahkan, atau menyalahkan Shanum. Semua itu berkat uang dan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Emyr.


Ketika Imran sedang sibuk bekerja di depan komputer, tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari seseorang, yang mengatakan jika sang ibu sedang ditangkap oleh polisi. Tentu saja Imran sangat terkejut sekali mengetahui hal tersebut.


Tidak pakai lama, Imran pun ijin dengan atasannya untuk melihat sang ibu sebentar di dalam penjara.


Emyr yang mendapatkan laporan semua itu dari para orang suruhannya dan juga Kevin, tersenyum puas sambil membaca berita di ipad miliknya.


"Akan aku pastikan, kalian semua menerima hukuman, karena sudah membuat wanita yang aku cintai merasa bersedih!" gerutu Emyr.


"Sekarang baru permulaan!" wajah Emyr terlihat sedikit menyeramkan.


Emyr lalu memandangi Shanum yang masih asik tidur di atas ranjang. "Untuk sementara waktu, Kakak tidak akan mengizinkanmu memegang ponsel atau melihat televisi sayang. Semua itu demi kesehatan hatimu."


Sungguh terlihat sekali, bagaimana perasaan cinta Emyr kepada Shanum.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2