
Imran ternyata tidak pulang ke rumah sekitar dua hari lamanya. Dan selama dua hari itu dirinya memang sengaja menghindari Linda. Sedangkan Linda sendiri uring-uringan tidak jelas karena Imran tidak kunjung pulang.
Ya! Saat ini kita akan membahas Imran sebentar.
Ketika Imran pulang ke rumah karena rencananya akan mengambil beberapa pakaian. Tidak tahunya ada Linda di rumah yang sedang tidak ingin berangkat ke toko.
"Mas Imran!"
Imran tidak mempedulikan Linda. Dia terus melangkah hingga akhirnya masuk ke dalam kamar. Sesampainya di dalam kamar, Imran langsung memasukkan beberapa bajunya ke dalam tas.
Linda yang melihat semakin marah. "Mas! Apa yang Mas lakukan? Kenapa semua baju-bajunya, Mas masukkan ke dalam tas?"
"Apa Mas akan pergi lagi. Dan menghindari Linda terus!"
"Jika kamu tidak mau Mas hindari, lebih baik kita bercerai saja!"
Linda menggelengkan kepalanya. "Tidak! Linda tidak mau bercerai dengan Mas Imran!"
"Jika tidak mau, rubahlah sikapmu itu. Kamu itu seorang istri, setidaknya harus tahu bagaimana kodrat sebagai istri yang baik!"
"Mas tidak akan menyamakan kamu dengan Shanum. Tapi setidaknya belajar membuat Mas nyaman berada didekatmu!"
"Baik! Linda akan belajar jadi istri yang baik. Tapi janji tolong jangan ceraikan Linda, Mas! Linda mohon!"
"Baiklah! Mas akan memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki diri. Tapi jika suatu saat lagi kamu berubah lagi. Mas tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Baik! Linda janji Mas! Mas jangan pergi lagi ya!"
"Mas mau makan apa? Mau Linda masakin apa Mas?"
"Mas sudah makan. Mas mau keluar sebentar."
"Mau pergi ke mana Mas? Linda ikut."
"Mas ingin mencari udara segar. Lebih baik kamu di rumah saja. Siapkan makanan untuk Mas, bila Mas pulang nanti."
"Baiklah! Tapi janji nanti pulang ya!"
"Iya!" Imran menjawabnya sambil berlalu keluar rumah.
Imran menaiki motornya dengan tidak tentu arah. Dan hari ini dirinya memang sengaja tidak berangkat ke kantor karena sedang sangat malas sekali.
__ADS_1
Motor yang ia naiki tidak sengaja bisa menuntunnya menuju ke kampung tempat tinggal Shanum. Ketika sedang melewati rumah Shanum, Imran cukup terkejut ketika melihat rumah Shanum sedang terbuka dan ada mobil super mewah terparkir rapi di depannya.
Untuk mengurangi rasa penasarannya, Imran pun lalu membelokkan stir motornya menuju ke rumah Shanum.
Mata Imran melotot sangat lebar, ketika melihat orang-orang yang tidak dia kenali sedang duduk di rumah Shanum. Bahkan Imran mengira jika papa Hisyam, mama Mulan, Emyr dan juga Shanum adalah orang yang akan membeli rumah Shanum.
Namun, ketika Imran mendengar Shanum memanggil namanya, barulah dia tahu, jika perempuan berniqab yang sedang memanggilnya adalah Shanum. Karena Imran sampai kapanpun akan selalu ingat suara Shanum.
"Siapa dia Shanum?" tanya Emyr.
Semakin yakinlah ketika Emyr menyebutkan nama Shanum.
"Dia ... "
"Mantan suami Shanum!"
Papa Hisyam, mama Mulan dan juga Emyr, yang awalnya menunjukkan ekspresi biasa saja, sekarang mereka menunjukkan wajah yang kurang suka. Ketika mengetahui siapa itu Imran.
"Shanum! Siapa mereka?"
"Bukan hak Shanum untuk menjawabnya. Silahkan Mas pergi dari sini."
"Mas tidak akan pergi sebelum kamu menjawabnya," kekeh pendirian Imran. Bahkan Imran saja masih berdiri di depan pintu.
"Ayo Ma!"
"Tapi Pa!" mama Mulan terlihat gemas melihat Imran. Ingin rasanya dia menjambak rambut Imran.
"Sudah ayo!"
Mama Mulan tidak bisa mengelak, ketika papa Hisyam sedikit mereemass telapak tangannya untuk berlalu pergi dari situ.
Akhirnya, mama Mulan hanya mengangguk saja, dia lalu pergi meninggalkan Shanum, Emyr dan juga Imran.
"Silahkan masuk dulu Tuan. Alangkah baiknya kita berbicara dengan baik-baik."
Imran pun lalu masuk setelah dipersilahkan oleh Emyr. Sedangkan Shanum lalu memilih pindah duduk disamping Emyr.
Mata Imran melihat dengan jelas bagaimana dekatnya Shanum dengan Emyr. Emyr yang sesama laki-laki sangat tahu sekali, apa arti dari tatapan Imran kepada Shanum.
"Kamu sekarang memakai niqab Shanum?"
__ADS_1
"Jangan banyak berbicara. Tanyakanlah saja apa yang Anda ingin tanyakan Tuan Imran!" Emyr berbicara sambil sengaja menggenggam tangan Shanum dengan mesra.
Imran melihat dengan jelas mereka saling menggenggam tangan. Bahkan Shanum tidak keberatan sama sekali ketika Emyr menggenggam tangannya.
"Apakah Anda ingin tahu siapa saya?"
"Perkenalkan! Nama saya Emyr. Saya suami sahnya Shanum!" Emyr menekan kata sah kepada Imran.
Imran hanya menatap uluran tangan Emyr yang sedang mengajaknya bersalaman. Emyr yang merasa diabaikan oleh Imran, memilih menggenggam tangan Shanum kembali dan membawanya kepangkuannya.
"Dan saya harap, Anda jangan pernah lagi mengganggu Shanum atau hubungan kami berdua!"
Emyr masih berbicara dengan tenang dan juga santai. Sedangkan Shanum hanya diam saja tidak mau berbicara sama sekali dengan Imran. "Bukankah Anda sendiri sudah mempunyai seorang istri, Tuan?"
"Sekarang pulanglah. Karena kami akan segera pulang!"
"Saya tidak percaya sebelum mendengar sendiri dari Shanum!" bantah Imran.
Shanum merasa geram dengan sikap Imran. "Bukankah Mas sudah mendengar sendiri dari suami Shanum! Lalu apa yang ingin Mas dengar dari Shanum?"
"Apa Mas mau mendengar Shanum sudah hamil atau sudah punya anak apa belum? Iya! Begitu!" Shanum bahkan tanpa sadar sampai berteriak kepada Imran.
Hati Emyr terbakar amarah melihat Shanum meluapkan amarahnya kepada Imran. Emyr lalu mengusap punggung Shanum dengan lembut untuk menenangkannya sekaligus menenangkan hatinya supaya tidak menonjok wajah Imran. "Sayang! Tenanglah! Jangan stres, ingat apa kata dokter jika ingin program hamil."
Emyr sangat pintar sekali memanasi Imran. Dan aktingnya benar-benar sangat murni. "Lebih baik kita pindah ke luar Negeri saja. Karena di sana akan bagus untuk kesehatan pikiranmu sayang," ucap Emyr lagi sambil melirik Imran.
Imran tanpa sadar mengepalkan ke dua telapak tangannya. Dan Emyr menyadarinya.
Shanum mengambil nafas lalu mengusap air matanya sebelum berbicara lagi. "Silahkan Mas pergi dari sini. Dan jangan pernah lagi berbicara dengan Shanum, walau kita bertemu di jalan sekalipun. Anggap saja kita tidak saling kenal!"
"Shanum tidak mau, jika suami Shanum sampai cemburu dengan Mas Imran. Karena menjaga hati itu lebih sulit daripada mempertahankannya!"
Imran merasa sangat malu sekali mendengar Shanum menyindirnya yang tidak bisa menjaga hatinya dengan baik. Tanpa banyak berbicara, Imran langsung beranjak berdiri dari duduknya dan meninggalkan Shanum bersama Emyr.
"Apakah kamu baik-baik saja Shanum?"
Shanum menggelengkan kepalanya. "Lebih baik kita kembali ke rumah Kakak saja yuk!" Shanum mengangguk.
Dengan langkah malas, Shanum lalu beranjak pergi dari dalam rumahnya dan menguncinya lagi seperti semula.
Bahkan ketika mobil Emyr sudah di luar pagar, bukan Shanum yang mengunci pagarnya, melainkan Emyr sendiri. Karena Emyr merasa kasihan dengan Shanum. Setelah itu, Emyr langsung kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...