
Dibeda tempat, lebih tepatnya di rumah Imran.
Semalam Imran dan Linda yang pisah kamar. Pagi-pagi sekali Linda mencoba memasakkan sarapan untuk Imran.
Imran yang tahu akan hal itu hanya diam dan membiarkannya saja. Mendengar suara adzan subuh berkumandang, Imran lalu bangun untuk menunaikan ibadah sholat subuh sebagaimana mestinya umat islam. Walau dia melihat Linda sedang sibuk memasak di dapur, satu patah kata pun tidak Imran ucapkan untuk menyapa atau menanyai Linda.
Selesai menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah di surau dekat rumah. Imran memilih bersantai sambil membaca buku yang dia punya. Tiba waktunya dia bersih-bersih badannya untuk berangkat bekerja, dan Imran pun segera mengerjakannya.
Ketika sudah rapi, sudah siap akan berangkat bekerja, Linda tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Mas! Apakah Mas sudah mau berangkat?"
Imran hanya mengangguk saja sambil bercermin di depan cermin.
"Kalau begitu, ayo kita sarapan dulu. Linda sudah memasakkan masakan untuk Mas!"
Pagi ini Linda ingin bersikap baik kepada Imran. Entah ada angin apa dia sedikit berbeda hari ini.
"Mas tidak lapar," ucap singkat dari Imran.
"Tapi Mas! Linda sudah capek-capek memasak masakan kesukaannya Mas!"
"Mas sudah terbiasa tidak sarapan setiap pagi. Jadi, Mas sekarang tidak lapar," jawab Imran sambil mengambil tas kerjanya.
"Mas! Kenapa Mas tidak menghargai usaha Linda!"
"Apakah kamu juga pernah menghargai usaha Mas?"
Linda terdiam, dia kalah telak. Karena selama mereka menikah. Linda tidak bisa menjadi istri yang baik.
"Sudahlah! Mas capek ribut terus denganmu. Mas berangkat dulu."
Tanpa mengucapkan salam. Tanpa bersalaman dengan Linda, dan juga tanpa kecup kening dengan mesra. Imran pun langsung berlalu pergi dari hadapan Linda.
Imran benar-benar berangkat dalam keadaan lapar, dan tidak mau menyentuh makanan yang sudah dimasak oleh Linda.
Linda benar-benar marah sekali melihat sikap Imran yang acuh begitu kepadanya. Linda lalu kembali ke ruang makan untuk memasukkan semua masakannya tadi ke dalam rantang. Setelahnya, dia akan memberikannya kepada ibu Mu'idah.
Ibu Mu'idah cukup terkejut melihat kedatangannya Linda pagi-pagi sekali ke rumahnya. Pasalnya, sejak kejadian itu, mereka berdua tidak bisa seakrab seperti dulu.
"Linda! Ada apa? Apa ada yang bisa Ibu bantu?"
"Nih! Masakan untuk Ibu! Habiskan!"
Ibu Mu'idah sangat senang sekali diberikan makanan oleh Linda. Karena selama Linda menikah dengan Imran, baru kali ini Linda terlihat perhatian kepadanya.
"Gara-gara Ibu! Mas Imran sekarang marah dan cuek sama Linda! Bahkan, kami pisah kamar semalam. Dan sekarang, mas Imran tidak mau menyentuh masakan yang sudah Linda masakan!"
__ADS_1
Yah! Salah menduga ternyata ibu Mu'idah. Dia kira Linda benar-benar perhatian kepadanya. Tidak tahunya cuma untuk melampiaskan kekesalannya kepadanya.
"Bagaimana kami mau punya anak. Bila mas Imran selalu menghindari Linda!"
"Ibu harus bertanggungjawab. Linda tidak mau tahu bagaimana caranya, yang penting mas Imran tidak cuek lagi sama Linda!"
Linda setelahnya langsung berlalu pergi dari rumah ibu Mu'idah. Dan ibu Mu'idah hanya diam saja sejak tadi tidak bisa membantah ucapan Linda sama sekali.
Setelah kepergian Linda. Ibu Mu'idah untuk pertama kalinya mencoba masakannya Linda.
"Rasanya bahkan lebih buruk dari masakannya Shanum. Jika dibandingkan dengan masakannya Shanum, jauh lebih enak masakan dia."
Karena tidak suka dengan masakannya Linda. Diam-diam ibu Mu'idah langsung membungkusnya kembali dan lalu membuangnya ke tempat sampah.
Kembali ke rumah Shanum lagi.
"Oh ya Shanum. Aku besok sudah harus kembali pulang. Karena pekerjaanku sudah menungguku."
Shanum yang teringat akan hal itu langsung mengangguk. "Iya! Aku tahu! Kamu hati-hati di jalan."
"Kami juga mau pulang Mbak. Karena mas Malik juga harus bekerja."
"Apa tidak lebih baik, mbak Laila bersama kita saja Ma? Kita 'kan satu arah, satu jalan juga."
Dyah mengangguk setuju. "Boleh Ayah."
Gantian Malik yang mengangguk. "Iya benar. Lagi pula mobilnya juga masih kosong ko."
"Nasir! Besok apakah kamu mau ikut kembali bekerja lagi?" tanya Emyr.
Nasir terlihat berpikir sejenak. "Boleh deh Mas! Tidak apa-apa."
"Bukannya kamu kalau pulang kampung sekitar satu minggu. Ini masih ada beberapa hari lagi lho."
"Tidak apa-apa. Nasir nanti bisa pulang lagi lain hari."
Emyr mengangguk. "Baiklah terserah kamu saja."
"Shanum. Besok kita pulang sekitar jam delapan pagi. Jadi kamu bisa bersiap-siap terlebih dahulu."
Shanum mengangguk kaku. Laila dan Dyah langsung menyoraki Shanum, dan membuatnya semakin malu saja.
"Semoga setelah ikut pulang sama mas Emyr. Kalian berdua langsung menikah."
"Dyah!" Shanum menggertakan giginya.
Semua langsung mengaamiinkan ucapan Dyah dan juga sambil tertawa.
__ADS_1
Pagi harinya, seperti ucapan mereka semua kemarin. Laila, Dyah, Malik, Nasir, Emyr dan juga Shanum. Saat ini mereka semua sudah pada bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Sedangkan Shanum, sedang bersiap-siap untuk ikut pulang dengan Emyr.
Shanum langsung melambaikan tangannya kepada Laila, Dyah dan juga Malik, ketika mobil yang mereka naiki sudah mau berlalu dari depan rumahnya. Tinggallah Shanum saja seorang diri sekarang di dalam rumah.
"Bismillah, aku bisa. Ini cuma acara silaturrahmi saja. Karena aku sudah terlanjur janji sama mama Kak Emyr."
Sedang bersiap-siap memakai niqabnya, tiba-tiba telinganya mendengar pintu rumahnya di ketuk dari luar. Dan ternyata yang mengetuk pintunya adalah Nasir.
"Mas Nasir!"
"Apakah Mbak Shanum sudah siap. Kalau sudah, mas Emyr sudah menunggu Mbak di rumahku."
Shanum mengangguk. Lalu dirinya mengambil tas miliknya dan langsung mengunci pintu rumahnya dari luar.
Sesampainya di pekarangan rumah kakek Idris. Mata Shanum sedikit melotot karena melihat mobil super mewah sekali sudah terparkir di halaman rumah kakek Idris. Padahal sebelumnya tidak ada.
"Ayo Mbak. Silahkan masuk dulu."
Shanum hanya mengangguk saja. Dan ketika sudah masuk rumah, ternyata Emyr sudah menunggunya di ruang tamu bersama kakek Idris dan nenek Khadijah.
"Itu neng Shanum sudah datang."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab serempak dari mereka semua.
"Sepertinya saya harus pamit pulang Nek, Kek. Maaf Nasir harus cepat kembali bekerja. Dan terimakasih atas semuanya," ucap Emyr.
Kakek Idris dan nenek Khadijah tersenyum. "Sama-sama Tuan Emyr. Kami juga senang, Anda sudah mau berkunjung ke rumah kami yang sederhana ini."
Shanum merasa heran, karena kakek Idris berbicara sangat formal sekali kepada Emyr. Apalagi dia tidak mendengar kakek Idris memanggil nak, melainkan tuan.
Emyr cuma mengangguk saja. Dia langsung mengajak Shanum untuk segera masuk ke dalam mobil, supaya Shanum tidak berubah pikiran.
Sedangkan Nasir, memilih naik motor miliknya saja. Karena motor itu adalah kendaraan satu-satunya yang akan Nasir kendarai nanti di kota.
Akhirnya, Shanum benar-benar ikut Emyr pulang ke rumahnya. Emyr duduk di kursi depan dekat dengan sopirnya. Dan Shanum duduk di kursi penumpang yang ada di belakang.
Sebenarnya, Emyr tidak mau jika pulangnya di jemput sampai di rumah kakek Idris. Tapi karena berhubung Shanum ikut, jadi terpaksa Emyr menyuruh sopirnya untuk menjemputnya di situ.
Shanum hanya diam saja ketika di dalam mobil. Dan perasaannya sangat tidak tenang sekali berada di dalam satu mobil dengan orang yang tidak dikenalnya. Apalagi penampilan Emyr sangat jauh berbeda dari yang dia lihat biasanya. Saat ini Emyr terlihat berwibawa dan juga bossy.
Jika Shanum sedang gelisah tidak menentu. Berbeda halnya dengan Emyr, yang daritadi malah senyum-senyum sendiri karena sudah berhasil mengajak Shanum pulang bersamanya.
Apapun yang terjadi nanti di rumahnya. Emyr sudah bertekad untuk menjadikan Shanum sebagai istrinya.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...