
Biarkan ibu Mu'idah, Linda dan juga Imran sedang suntuk dengan masalah yang mereka buat sendiri. Kita masih akan membahas Shanum dan Emyr lagi.
Malam harinya ketika Shanum dan Emyr sedang bersiap-siap untuk turun ke bawah menyambut para kolega dan relasi bisnis yang sudah mulai pada berdatangan. Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dari luar. Setelah dibuka pintunya oleh Emyr, yang mengetuk adalah Dyah dan Malik.
"Dyah! Malik! Ayo silahkan masuk."
Dyah dan Malik pun lalu masuk ke dalam kamar hotel yang ditempati oleh Shanum dan Emyr.
Ternyata kebetulan di dalam kamar hotel itu ada mama Mulan dan papa Hisyam yang sedang membahas sedikit tentang pesta resepsi pernikahan malam ini.
"Dyah! Malik! Ayo silahkan duduk!" Shanum menyambut ramah kedatangan mereka berdua.
"Emm! Mbak Shanum! Mas Emyr! Tuan Hisyam dan Nyonya Mulan. Ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua."
"Kebetulan Tuan Hisyam dan Nyonya Mulan ada di sini. Tidak apa-apa 'kan kalau saya berbicara di sini juga?"
Mama Mulan dan papa Hisyam mengangguk sambil tersenyum. "Tidak apa-apa ko Nak!" ucap mama Mulan.
"Memangnya apa yang ingin kamu katakan kepada kita, Dyah?" tanya Emyr.
Dyah menundukkan kepalanya karena merasa malu dengan mereka semua, sebab ulah sang ibu tadi. "Sebelumnya saya mewakili ibu ingin meminta maaf kepada Mas Emyr, Mbak Shanum, Nyonya, dan Tuan Hisyam." Dyah sampai meneteskan air matanya.
"Dyah tidak menyangka jika ibu sampai membuat malu kalian semua. Maafkan Dyah yang tidak bisa menasihati ibu, Mbak Shanum."
Shanum tersenyum, dia lalu mendekati Dyah dan duduk di sampingnya. "Mbak sudah tidak kenapa-kenapa ko Dyah. Mbak sekarang sudah punya keluarga yang selalu menguatkan Mbak. Jadi untuk apa memikirkan mereka yang selalu menyakiti Mbak, Dyah!" Shanum memegang tangan Dyah dengan lembut.
"Mbak sama sekali tidak pernah menyalahkanmu Dyah. Mbak tahu bagaimana sifat kamu selama ini kepada Mbak." Ucap Shanum lagi.
"Iya Nak! Kami sudah sering bertemu dengan ribuan orang dengan sifat dan watak yang berbeda-beda. Jadi kami bisa membedakan mana yang tulus dan tidak," sahut mama Mulan.
"Apakah Mbak Shanum, Mas Emyr, Nyonya dan Tuan tidak marah kepada Dyah?" Dyah masih berlinang air mata.
Emyr tersenyum. "Untuk apa kami marah kepadamu Dyah? Kamu 'kan tidak punya salah dengan kami."
"Jika bukan karena kamu, saya juga pasti tidak akan bisa menikahi Shanum," ucap Emyr lagi.
Dyah mencoba tersenyum. "Terimakasih semuanya. Dyah merasa lega sekarang."
"Sudah! Ini hapuslah air mata kamu Nak Dyah. Kita malam ini masih harus bersenang-senang. Kami tidak mau para relasi bisnis kami melihat kamu menangis seperti itu. Nanti malah ada berita, mantan adik ipar yang teraniaya," canda papa Hisyam sambil menyodorkan sekotak tissue kepada Dyah.
Semua orang langsung tertawa bersama-sama karena candaan dari papa Hisyam tadi. Setidaknya, Dyah saat ini sudah merasa lega dan tenang, ketika sudah meminta maaf kepada keluarga Saddam karena sikap sang ibu tadi.
__ADS_1
Walau dirinya tidak melakukan itu, tapi Dyah tetap merasa bersalah kepada mereka atas ulah sang ibu.
Kita geser ke Laila sebentar yuk!
Saat ini Laila sedang menikmati udara malam yang indah di balkon kamar hotelnya. Untuk pertama kalinya juga, Laila menginap di hotel mewah seperti saat ini. Semua itu berkat Emyr sekeluarga yang bisa membuatnya dan ke dua orang tuanya merasakan kenikmatan yang mungkin tidak akan bisa terulang ke dua kalinya.
Sedang asik bersantai, tiba-tiba telinganya mendengar pintu kamar hotelnya di ketuk dari luar. Laila dengan segera berjalan kearah pintu untuk membukakan pintunya. Setelah pintu sudah dia buka, ternyata ada Nasir yang berdiri begitu tampannya di depan pintu kamarnya.
"Mas Nasir."
"Emm! Bolehkah Mas masuk ke dalam?"
Laila sedikit kebingungan. Namun mereka juga tidak bisa berbicara di depan pintu seperti itu. "Ba-baiklah! Tapi jangan macam-macam ya Mas!"
Nasir tertawa. "Saya mana berani macam-macam sama kamu Laila. Saya cuma beraninya satu macam saja ko!" canda Nasir.
"Bercanda!" Nasir sambil tertawa cekikikan.
"Ayo silahkan masuk Mas!" akhirnya, Laila mengijinkan Nasir masuk juga ke dalam kamarnya.
Nasir mengangguk. Lalu kakinya melangkah masuk ke dalam kamar hotel yang ditempati oleh Laila.
Mereka berdua saat ini sedang duduk di kursi yang tersedia di situ. "Apa yang ingin Mas katakan kepada Laila?"
Nasir tersenyum sebelum dia berbicara. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam jas yang dipakainya. Setelahnya, dia bersimpuh di depan Laila sambil membuka kotak cincin yang dibawanya.
"Laila!"
Laila tentu saja merasa terkejut dan juga tersanjung dengan sikap Nasir. Dia menutupi mulutnya menggunakan ke dua tangannya, karena merasa terharu.
"Malam ini kamu terlihat begitu sangat cantik sekali."
Bagaimana Laila tidak cantik. Shanum sengaja menyuruh Kevin membelikan baju untuk Laila dan ke dua orang tuanya. Tidak cuma mereka bertiga saja yang Shanum belikan baju, melainkan Dyah, Malik, baby Fatiyah, Medina beserta suami dan anaknya, nenek Khadijah dan juga kakek Idris. Baju yang mereka pakai semuanya pemberiannya Shanum. Tentu saja atas persetujuan Emyr.
"Maukah kamu menikah dengan Mas, Laila?" Laila masih diam saja sambil menetralkan rasa keterkejutannya.
"Jika kamu menerima Mas, secepatnya Mas akan datang ke rumah kamu untuk meminangmu secara resmi dihadapan ke dua orang tuamu, Laila," ucap Nasir lagi.
"Apakah Mas serius dengan Laila?" tanya Laila untuk memastikannya lagi.
Nasir mengangguk. "Mas benar-benar sangat serius sekali Laila. Dan Mas rasanya tidak pernah seserius ini selama ini."
__ADS_1
Laila tersenyum. "Laila mau Mas! Laila mau."
Wajah Nasir berbinar senang dan bahagia. "Kamu beneran mau menerima Mas, Laila?"
Laila mengangguk semangat sambil tersenyum manis. Lalu Nasir mengambil cincin yang sudah dibelinya untuk dia pakaikan di jari manisnya Laila.
"Secepatnya Mas akan datang menemui bapak dan ibu."
Laila mengangguk lagi. "Iya! Laila percaya."
"Emm! Bagaimana kalau kita umumkan hubungan kita kepada mereka semua. Apakah kamu mau?" Nasir bertanya dengan begitu hati-hati, takut Laila marah kepadanya. Tapi tidak tahunya, Laila tersenyum dan mengangguk setuju.
Nasir pun dengan semangat mengajak Laila untuk segera keluar dari dalam kamar, dan menunjukkan hubungan mereka di hadapan keluarga besar mereka.
Tentu saja kabar tentang Laila dan Nasir cukup mengejutkan bagi sebagian orang yang belum mengetahuinya. Akan tetapi, mereka semua tetap mendoakan semoga hubungan Nasir dan Laila sampai di pelaminan.
"Sepertinya, sebentar lagi kita akan berbesanan Tuan." Bapaknya Laila langsung tertawa mendengar ucapan kakek Idris.
Walau Shanum hampir tidak mengenal semua orang yang hadir di pesta resepsi pernikahannya, tapi dia tetap merasa bahagia dan senang. Dirinya benar-benar di manjakan oleh Emyr dan ke dua orang tuanya.
Apalagi ketika Shanum mendengar hubungan Nasir dan Laila. Perasaannya semakin tambah bahagia dan sudah tidak sabar ingin segera membantu pernikahan mereka berdua.
Shanum begitu nyaman sekali berada di dekat keluarga Emyr, walau dirinya bukan berasal dari keluarga yang sama dengan mereka. Tapi mereka semua memperlakukannya dengan baik dan bersahaja.
"Apakah kamu bahagia sayang?" tanya Emyr sambil berdiri di tengah-tengah para tamu undangan.
"Shanum begitu sangat-sangat bahagia sekali Kak," wajah Shanum terlihat cerah ceria dibalik niqabnya.
"Emm! Maafkan Shanum ya Kak."
"Maaf untuk apa sayang?" tanya Emyr lagi.
"Shanum tidak bisa berbahasa Inggris dan Turki. Pasti bikin malu Kakak 'kan?"
Emyr tertawa. "Kakak tidak malu sayang. Emm! Untuk masalah itu kamu tenang saja. Kakak bisa mengajarimu atau mendatangkan guru les untukmu."
"Benarkah?"
Emyr mengangguk dan tersenyum. "Itu bisa dipikirkan nanti ya sayang. Sekarang temani Kakak untuk menyambut teman bisnis, kolega dan relasi Kakak lagi yuk!"
Shanum tersenyum sambil mengangguk. Dia terus mengikuti dan menggandeng mesra tangan Emyr untuk menyambut para tamu yang datang. Malam ini Emyr dan Shanum tidak duduk anteng di atas panggung pelaminan. Namun, mereka memutar untuk menyambut para tamu undangan yang sudah mau hadir di pesta resepsi pernikahan mereka.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...