JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
BERJUALAN


__ADS_3

Sesampainya di dalam kamar, Shanum langsung memegangi dadanya yang berdetak dua kali lipat dari biasanya. Tubuhnya panas dingin, dan gemetaran tidak jelas karena baru saja melakukan kesalahan yang tidak dia duga dan sengaja.


Sedangkan Emyr yang sedang terpesona cuma bisa menatap tembok kamar Shanum. Tidak sengaja telinganya mendengar seseorang sedang tertawa. Matanya langsung teralihkan kearah sumber suara, dan dia langsung melihat empat kepala sedang mengintip dibalik gorden penyekat.


Dyah, Malik, Laila dan juga Nasir, langsung pergi ketika mereka sudah ketahuan jika sedang mengintip Emyr dan Shanum.


Mereka berempat langsung bergegas kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Dan ketika Emyr masuk ke dalam dapur, mereka berempat berpura-pura cuek dan acuh melihat kedatangan Emyr.


"Apakah Mas baik-baik saja?" tanya Nasir.


"Sepertinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya," sindir Dyah sambil tertawa.


"Bukankah kalian berempat sudah melihat sendiri apa yang tadi terjadi denganku!" Emyr terlihat judes.


Mendengar ucapan judes dari Emyr, bukannya takut, Dyah, Nasir, Laila dan juga Malik langsung tertawa.


Shanum mendengar jelas suara tawa mereka semua dari dalam kamarnya. Tapi dia tidak berani mengintip apa yang sebenarnya terjadi di dalam dapurnya.


Dyah, Malik, Nasir, Laila dan juga Emyr, langsung kembali segera mengerjakan pekerjaan mereka. Karena waktu terus berjalan. Tidak lupa juga, mereka sambil mengobrol dan berbincang santai.


Shanum yang merasa tidak tenang di dalam kamar, jadi bingung sendiri mau ngapain. Mau tidur lagi, dia sudah tidak mengantuk. Mau keluar kamar malu melihat Emyr. Tapi Shanum yang tidak bisa cuma berpangku tangan saja ketika melihat semua orang didekatnya sedang pada sibuk, tetap saja dia mencoba memasang muka tembok untuk ikut bergabung dengan mereka.


"Mbak Shanum istirahat saja. Kita sudah hampir selesai ko," ucap Dyah.


"Iya! Istirahatlah saja Shanum. Saya tidak mau nanti mama mengira saya tidak peduli denganmu. Karena besok saya akan pulang. Jadi persiapkan dirimu dengan baik dari sekarang."


Klontang!


Suara panci terjatuh ke lantai. Karena Laila benar-benar terkejut mendengar ucapan Emyr. Sepertinya keterkejutan Laila sudah mewakilkan keterkejutan Shanum.


"Apa Mas Emyr serius?"


Emyr mengangguk membenarkan ucapan Dyah.


"A-apakah saya tetap harus ikut Kakak?" wajah Shanum terlihat keterkejutan yang besar, walau cuma terlihat matanya saja.


"Bukankah janji adalah hutang? Apakah kamu mau, jika mama menagihmu nanti di akhirat?"


Tentu saja Shanum tidak mau jika hal itu sampai terjadi kepadanya. Dengan terpaksa, Shanum pun mengiyakan saja ajakan Emyr untuk ikut dengannya.


Setelah bersusah payah dalam memasak beberapa menu makanan. Akhirnya, perjuangan mereka telah selesai sudah. Mereka semua mengambil nafas panjang dan merasa lega, karena seperti baru saja menyelesaikan misi yang teramat sulit.

__ADS_1


"Apakah Mbak Shanum kegiatannya seperti ini setiap hari, memasak banyak menu sekaligus sendirian?"


Shanum menganggukkan kepalanya kepada Nasir.


Nasir lalu mengacungkan jempolnya. "Hebat! Mbak Shanum benar-benar hebat. Kita saja yang memasak ramai-ramai begini sangat kewalahan. Nasir salut sama Mbak."


"Alhamdulillah. Mas Nasir jangan memuji Shanum seperti itu. Apapun itu jika dilakukan dengan senang apalagi hobi, pasti tidak akan terasa lelah, capek dan susahnya. Dari dulu memasak adalah hobi saya."


"Tetap saja, Nasir merasa kagum dengan Mbak!"


Shanum hanya tersenyum saja dibalik niqabnya. Sedangkan Emyr malah diam-diam menatap lekat kearah Shanum. Sebab tidak cuma Nasir saja yang merasa bangga dengan kepadanya. Melainkan dirinya juga.


Tibalah waktunya mereka semua menjajakan masakan hasil karya mereka. Tapi Shanum hari ini disuruh untuk menjaga baby Fatiyah saja, dia tidak boleh ikut berjualan. Untuk kali ini semua menu, tidak Shanum yang mengolah, melainkan Dyah, Laila, Nasir, Malik dan juga Emyr. Dan yang menjadi penjualnya pun mereka semua.


Para pembeli yang melihat Emyr untuk pertama kalinya, mereka sangat terpesona sekali. Karena di kampung mereka belum ada laki-laki setampan Emyr. Wajar saja jika mereka baru melihat Emyr. Sebab Emyr selama beberapa hari tinggal di rumah kakek Idris, tidak pernah keluar rumah sama sekali.


"Wah! Tampan sekali mas ini? Dia siapa Mbak Laila?"


Diantara semua orang yang para pembeli kenal, cuma Laila dan juga Nasir.


"Dia calon suaminya Shanum, Bu," ucap Laila sambil tersenyum.


"Masyaallah. Calon suami mbak Shanum tampan sekali."


Emyr cuma tersenyum kaku dan risih ketika para ibu-ibu itu seperti memujanya. Nasir yang melihat ekspresi Emyr, langsung tersenyum geli. Karena seumur-umur, Nasir menebak pasti Emyr belum pernah bertemu orang seperti model ibu-ibu di kampung.


Ada satu ibu-ibu yang sedikit julid. "Jika dia calon suami mbak Shanum. Kenapa mbak Shanum tidak melapor ke pak RT, jika mas ini tinggal serumah dengannya."


"Maaf Bu! Mas Emyr ini tinggal di rumah saya. Kebetulan dia kawan baik saya. Dan kebetulan juga, Mas Emyr sudah menjalin hubungan lama dengan mbak Shanum."


"Bukankah mbak Shanum itu seorang janda. Kenapa Mas yang tampan begini tidak mencari perempuan yang masih peraawaan saja?" tanya ibu lagi.


Emyr mencoba tenang sambil tersenyum. "Apa bedanya janda sama peerawaan Ibu? Yang saya cari kenyamanan hati. Jika hati sudah terpaut sama yang janda. Setidaknya janda yang bermartabat, apalagi sholehah seperti Shanum. Saya rela melepaskan seratus peerawaan sekaligus."


"Bukankah jika dibalik keadaannya, kalau ibu lebih suka duda, pasti rela melepaskan perjaaka. Benar begitu 'kan ibu?"


Pembawaan yang tenang dan santai. Dan gaya bicara yang tidak terkesan menusuk. Membuat ibu itu menjadi malu sendiri.


Ibu itu langsung berlalu pergi setelah membayar makanan yang dibelinya dengan ekspresi yang sedikit tidak menyenangkan.


"Sudah Mas! Tidak perlu diambil hati. Ibu itu mah memang begitu sifatnya."

__ADS_1


Ucapan ibu itu langsung diangguki oleh para ibu-ibu yang lainnya.


"Kami doakan semoga hubungannya langgeng ya Mas dengan mbak Shanum."


Ucapan ibu yang ini, langsung di aamiinkan oleh semua orang.


Shanum yang mendengar sendiri di dalam ruang tamu rumahnya. Perasaannya semakin tidak tenang saja. Namun, entah kenapa hatinya merasa senang mendengar jawaban yang Emyr berikan kepada ibu-ibu yang julid tadi.


Para pembeli itu juga banyak yang bertanya siapa itu Dyah dan juga Malik. Dyah dan Malik menjawab, jika mereka saudara Shanum. Bukan mantan adik iparnya.


Nenek Khadijah senang melihat kekompakan mereka dalam membantu Shanum. Dan nenek Khadijah bisa melihat, jika Emyr terlihat serius dengan Shanum. Di dalam hatinya, dia berdoa, semoga Emyr adalah jodoh pengganti untuk Shanum.


Setelah beberapa jam merasakan menjadi seorang penjual makanan. Akhirnya, kegiatan mereka selesai juga ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Saat ini mereka semua sedang berkumpul di ruang tamu rumah Shanum.


"Bukankah kalian semua daritadi belum makan. Itu kalian yang memasak sendiri, kenapa kalian juga yang belum makan?"


"Kami takut keracunan Mbak, bila makan masakan kita sendiri."


Laila yang gemas mendengar jawaban Nasir, refleks langsung memukul pundak Nasir.


"Aargh! Sakit. Sepertinya tulang pundakku patah. Aargh! Aku butuh dipijat!"


Malik yang geli melihat Nasir, langsung melemparinya dengan bantal yang semalam dia gunakan untuk tidur.


"Bau jigong!" gerutu Nasir.


Semua orang langsung tertawa terbahak-bahak melihat keseruan yang mereka rasakan pagi ini.


Selagi beristirahat, Shanum dibantu Laila langsung menyiapkan sarapan yang terlambat untuk mereka.


Mereka semua makan dari hasil masakan mereka sendiri dengan nikmat sambil diselingi dengan bercandaan.


Emyr benar-benar merasa sangat bahagia sekali. Seumur hidupnya baru kali ini bisa merasakan hidup yang bebas. Dan Emyr sadar, jika hidupnya selama ini sangatlah kaku dan juga monoton. Sambil makan, Emyr terus memperhatikan Shanum yang saat ini sudah terlihat sehat.


Shanum yang tahu, jika dirinya daritadi diperhatikan oleh Emyr. Dirinya berpura-pura tidak melihat dan bersikap biasa saja.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2