
Ada seorang istri yang sedang berdandan di depan meja riasnya. Sedangkan sang suami sedang sibuk mencuci baju di mesin cuci rumah mereka.
Sang istri sama sekali tidak ada niatan ingin membantu sang suami. Karena sang istri sedang sibuk memoles wajahnya agar terlihat cantik.
"Mas! Sudah selesai belum sih mencuci bajunya! Daritadi ko belum selesai juga!"
Sang suami yang mendengar teriakan sang istri dari dalam kamar langsung berjalan menghampiri. "Bagaimana mau cepat selesai. Sedangkan kamu saja tidak mau membantu Mas!"
"Linda tuh capek. Jika Mas bisa mengerjakan sendiri, ya kerjakan dong. Linda ini wanita mandiri, bukannya Shanum yang bisa Mas suruh-suruh seenaknya sendiri!"
Nah 'kan! Kalian semua sudah tahu sendiri siapakah sepasang suami istri yang saat ini sedang bertengkar.
Dalam ajaran Islam, pekerjaan rumah tangga sejatinya adalah tanggung jawab suami.
Namun jika dilakukan oleh para istri, maka pahala yang didapat setara dengan jihad.
Dalam beberapa hadits Rasulullah SAW disebutkan, bahwa pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban suami. Sederet kegiatan mulai dari mencuci baju, membersihkan rumah hingga menyiapkan makanan, semuanya termasuk dalam pekerjaan rumah tangga.
Dikisahkan bahwa Aisyah RA pernah ditanya: "Apa yang dilakukan Nabi di rumah?" Beliau menjawab, "Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya." (HR. Bukhari).
Dalam hadis lain, Aisyah juga mengatakan bahwa Nabi tidak ragu mengerjakan semua jenis pekerjaan rumah tangga.
"Nabi SAW menjahit kainnya, menjahit sepatunya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh kaum perempuan di rumah mereka." (HR. Ahmad).
Dalam hadits muttafaqun 'alaih disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita." Mereka bertanya, "Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Disebabkan kekufuran mereka." Ada yang bertanya kepada beliau, "Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?" Beliau menjawab, "(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, 'Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu'." (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).
Kita semua bisa melihat sendiri bagaimana sifat Linda kepada Imran. Dan selama menikah dengan Shanum. Bahkan Imran tidak pernah mencuci baju sama sekali. Jangankan mencuci, memegang mesin cuci pun tidak pernah sama sekali.
Mendengar Linda membantah ucapannya. Imran jadi teringat ucapan Shanum tempo dulu.
"Bajunya yang kotor taruh di keranjang saja Mas. Biar nanti Shanum cuci setelah sholat dhuha. Mas hati-hati ya di jalan."
Imran sangat terkejut ketika Shanum menyalami tangannya yang rasanya tidak sehalus dulu. "Tangan kamu kasar sekali Shanum?"
__ADS_1
"Ini adalah tanda pahala Shanum yang sudah mencucikan pakaian Mas dengan ikhlas."
Pada waktu itu, Imran terenyuh mendengar ucapan Shanum. "Masyaallah. Mas tidak salah menikahi seorang wanita."
Shanum tersenyum. Dan waktu pulang bekerja, Imran memberikannya hadiah, yaitu sebuah mesin cuci yang saat ini Imran gunakan untuk mencuci.
Shanum yang dibelikan mesin cuci oleh Imran. Langsung memeluk, mencium ke dua telapak tangannya dan mencium pipi Imran dengan penuh rasa sayang, rasa hormat dan mesra.
Tanpa sadar saat ini Imran tersenyum sendiri mengingat masa lalunya dengan Shanum. Akan tetapi semua itu sudah terlambat. Karena kekufurannya sendiri terhadap diri sendiri dan juga Shanum.
"Mas! Sudah jam segitu. Cepat sana berangkat bekerja!"
"Tapi Mas belum sarapan Linda."
"Beli saja sana di kantor. Linda tidak sempat untuk masak. Sudah sana berangkat!"
Mau tidak mau. Dan Setelah menikah dengan Linda, hidup Imran berubah seratus delapan puluh derajat.
Imran sering berangkat bekerja dalam keadaan lapar. Padahal dulu selama menikah dengan Shanum. Dirinya sama sekali tidak pernah kelaparan seperti itu. Justru Imranlah yang selalu menghujat masakan Shanum selama beberapa bulan sebelum bercerai.
"Braaaakkkk!"
Suara benturan yang sangat keras pun terdengar di telinganya dan pengguna jalan yang lainnya.
Yaps! Imran saat ini mengalami kecelakaan ketika sedang mengendarai motor dinasnya. Dia yang menyetir dalam keadaan lapar dan juga melamun. Tidak sadar jika ada truk di depannya yang sedang berputar arah. Alhasil dirinya tidak bisa mengendalikan laju motornya yang melaju cukup kencang.
Kecelakaan yang dialami oleh Imran membuat kemacetan di jalan raya tersebut. Untung saja ada polisi lalu lintas yang langsung sigap membantu Imran yang saat ini tidak sadarkan diri.
Imran mengalami luka yang cukup parah di bagian kepala dan juga lengan tangannya, karena terhimpit badan motor dan truk.
Sesampainya di rumah sakit. Imran langsung mendapatkan penanganan medis oleh para dokter yang berjaga.
Linda yang saat ini sedang memainkan ponselnya dan tidak meneruskan mencuci pakaian. Langsung mengangkat sambungan teleponnya ketika mendapatkan telepon dari nomor tidak di kenalnya.
"Halo! Siapa ini?"
__ADS_1
"Assalamu'alaikum. Ini Mbak Linda 'kan?"
"Iya! Saya sendiri. Ini siapa?"
Linda bahkan tidak menjawab salam yang dilontarkan orang tersebut. Padahal menjawab salam itu hukumnya wajib bagi umat islam.
"Saya rekan kerjanya mas Imran. Mas Imran saat ini mengalami kecelakaan dan sudah dibawa ke rumah sakit Mbak." Sang rekan kerja itu juga menyebutkan nama dan alamat rumah sakitnya.
"Apa! Baik-baik! Terimakasih sudah memberitahu saya." Setelah itu tanpa mengucapkan kata salam terlebih dahulu, Linda langsung mengakhiri sambungan teleponnya.
Linda sangat terkejut sekali. Dia langsung mengambil tas yang biasa dia bawa untuk segera pergi ke rumah sakit.
"Mas Imran merepotkan saja. Kenapa bisa sampai kecelakaan segala sih!"
Bukannya merasa sedih. Sambil mengendarai mobilnya. Linda malah menggerutu tentang Imran yang mengalami kecelakaan. Setelah menjemput sang ibu mertua alias ibu Mu'idah. Linda langsung bergegas menuju ke rumah sakit tempat Imran mendapatkan perawatan.
Keesokan harinya lagi. Tidak terasa sudah dua hari satu malam Imran menginap di rumah sakit. Akan tetapi dia belum ada perubahan yang signifikan atas kecelakaan yang dialaminya itu.
Dyah sebagai sang adik sudah mendapatkan kabar tentang kecelakaan yang dialami oleh sang kakak. Akan tetapi Dyah masih enggan melihat keadaan sang kakak dan memilih mengutus sang suami untuk menjenguknya.
Ibu Mu'idah sendiri juga sudah mengetahui jika Dyah sudah melahirkan. Akan tetapi bukan Dyah sendiri yang mengabarkan kepadanya. Melainkan Malik. Walau sedang marah dengan Dyah. Tapi ibu Mu'idah sangat senang sekali mendengar kabar kelahiran cucu pertamanya.
Ketika sang ibu datang menjenguknya di rumahnya. Dyah menunjukkan wajah cuek tidak peduli. Tapi masih mengijinkan ibu Mu'idah untuk menggendong dan menimang anaknya, walau Dyah tidak mengajak berbicara sang ibu, jika tidak diajak berbicara terlebih dahulu.
"Kamu datang sendirian Malik? Di mana Dyah?"
Kalau ibu Mu'idah yang bertanya. Dia tidak membutuhkan jawaban. Tapi penjelasan.
"Di rumah Bu. Karena Dyah kan baru saja melahirkan. Jadi dia tidak bisa pergi dengan mudah untuk saat ini. Kasihan Fatiyah."
Fatiyah adalah nama dari anak Dyah dan juga Malik.
Untung saja ibu Mu'idah percaya dengan alasan Malik. Jadi ketika Malik membuat alibi seperti itu. Ibu Mu'idah hanya diam saja.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...