
"Nak! Pikirkanlah dengan baik-baik. Mama dan papa tidak meminta apapun dari kamu. Sebelum kami meninggal, ijinkan kami melihatmu bahagia. Agar Mama dan papa tenang bila meninggalkanmu nanti."
Emyr masih terus terdiam sambil menunduk dan memainkan jari jemarinya. Dia sama sekali tidak ada niatan ingin membantah ucapan dari wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Benar Emyr apa yang dikatakan oleh mama kamu," sang papa pun ikut-ikutan berbicara juga.
"Umur tiada yang tahu. Bisa jadi besok mama dan Papa meninggal. Atau kamu yang meninggal. Kita semua tidak bisa menebaknya. Karena itu rahasia Tuhan yang tiada orang yang tahu."
( Maaf ya readers, papa Hisyam sedikit kesusahan mengucapkan kata Allah )
"Jangan cuma memikirkan. Tapi action, pergerakan untuk mencari pasangan. Semua makhluk yang bernyawa di dunia ini memang sudah ditakdirkan hidup berpasang-pasangan. Tapi jika kamu cuma diam saja tanpa mau mencarinya. Itu sama saja kamu yang bodoh!"
"Setidaknya sudah berusaha. Untuk hasilnya serahkan kepada Tuhan yang maha pemberi hidup," nasihat papa Hisyam lagi.
Emyr cuma tersenyum super tipis sekali mendengar nasihat dari ke dua orang tuanya. "Iya Pa! Ma! Emyr nanti akan mencarinya. Ijinkan Emyr masuk ke dalam kamar dulu."
"Dan besok, rencananya Emyr akan kembali pulang ke Indonesia. Selamat malam."
"Malam!" jawab mama Mulan.
Sedangkan papa Hisyam hanya mengangguk saja. Emyr pun langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang letih. Malam ini tidak cuma tubuhnya saja yang letih, tapi hati dan juga pikirannya.
Emyr yang sudah selesai bersih-bersih tubuhnya, ingin rasanya langsung tidur. Akan tetapi angan-angan tinggal cuma angan-angan saja. Karena semua ucapan ke dua orang tuanya tadi masih terngiang-ngiang diingatannya yang membuatnya menjadi tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.
Semalaman suntuk dia tidak bisa tidur sama sekali. Sekalinya bisa tidur, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Sekitar jam setengah empat subuh, alarm ponselnya berdering. Dan ketika dirasa masih ada waktu sebelum masuk sholat subuh. Emyr memutuskan untuk sholat tahajud terlebih dahulu.
Tidak cuma sholat tahajud saja yang Emyr lakukan. Dia sholat witir, dan sholat hajat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata'ala.
Begitupula dengan Shanum. Dia pun juga menunaikan ibadah sholat malam dengan khusuk sambil berlinang air mata. Dia begitu sangat rindu sekali dengan ke dua orang tuanya. Dan juga begitu sangat kesepian sekali di dalam rumah itu.
"Ya Allah! Ya Tuhanku! Berilah hamba jodoh yang terbaik dari sisi-Mu ya Rabbi. Jodoh yang bisa menyempurnakan keimanan hamba dan bisa menuntun hamba untuk lebih mendekatkan diri kepada-Mu."
__ADS_1
Apa yang Shanum ucapkan dalam doanya, hampir mirip dengan apa yang diminta oleh Emyr di dalam sholatnya.
Ketika sarapan tiba. Emyr langsung ikut sarapan bersama dengan ke dua orang tuanya. Sebelum dia berangkat ke bandara untuk kembali pulang ke Indonesia.
Jika Emyr bisa bersarapan dengan ke dua orang tuanya. Berbeda dengan Shanum yang sarapan sendirian dengan ditemani televisi yang menyala.
Shanum sudah mulai terbiasa hidup sendiri. Hanya saja sesekali dia butuh teman curhat untuk mencurahkan isi hatinya.
Sedang asik makan sambil menonton televisi. Tiba-tiba ponsel yang ada di atas meja depannya berdering dan bergetar. Ketika dilihat oleh Shanum, ternyata yang menelponnya adalah Laila.
"Halo! Assalamu'alaikum Laila!"
Diseberang sana Laila terdengar sangat senang sekali. "Wa'alaikumussalam Shanum!"
"Sedang apa kamu di sana?" tanya Laila.
"Aku sedang sarapan. Kamu sendiri sudah sarapan belum?"
"Tentu saja sudah dong. Oh ya! Aku ada kabar gembira nih untuk kamu!"
"Aku sudah ijin tiga hari sama bosku. Dan dia mengijinkanku, bolehkan aku untuk datang mengunjungimu di sana Shanum?"
Mata Shanum terbelalak lebar mendengar Laila ingin mengunjunginya. Laila setelah pulang dari luar kota dulu. Dia langsung mencari pekerjaan yang bisa dijangkaunya dari rumah.
Laila bekerja di sebuah laundry baju yang bisa dibilang sangat besar sekali tempatnya. Walau gaji yang diterimanya tidak terlalu besar seperti gajinya ketika bekerja di luar kota, akan tetapi Laila tetap menekuninya dengan semangat. Sebab gaji yang diberikan oleh tempat laundry itu sudah lebih dari cukup. Sesuai dengan UMR yang berlaku di kotanya. Bahkan jika orderan masuk banyak, bos Laila tidak segan-segan memberikan bonus kepada semua karyawannya.
"Benarkah kamu akan datang ke sini menemuiku Laila?" Shanum terdengar masih tidak percaya.
Walau Shanum tidak bisa melihatnya, Laila tetap mengangguk dengan semangat. "Iya! Untuk apa aku berbohong kepadamu Shanum!"
"Baiklah-baiklah! Besok kalau sudah sampai di terminal nanti hubungi aku lagi ya! Aku akan menjemputmu. Tapi naik sepeda!"
__ADS_1
Shanum tertawa terbahak-bahak ketika mengatakan akan menjemputnya naik sepeda. Dan suara tawa Shanum menular kepada Laila diseberang sana.
"Siap Nyonya! Tunggu kedatanganku besok yah!"
"Ok Laila. Semoga bisa sampai di sini dengan selamat! Aamiin."
Laila pun juga mengaamiinkan ucapan Shanum. Dan setelah dirasa cukup puas perbincangan mereka. Shanum dan Laila sepakat untuk mengakhiri sambungan teleponnya.
Shanum sudah tidak sabar menunggu kedatangan Laila ke rumah kontrakannya. Baik Laila dan Dyah sudah mengetahui, jika Shanum di sini berjualan lauk pauk siap makan. Laila dan Dyah mendoakan semoga bisnis jualan kecil-kecilan itu bisa bertambah besar dan banyak peminatnya. Siapa tahu Allah membukakan pintu rejeki untuk Shanum, biar bisa membuka usaha catering.
Meninggalkan Shanum. Kembali lagi ke Emyr. Kenapa Emyr? Karena authornya lagi ingin membahas Emyr, wkwkwk! Daripada kisah Imran yang kalau diketik bikin kesel sendiri. Hahaha!
Saat ini Emyr sudah berada di dalam pesawat yang akan membawanya kembali ke Indonesia.
Penerbangan yang sangat lama akan Emyr tempuh. Karena jarak antara Turki ke Indonesia memakan waktu belasan jam.
Emyr yang semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Saat ini memilih untuk tidur untuk mengurangi rasa kantuknya. Dan setelah berlama-lama di dalam pesawat. Akhirnya, Emyr sampai juga di salah satu bandara yang ada di Indonesia.
Kedatangan Emyr sudah ditunggu oleh sopir pribadi yang ada di rumahnya. Dan setelah dia sudah masuk ke dalam mobilnya. Sang sopir pun langsung menembus jalanan Indonesia untuk menuju ke rumah Emry yang sangat mewah itu.
Sedangkan untuk Shanum. Seharian itu setelah sibuk berdagang, malamnya dia sibuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan dimasaknya esok hari.
Setiap jam satu malam, Shanum sudah mulai memasak semua menu masakan yang ingin dia jual. Setiap hari masakan yang dimasak Shanum berbeda-beda, itu semua Shanum lakukan supaya pembelinya tidak merasa jenuh melihat menu itu-itu saja.
Sebelum memasak, Shanum menyempatkan waktu untuk sholat tahajud terlebih dahulu. Akan tetapi untuk hari ini dia sedang berhalangan. Jadi Shanum otomatis langsung mulai memasaknya.
Sekitar jam setengah empat subuh, masakan Shanum sudah selesai dimasaknya. Dirinya cuma tinggal membungkusnya saja satu persatu. Dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, Shanum sudah mulai menata semua dagangannya di depan rumahnya.
Begitu terus rutinitas yang dilakukan oleh Shanum. Hingga sekarang masakannya sudah dikenal luas di desa tersebut.
Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Jika cobaan pertama, ke dua, ke tiga dan seterusnya masih gagal. Itu artinya kita disuruh untuk bekerja lebih keras lagi. Karena sejatinya, usaha yang lebih susah dan keras, hasilnya pun akan jauh lebih besar dan juga nikmat.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...