JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
MASIH MENGIDAM


__ADS_3

Masa-masa kehamilan Shanum sama seperti perempuan pada umumnya. Dia juga mengalami yang namanya morning sickness dan juga mengidam.


Setiap pagi atau setiap mencium aroma yang menyengat, entah itu dari makanan atau yang lainnya, Shanum pasti akan muntah-muntah.


Untung saja, Emyr selalu sigap di samping Shanum untuk membantunya. Emyr benar-benar menjadi suami yang siaga untuk sang istri. Dia tidak ingin terjadi apa-apa kepada Shanum dan ke dua calon buah hatinya. Terlebih lagi, dokter mengatakan jika kandungan masih Shanum termasuk lemah. Jadi, Emyr akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaganya.


Mama Mulan dan papa Hisyam juga begitu perhatian sekali kepada Shanum. Jika Emyr pergi ke suatu tempat atau berangkat ke kantor. Bila mama Mulan dan papa Hisyam ada di rumah, mereka akan silih berganti menemani serta membantu Shanum, bila Shanum sedang membutuhkan bantuan.


Seperti yang diinginkan oleh Shanum kemarin. Mereka pada hari itu juga benar-benar pergi ke mall dan menuju ke penjual tas branded, namun cuma menuruti permintaan anehnya Shanum saja.


Karena merasa malu sama pegawai toko dan ownernya, akhirnya semua tas yang dipegang oleh Shanum, Emyr membelinya semua. Tidak tanggung-tanggung, ada sekitar delapan tas branded merek ternama dengan harga yang bisa terbilang mahal sudah Emyr beli. Dan bisa dikatakan kantong Emyr jebol cuma hanya membeli tas tersebut. Semua itu, demi Shanum. Yah! Begitulah yang dikatakan oleh hati Emyr.


Saat ini Shanum baru saja bangun tidur. Emyr yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, langsung disuguhkan pemandangan sang istri yang sedang cemberut.


"Sayang! Kamu kenapa?" tanya Emyr sambil berjalan mendekati ranjang.


"Apakah kamu mau muntah lagi?" Shanum langsung menggelengkan kepalanya.


Emyr lalu memegang ke dua tangan Shanum, ketika dia sudah duduk di ranjang. "Sekarang katakan kepada Baba. Anne mau apa?"


"Shanum tadi malam bermimpi melihat, bahkan bisa memegang pelangi digenggaman tangan Shanum, Baba."


Emyr menganggukkan kepalanya. "Ok! Lalu?" tanya Emyr.


"Shanum ingin melihat pelangi sekarang Kak." Shanum terlihat manja dan cemberut.


Emyr menutup matanya terlebih dahulu sebelum menjawab permintaannya Shanum. Bagaimana bisa melihat pelangi, sedangkan sekarang saja sedang tidak turun hujan.


"Emm! Sekarang sedang tidak turun hujan, Anne. Melihat pelanginya ditahan saja dulu ya?"


Shanum menggelengkan kepalanya. "Tidak mau!"


"Ya Tuhan. Kenapa Shanum mengidamnya aneh-aneh sekali sih!" ucap Emyr di dalam hatinya.


"Lalu bagaimana dong sayang? Apa kita pergi ke luar negeri saja untuk melihat pelangi?"


Shanum menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak mau pergi ke luar Negeri. Shanum maunya melihat pelangi di sini."


Emyr terlihat menghela nafasnya. Karena dia benar-benar sangat bingung sekali. Ketika Emyr sedang mencari cara bagaimana meredakan keinginan Shanum, tiba-tiba Shanum mengatakan sesuatu kepadanya.


"Baba!"

__ADS_1


Emyr mencoba tersenyum. "Eh! Iya Anne."


"Shanum tidak jadi melihat pelangi deh!" Emyr merasa lega ketika mendengarnya.


"Sebagai gantinya, Shanum ingin melihat daun-daun yang ada di taman depan di cat warna-warni seperti pelangi ya Baba." Shanum terlihat semangat. Namun berbeda dengan Emyr yang melotot sangat lebar mendengar permintaan anehnya itu.


"Di-di cat?"


Shanum mengangguk semangat sambil tersenyum cerah ceria. Akhirnya, karena tidak ada pilihan lain, Emyr pun menurutinya, walau taman di halaman rumahnya nantinya akan terlihat aneh.


"Ba-baiklah! Nanti Baba akan menyuruh anak buah Baba untuk membeli cat warna warni," Emyr tersenyum garing.


Karena berhubung hari itu Emyr harus pergi ke kantor, akhirnya dia meninggalkan Shanum bersama sang mama. Sedangkan papa Hisyam juga harus pergi ke kantor untuk mengecek semua bisnisnya.


Sekitar jam sebelas siang, papa Hisyam memutuskan untuk pulang ke rumah, karena pekerjaannya sudah selesai.


Sesampainya di rumah, ketika papa Hisyam sudah memarkirkan mobilnya, matanya dibuat tercengang melihat dedaunan sudah berubah warna menjadi warna-warni.


"Apa-apaan ini?" gerutu papa Hisyam.


Papa Hisyam lalu mendekati taman tersebut. "Ini cat! Semua daunnya di cat pelangi warna-warni?" papa Hisyam berbicara sendiri.


Tidak sengaja, mama Mulan baru saja keluar dari dalam rumah untuk mengecek pekerjaan dari para pekerja yang disuruh Emyr dan Shanum untuk mengecat daun.


"Ma! Kenapa tamannya jadi seperti ini?" papa Hisyam menunjuk daun-daun yang sudah di cat.


"Itu karena permintaan menantu Papa!" mama Mulan menghela nafasnya.


"Sudah yuk masuk. Panas sekali. Mau makan siang bersama? Biar Mama panggilkan Shanum dulu di kamar."


Papa Hisyam hanya mengangguk saja. Mereka berdua lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang keluarga, mata papa Hisyam dibuat melotot lagi. Sebab pasalnya dia melihat banyak robot dari yang terkecil sampai yang terbesar ada di atas meja yang ada di situ.


"Robot!"


"Kenapa ada robot-robotan di sini Mama? Cucu kita 'kan belum lahir," ucap papa Hisyam.


"Itu Shanum yang beli, Pa!"


"Huh!" mama Mulan terlihat menghela nafasnya.


"Tadi Shanum mengajak Mama untuk pergi ke mall sebentar. Ketika dia melihat toko mainan, alih-alih membeli mainan khusus cewek, dia malah tertarik dengan semua robot ini."

__ADS_1


"Papa tahu? Berapa harga dari semua robot ini? Ini sangat mahal sekali menurut Mama," ucap mama Mulan lagi.


"Memangnya berapa harganya, Ma?" papa Hisyam terlihat penasaran.


"Yang kecil ini, harganya satu juta. Itu, satu juta setengah, ini tiga juta. Yang ini, empat setengah juta. Dan yang paling besar ini, sepuluh juta Pa!" jelas mama Mulan sambil menunjuk semua robot yang ada di depannya.


"Wow! Mahal sekali!" mama Mulan mengangguk membenarkan ucapan sang suami.


Papa Hisyam tiba-tiba tertawa. "Mungkin cucu kita laki-laki, Ma. Lihatlah apa yang dibeli Shanum sekarang."


"Bukannya membeli tas atau pernak-pernik perempuan, tapi dia malah membeli robot-robotan super canggih ini."


Mama Mulan menghela nafasnya kembali. "Papa jangan senang dulu."


Papa Hisyam merasa heran dengan yang dikatakan oleh mama Mulan. "Apa maksud Mama?"


Mama Mulan lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag yang ada di atas meja.


"Kain! Kain untuk apa itu Ma?" papa Hisyam menunjuk kain yang baru saja dikeluarkan oleh mama Mulan dari dalam paper bag tadi.


"Ini akan Shanum jahit."


"Jahit? Ah! Papa tahu, pasti nanti cucu Papa akan berjenis kelamin perempuan. Mereka 'kan kembar Ma."


Mama Mulan menggelengkan kepalanya. "Bukan itu maksud Shanum membeli kain ini."


"Lalu?" tanya papa Hisyam.


"Kain ini akan Shanum potong-potong. Lalu dia akan membuat pakaian syar'i plus hijabnya juga untuk dia pakaikan ke semua robot ini," jelas mama Mulan.


Mata melotot dan mulut terbuka lebar. Itulah yang terjadi dengan papa Hisyam ketika mendengar penjelasan dari mama Mulan.


"Iya! Ekspresi seperti inilah yang tadi Mama tunjukkan ketika mendengar sendiri dari Shanum."


Papa Hisyam langsung menetralkan rasa keterkejutannya ketika disindir oleh mama Mulan.


"Dada Papa terasa sesak mendengar ini semua!"


Mama Mulan mengangguk pasrah. Sebab dia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk melarang mengidamnya Shanum yang aneh-aneh.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


...~TBC~...


__ADS_2