
Perjalanan yang Shanum dan Emyr tempuh tidaklah sebentar. Butuh berjam-jam lamanya untuk mereka sampai di kota.
Selama perjalanan, Shanum dan Emyr benar-benar tidak terlibat pembicaraan yang berarti. Shanum lebih banyak diam dan akan berbicara jika dia diajak berbicara terlebih dahulu oleh Emyr.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaga, akhirnya mobil yang mereka naiki sampai juga di sebuah rumah yang sangat super mewah sekali. Rumah yang sangat jauh dari pikiran Shanum.
"Shanum!" Emyr mencoba membangunkan Shanum.
Rupa-rupanya, Shanum tertidur ketika hampir sampai di rumah Emyr.
"Engh! Iya Kak Emyr?"
"Kita sudah sampai, ayo kita turun. Biarkan tas kamu di situ saja. Nanti akan dibawakan masuk sama sopir saya."
Walau Emyr berbicara sambil tersenyum. Entah kenapa, Shanum tetap merasa tidak tenang dan kurang nyaman. Karena hari ini dia berada di tempat yang benar-benar sangat asing sekali baginya. Dan juga tidak pernah dia kunjungi sama sekali.
"Tunggu Kak Emyr!"
Gerakan Emyr yang akan membuka pintu mobil langsung terhenti, ketika dia dipanggil oleh Shanum.
"Iya! Ada apa Shanum?"
"Sebenarnya Kakak siapa? Apa ada hal yang tidak Shanum ketahui dari Kakak?"
Emyr tersenyum. "Banyak! Dan saya tidak berniat menyembunyikannya darimu. Nanti kamu akan tahu sendiri. Dan jika kamu kurang jelas, nanti kamu bisa bertanya langsung kepadaku. Ayo masuk! Anggap saja rumah sendiri."
Emyr langsung saja turun dari dalam mobil. Karena Shanum tidak keluar juga dari dalam mobilnya. Emyr pun langsung membukakan pintunya untuk Shanum.
Mata Shanum melotot sangat lebar sekali ketika melihat bangunan megah nan mewah yang ada di depan matanya.
"I-ini rumah siapa Kak?"
"Rumahku." Emyr menjawab sambil tersenyum.
"Ayo! Masuk! Tidak perlu sungkan. Sebentar lagi rumah ini juga akan menjadi rumahmu."
"Hah!"
Emyr hanya tersenyum saja. Dia langsung mengajak Shanum masuk ke dalam rumahnya. Kaki Shanum benar-benar gemetaran, karena untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di rumah super mewah sekali. Matanya sangat terpesona melihat seisi rumah Emyr.
"Apakah mama dan papa sudah pulang ke Turki, Bi?"
"Turki?" ucap batin Shanum.
Sang bibi yang ditanya oleh Emyr langsung menjawab. "Belum Tuan Emyr. Nyonya dan tuan besar sedang beristirahat di dalam kamar."
Emyr hanya mengangguk saja. Dirinya lalu mengajak Shanum untuk menunggu di ruang keluarga saja.
"Kamu tunggu di sini dulu ya Shanum."
Shanum hanya mengangguk kaku menanggapi Emyr. Dan setelahnya, Emyr langsung berlalu pergi dari hadapan Shanum.
Sepeninggal Emyr, Shanum terus memperhatikan ruang keluarga rumah Emyr. Sungguh benar-benar rumah yang sangat mewah dan juga megah sekali.
"Masyaallah. Rumah ini sangat bagus dan juga mewah. Bahkan aku tidak pernah memimpikan rumah sebagus ini," ucap Shanum di dalam hatinya.
Tidak berselang lama, rasa terpukau Shanum dengan rumah Emyr, teralihkan dengan kedatangan tiga orang. Jika Shanum tebak, dua orang yang berjalan di belakang Emyr adalah ke dua orang tuanya.
"Masyaallah! Calon mantu Mama! Aaaaaaa!"
Ini adalah pertama kalinya Emyr membawa pulang seorang perempuan. Dan mama Mulan benar-benar sangat bahagia sekali. Dia bahkan sedikit berlari supaya segera sampai di depan Shanum.
Shanum sendiri benar-benar sudah tidak tahu lagi, bagaimana mengungkapkan rasa malunya dihadapan ke tiga orang yang saat ini sedang berjalan mendekatinya.
Tubuh Shanum kaku ketika tiba-tiba mama Mulan memeluknya dengan hangat. "Calon mantu Mama!"
"Ayo-ayo duduk!" Mama mulan sangat bahagia sekali.
Emyr dan papa Hisyam saat ini juga ikut duduk di sofa seberang mama Mulan dan Shanum.
"Pasti capek 'kan perjalan dari sana ke sini. Mau minum apa sayang, mau makan apa? Katakan saja, biar nanti disiapkan sama bibi."
Shanum hanya menunduk dan tersenyum kaku dibalik niqabnya. "Emm! Tidak perlu repot-repot Nyonya, ... "
"Eh! Ko Nyonya lagi! Mama dong! Kamu ini 'kan sebentar lagi akan menikah sama Emyr. Benar begitu 'kan Emyr?"
"Hah!"
Emyr hanya menganggukkan kepalanya saja menanggai sang mama.
__ADS_1
"Sudah dong Ma! Biarkan dia bernafas dulu. Mama daritadi membuatnya semakin malu," ucap papa Hisyam.
"Oh ya lupa Nak! Perkenalkan, dia papanya Emyr. Namanya papa Hisyam."
Shanum cuma mengangguk saja sambil tersenyum tipis dibalik niqabnya.
"Nama saya Shanum, emm Ma ... "
"Shanum! Namanya sangat cantik sekali. Pasti orangnya juga cantik 'kan?"
"Apakah boleh Mama melihat wajahmu itu Nak. Kamu 'kan sebentar lagi akan menjadi istri Emyr."
Sebenarnya Shanum benar-benar malu dan tidak mau memperlihatkan wajahnya kepada mama Mulan dan papa Hisyam. Namum dirinya entah kenapa sangat sulit sekali membantah ucapan mama Mulan. Bahkan Shanum pun juga diam saja ketika mama Mulan selalu mengatakan jika dirinya adalah calon istrinya Emyr.
Dengan gerakan kaku, perlahan tapi pasti, Shanum pun akhirnya mau membuka niqabnya untuk memperlihatkan wajahnya kepada mama Mulan dan papa Hisyam.
Deg! Deg! Deg! Suara degup jantung akan tetapi seperti suara genderang perang. Itulah yang dirasakan oleh Emyr saat ini. Emyr bahkan sampai memegangi dadanya karena tidak kuat dengan suara degup jantungnya itu.
Melihat kecantikannya Shanum yang membuat matanya enggan berpaling. Itulah yang dirasakannya sekarang.
"Walau pakai niqab. Pintar juga kamu mencari calon istri, Emyr! Wajahnya cantik sekali," papa Hisyam menggoda Emyr.
Sedangkan mama Mulan malah diam saja sambil menatap lekat kearah Shanum. Dan hal itu membuat Shanum semakin malu, lalu menutup kembali wajahnya dengan niqab.
"Siapa nama orang tua kamu Shanum!"
Suara mama Mulan terdengar serius tidak sehangat tadi.
"Namanya Umar dan Yasmin, Ma!"
"Yasmin?"
Shanum cuma mengangguk saja. Tiba-tiba mama Mulan beranjak pergi dari hadapan Shanum dan membuat papa Hisyam serta Emyr bertanda tanya ada apakah sebenarnya.
Tidak lama, mama Mulan sudah kembali sambil membawa selembar foto.
"Apakah Yasmin ini, sama dengan Yasmin, ibu kamu Shanum?" mama Mulan langsung duduk di sofa sebelah Shanum sambil memberikan selembar foto tadi.
Shanum melihat dengan seksama foto yang saat ini mama Mulan tunjukkan kepadanya. Di dalam foto ada dua orang perempuan berseragam SMA. Yang satu memakai hijab yang satu tidak. Dan Shanum sangat mengenali sekali, siapa perempuan yang memakai hijab itu.
"Ini foto ibu Shanum waktu masih muda dulu Ma."
"Shanum!" mama Mulan langsung memeluk Shanum sangat erat sekali. Dan Shanum semakin bingung dengan sikap mama Mulan kepadanya.
Emyr dan papa Hisyam masih memperhatikan, apa yang sebenarnya terjadi dengan mama Mulan.
"Lalu di mana ibu kamu, Nak? Mama mau bertemu. Ibu kamu adalah sahabat baik Mama dulu waktu SMA."
Gantian mata Shanum, Emyr dan papa Hisyam yang melotot sangat lebar. "A!"
"Ibu kamu sangat pintar sekali orangnya. Dia bisa keterima di sekolahan mahal, karena mendapatkan beasiswa. Dan jika ibu kamu bisa mempertahankan kepintarannya itu sampai lulus. Dia dijamin tidak perlu membayar sama sekali untuk sekolah di sekolahan mama waktu sekolah dulu."
"Kebetulan Mama sebangku dengan ibu kamu, Nak. Sejak awal masuk sekolah, mama dan ibu kamu sudah menjadi teman dekat, hingga kita lulus sekolah."
"Penampilan Mama yang sekarang itu juga karena nasihat yang ibu kamu berikan kepada Mama. Dia setiap waktu selalu menasihati Mama untuk memakai hijab. Hingga ketika lulus sekolah SMA, Mama sudah memantapkan diri untuk berhijab, dan alhamdulillah sampai sekarang."
Semua orang masih pada diam untuk mendengarkan mama Mulan yang sedang asik bernostalgia.
"Terakhir bertemu dengan ibu kamu ketika kami selesai wisuda. Dan Mama benar-benar tidak bisa berkomunikasi sama sekali dengan ibu kamu, karena dia tidak mempunyai ponsel."
"Mama ingin sekali mengunjungi ibu kamu. Tapi Mama tidak tahu tempat tinggal ibu kamu, Nak. Karena selama di kota, Yasmin tinggal di asrama yang disediakan sekolahan."
"Kami sibuk dengan kehidupan kami masing-masing. Apalagi setelah Mama menikah dengan papa. Mama menetap di Turki dan jarang pulang ke Indonesia."
"Sekarang! Katakan Nak! Di mana ibu kamu. Mama ingin bertemu dengannya. Sungguh mama sangat merindukannya."
Mata Shanum terlihat berkaca-kaca. "Ibu sudah lama meninggal Ma, sejak Shanum masih MTs."
"Apa!"
Mama Mulan langsung menangis sejadi-jadinya. "Yasmin!"
"Lalu Ayah kamu? Masih hidup 'kan Nak?"
Shanum menggelengkan kepalanya. "Ayah juga sudah meninggal dua tahun sebelum ibu meninggal."
"Hah!" mama Mulan membuka mulutnya dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
"Ya Allah, Shanum! Nak! Jadi kamu sudah yatim piatu?" Shanum menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Lalu kamu selama ini tinggal sama siapa?" tanya mama Mulan lagi. Hatinya benar-benar teriris mendengar cerita dari Shanum.
"Sama Nenek. Dan Nenek baru saja meninggal beberapa tahun ini Ma!"
"Astaghfirullah Nak!"
"Yasmin! Kau tinggalkan anak yang begitu cantik seorang diri di dunia ini!" ucap mama Mulan lagi.
Papa Hisyam pun juga cukup terkejut mendengar cerita Shanum yang sangat menyentuh hati.
"Emyr!"
"Iya Ma!" jawab Emyr.
"Mama tidak mau tahu! Pokoknya tiga hari lagi kalian harus menikah!"
"Hah!" Emyr dan Shanum benar-benar terkejut mendengar ucapan mama Mulan.
"Ta-tapi Ma!"
"Tidak ada tapi-tapian Nak! Sudah cukup kamu menderita. Mama janji akan menjadi mama pengganti yang baik untukmu. Yasmin itu sahabat baik Mama. Dia orang yang sangat baik, pasti kamu juga baik orangnya."
"Tapi Shanum merasa tidak pantas menjadi istri kak Emyr, Ma!"
"Kenapa? Apa kamu seorang janda?"
Shanum sangat terkejut karena mama Mulan sudah mengetahui jika dirinya seorang janda. "Iya Ma!" Shanum menganggukkan kepalanya.
"Kalau kami boleh tahu. Apa yang membuatmu menjadi janda, Nak?"
"Suami Shanum lebih memilih wanita lain, Tuan!"
"Astaghfirullah!" ucap mama Mulan dan papa Hisyam secara bersamaan.
"Apa penyebabnya yang membuat suami kamu memilih wanita lain. Apa kamu membuat kesalahan yang fatal?"
Shanum menggelengkan kepalanya. "Kami belum diberikan keturunan sama Allah selama menikah dua tahun Tuan," Shanum menjawab jujur apa adanya. Sebab dia tidak mau ada yang di tutup-tutupi.
"Shanum tidak bisa menikah dengan kak Emyr, Ma! Shanum takut, jika Shanum tidak bisa memberikan keturunan untuk kalian."
"Jika memang Allah tidak memberikan anak untuk kita. Saya tidak akan bersikap sama seperti mantan suami kamu, Shanum!" jawab mantap dari Emyr.
"Saya tahu! Pasti kamu ada rasa trauma tersendiri untuk menikah. Tapi yakinlah! Saya bukan laki-laki seperti itu!" Emyr mencoba meyakinkan Shanum.
"Ijinkan Shanum untuk berpikir terlebih dahulu Kak. Shanum mohon!"
"Baiklah! Semoga keputusan yang kamu ambil nanti adalah keputusan yang saya harapkan," jawab Emyr.
Mama Mulan mencoba meyakinkan Shanum. "Tolong pikirkan baik-baik Nak! Emyr bukan laki-laki yang jahat seperti mantan suami kamu itu. Bukan karena Emyr anak Mama, jadi Mama berkata seperti ini kepadamu."
"Percayalah! Emyr pasti bisa memberikan kebahagiaan untuk kekosongan hatimu."
"Jika masalah anak! Kamu tenang saja Nak. Nanti kami akan memeriksakan kesehatanmu dan Emyr ke dokter yang terbaik, kalau perlu ke luar Negeri untuk bisa segera mendapatkan seorang anak. Tolong terima Emyr ya Nak!" mama Mulan terlihat memohon kepada Shanum.
"Lebih baik kita beri waktu untuk Shanum, Ma! Karena pasti saat ini dia benar-benar sangat terkejut sekali."
"Baiklah! Kamu istirahatlah saja dulu. Ayo Mama antar ke dalam kamar kamu."
Shanum hanya menurut saja. Dia pun lalu ikut bersama mama Mulan menuju ke dalam kamar tamu yang sudah disiapkan sebelumnya.
Tinggallah papa Hisyam dan Emyr saja yang ada di situ. "Apakah kamu sudah tahu bagaimana kehidupan Shanum, Emyr?"
Emyr menganggukkan kepalanya. "Sudah Pa! Emyr sudah tahu semuanya tentang Shanum. Makanya Emyr mantap untuk menikahinya walau dia seorang janda sekalipun."
Papa Hisyam gantian yang mengangguk. "Jika memang itu keputusanmu. Apalagi mama kamu sangat menyukai Shanum, terlebih lagi dia anak dari sahabat baiknya, Papa tidak bisa berbuat apa-apa."
"Jika kamu membutuhkan bantuan Papa. Katakanlah saja. Percayalah, pasti Shanum akan menerimamu. Karena Papa lihat, dia tidak akan bisa membantah ucapan mama kamu."
"Persiapkan pernikahan kalian dari sekarang. Lebih cepat lebih baik. Karena Papa sebentar lagi akan segera pulang ke Turki."
Emyr mengangguk saja kepada sang papa. Dan Emyr merasa, jika apa yang dikatakan oleh sang papa benar apa adanya.
Papa Hisyam setelah mengatakan hal itu kepada Emyr, langsung beranjak pergi dari situ untuk menuju ke dalam kamarnya.
Sedangkan Emyr sendiri, juga sama halnya langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang letih.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...
__ADS_1