JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
MENGGODA


__ADS_3

Ada sebuah mobil mewah yang baru saja memasuki pekarangan rumah super mewah. Kedatangan sang pemilik mobil disambut sopan dan ramah dari para pekerja yang ada di rumah itu. Dengan berjalan penuh kewibawaan, sang pemilik mobil langsung masuk ke dalam rumah mewah yang ditujunya tersebut.


Sang asisten rumah tangga yang melihat kedatangan orang tersebut, juga langsung menyapanya.


"Selamat datang Nyonya Mulan, Tuan Hisyam."


Ternyata orang itu adalah papa Hisyam dan mama Mulan. Dan mereka saat ini sedang berkunjung ke rumah Emyr.


Papa Hisyam dan mama Mulan hanya mengangguk saja ketika disapa oleh asisten rumah tangga yang ada di rumah sang putra.


"Di mana anak saya Bi?"


"Tuan Emyr sejak kemarin sedang pergi Nyonya."


"Pergi ke mana lagi anak itu?"


"Katanya sedang liburan Nyonya."


Papa Hisyam cukup terkejut mendengar jawaban asisten rumah tangganya. Karena pasalnya, putra semata wayangnya itu sangat enggan sekali jika disuruh untuk liburan. "Liburan ke mana Bi?"


Sedangkan mama Mulan memperhatikan sang asisten dan papa Hisyam yang sedang mengobrol.


"Di kampung halaman mas Nasir, Tuan."


"Apa!" mama Mulan benar-benar terkejut mendengarnya.


Mama Mulan kira, jika Emyr berlibur ke luar kota atau ke luar Negeri untuk menghabiskan waktunya. Tidak tahunya malah ke kampung.


"Kampung?" sang asisten rumah tangga itu langsung mengangguk kepada mama Mulan.


"Biar mama telepon Emyr dulu Pa!"


Namun gerakan mama Mulan langsung dicegah oleh papa Hisyam. "Jangan Ma!"


Mama Mulan sedikit heran. "Kenapa Pa?"


"Biarkanlah saja. Biarlah Emyr melakukan apa yang dia sukai."


"Biar Papa menelpon Nasir saja untuk mencari tahu. Kalau Nasir tentu saja tidak akan berani berbohong kepada Papa."


Akhirnya, mama Mulan mengangguk menyetujui ide dan saran dari papa Hisyam.


Papa Hisyam langsung mencoba menghubungi Nasir. Dan Nasir sendiri diseberang sana sedang asik berbincang dengan keluarganya.


Nasir yang mendengar ponselnya berdering, apalagi melihat nama sang tuan besar, tanpa banyak berbicara langsung menyingkir menjauh dari mereka semua, terutama dari Emyr.


Setelah dirasa sudah cukup aman mengangkat sambungan teleponnya, Nasir langsung menjawabnya. "Halo! Assalamu'alaikum, Tuan Hisyam."


"Wa'alaikumussalam Nasir."


"Bolehkah saya bertanya sesuatu kepadamu. Tapi kamu harus jawab dengan jujur!"


Suara papa Hisyam terdengar ada penekanan, supaya Nasir benar-benar mau jujur kepadanya.

__ADS_1


"Baik Tuan! Saya akan menjawabnya dengan jujur."


"Saya cuma mau bertanya, apakah Emyr saat ini sedang bersama denganmu?"


Mau tidak mau, walau Emyr sudah melarangnya untuk jangan memberitahukan kepada siapa-siapa, terutama kepada ke dua orang tuanya. Tapi Nasir tidak bisa berbohong kepada papa Hisyam.


"Iya Tuan! Tuan Emyr saat ini sedang ikut dengan saya pulang kampung."


Papa Hisyam diseberang sana menggelengkan kepalanya. "Ada-ada saja tingkah anak itu. Bagaimana dia bisa mendapatkan calon istri, jika liburannya di kampung."


"Justru di sinilah Tuan Emyr bisa mendapatkan jodoh, Tuan."


Ops! Nasir malah keceplosan menjawab gerutuannya papa Hisyam.


"Apa maksud ucapanmu Nasir!"


"Emm!"


"Cepat katakan kepada saya sekarang juga! Jangan sampai membuat saya marah!"


Mama Mulan yang duduk di sebelah papa Hisyam sangat penasaran sekali dengan percakapan dari sang suami dan Nasir. Sebab nada bicara papa Hisyam terdengar sangat menuntut.


"Engh!


"Engh! Apa Nasir! Cepat katakan!"


Suara dingin dan menyeramkan terdengar jelas di telinga Nasir.


"Di sini ada warga baru Tuan, yang tinggal persis bersebalahan dengan rumah bapak saya. Dan sepertinya tuan Emyr tertarik dengan wanita yang tinggal di rumah sebelah rumah bapak saya."


"Terus! Lanjutkan!"


"Wanita ini seorang janda Tuan. Dan tuan Emyr ... "


Belum selesai Nasir berbicara, papa Hisyam sudah menyelanya. "Ok! Saya mengerti! Kamu awasi saja Emyr di sana. Kalau ada apa-apa segera laporkan kepada saya. Mengerti Nasir!"


"Baik-baik Tuan! Saya mengerti!" jawab mantap dari Nasir.


Setelahnya, papa Hisyam memilih mengakhiri sambungan teleponnya. Karena sudah kepalang tanggung, akhirnya Nasir mengirimkan video ketika Emyr tersenyum sendiri ketika makan, dan di saat dia sedang makan sangat lahap sekali.


Papa Hisyam yang mendapatkan kiriman video dari Nasir, malah langsung menghubunginya lagi.


"Kenapa kamu mengirimkan video itu Nasir? Dan saya lihat, tumben sekali, Emyr makannya lahap?"


"I-itu tuan Emyr sedang makan masakannya mbak Shanum, Tuan. Dan lihatlah lagi ekspresi tuan Emyr. Dia bahkan senyum-senyum sendiri."


Tanpa banyak berbicara. Papa Hisyam tiba-tiba memutus sambungan teleponnya lagi untuk segera melihat video yang Nasir kirimkan tadi.


Mama Mulan yang sudah penasaran sejak tadi langsung mengambil paksa ponsel papa Hisyam untuk melihat apa yang sedang dilihat oleh sang suami.


"Ini Emyr makannya lahap sekali. Senyum-senyum sendiri pula!"


"Anak Mama sedang jatuh cinta itu. Dan makanan yang di makannya itu masakan dari gadis yang disukai Emyr."

__ADS_1


Wajah mama Mulan terlihat berbinar bahagia. Karena mama Mulan mengira, jika Emyr sebentar lagi akan segera menikah. "Oh ya Pa?"


Papa Hisyam mengangguk. "Iya Ma! Tapi Mama harus tahu sesuatu."


"Tahu apa Pa?" ekspresi mama Mulan terlihat semakin penasaran.


"Wanita yang disukai oleh Emyr seorang janda."


"Apa! Janda!" mama Mulan benar-benar terkejut.


"Apakah dia sudah mempunyai anak. Kalau sudah, itu artinya kita akan langsung mempunyai cucu dong."


"Apakah Mama tidak apa-apa jika Emyr berjodoh dengan seorang janda?"


Mama Mulan tertawa. "Papa tenang saja."


Papa Hisyam yang melihat mama Mulan seperti mempunyai rencana langsung menegurnya. "Mama jangan macam-macam deh!"


"Macam-macam bagaimana sih Pa! Sudah! serahkan semuanya sama Mama!"


Papa Hisyam hanya menggelengkan kepalanya saja. Dan dia sudah tidak sabar ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu.


Meninggalkan mama Mulan dan papa Hisyam. Saat ini beralih ke kampung halaman Nasir lagi.


Selesai menerima telepon dari papa Hisyam, Nasir langsung ikut bergabung lagi bersama yang lainnya.


"Jadi! Nak Dyah ini adik iparnya neng Shanum."


"Lebih tepatnya mantan Kek!" jawab Dyah.


"Saya pribadi sudah menganggap mbak Shanum sebagai kakak kandung sendiri. Bukan mantan kakak ipar. Titip mbak Shanum di sini ya Kek."


Kakek Idris tersenyum sambil mengangguk. "Kamu tenang saja Nak! Neng Shanum ini juga sudah kakek anggap sebagai anak sendiri. Kalau dia mau, akan Kakek jodohkan sama Nasir."


Mata Emyr melotot sangat lebar sekali mendengar ucapan kakek Idris. Dyah yang melihat ekspresi Emyr langsung tersenyum geli.


"Kakek jangan sembarangan berbicara. Lihatlah mata mas Emyr yang melotot itu. Dia tidak terima lho Kek, jika wanita yang dia sukai dijodohkan sama laki-laki lain."


"Dyah!" Shanum menggertakan giginya mendengar Dyah menjodohkannya dengan Emyr.


Karena memang itu niat Dyah yang ingin menjodohkan Emyr dengan Shanum.


Kakek Idris langsung menepuk dahinya dengan keras. "Oh ya lupa! Maafkan Kakek, Nak Emyr. Kalau begitu, Nasir sama Neng Laila saja ya!"


"Hah!" Laila membuka mulutnya karena terkejut. Sedangkan Emyr langsung menunduk sambil tersenyum malu-malu.


Wajar saja jika dia dan Nasir akan dijodoh-jodohkan sama Shanum dan Laila. Karena memang cuma mereka saja yang belum ada pasangannya.


"Jika Shanumnya mau. Saya inginnya langsung menikah!"


"Hah!" gantian Shanum yang langsung membuka mulutnya cukup lebar dibalik niqabnya.


Sedangkan yang lainnya langsung menyoraki Shanum dan Emyr secara bersamaan. Sebab Emyr berani terang-terangan berbicara seperti itu.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...


__ADS_2