
Ketika baru sepuluh menit papa Hisyam pergi dari rumah, tiba-tiba ada mobil masuk ke halaman rumah. Dan orang pemilik mobil tersebut adalah Emyr.
Emyr turun dari dalam mobil dalam keadaan tergesa-gesa. Dia lalu berlari masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaannya Shanum.
Mama Mulan yang melihat kedatangan Emyr langsung bertanya kepadanya. "Lho! Kamu ko sudah pulang Emyr?"
"Shanum mana Ma?" wajah Emyr terlihat sangat khawatir.
"Ada di dalam kamar, katanya mau istirahat. Memangnya kenapa?"
Emyr langsung bergegas naik ke atas tangga rumahnya untuk menuju ke dalam kamar dan tidak mempedulikan pertanyaan dari sang mama.
Mama Mulan yang melihat Emyr bersikap seperti itu menjadi penasaran sendiri, plus takut bila terjadi apa-apa dengan Shanum.
"Emyr! Ada apa dengan Shanum?" teriak mama Mulan kepada Emyr yang sudah berlalu pergi.
Mama Mulan yang merasa khawatir langsung berjalan menuju ke dalam lift. Dia memencet tombol dengan tidak sabaran untuk segera sampai di lantai dua rumahnya.
Sedangkan Emyr yang sudah sampai di depan kamarnya langsung membuka pintunya dengan kasar dari luar.
"Shanum!" teriak Emyr.
Emyr yang sudah membuka pintu langsung melihat Shanum sedang duduk di atas ranjang sambil menangis sesenggukan.
Emyr tentu saja segera mendekatinya dan duduk di depannya. "Shanum! Kamu kenapa sayang?"
Sebab pasalnya tadi ketika Emyr sedang bekerja, Shanum tiba-tiba menelponnya sambil menangis dan berbicara dengan terbata-bata. Tentu saja hal itu membuat Emyr memilih meninggalkan pekerjaannya untuk segera menemui Shanum.
"Kamu tenang dulu ya sayang. Kakak akan segera pulang!" begitulah yang dikatakan oleh Emyr kepada Shanum tadi melalui sambungan telepon.
Di sinilah Emyr sekarang, sudah duduk dihadapan Shanum. Shanum belum bisa menjawab, dia masih sesenggukan dan berlinang air mata.
"Sha-Shanum!"
"Tarik nafas, keluarkan secara perlahan," Shanum langsung mengikuti instruksi dari Emyr.
"Sekarang sudah lebih baik, cepat katakan kepada Kakak, kamu kenapa?"
Belum sempat Shanum menjawab, mama Mulan sudah keburu sampai di dalam kamar mereka berdua.
"Shanum! Kamu kenapa Nak?" mama Mulan berjalan mendekati ranjang.
"Mama!"
Mama Mulan benar-benar khawatir melihat Shanum berlinang air mata seperti itu.
"Emyr! Ada apa ini sebenarnya?"
Emyr yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menghendikan ke dua bahunya.
__ADS_1
"Katakan kepada Kakak, sayang. Kamu kenapa sebenarnya?" tanya Emyr lagi dengan suara lembut.
"Shanum! Shanum! Baru saja membeli robot-robotan yang harganya sangat mahal sekali Kak. Huwaaaaaa!" Shanum menangis sejadi-jadinya.
"Shanum! Shanum! Membeli robot-robotan itu harganya sekitar dua puluh jutaan. Huwaaaaa!" Shanum berbicara sambil sesenggukan.
Emyr langsung menatap sang mama ketika sudah mendengar penjelasannya. "Ini Kak! Lihatlah sendiri struk belanjaan Shanum."
"Eh! Iya!" Emyr mengambil struk belanjaan itu yang diberikan oleh Shanum.
"Shanum menyesal sudah membeli robot-robotan itu Kak. Huwaaaaaa! Harganya benar-benar mahal, tadi kenapa pas beli Shanum tidak kepikiran sama sekali dengan harganya."
"Padahal!" Shanum menetralkan sesenggukannya dulu. "Padahal dulu untuk membeli sesuatu Shanum harus menabungnya dulu. Sekarang malah Shanum menghambur-hamburkan uang dengan percuma." Shanum masih berbicara sambil sesenggukan dan Emyr beserta mama Mulan masih diam mendengarkannya.
Hormon kehamilannya lah yang membuat Shanum bersifat seperti ini sekarang. Dan dia benar-benar tidak menyadari tentang perubahan hormonnya itu.
Emyr tiba-tiba tersenyum dan membuat Shanum langsung menghentikan suara tangisannya.
"Kenapa Kakak tertawa?" tanya Shanum.
"Kakak nggak tertawa, cuma tersenyum. Kamu itu lucu Shanum," Emyr masih tersenyum. Dan mama Mulan jadi ikut-ikutan tersenyum.
"Mama kira kamu kenapa Shanum. Membuat Mama khawatir saja," ucap mama Mulan juga.
"Lucunya di mana Kak? Shanum sudah menghambur-hamburkan uang Kakak dengan percuma?" Shanum merasa heran sendiri.
"Jangankan dua puluh juta. Mau kamu beli sesuatu harganya dua ratus juta atau dua miliar pun Kakak tidak masalah, asal kamu bahagia."
Emyr mengangguk sambil menggenggam tangan Shanum. "Benar sayang. Kakak bekerja juga untuk kamu. Dan Kakak berjanji untuk membahagiakanmu."
Shanum mencoba tersenyum. Perasaannya sudah cukup lega melihat Emyr tidak marah kepadanya.
"Kakak tidak akan marah cuma masalah sepele seperti ini sayang. Tenanglah!"
"Sekarang tunjukkan kepada Kakak yuk! Mana robot-robotan yang kamu beli itu. Siapa tahu Kakak juga suka."
"Lagi pula, jika kamu nanti sudah bosan, robot-robotan itu bisa dijual lagi ko sayang. Tenang saja. Bahkan jika robot-robotan itu sudah edisi langkah. Wah! Harganya bisa dua kali lipat dari sebelumnya.
"Masa sih Kak?"
Emyr mengangguk. "Hu'um, iya. Dan jika nanti anak kita laki-laki, kita malah tidak perlu lagi beli robot-robotan."
Melihat Emyr tertawa, Shanum pun jadi ikut-ikutan tertawa dan melupakan kesedihannya tadi.
"Robot-robotannya masih ada di ruang keluarga tadi Emyr. Apa kamu tidak melihatnya?" ucap mama Mulan ikut menimpali.
Emyr pun langsung menggelengkan kepalanya kepada sang mama. "Emyr tidak ngeh Ma."
"Kalau begitu, ayo kita ke ruang keluarga. Kakak sudah sangat penasaran sama robotnya."
__ADS_1
Shanum tersenyum sambil mengangguk. "Kakak beneran tidak marah sama Shanum 'kan?"
Emyr menggelengkan kepalanya. Lalu dia mengajak Shanum untuk keluar dari dalam kamar.
"Ada-ada saja sikap Shanum. Mungkin karena masa kehamilannya dia bersikap sangat manja sekali kepadaku." Emyr berbicara sendiri di dalam hati sambil mendorong kursi rodanya Shanum.
"Tapi entah kenapa aku suka," Emyr masih berbicara sendiri di dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Ketika pintu lift sudah terbuka, Emyr pun langsung mendorong kursi roda Shanum untuk keluar dari dalam lift bersama mama Mulan. Mereka bertiga saat ini sedang menuju ke ruang keluarga.
Sesampainya di ruang keluarga, Emyr langsung melihat beberapa robot-robotan canggih yang tadi sudah dibeli oleh Shanum.
"Ini robot yang kamu beli tadi Shanum?" Emyr menunjuk semua robot yang ada di atas meja. Dan Shanum langsung menganggukkan kepalanya.
"Selera kamu ternyata bagus juga Shanum. Tunggu sebentar!"
Emyr pun berlalu pergi dari hadapan Shanum menuju ke lemari kaca yang ada di situ. Emyr ternyata mengeluarkan koleksi robot yang dia punya.
"Nih! Kakak juga punya. Bagus tidak?"
Mata Shanum berbinar senang. Entah kenapa dia sangat suka mainan robot-robotan untuk saat ini. Padahal sebelumnya dia tidak tertarik sama sekali dengan mainan itu.
"Bagus Kak. Pasti mahal harganya?"
"Iya! Dan yang pasti harganya lebih mahal dari semua robot yang kamu beli."
"Ini robot edisi terbatas. Pada waktu itu Kakak beli ketika sedang berlibur di luar Negeri."
Shanum seperti tidak mendengarkan ucapan sang suami. Dia malah asik sendiri melihat robot yang dibawa oleh Emyr tadi.
"Shanum! Kakak tinggal sebentar ya. Mau mandi, gerah sekali rasanya. Kamu sama mama dulu ya?"
Shanum menganggukkan kepalanya, tapi tidak mengalihkan pandangannya dari robot yang dipegangnya.
Mama Mulan yang melihat Shanum tertarik sama robot-robotan langsung bertanya. "Sepertinya kamu senang sekali melihat robot itu, Shanum?"
"Iya Ma! Tidak tahu kenapa Shanum senang melihat robot-robotan ini?" Shanum bahkan sampai memeluk robot itu.
"Apa mungkin nanti cucu Mama laki-laki?"
Shanum menghendikkan ke dua bahunya. "Tidak tahu Ma. 'Kan mereka masih kecil. Tapi masa iya itu bisa buat patokan?"
"Emm! Mama juga tidak tahu sih. Tapi katanya sih iya."
"Mau cewek atau cowok, Shanum akan mensyukurinya, karena mereka adalah anugerah terindah dari Allah. Bahkan banyak pasangan suami istri rela bercerai hanya karena tidak mempunyai momongan."
Shanum jadi teringat dengan kisah rumah tangganya dengan Imran dulu ketika berbicara seperti itu.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...