
Selama berbincang dengan Shanum. Ibu RT tersebut sangat nyambung dan suka. Jujur di dalam hatinya, ibu RT itu merasa kasihan dengan kehidupan Shanum yang sebatang kara dan dicerai suami karena wanita lain.
Ingin sekali dia menjodohkan anak laki-lakinya dengan Shanum. Tapi apalah daya, anak laki-lakinya sudah pada menikah dan sudah punya anak semua.
Sedang asik berbincang berdua, tiba-tiba terdengarlah suara salam dari luar. Yang Shanum tebak itu suara Devi dan pak RT yang sudah pulang.
Benar saja dugaan Shanum. Ketika orang tersebut sudah masuk ke dalam rumah, itu memang pak RT yang baru saja datang dari sawah.
"Neng! Maaf tunggu sebentar lagi ya. Saya mau mandi dulu biar lebih nyaman mengobrolnya."
Shanum mengangguk dan tersenyum di balik niqabnya. "Silahkan Pak."
Pak RT pun langsung berlalu pergi dari hadapan Shanum untuk segera mandi. Sedangkan Shanum memilih melanjutkan mengobrolnya lagi dengan bu RT dan juga Devi.
Tidak berselang lama, akhirnya pak RT selesai juga mandi dan bersih-bersih badannya yang penuh dengan lumpur.
Pak RT pun langsung duduk di sofa sebelah sang istri untuk mulai bertanya banyak hal kepada Shanum.
"Jadi Neng ingin tinggal di sini dan mencari kontrakan di kampung ini?"
Shanum mengangguk. "Benar Pak. Perkenalkan, nama saya Shanum. Itu KTP saya sedang dibawa sama ibu." Shanum menunjuk sopan KTPnya.
Ibu RT tadi langsung teringat dan memberikan KTP milik Shanum kepada suaminya. Pak RT tentu saja langsung membaca dan melihat dengan seksama KTP tersebut.
Sama seperti ibu RT tadi, pak RT juga menanyakan hal yang sama seperti yang sudah ditanyakan oleh ibu RT. Semuanya Shanum jawab persis seperti jawaban yang dia berikan kepada ibu RT.
"Jika tidak keberatan, mari saya antar untuk mencari rumah kontrakan yang ada di sini Neng Shanum."
Shanum mengangguk lagi. "Boleh Pak. Tapi jika boleh saya minta, ajak Devi juga ya Pak. Biar tidak menimbulkan ucapan yang kurang sedap dari tetangga."
Ibu RT tersenyum mendengar saran dari Shanum. Dan pak RT pun juga setuju akan saran tersebut.
Devi, Shanum dan juga pak RT langsung beranjak pergi dengan naik motor sendiri-sendiri untuk menyusuri kampung mencari rumah kosong atau rumah yang ingin dikontrakkan sama pemiliknya.
Selama perjalanan, Shanum malah lupa dengan tujuan awalnya yang ingin mencari rumah kontrakan, karena dia sedang terpesona dengan pemandangan yang membuat matanya betah untuk melihat.
"Sepertinya aku akan betah tinggal di sini," ucap Shanum di dalam hatinya.
"Neng Shanum!"
Shanum sedikit terkejut ketika dipanggil oleh pak RT. "Eh! Iya Pak!"
__ADS_1
Devi pun langsung menghentikan laju motornya ketika pak RT menghentikan motor miliknya. "Itu ada rumah yang ingin dikontrakkan. Apa Neng Shanum minat?"
Shanum memperhatikan rumah yang ada di seberang jalan. Rumah yang cukup luas dan sepertinya terlalu besar bagi Shanum yang cuma tinggal seorang diri.
"Hmm! Sepertinya terlalu kebesaran untuk saya Pak."
Pak RT mengangguk membenarkan. Karena memang rumah itu besar. "Kalau begitu, kita lanjutkan saja mencarinya. Ayo!"
Shanum dan Devi cuma mengangguk saja. Mereka langsung mengikuti laju motor pak RT yang menyusuri kampung.
Setelah berputar-putar sekitar satu kampung. Akhirnya, pak RT menemukan sebuah rumah sederhana yang sepertinya cocok untuk Shanum tinggali. Dan alhamdulillahnya, masih satu RT dengan lingkungan pak RTnya.
"Neng Shanum? Kalau rumah ini bagaimana?"
Shanum memperhatikan rumah tersebut. Rumah yang bisa dibilang seperti rumah yang ada di perumahan, tidak terlalu besar maupun tidak terlalu kecil.
"Boleh deh Pak. Saya mau. Lalu saya harus mengurus rumah ini dengan siapa?"
"Bisa saya urus. Pemiliknya kebetulan baru pindah kemarin. Dan mereka menitipkan nomor teleponnya kepada saya."
Shanum tersenyum dibalik niqabnya. "Alhamdulillah kalau begitu."
"Kalau begitu, kita kembali ke rumah saya dulu yuk Neng. Biar saya teleponkan pemilik rumahnya."
Sesampainya di rumah pak RT. Shanum, Devi, pak RT dan bu RT sudah duduk santai di ruang tamu rumah tersebut.
"Oh ya Devi. Ini! Ada sedikit rejeki untuk kamu. Terimalah sebagai tanda terimakasih saya."
Shanum memberikan uang lima puluh ribu untuk Devi. Akan tetapi Devi malah menolaknya. "Tidak perlu Mbak Shanum. Saya ikhlas membantu Mbak."
"Tidak apa-apa. Ambil saja. Rejeki jangan ditolak."
Shanum tetap memaksa. Dan sebelum mengambil uang tersebut, Devi mengalihkan pandangannya ke arah bu RT dan pak RT yang sedang menatapnya.
"Ambil saja Devi. Untuk tambah-tambah uang jajan kamu."
Mendengar ucapan bu RT. Akhirnya, Devi pun mau juga mengambil uang pemberiannya Shanum.
"Terimakasih Mbak Shanum."
Shanum tersenyum sambil mengusap kepala Devi dengan lembut. "Sama-sama. Kuliah yang rajin ya."
__ADS_1
Devi tersenyum juga. "Kalau begitu. Devi pamit pulang ya Mbak Shanum, Bu RT dan Pak RT."
"Assalamu'alaikum."
Shanum, bu RT dan pak RT langsung membalas salamnya Devi sambil tersenyum juga.
Tinggallah cuma Shanum saja di rumah pak RT. Pak RT lalu menelponkan pemilik rumah yang tadi ingin Shanum tinggali.
Setelah terjadi kesepakatan. Dan pemilik rumah akan datang menemui Shanum keesokan harinya. Shanum pun ingin berpamitan pergi dan menanyakan penginapan terdekat yang ada di kampung itu.
"Di sini tidak ada penginapan Mbak Shanum," jawab bu RT.
"Jika Mbak Shanum mau. Mbak boleh menginap di sini dulu, iya 'kan Pak?" ucap bu RT lagi kepada Shanum dan pak RT.
Pak RT mengangguk. "Iya boleh Bu. Lagi pula kasihan juga jika Neng Shanum ini bolak balik ke kampung ini lagi tanpa kendaraan."
Shanum tersenyum sangat cerah sekali dibalik niqabnya. Baru saja datang, dirinya sudah beberapa kali dipertemukan oleh orang yang benar-benar mau membantunya. Padahal mereka semua tidak saling mengenal.
Malam itu Shanum benar-benar tinggal di rumah pak RT untuk semalam saja. Dan keesokan harinya, pemilik rumah yang akan di tempati oleh Shanum sudah datang ke rumah pak RT sekitar jam delapan pagi.
Shanum, pak RT, bu RT dan pemilik rumah merundingkan harga. Dan setelah sepakat dengan perundingan harga yang cukup lumayan menyita pikiran, akhirnya terjadilah kesepakatan antara mereka semua.
Mulai hari itu, Shanum resmi menempati rumah tersebut dan diantarkan langsung oleh pak RT serta sang pemilik rumah.
Ketika semua orang sudah pada pergi dari dalam rumah kontrakannya itu. Shanum langsung saja membereskan rumah tersebut dan menata semua barang-barang bawaannya.
Sedangkan beralih ke Imran dan Linda lagi.
Imran yang masih kesulitan berjalan meminta tolong kepada Linda untuk ke kamar mandi, karena dia ingin buang air kecil.
"Mas merepotkan sekali!" gerutu Linda sambil membantu Imran berjalan.
"Apa mau meminta tolong Linda juga untuk membersihkan pipisnya Mas!"
"Jangan harap! Bersihkan sendiri! 'Kan tangan Mas tidak sakit tuh!"
Linda langsung berlalu pergi dari depan kamar mandi setelah mengatakan hal kasar seperti itu kepada Imran.
Imran hanya diam saja. Karena membantah pun percuma. Sekarang dia merasakan sendiri bagaimana setiap hal yang diperbuat selalu dicela oleh seseorang.
Membuang berlian demi untuk mengambil batu kerikil yang tidak ada harganya sama sekali. Dan orang seperti itu bukannya bodoh lagi, tapi super bodoh.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...