
Dua jam sebelum acara akad nikah di mulai.
Saat ini Shanum sedang di make up oleh make up artis yang sudah Emyr sewa. Di dalam kamar tamunya, Shanum terlihat benar-benar sangat cantik sekali.
"Mbak bukan artis, tapi wajah Mbak tidak kalah sama artis-artis yang biasa saya make up. Apakah Mbak perawatan juga, secara 'kan Mbak calon istrinya tuan Emyr yang uangnya nggak bakal habis tujuh turunan."
Shanum tersenyum sambil menatap sang MUA dari balik cermin. "Saya tidak pernah perawatan sama sekali Mbak. Hanya cuma menjaga wudhu saja. Karena sebaik-baiknya make up di dunia ini, masih kalah baik bila wajah kita selalu terkena air wudhu."
"Masyaallah. Mbak benar-benar sholehah."
"Alhamdulillah. Sudah Mbak jangan memuji saya terus. Karena sejatinya manusia sering lupa jika mendengar kata pujian. Sebab tidak ada yang bisa kita banggakan akan hal itu."
Sang MUA hanya tersenyum saja. Dan ketika mereka sibuk melanjutkan make upnya, tiba-tiba pintu kamar Shanum terbuka dari luar. Dan pelakunya adalah orang-orang terdekat Shanum.
"Assalamu'alaikum!"
Shanum yang mendengar suara salam secara bersamaan, langsung menolehkan kepalanya ke belakang.
"Aaaaaaa! Laila, Nenek Khadijah, Kakek Idris, Ibu, Bapak, Dyah, Mas Malik, Medina, Mas Rafi!"
Shanum lalu beranjak berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan mereka semua. Shanum benar-benar merasa bahagia dan juga terkejut secara bersamaan.
"Cie-cie yang bakal menikah!" Shanum malu ketika digoda oleh Laila.
Ibunya Laila lalu berjalan mendekati Shanum dan langsung memeluknya. "Selamat ya Nak. Akhirnya kamu bisa melepas masa jandamu. Ibu senang mendengarnya."
"Waktu mas Nasir datang ke rumah Ibu untuk memberitahukan kabar pernikahan kamu. Awalnya Ibu dan bapak sedikit tidak percaya. Namun, setelah Laila menjelaskan semuanya kepada Ibu. Barulah Ibu percaya Nak. Sekali lagi, Ibu ucapan selamat." Ibunya Laila tersenyum hangat kepadanya.
"Terimakasih Bu!" Shanum tersenyum dibalik niqabnya.
"Akhirnya, kepindahanmu di kampung Nenek bisa mengantarkan jodoh untukmu, Nak!"
Shanum tertawa. "Iya Nek! Shanum jadi malu."
"Sudah yuk! Kita keluar dulu. Biarkan Shanum menyelesaikan make upnya!"
Mendengar komando dari kakek Idris, mereka semua lalu keluar dari dalam kamar Shanum. Baru saja Shanum duduk kembali, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lagi dari luar. Tapi kali ini yang masuk ke dalam kamar adalah Emyr.
Jantung Shanum tiba-tiba berdegup dengan kencang sekali melihat kedatangannya Emyr.
"Bisakah kalian semua keluar sebentar?"
Mendengar permintaan Emyr, MUA dan para asistennya langsung berlalu keluar meninggalkan Shanum dan Emyr berdua saja di dalam kamar.
"A-ada apa Kak Emyr?"
Emyr memandang Shanum dengan tatapan memuja dan terpesona. Tatapan Emyr kepadanya, membuat Shanum seakan meleleh dibuatnya.
Shanum terus menunduk untuk menyembunyikan perasaan malunya. Tiba-tiba Emyr mendongakkan kepalanya dengan memegang dagunya.
"Walau kamu sekarang sedang memakai niqab, tapi Kakak tahu, dibalik niqab itu tersembunyi wajah bidadari yang selama ini Kakak cari."
"Blush!" pipi Shanum terasa memanas mendengar kata-kata manis dari Emyr.
__ADS_1
Emyr lalu mengambil telapak tangan Shanum. Dan langsung memakaikan cincin berlian ke jari manisnya.
"Maaf! Kakak bukannya lupa untuk memberikan ini kepadamu. Hanya saja Kakak bingung kapan waktu yang pas untuk memberikannya. Karena kita tidak ada acara lamaran sama sekali."
Shanum menatap cincin indah di jari manisnya. "Cincinnya cantik sekali," mata Shanum berbinar senang.
"Lebih cantik yang memakainya," sahut Emyr.
"Kakak keluar dulu. Kakak tunggu di pelaminan. Awas jika sampai kabur dari Kakak. Karena Kakak pasti tidak akan membiarkan kamu pergi dari sisi Kakak."
Shanum merinding di sekujur tubuhnya. Karena bisikan lembut yang Emyr ucapkan tepat di telinganya, membuat tubuhnya langsung kaku seketika.
Sebelum berlalu keluar, Emyr tersenyum super manis sekali kepada Shanum. Shanum yang melihat hanya bisa menatap Emyr dengan tatapan bengong, tapi terpesona.
Kembali ke masa sekarang.
Setelah semua pernak-pernik pernikahan yang menempel di tubuh Shanum sudah dilepaskan oleh mama Mulan, Dyah dan juga Laila. Tidak lama, Shanum akhirnya sadar juga dari pingsannya.
Emyr yang melihat Shanum sadar bukannya langsung mendekat, tapi dia malah masih asik menatap Shanum dengan begitu lekatnya.
"Kepala Shanum pusing!"
"Minum dulu Nak!" mama Mulan memberikan segelas air putih kepada Shanum.
"Tinggalkan kami berdua!"
Dyah, Laila dan juga mama Mulan langsung menatap kearah Emyr. "Baiklah! Ayo Nak Dyah, Nak Laila. Kita keluar dulu."
Shanum terus menunduk. Dia benar-benar sangat takut sekali jika Emyr akan marah kepadanya.
Setelah kepergian ke tiga orang tadi, Emyr langsung duduk di ranjang depan Shanum. "Maafkan Shanum, Kak!"
Emyr tidak menjawab, dia masih terus menatap Shanum yang saat ini terus menunduk.
Tangan Shanum sudah semakin gemetaran, dengan air mata yang sudah menetes di kelopak matanya yang indah.
Emyr lalu mengangkat dagu Shanum untuk melihat wajahnya.
"Kenapa kamu menangis sayang?" suara Emyr terdengar lembut sekali sambil mengusap air mata Shanum.
"Shanum takut Kakak marah sama Shanum. Ka-karena acara .... "
Belum sempat Shanum menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Emyr mencium bibir Shanum.
Shanum yang terkejut langsung terdiam dengan mata yang melotot. Setelah berhasil mencuri ciuman dari Shanum, Emyr tersenyum sangat manis sekali sambil mengusap pipi Shanum.
"Apakah Kakak harus marah kepada istri Kakak yang sedang syok?"
"Apakah Kakak harus memarahi istri Kakak yang sangat cantik sekali hari ini?"
"Apakah Kakak juga harus merasa kesal, karena acaranya tidak berlangsung sesuai harapan?" ucap Emyr lagi. Sedangkan Shanum masih diam saja sambil memandang lekat wajah sang suami.
Emyr tersenyum. "Kakak bukan Imran, Sayang. Kakak tidak mungkin memarahimu hanya untuk masalah sepele seperti ini. Karena bagi Kakak, kesehatanmu adalah yang utama."
__ADS_1
"Jika kamu belum kuat untuk menyelesaikan acara hari ini. Kakak bisa menyuruh mereka semua kembali pulang."
Shanum langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan Kak! Shanum sudah merasa lebih baik."
"Tadi Shanum cuma merasa syok, karena mendapatkan banyak hadiah dari Kakak, mama dan juga papa."
"Jadi! Apakah itu artinya kamu siap keluar menyalami mereka semua?"
Shanum mengangguk. "Shanum siap Kak. Tapi ... "
"Tapi apa sayang? Hmm! Katakan saja." Emyr menggenggam erat ke dua tangan Shanum.
"Shanum boleh ganti baju saja tidak Kak? Rasanya gerah sekali. Dan dada Shanum masih terasa sesak."
"Tentu saja boleh dong sayang. Nggak mau pakai baju pun boleh. Asal cuma di dalam kamar ini saja bersama Kakak!"
Shanum tersenyum. Dia refleks memukul pelan dada Emyr dengan pipi yang terlihat memerah.
Emyr yang bahagia langsung memeluk Shanum dengan begitu eratnya. "Terimakasih Shanum. Terimakasih sudah mau menerima Kakak."
Mendengar ucapan sang suami, Shanum langsung melepaskan pelukannya. "Justru Shanum yang harusnya berterimakasih kepada Kakak. Karena Kakak sudah mau menerima Shanum yang seorang janda." Shanum mengusap lembut pipi Emyr.
Emyr mengambil tangan Shanum, lalu menciumnya dengan mesra. "Cepatlah ganti baju. Akan Kakak tunggu di luar saja, bila kamu malu."
"Baju kamu ada di lemari sebelah sana. Tadi Kakak lihat mama memasukkannya ke sana." Emyr menunjuk lemari yang ada di situ.
Shanum hanya mengangguk saja. Dia lalu beranjak turun dari atas ranjang untuk melepaskan gaun pengantinnya yang cukup ribet itu.
"Kak Emyr!"
Emyr yang sudah memegang gagang pintu langsung menolehkan kepalanya ke arah Shanum. "Iya Sayang!"
"Maukah Kakak melepaskan zipper gaunnya. Tangan Shanum tidak sampai."
Deg! Deg! Deg!
Jantung Emyr bertalu-talu. Dengan gerakan kaku, Emyr berjalan mendekati Shanum lagi.
Emyr membuka zipper baju pengantin Shanum yang ada di belakang punggungnya dengan tangan gemetaran. Kulit mulus pun terlihat jelas saat ini di mata Emyr. Tanpa sadar, tangannya mengusap lembut punggung Shanum.
Shanum yang merasa geli, langsung berpamitan pergi kepada Emyr untuk berganti baju di dalam kamar mandi.
Sedangkan Emyr yang ditinggal sendirian di situ, langsung menaruh ke dua tangannya di pinggang. "Huh!" Emyr terlihat menghela nafasnya sambil tertawa sendiri.
Setelahnya, Emyr pun menepuk-nepuk dadanya yang rasanya sangat aneh sekali. Sepertinya aliran darahnya sedang mengalir sangat deras di dalam tubuhnya. Emyr berjalan ke luar kamar sambil terus tersenyum dengan wajah yang terlihat berbinar cerah.
..._____*_____...
Huh! Authornya seperti tahan nafas sambil senyum-senyum sendiri membayangkan Emyr dan Shanum.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...
__ADS_1