JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
KEADAAN YANG BERBEDA


__ADS_3

Shanum sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Dan sudah mempunyai orang yang harus dia prioritaskan, yaitu Emyr.


Shanum bangun lebih dulu dari Emyr. Dia tersenyum sendiri mengingat kegiatan indah yang tadi siang sudah dia lakukan bersama Emyr.


Matanya menatap mesra kearah Emyr yang saat ini masih tidur. "Terimakasih! Sudah membuat Shanum seperti Ratu." Shanum mengusap rambut Emyr dengan lembut.


Shanum lalu beranjak turun dari atas ranjang untuk menuju ke dalam kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, dia menatap seluruh kamar yang saat ini dia tempati.


"Kamar yang sangat indah sekali. Masyaallah." Mata Shanum berbinar, karena baru sempat memperhatikan dekorasi kamar untuk malam pertama mereka.


"Pasti kak Emyr sudah bersusah payah untuk membuat suasana nyaman di dalam kamar ini." Shanum terlihat tersenyum sendiri.


"Semoga saja, Allah selalu menjaga hati, pikiran dan sikap kamu kak. Karena Shanum pasti tidak akan sanggup, jika suatu saat nanti kakak akan berubah seperti mas Imran."


"Bismillah. Kamu yang terbaik." Shanum menyemangati dirinya sendiri.


Shanum langsung masuk ke dalam kamar mandi. Baru saja masuk dan sedang melepaskan pakaiannya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh Emyr yang membuka pintu.


"Kakak! Selalu saja membuat Shanum terkejut."


Emyr bersandar di pintu kamar mandi. "Kenapa tidak membangunkan Kakak?" mata Emyr terlihat masih mengantuk.


"Sengaja! Niatnya mau membangunkan nanti saja setelah Shanum selesai mandi."


"Kakak suka mandi bersama kamu. Kenapa kamu tega sekali sih sayang." Emyr berjalan mendekati Shanum.


Shanum tidak menjawab, dia lalu menyalakan shower dan ingin mandi lebih dulu. Tapi sayang, Emyr tidak membiarkan itu terjadi. Dia mengajak bermain (?) sebentar dengan Shanum, akan tetapi tidak sampai melakukan itu di dalam kamar mandi.


Selesai mandi, Shanum dan Emyr menunaikan ibadah sholat ashar berjamaah. Dan selesai sholat ashar, Shanum ijin kepada Emyr ingin keluar dari dalam kamar.


"Mau ke mana sih sayang. Di sini saja temani Kakak." Emyr terlihat merajuk manja kepada Shanum.


"Shanum cuma ingin melihat keadaan di luar Kak. Apakah sudah selesai dibereskan apa belum."


"Kan bisa lihat dari balkon kamar sayang."


"Iya kah?"


Emyr mengangguk. "Iya! Ayo kita lihat dari sini saja."


Emyr menggandeng tangan Shanum untuk dia ajak ke balkon kamar. Dari balkon kamar Emyr, mereka bisa melihat pemandangan bawah dengan jelas.


"Wah! Di sini indah sekali pemandangannya. Bahkan perkotaan juga terlihat cukup jelas dari sini."


"Apakah kamu suka?" Emyr memeluk Shanum dari belakang.


Shanum mengangguk. "Suka sekali Kak. Terimakasih ya!"


"Terimakasih untuk apa Shanum?" tanya Emyr.


"Sudah memberikan Shanum kesempatan untuk menikmati semua ini."

__ADS_1


Emyr tersenyum. Dia lalu membalik tubuh Shanum untuk menghadap kearahnya. "Bila dunia bisa Kakak beli. Akan Kakak belikan untukmu, walau itu harus menghabiskan semua uang yang Kakak punya."


Shanum tersenyum manis dibalik niqabnya. "Kenapa Kakak suka sekali menggombal sih?"


Emyr mengangkat ke dua bahunya. "Entahlah! Semenjak melihatmu dan mengenalmu. Kakak seperti mempunyai pribadi yang berbeda."


Shanum hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum dan mengalungkan ke dua tangannya di pundak Emyr.


Sore itu, mereka menghabiskan waktu berdua dengan kemesraan dan kebahagiaan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata


Berbeda halnya dengan Shanum. Kita akan membahas Imran sejenak.


Imran yang baru saja pulang bekerja, saat ini sedang menikmati waktu sendirinya di depan televisi sambil mengistirahatkan tubuhnya dari rasa capek.


Sedang asik sendiri, tiba-tiba telinganya mendengar pintu rumah terbuka dari luar. Dan tanpa ingin melihat siapakah yang datang, Imran sudah bisa menebak, siapakah orangnya itu. Siapa lagi kalau bukan Linda.


Selama pertengkaran kemarin, Linda yang pergi dari rumah belum pernah kembali pulang. Dan baru ini dia pulang ke rumah.


Sesampainya di dalam rumah, Linda langsung masuk ke dalam kamar, tanpa mau menyapa Imran sama sekali yang sedang melihatnya.


Imran pun yang melihat kedatangan Linda, dia seakan tidak peduli dan membiarkannya saja.


Melihat Linda keluar dari dalam kamar sambil membawa satu koper penuh berisi pakaian, Imran masih cuek. Akan tetapi dia tiba-tiba mengatakan satu hal yang membuat langkah kaki Linda terhenti.


"Bila kamu melangkahkan kaki keluar dari dalam rumah ini. Jangan harap kamu bisa kembali lagi ke sini!" Imran berucap dengan mata yang masih fokus dengan televisi di depannya.


"Dan tunggu saja surat perceraian dariku!" lanjut lagi ucapan Imran.


Imran yang mendengar suara koper dibanting, hanya menoleh sekilas saja. "Jika kamu masih ingin menjadi istri Mas. Tata kembali bajumu di dalam lemari. Kalau tidak! Segeralah pergi dari sini!" Imran berucap dengan tenang. Namun, ketenangan Imran itulah yang membuat Linda bimbang.


Tanpa banyak berbicara, Linda lalu masuk kembali ke dalam kamar dan menata semua baju yang tadi sudah diambilnya.


Imran yang melihat Linda masuk kembali ke dalam kamar, hanya diam saja sambil tersenyum miring. Dirinya lelah. Lelah bila terus mengalah dengan Linda. Sebab dirinya adalah kepala rumah tangga di rumah itu.


Linda yang sudah menata kembali semua bajunya di dalam lemari, langsung memilih merebahkan badannya di atas ranjang. Dia menangis sesenggukan untuk meluapkan emosinya yang tidak bisa dia luapkan.


Pergi dari rumah beberapa hari lamanya, Imran sama sekali tidak ada niatan untuk mencarinya. Jangankan mencari, menelpon atau mengirim pesan pun tidak. Hal itu membuat Linda berpikir, apakah Imran sudah tidak menginginkannya lagi.


Melihat Linda tidak kunjung keluar dari dalam kamar, Imran pun lalu menyusulnya. Di dalam kamar, dia langsung duduk di ranjang sebelah Linda.


"Linda!" Linda tidak peduli walau Imran sedang memanggilnya.


"Maafkan Mas!" ucap Imran lagi.


"Ayo kita perbaiki hubungan rumah tangga kita ini. Maukah kamu berjalan bersama Mas, dan memperbaikinya dari nol lagi?"


Linda lalu beranjak duduk dari rebahannya. Dengan wajah yang penuh dengan linangan air mata, Linda menatap Imran sambil menganggukkan kepalanya.


Melihat anggukan kepalanya Linda, Imran langsung memeluk Linda dengan mesra. "Maafkan Mas!"


Linda pun membalas pelukannya Imran. "Maafkan Linda juga Mas. Yang suka marah-marah dan bersikap semena-mena kepada Mas."

__ADS_1


"Ayo kita perbaiki diri mulai sekarang. Kamu adalah tanggung jawab Mas. Jadi apapun yang terjadi kepadamu, Mas patut disalahkan."


Linda mengangguk. Dia memaksakan untuk tersenyum kepada Imran. Dan sore itu, Imran bersama Linda menikmati waktu berdua mereka dengan saling berbincang hangat dari hati ke hati.


Terkadang masalah yang kita hadapi, bisa membuat hubungan yang sedang terjalin, bisa menjadi retak, atau menjadi tambah rekat. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.


Karena bila kita bisa mengambil hikmah dari setiap masalah yang terjadi. Insyaallah, kita bisa berpikir lebih dewasa dari sebelumnya.


Imran dan Linda sudah begitu jalan takdir yang harus mereka jalani. Begitupun dengan Shanum.


Shanum benar-benar dimanjakan oleh Emyr. Emyr terlihat sekali, bagaimana bahagianya dirinya saat ini.


Shanum yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri, sekarang dilarang ini dan itu oleh Emyr.


"Di sini sudah ada banyak asisten rumah tangga sayang. Pekerjaan kamu cuma mengurus kebutuhan Kakak. Dan melayani Kakak di ranjang," menyebut kata ranjang, Emyr berbisik mesra tepat di telinga Shanum. Hal itu membuat Shanum tersenyum malu.


Masih sambil berpelukan di atas balkon kamar, Emyr melanjutkan lagi ucapannya. "Kakak tidak mau kalau kamu sampai kecapekan sayang."


"Ditambah lagi, pasti mama dan papa akan memarahi Kakak, bila kamu sampai jatuh sakit." Emyr berpura-pura cemberut.


"Oh ya! Daritadi Shanum ko tidak melihat mama dan papa. Mereka ada di mana Kak?" tanya Shanum.


"Tadi kata bibi, mama dan papa keluar sebentar untuk membeli sesuatu untuk mereka bawa pulang ke Turki."


"Memangnya, kapan mama dan papa pulang ke Turkinya, Kak?"


"Besok!" jawab Emyr.


"Hah! Cepat sekali."


Emyr lalu berbisik lagi tepat di telinga Shanum. "Justru itu yang Kakak harapkan. Biar kita bisa bebas bermesraan tanpa merasa malu sama mama dan papa." Shanum hanya tersenyum mendengar ucapan Emyr.


"Kita masuk ke dalam kamar yuk! Mumpung belum maghrib, kita satu ronde lagi ya sayang," wajah Emyr terlihat manja sekali.


"Sebentar lagi maghrib Kakak. Apa tidak nanggung nanti waktunya."


"Ayolah sayang. Sudah tidak tahan ini!" yah! si Emyr, malah merengek kayak bayi.


Shanum tertawa melihat Emyr merengek seperti itu. Dia lalu memilih langsung pergi meninggalkan Emyr sambil terus tertawa.


"Hei! Sayang! Tunggu Kakak! Kamu mau 'kan?"


Shanum tertawa saja sambil menggelengkan kepalanya. Dan sesampainya di dalam kamar, Shanum terus menggoda Emyr dengan cara menghindarinya.


Ketika sudah terpojok, Emyr langsung menggendong Shanum ke atas ranjang. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.


Huh! Dasar pengantin baru! Atau dasarnya Emyr yang meesumm. 😵‍💫


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2