
Emyr yang baru saja turun dari lantai dua rumahnya langsung menuju ke ruang keluarga. Matanya melihat ke dua orang tuanya sudah pada duduk di situ. Apalagi, dia juga melihat sang mama sedang tersenyum sendiri sambil melihat selembar foto yang dibawanya.
"Mama kenapa senyum-senyum sendiri?" Emyr langsung duduk di sofa seberang sang mama.
"Mama hanya rindu sama Yasmin, Emyr," mama Mulan tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari foto yang dipegangnya.
"Ma! Bagaimana tadi Mama bisa seyakin itu, jika Shanum anak teman Mama yang bernama Yasmin?"
"Wajah mereka benar-benar mirip Emyr. Wajah Shanum persis dengan Yasmin waktu SMA dulu."
"Coba Emyr mau lihat fotonya?"
Mama Mulan langsung memberikan foto kenangannya dulu bersama Yasmin, ibu kandungnya Shanum kepada Emyr.
Mata Emyr sedikit melotot melihat wajah Yasmin yang memang benar-benar mirip dengan Shanum.
"Mereka seperti kakak-adik."
Mama Mulan menganggukkan kepalanya. "Itulah mengapa ketika Shanum membuka niqabnya, Mama begitu terkejut sekali."
"Lalu mana Shanumnya, Ma?" tanya papa Hisyam.
Emyr menatap lekat kearah sang mama untuk menunggu jawaban darinya. "Tadi katanya dia ketiduran. Jadi belum sholat ashar dan juga mandi."
"Apa dia sedang sakit?" Emyr berbicara di dalam hatinya.
Tidak lama orang yang mereka bicarakan akhirnya datang juga. Mama Mulan tersenyum melihat kedatangan Shanum yang sedang berjalan malu-malu kearah mereka semua.
"Sini Nak! Duduk sama Mama," mama Mulan menepuk sofa sebelahnya.
Shanum pun menurut. Dia langsung duduk di sofa sebelah mama Mulan. "Mama sudah lama teringin sekali mempunyai anak perempuan. Mau ya! Jadi anak perempuannya Mama?" mama Mulan sambil mengusap lembut punggung Shanum.
"Tapi dengan satu syarat, kamu harus memberikan cucu untuk Mama," mama Mulan berbicara dengan santainya sambil tertawa.
"Iya! Syarat dengan memberikan cucu adalah dengan menikah dengan Emyr!" tambah dari papa Hisyam.
"Bagaimana Nak? Apakah kamu sudah memikirkan jawabannya?" tanya mama Mulan.
Emyr hanya diam saja daritadi sambil terus memperhatikan apa yang sedang sang mama bicarakan dengan Shanum.
"Besok! Shanum janji besok akan memberikan jawaban kepada kalian semua."
"Baiklah! Mama akan sabar menunggu."
"Mama sama papa mau keluar sebentar. Apakah kamu mau menitipkan sesuatu Shanum?" ucap mama Mulan lagi.
Shanum langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak Ma! Mama hati-hati di jalan sama Tuan Hisyam."
__ADS_1
"Ko tuan terus tho Nak? Papa! Panggil Papa!"
"Benar begitu kan Pa?"
Papa Hisyam hanya mengangguk saja kepada mama Mulan.
"Baiklah, Ma! Pa!"
Mama Mulan langsung tersenyum sumringah mendengar Shanum memanggil dengan sebutan mama dan papa.
Mama Mulan dan papa Hisyam lalu beranjak dari ruang keluarga untuk pergi sebentar. Dan meninggalkan Shanum bersama Emyr di rumah itu sendirian.
"Apakah kamu mau melihat-lihat rumahku Shanum?"
Shanum mengangguk pelan. "Boleh!"
"Ayo! Akan saya tunjukkan semuanya kepadamu."
Shanum hanya mengangguk saja. Dia lalu mengikuti ke mana Emyr melangkah. Sambil terus berjalan melihat-lihat seisi rumah yang super mewah itu. Emyr terus curi-curi pandang kearah Shanum yang sedang terpukau dengan rumahnya.
"Apakah kamu menyukai rumahnya Shanum? Kalau tidak suka, kamu mau rumah yang seperti apa? Nanti saya bisa merombaknya atau membeli rumah yang baru."
Shanum yang sedang terpukau dengan arsitektur bangunan rumah Emyr langsung terkejut ketika mendengar ucapan Emyr. "Hah! Apa maksud ucapan Kakak?"
Emyr lalu menghentikan langkah kakinya. "Saya benar-benar serius kepadamu Shanum. Apapun yang saya punya, semuanya akan saya berikan kepadamu. Bahkan nyawaku sekalipun."
"Se-sebenarnya apa pekerjaan Kakak? Kenapa Kakak bisa mempunyai rumah semewah ini dan juga mobil mewah?"
"Apakah kamu tahu Perusahaan A.E Corporation, atau beberapa pabrik dan PT yang berlabel A.E Corp?"
Mendengar nama-nama perusahaan itu, Shanum seperti teringat ucapan Laila waktu dulu.
"Aaah! Sayang sekali aku tidak keterima di pabrik A.E Industri, Shanum. Huft! Aku harus melamar kerja ke mana lagi ini?"
"Kan masih banyak pabrik di sini Laila. Kenapa harus di A.E sih?" ucap Shanum.
"A.E itu perusahaan sangat besar Shanum. Cabangnya sudah menyebar di mana-mana. Dan gaji yang ditawarkannya pun melebihi UMR. Belum lagi kalau ada lembur dan bonus."
"Itu namanya bukan rejeki."
"Shanum! Kenapa malah melamun? Apakah kamu tahu dengan semua perusahaan itu?" ucapan Emyr membuyarkan lamunan Shanum.
"Eh! I-iya Kak! Shanum tahu perusahaan itu. Bahkan Laila pernah mencoba melamar di pabrik A.E tapi ketolak."
"Oh ya?" ucap Emyr. Dan Shanum cuma mengangguk saja.
"Lalu apa hubungannya Kakak dengan A.E? Apakah Kakak bekerja di salah satu perusahaan itu?"
__ADS_1
Emyr menggelengkan kepalanya. "Saya bekerja di semua Perusahaan dan pabrik yang bernama A.E, Shanum."
"Hah?" Shanum terlihat kebingungan.
Emyr tersenyum melihat kebingungannya Shanum. "Saya yang punya semua perusahaan dan pabrik itu. Sebenarnya semua itu milik keluarga mama. Hanya saja cucu mereka cuma Kakak saja. Jadi sekarang sudah diserahkan sama Kakak dan Kakak yang menghandle semuanya."
Shanum benar-benar terkejut sekali. Mulutnya terbuka sangat lebar di balik niqabnya dan matanya menatap lekat kearah Emyr. Sebab Shanum tidak menyangka, jika laki-laki yang ada dihadapannya benar-benar sangat kaya sekali.
Emyr tertawa lagi melihat Shanum menatapnya seperti itu. "Jangan kamu menatap Kakak seperti itu. Kakak jadi takut."
Shanum langsung menggelengkan kepalanya untuk menetralkan rasa keterkejutannya.
Emyr lalu melanjutkan lagi langkah kakinya. Dan Shanum tentu saja langsung mengikutinya. "Kakak percaya, jika kamu bukan wanita matre seperti wanita-wanita yang biasanya mendekati Kakak."
"Bagaimana Kakak bisa seyakin itu kepada Shanum? Bukankah kita baru saja bertemu?"
Emyr menepuk dadanya. "Hatiku tidak bisa berbohong Shanum."
"Jujur! Kakak baru pertama kali merasakan jatuh cinta seperti ini terhadap wanita. Kakak tidak tahu bagaimana mengutarakannya. Dan bagaimana bersikap romantis terhadap perempuan."
"Maafkan Kakak bila sikap Kakak terkesan terburu-buru atau mengejutkanmu Shanum."
Shanum masih diam mendengarkan semua ucapan Emyr.
"Mencintaimu adalah anugerah terindah yang pernah Kakak rasakan. Jadi! Sampai kapanpun Kakak akan selalu mencintaimu dan mempertahankanmu di sisi Kakak, walau kita tidak punya anak sekalipun."
Melihat Shanum menghentikan langkah kakinya. Emyr jadi ikut berhenti. "Kenapa Kakak bisa seyakin itu terhadap Shanum?"
"Apa Kakak tidak takut menyesal, bila ternyata Shanum bukan perempuan seperti yang Kakak pikirkan?"
Emyr menggelengkan kepalanya. "Tidak! Tidak ada kata menyesal yang namanya jatuh cinta Shanum. Setidaknya Kakak sudah berbuat semampu Kakak untuk mempertahankan cinta Kakak."
"Mengobati rasa sakit hati karena cinta. Obatnya cuma satu. Membuka hati untuk cinta yang lain. Karena sebenarnya, dibalik rasa sakit hati itu, Tuhan sudah menyiapkan cinta yang lebih indah dari sebelumnya."
Shanum hanya diam saja. Dia tidak menyangka, hatinya merasa sangat nyaman sekali berbicara dengan Emyr yang terlihat sangat dewasa sekali cara berbicara dan juga pemikirannya.
Atensi mereka berdua teralihkan, ketika mendengar suara adzan maghrib berkumandang.
Emyr lalu mengajak Shanum untuk masuk ke dalam rumah, untuk menunaikan ibadah sholat maghrib terlebih dahulu.
Sebelum mereka berpisah tujuan. Emyr tiba-tiba mengatakan sesuatu sehingga membuat Shanum sampai menghentikan langkah kakinya. "Semoga minggu depan, kita bisa sholat berjamaah sebagai sepasang suami istri."
Shanum tidak menjawab sama sekali ucapan Emyr. Dia memilih langsung berlalu masuk ke dalam kamar tamu yang ditempatinya. Sedangkan Emyr hanya menatap kepergian Shanum hingga dia masuk ke dalam kamarnya. Setelahnya, barulah dia masuk ke dalam kamarnya sendiri.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...
__ADS_1