
"Tidak mau sarapan dulu Nak?"
Begitulah yang ditanyakan mama Mulan kepada Emyr. Iyaps! Emyr! Karena sekarang kita akan membahas Emyr untuk sebentar saja.
Emyr yang baru saja turun dari atas tangga rumahnya dan sudah dalam keadaan rapi memakai setelan jas kerjanya yang mahal. Tidak sengaja berpapasan dengan sang mama yang baru saja dari depan.
"Tidak Ma! Emyr terlambat. Emyr ada pertemuan penting sekarang."
Emyr langsung saja mengecup pipi sang mama dengan sopan. Lalu pergi dari hadapan mama Mulan dengan tergesa-gesa.
"Jangan ngebut-ngebut naik mobilnya!"
Emyr pun membalasnya dengan berteriak juga. "Iya Ma!"
Mama Mulan berlalu dari tempat itu menuju ke ruang makan sambil berbicara sendiri. "Anak itu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kapan ya Allah, saya punya mantu."
Sesampainya di ruang makan. Papa Hisyam yang melihat mama Mulan berjalan sambil berbicara sendiri langsung bertanya. "Mama berbicara sama siapa?"
Mama Mulan menjawab sambil duduk di kursi yang biasa dia duduki. "Itu! Anak kesayangannya Papa."
"Lalu! Mana Emyrnya Ma? Ko tidak diajak sarapan juga di sini?"
"Sudah berangkat Pa. Katanya ada pertemuan penting di kantor."
"Huh! Kapan anak itu mau cari istri dan meninggalkan pekerjaannya sejenak."
"Padahal jika Emyr tidak bekerja selama sebulan saja untuk cari istri, bisnis kita tidak akan langsung bankrut," ucap mama Mulan lagi.
"Biarkanlah saja Ma. Jangan Mama paksakan dia untuk mencari istri. Nanti kalau dia marah dan beneran tidak mau kembali ke sini lagi. Mama juga yang semakin repot."
Mama Mulan langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar ucapan sang suami.
Mama Mulan tidak cuma ingin melihat Emyr menikah, tapi dia sudah tidak sabar ingin menggendong cucu dan rumahnya dipenuhi dengan suara tangisan bayi yang berisik.
Mama Mulan selalu berdoa. Semoga Emyr mendapatkan istri yang baik dan ibu yang bisa membimbing anak-anaknya kelak.
Kita aamiinkan saja apa yang menjadi keinginan mama Mulan, supaya Emyr segera mendapatkan jodoh yang dia mau, sesuai dengan kriterianya.
Meninggalkan Emyr. Kita saatnya kembali ke Shanum lagi.
Saat ini Shanum sedang berbelanja sayur seperti biasanya di tukang sayur yang lewat depan rumahnya.
"Mbak Shanum! Kenapa Mbak tidak mencoba menjual aneka makanan lauk pauk yang siap makan. Masakan Mbak Shanum enak lho!" ucap tetangga Shanum yang sudah pernah Shanum kasih masakannya.
Shanum tersenyum dibalik niqabnya. "Alhamdulillah jika Ibu suka."
__ADS_1
"Lho benar itu Mbak Shanum. Masakan Mbak Shanum sangat pas bumbunya. Di coba saja jika tidak percaya," ucap ibu yang satunya lagi.
"Tapi saya belum tahu jalan di sini Bu, jika harus keliling kampung?"
"Mbak Shanum tidak perlu berkeliling. Tinggal jualan di depan rumah saja. Nanti jika banyak yang cocok dengan masakan Mbak Shanum. Insyaallah pasti banyak deh yang mampir."
Shanum seperti mendapatkan sebuah ide mendengar saran-saran yang membangun dari para ibu-ibu tetangganya. Karena selama tinggal di situ, Shanum sangat bingung mau bekerja apa? Sedangkan uang tabungannya sudah semakin menipis.
"Boleh deh Bu sarannya. Tapi saya mulai jualannya lusa depan saja ya?"
"Iya!"
Ibu-ibu itu semua langsung menganggukkan kepala dan tersenyum mendengar jawabannya Shanum.
Shanum pun lalu memesan banyak bahan-bahan sayur-sayuran kepada tukang sayur untuk memulai berdagangnya lusa depan. Tukang sayur itu sangat senang sekali, karena dia punya tambahan pemasukan dari membelikan semua pesanannya Shanum.
Selesai berbelanja. Shanum pun langsung memasaknya untuk dia santap selama satu hari, supaya lebih irit.
Setelah masakannya sudah matang, Shanum mencoba memberikannya kepada nenek Khadijah dan kakek Idris sebagai tambahan lauk untuk mereka makan.
Shanum sudah sering kali memberikan makanan kepada kakek Idris dan nenek Khadijah. Karena Shanum merasa kasihan dengan mereka berdua, dan juga Shanum sudah menganggap mereka sebagai ke dua orang tuanya sendiri.
Salam Shanum pun langsung disambut hangat oleh nenek Khadijah dari sebelah rumah.
Shanum pun lalu berjalan ke samping rumah untuk mencari keberadaannya nenek Khadijah.
Sesampainya di samping rumah, Shanum sangat terpukau melihat tanaman sayuran yang segar-segar dan sangat subur sekali milik nenek Khadijah dan kakek Idris.
"Masyaallah! Nenek yang menanam ini semua?" Shanum merasa senang sekali melihatnya.
Nenek Khadijah menghentikan sejenak pekerjaannya yang sedang bercocok tanam. "Bukan Nenek saja, tapi sama kakek juga."
"Lalu kakek ada di mana Nek?" tanya Shanum.
"Lagi beli bibit sama pupuk di pasar," jawab nenek Khadijah.
Shanum yang terpukau dengan tanaman sayuran milik nenek Khadijah, sampai lupa jika dia ke situ ingin memberikan masakannya.
"Oh ya Nek! Sampai lupa, ini ada makanan sedikit untuk Nenek."
"Alhamdulillah. Kamu selalu baik dengan Nenek. Semoga tidak merepotkanmu ya Neng."
Shanum tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak Nek. Justru Shanum senang bisa berbagi dengan Nenek."
Nenek Khadijah meminta ijin untuk menaruh makanan itu dulu ke dalam rumah. "Tunggu sebentar ya Neng!"
__ADS_1
Shanum hanya mengangguk saja. Lalu dia berjalan untuk melihat-lihat semua tanaman sayur-sayuran yang ada di situ. Dari tomat, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, cabai hijau, sawi, bayam, dan masih ada lagi yang Shanum tidak ketahui namanya.
Shanum terkejut ketika ada seseorang yang menegurnya. "Jika Neng mau. Kakek bisa ko mengajari Neng Shanum cara menanam sayuran itu. Lebih murah, bersih dan juga sehat tentunya."
Shanum langsung mengalihkan pandangannya kearah kakek Idris yang baru saja pulang ke rumah. "Kakek!"
Shanum pun juga tersenyum dibalik niqabnya melihat kedatangan si kakek.
"Nenek mana Neng?"
"Nenek di sini Kek!" bukan Shanum yang menjawab. Melainkan nenek Khadijah sendiri yang baru saja keluar dari dalam rumah sambil membawa beberapa buah-buahan dari dalam kulkas.
"Ini Neng Shanum dimakan buah-buahannya."
Shanum merasa tidak enak. Dia pun langsung membantu nenek Khadijah untuk menaruh buah-buahan tersebut. "Nenek kenapa repot-repot segala?"
"Tidak repot, ini cuma buah-buahan saja ko," jawab nenek Khadijah.
"Oh ya Neng. Ini Kakek membeli banyak bibit tadi di pasar. Mau Kakek tanam di lahan yang sebelah sana. Ayo Kakek ajari."
Shanum merasa senang sekali. Dia sangat excited ingin segera bisa menanam sendiri. Shanum sangat memperhatikan bagaimana kakek Idris menanam semua bibit sayuran itu, hingga gamis yang dipakainya kotor terkena tanah.
"Alhamdulillah selesai. Ternyata berkebun menyenangkan sekali ya Kek. Shanum suka!"
Kakek Idris lalu memberikan beberapa bibit dan sedikit pupuk kepada Shanum. "Ini! Bibit dan pupuknya untuk Neng Shanum saja. Cobalah di tanam di tanah belakang rumahmu. Insyaallah subur. Karena di sini udaranya sejuk."
"Alhamdulillah. Masyaallah Kek! Ini beneran untuk Shanum?"
Kakek Idris dan nenek Khadijah tersenyum sambil mengangguk. "Iya Neng. Ambil saja."
"Dan tunggu sebentar," ucap nenek Khadijah lagi.
Nenek Khadijah lalu memetikkan beberapa sayuran yang ada di situ yang sudah siap panen untuk dia berikan kepada Shanum.
Sekali lagi, Shanum mengucapkan terimakasih kepada nenek Khadijah dan kakek Idris yang mau berbagi juga kepadanya. Mereka bertiga lalu berbincang santai di samping rumah, sambil menikmati buah-buahan yang sudah nenek Khadijah sediakan tadi.
Shanum juga meminta saran dan pendapat dari kakek Idris dan nenek Khadijah, tentang dirinya yang akan memulai bisnis berjualan lauk pauk mulai lusa depan.
Kakek Idris dan nenek Khadijah sangat senang dan mendukung ide jualannya Shanum. Sebab tidak bisa mereka bohongi, jika masakannya Shanum memang enak dan pas di lidah.
Mendapatkan semangat dan dorongan dari nenek Khadijah dan kakek Idris. Shanum pun semakin yakin untuk memulai usaha dagangnya.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...
__ADS_1