
Meninggalkan Shanum yang akan memulai kehidupan barunya. Kita beralih ke Imran lagi.
Malam itu, Imran untuk pertama kalinya tidak pulang ke rumah. Melainkan menginap di rumah temannya.
Linda yang sudah mencoba menghubungi Imran pun tidak diangkat sama sekali sambungan teleponnya oleh Imran.
"Aku ingin tenang untuk sementara waktu. Semakin ke sini menjalani rumah tanggaku dengan Linda, tidak ada kenyamanan yang aku rasakan!" Imran melamun digelapnya malam.
Sang teman yang punya rumah datang mengejutkan Imran. "Kenapa kau melamun Imran! Jika kamu merindukan Linda, pulanglah! Jangan kau seperti ini. Kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan baik-baik. Jangan seperti ini!"
"Apa kamu keberatan aku tinggal di sini malam ini?"
Sang teman menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak. Hanya saja kalian sudah sama-sama dewasa. Baiklah! Mungkin sekarang kamu sedang butuh ketenangan. Nanti jika sudah tenang, baru selesaikanlah masalahmu dengan Linda."
Imran hanya mengangguk saja. Dan sang teman kembali masuk ke dalam rumahnya lagi, meninggalkan Imran yang melanjutkan termenungnya.
"Shanum! Kamu ada di mana sekarang?"
Halah! Sekarang kamu mencari Shanum. Imran! Lebih baik pikirkan istrimu saja yang halal bagimu. Karena jika kamu memikirkan Shanum. Dia haram untukmu, sebab sudah tidak menjadi istrimu lagi.
Keesokan harinya. Linda mencoba mencari Imran di rumah ibu Mu'idah. Dan ibu Mu'idah sangat terkejut ketika mendengar jika Imran semalam tidak pulang ke rumah.
"Ibu benar-benar tidak tahu Linda, di mana keberadaannya Imran. Karena Imran tidak pernah seperti ini."
"Jadi Ibu menyalahkan Linda begitu! Karena sudah membuat mas Imran tidak mau pulang ke rumah?" bantah Linda.
"Bukan begitu Linda ... "
"Halah! Ibu itu malah sama saja. Membuat Linda semakin pusing saja!"
Linda lalu pergi dari dalam rumah ibu Mu'idah untuk kembali ke rumahnya.
Iya! Begitulah paginya Linda, Imran dan ibu Mu'idah. Sangat berbeda jauh dengan Shanum yang saat ini akan menjemput kebahagiaan.
Shanum yang sudah masuk ke dalam kamar tamunya bersama mama Mulan. Saat ini dirinya malah di tatap mama Mulan sambil tersenyum sendiri.
"Ada apa ya Ma?" tanya Shanum yang sudah membuka niqabnya karena disuruh mama Mulan.
__ADS_1
"Wajahmu membuat Mama semakin rindu dengan Yasmin, Shanum."
"Wajahmu benar-benar sangat mirip dengan ibu kamu," ucap mama Mulan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apakah Mama bisa menceritakan sedikit tentang ibu?"
Mama Mulan mengangguk. "Tentu saja!"
"Apakah waktu ibu kamu masih hidup, dia tidak pernah bercerita kepadamu, kalau waktu sekolah dulu dirinya pernah disukai sama anak seorang DPR?"
Shanum menggelengkan kepalanya. Dan mama Mulan melanjutkan ceritanya. "Dulu! Waktu kami masih kelas dua SMA. Mama kamu disukai oleh satu orang laki-laki. Dia satu kelas sama kita. Dan ketika jam istirahat, tidak disangka laki-laki itu mengutarakan perasaannya kepada ibu kamu, ketika Mama dan ibu kamu sedang ada di taman belakang sekolah."
"Lalu Ma? Apakah ibu menerimanya?"
Mama Mulan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ibu kamu tahu diri. Selain dia tidak mau berpacaran, dia juga tidak mau berada di lingkungan laki-laki itu."
"Bahkan ketika ibu kamu pertama kali Mama ajak main ke rumah Mama. Dia sampai tidak mau masuk ke dalam rumah. Katanya di teras saja, takut mengotori di dalam rumah."
Mama Mulan bercerita sambil tertawa mengenang masa-masa indahnya dengan Yasmin, alias ibunya Shanum dulu.
"Ternyata sikapmu sama persis dengan sifat ibu kamu yang rendah hati."
Shanum menatap lekat kearah mama Mulan. "Dengan segenap hati, Mama memintamu untuk menerima lamaran Emyr."
"Mama sudah sangat lama sekali ingin melihat Emyr menikah. Dia sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya, hingga melupakan kehidupannya."
"Dan hanya kamu wanita yang dia kenalkan kepada kami, Nak. Hanya kamu yang bisa membuka hatinya untuk mau menikah. Jadi! Terimalah dia."
"Apakah Mama dan tuan Hisyam tidak malu mempunyai menantu seorang janda seperti Shanum, Ma?"
Mama Mulan tersenyum. "Menjadi seorang janda bukan pilihan Nak! Mungkin jika kamu masih peerawaan, Allah tidak mempertemukanmu dengan Emyr. Dan Mama juga tidak akan bisa bertemu dengan anak sahabat Mama."
"Akan Shanum pikirkan dulu Ma," jawab Shanum.
"Semoga keputusanmu nanti adalah keputusan yang terbaik untuk kita semua Nak! Sekarang beristirahatlah."
Shanum hanya mengangguk saja. Setelah itu, mama Mulan berlalu keluar dari dalam kamar Shanum dengan perasaan yang sedikit sesak, karena baru saja mengetahui jika sang sahabat baiknya ternyata sudah meninggal dunia.
__ADS_1
"Yasmin! Apakah ini caramu menitipkan Shanum kepadaku?" mama Mulan berbicara di dalam hatinya di depan pintu kamar Shanum.
"Jika memang itu keinginanmu. Aku berjanji akan menjaga dia seperti kamu menjaganya selama ini. Itu janjiku! Semoga kamu tenang di sana Yasmin. Aku akan mengunjungi makammu suatu saat nanti."
Mama Mulan menenangkan hatinya sambil berjalan menuju ke dalam kamarnya. Sedangkan Shanum, malah memilih melamun di samping jendela kamar yang super besar itu.
"Ya Allah! Apakah ini kebetulan atau memang jalan takdir yang harus hamba jalani?" Shanum berbicara di dalam hatinya.
"Hamba merasa tidak pantas dan minder untuk berada di keluarga ini. Keluarga yang benar-benar sangat terpandang dan juga berkelas. Apalagi status hamba yang seorang janda."
"Hamba takut ya Allah. Hamba takut jika merasakan rasa sakit yang sama untuk ke dua kalinya," Shanum memegangi dadanya yang terasa sesak. Dan tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya.
Tidak mau larut dalam kebimbangan. Shanum memilih bersih-bersih badannya di dalam kamar mandi sebelum menunaikan ibadah sholat dhuhur.
Selesai menunaikan ibadah sholat dhuhur dan bermunajat kepada sang maha pencipta. Shanum pun menenangkan hati dan otaknya dengan tidur siang.
Entah karena capek, atau tempatnya yang benar-benar sangat nyaman sekali, Shanum yang biasanya tidur sekitar satu jam, atau paling lama sekitar dua jam. Kali ini dia bisa tidur berjam-jam lamanya hingga waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Shanum! Nak! Apakah kamu masih tidur?"
Mendengar ketukan pintu kamarnya, Shanum pun akhirnya terbangun. Dan dia terkejut ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Astaghfirullah, sudah jam lima sore! Aku ketiduran! Aku belum sholat ashar!"
"Shanum! Nak!"
Shanum mendengar suara mama Mulan lagi yang sedang memanggil namanya sambil mengetuk pintu.
Shanum pun lalu beranjak bangun dari atas ranjang untuk membukakan pintunya.
"Maaf Ma! Shanum ketiduran! Dan Shanum belum sholat ashar. Shanum ijin pamit sholat dulu ya!"
Mama Mulan tersenyum melihat Shanum sedikit ketakutan kepadanya. Takut jika dirinya akan memarahinya.
"Kenapa kamu takut sekali sama Mama, Shanum. Mama tidak marah ko! Sudah sana kamu sholat dulu. Mama tunggu di ruang keluarga ya!"
Shanum hanya mengangguk saja. Setelahnya, dia pun langsung menutup pintunya kembali untuk mandi dan menunaikan ibadah sholat ashar.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...~TBC~...