JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
LIBURAN


__ADS_3

Sesampainya di rumah papa Hisyam, sama seperti ketika Shanum berada di rumah Emyr, dia begitu terpesona melihat bangunan rumah mewah dan megah khas orang Turki.


"Ini rumah Mama?"


Mama Mulan mengangguk dan tersenyum. "Ini juga sudah jadi rumah kamu, Nak!"


"Anak Mama 'kan cuma Emyr. Jadi ya sama saja ini rumah kamu. Ayo! Kita masuk. Sepertinya papa sudah pulang, lihatlah mobilnya sudah terparkir rapi tuh!"


Shanum langsung mengalihkan pandangannya kearah mobil yang ditunjuk oleh mama Mulan.


Masih sama seperti sebelumnya, ketika pertama kali Shanum masuk ke dalam rumah ke dua mertuanya, dia benar-benar dimanjakan dengan interior khas luar negeri, benar-benar bagus dan sangat kental sekali dengan rumah di Negara Turki.


"Rumah Mama dan papa sangat bagus sekali." Shanum terlihat mengagumi rumah tersebut.


Mama Mulan dan Emyr hanya tersenyum saja melihat wajah Shanum yang berbinar senang. Tiba-tiba dari dalam rumah ada seseorang yang sedang berbicara yang ternyata papa Hisyam.


"Kalian sudah sampai. Kenapa berada di situ, ayo Emyr! Shanum diajak masuk."


Emyr langsung menggandeng mesra tangan Shanum untuk dia ajak masuk lebih dalam lagi ke dalam rumah sang papa.


Shanum kali ini tidak seperti dulu. Dia tidak malu sama sekali untuk memperlihatkan rasa kagum dan sukanya dengan rumah milik papa Hisyam.


"Bagaimana perjalanan kalian? Apakah menyenangkan? Ini 'kan perjalanan pertama kalinya untuk kamu Shanum?"


Shanum menganggukkan kepalanya. "Benar Pa. Dan Shanum sangat takut naik pesawat." Shanum menjawab jujur apa adanya.


Papa Hisyam dan mama Mulan langsung tertawa ketika mendengarnya. "Lebih baik kalian istirahat saja dulu. Pasti kalian capek berada di dalam pesawat sangat lama," ucap papa Hisyam.


Emyr mengangguk. "Ayo sayang. Kita beristirahat dulu," ajak Emyr kepada Shanum.


Shanum hanya mengangguk saja, dia pun lalu mengikuti langkah kaki Emyr yang menuntunnya menuju ke dalam kamar pribadi yang ada di rumah papa Hisyam.


"Wah! Ini kamar Kakak?" mata Shanum terlihat senang.


Emyr mengangguk. "Apakah kamu suka sayang?" tanya Emyr.


"Mau di manapun tempatnya, asal bersama Kakak pasti Shanum suka," jawab Shanum.


"Aaahh! Nyamannya!" Shanum langsung terlentang di atas ranjang.


"Nyaman sekali ranjangnya!" Shanum melepaskan niqab yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


Emyr yang melihatnya hanya tersenyum saja, sambil melepaskan kancing kemeja yang dipakainya.


"Kakak mau ke kamar mandi dulu." Shanum hanya mengangguk saja. Dan Emyr tentu saja langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Shanum seorang diri.


"Di sini nyaman sekali tempatnya, dingin udaranya, plus ranjangnya sangat empuk. Kenapa aku merasa ranjang ini lebih empuk dari yang ada di rumah ya," Shanum terlihat berbicara sendiri sambil mengusap ranjang yang ditidurinya.


"Mungkin karena aku lelah naik pesawat sangat lama." Shanum tiba-tiba menguap, dan perlahan matanya pun terpejam. Shanum tertidur di pinggir ranjang dengan kaki yang masih menjuntai ke lantai.


Sedangkan di sisi lain. Imran dan Linda benar-benar belum terbiasa dengan kehidupan baru mereka yang harus pindah rumah juga di daerah yang cukup jauh dari perkotaan.


Imran dan Linda tinggal sementara di rumah dinas yang sudah disediakan sampai masa kontrak Imran selesai.


"Linda tidak betah Mas berada di sini!" Linda terlihat sebal.


"Memangnya kamu saja yang tidak betah. Mas pun sama. Tapi jika kita tetap tinggal di rumah kita, Mas nanti akan kejauhan untuk berangkat ke kantornya."


"Huh!" Linda menghentakkan kakinya di lantai.


Linda lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu dengan wajah yang cemberut. "Ini semua gara-gara ibu. Jika ibu tidak berbuat seperti itu, pasti kita masih hidup nyaman di rumah kita!"


"Lebih baik, ibu mendekam saja selamanya di penjara!" gerutu Linda lagi.


"Linda tahu Mas. Dan Linda sadar. Tapi Linda juga tidak rela hidup kita menderita karena Ibu."


"Gara-gara Ibu juga, toko milik Linda menurun drastis pendapatannya. Apalagi semenjak ada supermarket itu. Semakin tambah sepi pembeli yang datang ke toko Linda."


"Setidaknya kita masih bisa makan, dan Mas masih bekerja. Jadi masih ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan kita, Linda."


Linda hanya diam saja dengan bibir yang maju, alias cemberut.


Kembali kepada Emyr dan Shanum lagi.


Emyr yang sudah selesai dengan kegiatannya di dalam kamar mandi cuma memakai bathrobenya saja, dia tersenyum melihat Shanum sudah tertidur cukup pulas.


Perlahan dia mendekati Shanum, lalu menaikkan kakinya ke atas sambil berbicara sendiri. "Sepertinya kamu capek sekali Shanum."


"Wajar saja, karena ini perjalanan jauh pertama untukmu," Emyr menatap lekat kearah Shanum.


Emyr lalu meninggalkan Shanum untuk ganti baju. Selesai ganti baju, Emyr memilih keluar sebentar untuk bertemu ke dua orang tuanya.


"Kamu ke sini 'kan tujuannya untuk berbulan madu, liburan dan memberikan cucu untuk Papa dan mama, Emyr," ucap papa Hisyam.

__ADS_1


"Jadi! Stop memikirkan pekerjaan. Biar pekerjaan yang ada di sini, Papa saja yang menghandle," ucap papa Hisyam lagi.


Emyr tersenyum. "Baiklah bila Papa memaksa."


Mama Mulan yang gemas langsung melemparinya dengan bantal sofa. "Bukan memaksa. Tapi apa kamu tega membiarkan Shanum pergi jalan-jalan sendiri di sini."


"Jangan salahkan dia jika nanti akan banyak laki-laki yang mendekatinya, karena dikira dia belum punya suami."


Mata Emyr melotot. "Eh! Jangan dong Ma! Enak saja ada laki-laki lain yang mendekati Shanum."


"Makanya sana temani istri kamu jalan-jalan. Lagipula cuma satu bulan saja 'kan kalian ada di sini," jawab mama Mulan.


"Iya Ma!" Emyr mengangguk menurut.


"Lalu di mana Shanum, Emyr?" tanya papa Hisyam.


Emyr tertawa. "Emyr tinggal di dalam kamar mandi sebentar, ternyata dia sudah tidur sangat lelap Pa. Mungkin Shanum kecapekan, karena pertama kali naik pesawat sangat lama."


Papa Hisyam dan mama Mulan tersenyum. "Besok kalau Shanum masih capek, jangan kamu paksa untuk liburan," nasihat mama Mulan.


"Siap Ma!"


"Emyr masuk dulu, mau istirahat juga," papa Hisyam dan mama Mulan hanya mengangguk saja. Emyr pun setelahnya masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat bersama Shanum.


Keesokan harinya, Shanum sudah lebih baik keadaannya. Dia tidak secapek kemarin, dan saat ini dia sudah sangat bersemangat sekali untuk pergi jalan-jalan bersama Emyr.


"Sepertinya pemandangan yang dilihat lebih menyenangkan daripada Kakak ya?"


Shanum tersenyum. "Maaf Kak. Pemandangan di sini sayang untuk dilewatkan."


"Maksudnya, Kakak tidak apa-apa begitu untuk dilewatkan?" Emyr berpura-pura cemberut sambil terus mengendarai mobilnya. Karena saat ini mereka berdua sedang naik mobil menuju ke tempat yang akan mereka tuju.


Shanum langsung tertawa terbahak-bahak mendengar dan melihat Emyr merajuk kepadanya. "Kamu harus mendapatkan hukuman sayang. Huh!" Emyr masih berpura-pura merajuk.


"Iya baiklah. Hukuman dari Kakak itu menyenangkan. Jadi tidak apa-apa kalau Shanum harus di hukum setiap hari dan setiap waktu."


Gantian Emyr yang tertawa terbahak-bahak mendengar jawabannya Shanum. Dia sampai mencubit pipi Shanum karena merasa gemas sekali. Dan setelah beberapa menit berada di dalam perjalanan, akhirnya mobil yang Emyr kendarai sampai juga di sebuah tempat wisata yang terkenal di Negara Turki.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2