
Walau Dyah mengetahui sang ibu dimasukkan ke dalam penjara oleh Emyr. Akan tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dyah malu jika memohon kepada Emyr atau Shanum untuk melepaskan sang ibu dari penjara. Sebab, bagaimanapun juga apa yang dilakukan oleh Emyr itu semua karena kesalahan sang ibu.
Imran yang sudah sampai di dalam penjara hanya bisa memandang lesu dan sedih kearah sang ibu yang harus menghabiskan masa tuanya di dalam penjara.
Setelah Imran mencari tahu, ternyata yang memasukkan ibunya ke dalam penjara adalah Emyr. Mendengar nama Emyr, Imran menjadi gundah gulana. Karena Imran sangat tahu sekali apa yang membuat Emyr berani memasukkan sang ibu ke dalam penjara.
"Ibu tenang saja. Imran akan berusaha mengeluarkan Ibu dari sini!" janji Imran kepada sang ibu. Walau sebenarnya dia sangat bingung sekali bagaimana caranya.
Ibu Mu'idah hanya bisa mengangguk sambil berlinang air matanya, serta menaruh harapan yang besar kepada Imran.
Seperti yang diinginkan oleh Emyr. Imran benar-benar dimutasikan dari kantor pusat ke kantor daerah. Alasan dari kantor, karena Imran sudah membuat malu instansi tempatnya bekerja dan masih banyak yang lainnya.
Imran tidak banyak berbicara atau membantah. Seakan tahu letak kesalahannya yang tidak bisa mencegah sang ibu mempermalukan diri kemarin. Imran seakan menerima saja keputusan dari kepala pusat yang ingin memindahkannya ke kantor daerah yang cukup jauh dari perkotaan.
Linda sendiri yang mendengar sang ibu mertua masuk ke dalam penjara, dia acuh tak acuh. Linda lebih ke biasa saja, sebab dia juga sudah jengah dengan sikap sang ibu mertua. Serta apakah Linda tidak sadar, jika dia sudah hampir satu tahun menikah dengan Imran, tetapi dirinya belum kunjung hamil juga.
Kegundahan Linda semakin menjadi, ketika tiba-tiba ada sebuah supermarket yang sangat besar berdiri tepat di samping tokonya. Supermarket yang menjual semua kebutuhan rumah tangga yang sangat komplit sekali. Dari perabotan rumah tangga, sayuran dan lain-lainnya masih banyak lagi. Semua itu ulah siapa lagi jika bukan Emyr. Namun, Linda tidak mengetahui jika supermarket itu milik Emyr.
Berita tentang pernikahan Emyr dan Shanum, sudah selesai ketika hari ke tujuh. Semua itu tentu saja dengan mudah Emyr kendalikan, jika ada uang.
Selama tujuh hari itu pula, Emyr benar-benar tidak mengijinkan Shanum untuk bermain ponsel untuk waktu yang lama. Dan sebisa mungkin untuk selalu menemani Shanum. Bahkan sampai ke kantor pun, Emyr akan mengajaknya juga.
Tidak terasa juga, Emyr dan Shanum menikah sudah hampir satu bulan lamanya. Minggu depan, baru benar-benar genap satu bulan. Saat ini Emyr dan Shanum baru saja pulang dari kantor.
"Walau Shanum tidak berbuat apa-apa tapi rasanya badan Shanum capek sekali."
Mendengar Shanum mengeluh capek, Emyr pun langsung memijat pundaknya. Tentu saja Shanum langsung menolaknya. "Eh! Apa yang akan Kakak lakukan?"
"Memijatmu! Katanya kamu capek!" ujar Emyr.
"Kakak itu lebih capek dari Shanum. Jadi stop! Ok!"
Emyr tersenyum, lalu merebahkan tubuhnya di sofa samping Shanum dengan kepala beralaskan paahaa Shanum. "Biarkan begini dulu untuk beberapa menit."
__ADS_1
Shanum tersenyum dibalik niqabnya, lalu mengusap rambut kepala Emyr dengan mesra.
"Oh ya sayang!"
"Hmm! Apa Kak?" jawab Shanum.
"Apakah Laila tidak bercerita, kapan dia akan menikah dengan Nasir?"
Shanum menggelengkan kepalanya. "Shanum 'kan nggak sempat mengobrol dengan Laila. Karena sejak kemarin, Kakak tidak mengijinkan Shanum bermain ponsel lama."
Emyr terlupa akan hal itu. Dia hanya bisa diam saja sambil tersenyum garing kepada Shanum.
"Kak!"
"Apa Shanum?" jawab Emyr.
"Apakah di kantor tidak ada lowongan pekerjaan lagi?"
Emyr benar-benar penasaran dengan pertanyaan Shanum. "Entahlah! Kakak belum mengeceknya. Memangnya kenapa sayang?"
"Tapi Laila cuma lulusan MA saja. Namun Shanum jamin, pasti Laila bisa mengikuti bagaimana cara kerja di kantor ko."
Emyr lalu beranjak bangun dari rebahannya sambil terlihat berpikir. "Nanti akan Kakak pikirkan lagi, sayang. Karena bekerja di kantor selain membutuhkan title yang bagus, dia juga harus cekatan dan bisa bersaing melawan kerasnya pekerjaannya."
Shanum mengangguk mengerti apa yang diucapkan oleh Emyr. Dia pun juga tidak mau memaksakan kehendaknya kepada Emyr. Setidaknya dirinya sudah mencoba berbicara kepadanya.
Untuk hubungan Nasir dan Laila sendiri bisa dibilang sudah semakin dekat saja. Rencananya, Nasir akan datang ke rumah Laila minggu depan. Dan saat ini dirinya sedang mempersiapkan semuanya untuk datang ke rumah sang calon mertua.
Namun sepertinya, minggu depan Emyr dan Shanum tidak bisa menemani Laila maupun Nasir. Karena minggu depan juga, Emyr dan Shanum akan terbang ke Turki.
Nasir dan Laila mengetahuinya. Akan tetapi mereka juga tidak bisa mencegah apa yang ingin dilakukan oleh Emyr dan Shanum.
Seperti prediksi, minggu depannya Emyr benar-benar mengajak Shanum untuk terbang ke Turki. Dan itu untuk pertama kalinya bagi Shanum naik pesawat terbang.
__ADS_1
"Apakah kamu takut sayang?" tanya Emyr.
Wajah Shanum terlihat sekali jika dia sedang tegang. "Shanum benar-benar takut Kak!"
Emyr langsung menggenggam tangan Shanum. Dan tangan Shanum terasa dingin sekali. Yang menandakan jika dia benar-benar sangat ketakutan. "Tenanglah! Ada Kakak di sini yang akan selalu menemanimu."
Shanum hanya diam saja. Dia terus menetralkan perasaan takutnya. "Tidurlah saja sayang. Perjalanan kita masih sangat lama sekali. Nanti akan Kakak bangunkan jika sudah sampai."
Shanum mengangguk kaku kepada Emyr. Dia lalu mencoba memejamkan matanya untuk mengurangi rasa takutnya naik pesawat.
Kehidupan Shanum benar-benar berubah tiga ratus enam puluh derajat setelah menikah dengan Emyr. Sekarang dia sudah sedikit bisa naik mobil berkat Emyr yang sabar mengajarinya setiap hari.
Uang yang menumpuk di dalam rekening, perhiasan yang penuh di dalam laci miliknya. Serta kartu kredit yang siap menunggu untuk dia pakai kapanpun yang dia mau, hingga membuatnya bingung harus pakai yang mana terlebih dahulu.
Uang bulanan yang bisa dibilang sangat banyak, akan Shanum dapatkan setiap bulannya. Belum lagi uang dari saham miliknya di Perusahaan Emyr yang akan terus mengalir di rekeningnya. Sungguh jika Shanum mengecek dan menghitungnya sekarang, dia akan pingsan lagi. Sebab selama ini Shanum belum mengeceknya sama sekali. Dia hanya menggunakan uang yang di depan matanya saja.
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang sangat lama sekali, pesawat yang Shanum dan Emyr tumpangi sampai juga di salah satu bandara yang ada di Negara Turki dengan selamat.
Kedatangan Emyr dan Shanum langsung disambut oleh mama Mulan, yang sengaja sudah menunggu mereka berdua sejak satu jam yang lalu.
Shanum dan mama Mulan langsung berpelukan khas ala perempuan, begitupula dengan Emyr. Setelahnya, mereka bergegas menuju ke rumah keluarga besar Emyr.
"Di mana papa, Ma? Kenapa papa tidak ikut ke sini?" tanya Emyr.
"Papa kamu katanya mau pergi sebentar ke kantor, katanya ada yang ingin di cek. Dan dia janji sebelum kalian sampai rumah, sudah berada di rumah terlebih dahulu."
Sambil terus berjalan keluar dari bandara, Emyr dan Shanum hanya menganggukkan kepala saja kepada mama Mulan.
Shanum sepertinya menyukai negara Turki. Karena pemandangan jalan yang dia lewati menuju ke rumah papa Hisyam sangat menyejukkan mata. Dan dia sangat bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang.
Selamat menikmati liburanmu Shanum. Have fun!
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
__ADS_1
...~TBC~...