JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
EMYR - SHANUM


__ADS_3

Sekitar jam tujuh malam mereka bertiga baru saja sampai rumah Emyr. Hari itu Dyah, mama Mulan dan juga Shanum benar-benar memanjakan diri menggunakan kartu kredit milik Emyr.


"Alhamdulillah!" ucap Shanum, Dyah dan mama Mulan secara bersamaan.


"Capek ya Shanum?"


Shanum mengangguk. "Iya Ma! Capek sekali. Mama sama Dyah tidak mau diajak pulang daritadi."


Mama Mulan dan Dyah tertawa melihat Shanum sedikit merajuk karena mereka.


"Nyonya! Hari ini Dyah sangat senang sekali. Terimakasih ya Nyonya sudah dibelikan semua ini."


Mama Mulan tersenyum. "Sama-sama. Kapan-kapan lagi ya."


Dyah mengangguk semangat. "Siap! Asal gratis!"


Shanum yang mendengar ucapan Dyah, refleks langsung memukul paahanya. "Bercanda Mbak Shanum." Dyah sambil tertawa tanpa dosa.


"Bercanda Nyonya."


Mama Mulan tertawa. "Nggak bercanda tidak apa-apa ko."


Tiba-tiba atensi mereka semua teralihkan kearah papa Hisyam yang baru saja datang. "Kalian baru saja pulang?"


"Iya Pa! Seru sekali rasanya belanja sama anak perempuan," mama Mulan terlihat senang.


"Jika Shanum tidak merengek minta pulang, pasti Mama masih ada di sana," ucap mama Mulan.


"Iya Pa! Shanum sampai capek mengikuti mereka berdua," Shanum terdengar mengadu kepada papa Hisyam.


"Untung saja kamu merengek minta pulang Shanum. Kalau nggak! Pasti satu mall akan diborong sama mama kamu."


Mama Mulan langsung tertawa terbahak-bahak sambil mengacungkan jempolnya kepada papa Hisyam.


"Oh ya Tuan. Ngomong-ngomong, suami sama anak saya ada di mana ya?" tanya Dyah.


"Mereka ada di kamar tamu. Kamarnya sebelah sana," papa Hisyam menunjukkan kamar tamu yang ditempati Malik dan baby Fatiyah.


"Emm! Bolehkah Dyah menyusul suami dan anak saya, Tuan, Nyonya?"


"Tentu saja boleh, silahkan!" ucap papa Hisyam sambil tersenyum.


Dyah pun lalu berpamitan pergi menuju ke dalam kamar tamu yang ditempati Malik dan juga baby Fatiyah. Tidak lupa juga, barang belanjaan yang tadi sudah dibelikan oleh mama Mulan, Dyah bawa bersamanya. Tinggallah Shanum saja bersama mama Mulan dan papa Hisyam.


"Emm Pa! Kalau kak Emyr ada di mana ya? Shanum mau mengembalikan dompetnya."


"Dompet Emyr ada di kamu Shanum? Bukankah tadi sudah kamu kembalikan?"


Shanum tidak menjawab, dia malah menatap mama Mulan yang sedang tertawa saat ini.

__ADS_1


"Itu Mama, Pa yang sengaja memasukkan dompetnya ke dalam tas Shanum."


Papa Hisyam menggelengkan kepalanya. "Mama!"


Mama Mulan hanya tertawa saja kepada papa Hisyam.


"Jika mencari Emyr, dia ada di dalam kamarnya."


"Kamar kak Emyr sebelah mana ya Pa?"


Papa Hisyam langsung menjelaskan di mana kamar Emyr berada. Setelah itu, Shanum pun ijin berlalu dari hadapan mereka berdua.


Saat ini Shanum sedang mencari di mana letak kamar Emyr berada. Setelah menemukan kamar Emyr, Shanum langsung mengetuk pintunya. Tidak lama pintu kamar itu terbuka darim dalam. Aroma parfum milik Emyr langsung tercium di hidung Shanum.


"Shanum! Kak Emyr!" ucap mereka secara bersamaan.


"Emm! Ini Kak dompet dan kartu kreditnya." Shanum menyodorkan dompet dan kartu kredit yang dibawanya.


Bukannya mengambil dompet dan kartu kreditnya, Emyr malah berjalan maju, hingga membuat Shanum refleks berjalan mundur.


"A-ada apa Kak?" Shanum terus berjalan mundur, sedangkan Emyr malah tersenyum super manis sekali.


"Ke-kenapa dengan Kakak?" Shanum benar-benar gugup dan terlihat sedikit takut.


Akhirnya, langkah kaki Shanum terhenti oleh pagar pembatas yang ada di lantai dua. Dengan segera Emyr langsung mengukung tubuh Shanum.


Shanum sangat menempelkan tubuhnya ke pagar pembatas yang ada di belakangnya. Sedangkan Emyr, masih memberikan jarak antara dirinya dan juga Shanum.


"Kenapa Shanum? Kakak tidak akan berbuat macam-macam ko sama kamu?" Emyr terlihat tersenyum menggoda.


"Sha-shanum malu Kak. Kita belum sah!"


Emyr langsung memundurkan langkah kakinya ke belakang sambil tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Shanum menjadi heran sendiri.


"Kamu walau seorang janda, tapi ternyata masih polos ya Shanum?"


Emyr tiba-tiba langsung menghentikan suara tawanya. "Kakak sepertinya harus berterimakasih sama Imran."


Shanum menatap aneh kearah Emyr. "Karena dia sudah melepasmu, Shanum," ucap Emyr.


Shanum memilih mengalihkan pembicaraan. "Ini Kak dompet dan kartu kreditnya."


Emyr pun langsung mengambil kartu kredit dan juga dompetnya dari tangan Shanum. "Lalu paper bag itu?"


"Oh ya lupa. Ini untuk Kakak, semoga suka."


Emyr tersenyum. "Terimakasih! Apapun yang kamu berikan kepada Kakak, pasti Kakak akan suka."


"Ka-kalau begitu, Shanum pamit kembali ke dalam kamar dulu."

__ADS_1


Emyr hanya mengangguk saja. Dan akhirnya Shanum kembali ke dalam kamarnya. Shanum berjalan kearah kamarnya sambil menghela nafasnya. Sebab Emyr malam itu terlihat sangat aneh sekali kepadanya.


"Jantungku seakan mau copot!" gerutu Shanum sambil memegangi dadanya.


Melihat Shanum sudah berlalu turun dari tangga, Emyr pun langsung masuk ke dalam kamar untuk segera melihat isi di dalam paper bag pemberian Shanum tadi.


Di dalam paper bag itu ada dua buah kemeja dan satu jam tangan. Tidak lupa ada secarik kertas yang sengaja Shanum tulis sendiri.


"Kak Emyr!"


"Semoga Kakak suka dengan kemeja dan jam tangan yang Shanum pilihkan untuk Kakak."


"Maaf bila harga kemeja dan jam tangannya tidak semahal yang biasanya Kakak beli. Karena Shanum membelinya pakai uang Shanum sendiri."


"Semoga suka. Jangan lupa dipakai."


"Shanum!"


Emyr tersenyum sendiri membaca tulisan yang ada di secarik kertas itu. Hatinya berbunga-bunga cuma karena mendapatkan dua buah kemeja dan satu jam tangan dari Shanum.


Emyr langsung saja membuka kemeja tersebut dan juga mencoba jam tangannya.


"Ternyata selera dan pilihannya Shanum bagus juga. Not bad! Dia tahu apa yang aku suka. Sepertinya kita cocok," ucap Emyr di depan cermin sambil mencoba kemejanya.


Sedangkan Shanum sendiri yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung menghela nafasnya sangat panjang sambil bersandar di balik pintu.


"Kira-kira kak Emyr suka tidak ya sama kemeja dan jam tangan pemberianku?"


"Bagi kak Emyr harga segitu pastilah murah. Tapi bagiku, uang segitu bisa untuk satu bulan."


"Bismillah! Semoga saja suka!" Shanum menenangkan diri.


Untuk pertama kalinya, Dyah dan Malik serta baby Fatiyah makan malam di rumah Emyr.


Emyr terus curi-curi pandang kearah Shanum yang kebetulan sedang duduk di kursi sebelahnya.


Mama Mulan merasa senang sekali. Karena semenjak kedatangan Shanum, rumah Emyr terlihat berwarna, apalagi daritadi terdengar ocehan dari baby Fatiyah yang bisa menghibur mereka semua ketika sedang menikmati makan malam.


Pagi harinya, di saat Shanum sedang menyiapkan sarapan di temani oleh Dyah. Pandangan matanya terlihat terpesona dengan pipi yang terasa panas karena malu.


Bagaimana Shanum tidak malu, sebab Emyr pagi ini terlihat memakai kemeja yang dibelikannya serta jam tangannya juga.


"Pagi calon istriku. Hari ini terlihat sangat indah sekali. Karena bangun tidur yang Kakak lihat langsung wajah cantikmu."


Baru saja selesai menggombal. Emyr dibuat terkejut, ketika tiba-tiba ada yang menjitak kepalanya. "Halah! Sejak kapan kamu jadi sok puitis begitu Emyr!"


"Eh Papa!"


Emyr terlihat malu-malu sambil mengusap kepalanya yang tadi dijitak sama sang papa. Sedangkan Shanum hanya tersenyum saja melihat tingkah Emyr yang menurutnya lucu pagi ini.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...


__ADS_2