JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
Oh EMYR!


__ADS_3

Suara gelas dibanting pun terdengar sangat jelas sekali. Dan suara saling berdebat antara dua orang juga terdengar berisik di dalam rumah tersebut. Siapa lagi orangnya jika bukan Linda dan Imran.


Imran ketika sampai di rumah setelah pulang bekerja. Dia yang sudah merasa lapar, lalu mencoba melihat ke atas meja makan. Di atas meja makan ternyata tidak ada apa-apa sama sekali. Dan ketika dia masuk ke dalam kamar, alangkah malasnya Imran melihat Linda sedang asik tidur dengan nyenyaknya.


Imran masih menahannya dan membiarkan Linda yang sedang tidur. Linda yang mengetahui jika Imran sudah pulang bekerja pun juga membiarkannya saja tanpa mau menyambutnya. Sangat berbeda sekali dengan Shanum yang penuh suka cita dan perhatian menyambut kedatangan Imran. Tapi Imranlah yang malas-malasan melihat Shanum.


Malam harinya, ketika jam makan malam tiba. Imran yang sedang asik menonton televisi sambil menikmati teh hangat yang sudah dibuatnya. Tiba-tiba Linda keluar dari dalam kamar sambil mengatakan sesuatu.


"Mas! Apakah di rumah ini tidak ada makanan?"


Imran diam saja tidak mau menjawab ucapan Linda sama sekali. Linda yang melihat Imran tidak mempedulikannya, langsung terlihat marah.


"Mas! Linda itu berbicara sama Mas!"


"Lalu?" Imran menjawabnya dengan santai.


"Linda lapar! Apa di rumah ini tidak ada makanan?"


"Kamu punya mata! Punya kaki dan punya tangan! Jika kamu lapar gunakan itu semua untuk memasak atau membeli makanan sendiri! Kenapa kamu bertanya kepada Mas!"


"Linda malas Mas! Ini! Tolong belikan nasi goreng yang ada di perempatan sana!"


Dengan santainya Linda memberikan uang dua ratus ribu kepada Imran. Imran yang sudah menahan lapar sejak tadi langsung tersulut emosi juga.


Imran membanting gelas yang berada di tangannya. Lalu berdiri di depan Linda dan memarahi Linda.


"Apa maksud ucapan kamu hah! Mas ini suami kamu! Bukannya pembantu! Jangan kurang ajar sama Mas, ya Linda!"


"Lho! Memangnya kenapa kalau Linda meminta tolong kepada Mas!"


"Mas itu suami Linda! Sudah kewajiban Mas memberi makan Linda. Sudah syukur Linda mau mengeluarkan uang sendiri untuk membeli makanan!"


Selalu saja ribut. Dan ada saja yang membuat Imran ribut dengan Linda. Jika dulu Imran dan ibu Mu'idah akan terus mencari kesalahannya Shanum. Tapi sekarang, Lindalah yang akan menguji kesabaran mereka berdua.


Meninggalkan mereka yang tidak terlalu penting, beralih lagi kepada Emyr.


Walau nomor ponsel Shanum sudah berada di depan mata. Tapi dia belum berani untuk mencoba menghubungi Shanum. Dia memilih menyimpannya saja di dalam dompetnya. Dan Emyr pun lalu memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang cukup letih.


Pagi harinya. Seperti biasanya setelah sholat subuh, Emyr pasti akan memilih untuk berolahraga pagi di halaman rumah. Sedang asik berolahraga, telinganya mendengar suara berisik dari halaman rumah Shanum.

__ADS_1


Emyr lalu mencoba berjalan keluar untuk melihat ada apakah yang sebenarnya terjadi. Dari balik pohon, Emyr melihat dengan jelas, ternyata Shanum sibuk berjualan makanan dibantu oleh Laila.


Di mata Emyr, Shanum terlihat ramah sekali melayani para pembeli yang datang ke warungnya. Tanpa banyak berbicara sama sekali, Emyr terus memperhatikan dan mengamati Shanum dari jarak jauh.


Tidak mau sampai ketahuan oleh Shanum dan Laila. Emyr lalu kembali lagi ke rumah kakek Idris.


Sesampainya di rumah kakek Idris. Emyr berpapasan dengan nenek Khadijah yang ingin membeli makanan ke warung Shanum.


"Nenek mau ke mana?" tanya Emyr.


"Mau membeli makanan tuh di warung Shanum."


Nenek Khadijah tersenyum, lalu pergi dari hadapan Emyr tanpa menunggu jawaban darinya.


Emyr masih terus berolahraga dengan pikiran entah tertuju ke mana. Namun yang pasti hanya Shanum saat ini yang mendominasinya.


Tiba-tiba kakek Idris keluar dari dalam rumah sambil membawa secangkir teh hangat dan ingin bersantai di kursi teras depan.


"Di sini udaranya sangat sejuk sekali kalau pagi. Sangat sehat jika digunakan untuk berolahraga."


Emyr yang mendengar suara kakek Idris langsung menolehkan kepalanya. "Eh! Kakek!"


Emyr yang sudah merasa penasaran lalu mendekati kakek Idris dan duduk di kursi seberangnya.


"Emm! Kek! Apakah Shanum setiap hari berjualan makanan?"


Kakek Idris mengangguk. "Iya! Dia berjualan makanan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Dan makanannya banyak di sukai sama orang-orang sini."


Sekarang Emyr tahu apa maksud ucapan Shanum, yang semalam mengatakan akan memasak pagi-pagi sekali, yang ternyata untuk berjualan.


Tidak lama, nenek Khadijah kembali dari rumah Shanum sambil membawa satu kantong plastik yang penuh dengan makanan.


"Nenek sudah membeli makanan banyak sekali nih. Nenek senang sekali melihat pembeli di rumah neng Shanum sangat ramai seperti itu. Nenek mau menyiapkan ini dulu di dalam."


Kakek dan Emyr hanya mengangguk saja kepada nenek Khadijah. Kebetulan Nasir baru saja bangun tidur. Dia langsung menyuruh sang anak untuk membantunya menyiapkan makanan yang sudah dibelinya tadi.


Sedangkan di rumah Shanum. Saat ini pembeli sudah pada pergi, dan cuma ada Laila saja yang menemani.


"Alhamdulillah Laila! Hari ini pembelinya banyak banget!"

__ADS_1


Shanum terlihat sangat senang sekali. Dan Laila sebagai sang sahabat juga merasa sangat senang.


"Alhamdulillah Shanum. Aku juga ikut bahagia!"


Sedang merasa senang, tiba-tiba pembeli datang lagi. Begitu terus, hingga Shanum dan Laila jadi tidak sempat mengobrol.


"Oh! Dia keluarga saya Bu. Kebetulan sedang libur kerja, jadi berkunjung ke sini."


Begitulah yang selalu Shanum katakan kepada pelanggannya yang bertanya siapa Laila.


Kembali ke rumah kakek Idris. Pagi itu, mereka serumah sarapan dengan masakannya Shanum.


Emyr yang sudah pernah mencoba masakannya Shanum pun, sudah sangat tidak sabar ingin segera mencicipinya lagi.


Setelah berdoa, Emyr langsung menyendokkan makanan tadi ke dalam mulutnya. Baru saja masuk ke dalam mulut, rasa enak yang dirasakan lidahnya, malah berganti dengan wajah Shanum yang ada di depan matanya.


Tanpa sadar, Emyr makan sambil melamun dengan membayangkan Shanum yang sedang tersenyum kepadanya. Hal itu membuat Emyr tanpa dia sadari tersenyum sendiri.


Nasir yang melihat hal tersebut, sengaja merekamnya secara diam-diam untuk dia kirimkan kepada mama Mulan dan papa Hisyam.


Bahkan ketika Emyr begitu lahap sekali menikmati makanannya. Nasir masih terus merekamnya. Karena dirinya sendiri juga merasa heran melihat Emyr tumben sekali makan begitu lahapnya.


Nenek Khadijah dan kakek Idris yang melihat kelakuan Nasir pun langsung disuruh diam, supaya tidak ketahuan oleh Emyr.


"Apakah Nak Emyr mau nambah lagi? Ini silahkan."


Wajah Emyr berbinar senang. "Benarkah Nek?"


Nenek Khadijah mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja boleh dong Nak. Ini makanlah. Lagi pula lauknya masih banyak ko."


Tanpa sungkan Emyr pun menambah lagi lauknya dan menikmatinya dengan lahap.


Apakah kalian semua pernah mendengar bagaimana cara menyenangkan hati seorang laki-laki.


Iya! Dari perut lalu turun ke bawah. Sepertinya hal itu yang bisa membuat mood seorang laki-laki menjadi baik.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...

__ADS_1


__ADS_2