JODOH 1 METER

JODOH 1 METER
KERISAUAN EMYR


__ADS_3

Jika Shanum sedang berbahagia dengan hasil penjualan masakannya itu. Berbeda halnya dengan Imran, Linda dan juga ibu Mu'idah.


Ibu Mu'idah sendiri sejak satu minggu yang lalu dia sedang sakit. Karena terus kepikiran dengan apa yang dia alami saat ini. Rasa sakit di dalam hatinya, rasa menyesal yang tiada obatnya, serta rasa malu yang tidak bisa dia tutupi bertumpuk menjadi satu di pundaknya.


Imran yang merasa khawatir dengan sang ibu sejak kemarin dia marahi dan tidak pernah datang lagi ke rumahnya, saat ini dia sedang berjalan menuju ke rumah ibu Mu'idah.


Sesampainya di rumah ibu Mu'idah, Imran pun langsung masuk dan melihat sang ibu sedang tiduran di sofa ruang keluarga.


"Ibu!"


Ibu Mu'idah langsung membuka matanya dengan perlahan. "Imran!"


Imran langsung duduk di sofa sebelah sang ibu. "Apakah Ibu sedang sakit?"


"Ibu cuma tidak enak badan saja sejak kemarin," jawab ibu Mu'idah.


"Apakah mau Imran belikan sesuatu Ibu?" tanya Imran.


Ibu Mu'idah menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Ibu cuma mau beristirahat saja."


"Apakah Ibu tadi sudah makan?" tanya Imran lagi.


"Kamu tenanglah saja Imran. Ibu sudah makan ko!"


"Baiklah! Kalau begitu Ibu istirahat saja lagi. Imran pergi dulu sebentar."


Ibu Mu'idah hanya mengangguk saja, dia langsung memejamkan matanya lagi untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sedang sakit.


Imran yang sudah keluar dari dalam rumah sang ibu langsung mencoba menghubungi sang adik, yaitu Dyah.


"Halo! Assalamu'alaikum!" suara Dyah terdengar ketus.


"Wa'alaikumussalam. Dyah! Datanglah ke sini menjenguk ibu. Ibu sedang sakit. Apa egomu begitu besar hingga masih tidak mau datang ke sini ketika ibu sedang sakit?"


Dyah cukup terkejut mendengar ucapan sang kakak, jika ibu mereka sedang sakit saat ini. "Iya! Dyah akan ke sana. Tapi sebelum Dyah datang. Suruh tuh majikan kalian untuk mengurus ibu. Mau tidak! Beda sama mbak Shanum yang selalu perhatian merawat Mas dan ibu bila sedang sakit!" Dyah menjawab sambil menyindir.


Imran yang tidak mau melanjutkan pembicaraan itu. Langsung mematikannya tanpa mau mengucapkan salam terlebih dahulu. Setelahnya, Imran langsung mengantongi ponselnya kembali, lalu dia pulang ke rumah untuk mengajak istrinya supaya mau merawat ibu Mu'idah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Imran langsung menemui Linda yang sedang memainkan ponselnya sambil tiduran di atas ranjang.


"Kalau ibu sakit ya bawa ke dokter dong Mas! Kenapa malah Linda yang disuruh mengurus ibu!"


Linda lalu beranjak berdiri dari rebahannya dan berjalan ke arah lemari, di dalam lemari dia mengambil beberapa lembar uang untuk dia berikan kepada Imran.


"Nih! Ambil uang itu untuk berobat ibu! Linda sibuk, nggak sempat jika harus disuruh untuk mengurus ibu!"


Imran yang tidak suka dengan sikap Linda, langsung melempar uang tadi tepat di wajah Linda. "Mas tidak butuh uangmu! Tapi perhatianmu sebagai menantu! Menyesal rasanya Mas menceraikan Shanum dan menikahimu! Kamu perempuan yang tidak berguna sama sekali. Cuma bisanya dandan dan mengandalkan uangmu yang tidak seberapa itu!" teriak Imran.


Setelahnya, Imran pun langsung berlalu pergi lagi dari dalam rumah meninggalkan Linda yang sedang tersulut emosi karena ucapan Imran.


Linda langsung meluapkan emosinya dengan memberatakin semua barang-barangnya yang ada di atas meja riasnya.


"Mas Imran!" teriak Linda dengan nafas yang memburu.


Dyah sendiri setelah mendengar kabar jika sang ibu sakit, dirinya menjadi kepikiran terus. Bahkan sedang meenyuusui baby Fatiyah pun, Dyah sambil melamun.


Malik yang melihat tentu saja merasa aneh dengan sikap sang istri. "Sayang! Kamu kenapa? Apa kamu sakit?"


Dyah langsung tersadar dari masa melamun sesaatnya itu. "Tidak! Hanya saja Mama sedang memikirkan ibu."


Dyah menggelengkan kepalanya. "Ibu sedang sakit. Tadi mas Imran baru saja menghubungi Mama."


"Innalillahi. Ayo Ma! kita segera ke sana untuk menjenguk ibu."


"Tapi Ayah ... "


"Tapi apa Mama? Jangan membesarkan ego, nanti akan menyesal kemudian hari. Belajarlah dari sikap ibu dan mas Imran kepada mbak Shanum."


Dyah mengambil nafasnya cukup panjang untuk menetralkan perasaannya. Dan akhirnya dia pun mau menjenguk sang ibu yang saat ini sedang sakit.


Malik mengendarai mobilnya menuju ke kampung halaman sang istri. Alhamdulillah Malik sekarang sedang diberikan rejeki lebih oleh Allah. Jadi dia bisa membeli mobil sendiri. Supaya anak dan istrinya tidak kepanasan atau kehujanan ketika berpergian.


Sesampainya di depan rumah sang ibu, dari dalam mobil mereka bisa melihat Imran sedang duduk melamun sendiri di teras depan.


Imran yang melihat ada sebuah mobil baru memasuki halaman sang ibu, dia menjadi penasaran, siapakah pemilik mobil tersebut. Ketika melihat Dyah dan Malik yang keluar dari dalam mobil, Imran langsung menetralkan perasaannya.

__ADS_1


"Dyah! Malik!"


"Mas!" Malik masih menyalami Imran dengan sopan, sebagai ipar yang baik. Sedangkan Dyah langsung berlalu masuk untuk melihat ibu Mu'idah.


"Ibu!"


Dyah mencoba merendahkan suaranya. Karena tidak bisa dia bohongi, dia sangat kasihan sekali melihat ibunya terbaring lemah di atas sofa.


"Dyah!" ucap ibu Mu'idah dengan suara lirih.


"Kenapa ibu tidur di sini? Ayo Dyah bantu untuk pindah ke dalam kamar."


"Mana cucu ibu?" bukannya menjawab ucapan Dyah. Ibu Mu'idah malah bertanya balik.


Kebetulan Malik dan Imran baru saja masuk ke dalam rumah. Dan Dyah pun langsung mengambil alih baby Fatiyah untuk dia perlihatkan kepada sang ibu.


Ibu Mu'idah tersenyum senang melihat kedatangan cucu perempuannya tersebut. Sejahat-jahatnya seorang ibu, dia pasti akan merasa senang bila melihat keturunannya sendiri, alias cucunya.


"Tambah besar ya cucu ibu."


Dyah mencoba tersenyum dan membiarkan ibu Mu'idah menggoda baby Fatiyah. Sedangkan Imran dan Malik yang ada di situ, hanya diam dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh ibu Mu'idah kepada baby Fatiyah.


Meninggalkan keluarga mereka. Kita beralih lagi kepada Emyr.


Tidak terasa, Emyr sudah satu bulan tinggal di Turki, dan menyerahkan perusahaannya yang ada di Indonesia kepada sekretarisnya.


"Ma! Pa! Sepertinya bisnis kita yang ada di sini sudah bisa Emyr tinggalkan. Emyr mau kembali ke Indonesia lagi untuk mengecek perusahaan yang ada di sana."


Saat ini mereka bertiga sedang duduk santai di ruang keluarga untuk saling berbincang bersama setelah selesai makan malam.


"Ayolah Nak! Jangan kamu mementingkan pekerjaanmu terus. Carilah istri supaya kami tenang. Umur kamu sudah dewasa dan sangat matang. Dan umur kami pun sudah semakin tua. Tidakkah kamu mau membahagiakan Mama dan papa, Emyr?"


Mama Mulan mencoba berbicara dari hati ke hati kepada Emyr. Suaranya terdengar lembut sekali, supaya bisa merasuk ke dalam hati Emy.


Sebenarnya Emyr sudah memikirkannya sejak satu bulan yang lalu. Dia bahkan sudah menyuruh sekretarisnya untuk mencarikan wanita untuknya. Akan tetapi sebanyak sepuluh wanita yang dikenalkan untuknya. Tidak ada satupun yang membuat hati Emyr tertarik.


Emyr sendiri merasa heran dengan dirinya. Bahkan Emyr berpikiran apakah dirinya tidak normal. Hingga menolak banyak wanita cantik yang dikenalkan kepadanya. Dan Emyr hanya bisa diam saja saat ini dengan kepala tertunduk, ketika sang mama berbicara seperti itu kepadanya.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...~TBC~...


__ADS_2