
Denting piano terdengar mengalun tenang di dalam gedung Serba Guna Adisucipto setelah kami berhasil melewati sepanjang jalan kenangan dengan senang. Dominic memarkirkan motornya di bawah pohon peneduh. Suasana siang yang terik tak menyurutkan semangat para tamu undangan yang silih berganti masuk dan keluar dari gedung yang menjadi saksi ikatan cinta Setyo dan Putri.
“Turunnya ati-ati, Ras!”
“Iya ngerti, lagian kenapa kamu beliin aku sepatu jinjit gak bilang-bilang. Aku kan bisa request kesukaanku, Dom!”
“Namanya jadi nggak suprise to Rastanty. Pinter kok nggak nambah-nambah!” ejekannya sambil merapikan rambutku yang acak-acakan setelah memakai helm.
“Besok kalo pergi-pergi bawa sisir, biar cantik terus gampang laku.”
“Mbok kira aku ini dagangan harus promosi? Bibirmu ini lho Dom lama-lama pengen tak kareti. Ngomong kok suka asal jeplak.” ucapku sambil mengruwes bibirnya. “Kamu itu juga calon-calonnya perjaka tuwir, gak nyadar terus.” Aku menjerit kegelian saat jariku dijilat olehnya.
“Jorok banget kamu, Dom. Sumpah!” Aku berbalik sembari mengusap jemariku di kain jarik. Bisa-bisanya ya ampun dia mencicipinya gurihnya jariku. Apa dia nggak kapok diare lagi. Prana, sumpah kenapa kamu bisa betah sahabatan sama Dominic yang jelas-jelas sering kurang se-ons.
Aku menoleh sambil melangkah buru-buru menghindari Dominic yang sengaja mengejarku dengan gaya slow motion yang di buat-buat.
“Ras... Ras...” Dominic menggeleng cepat sambil menunjuk sesuatu dengan ekspresi memperingati yang begitu panik. Namun belum sempat kupahami apa maksudnya. Aku menjerit dan sangat terkejut, mataku membelalak, langkahku mundur perlahan-lahan setelah rasa sakit timbul di bagian sensitifku hingga membuatku ngilu dan malu. Bukan main, Dominic terbahak saat aku mengaduh sambil memukul belakang motor yang kutabrak.
“Sakit, Ras?” tanya Dominic di belakangku.
“Kenapa nanya! Udah tau—”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, malunya sampai ke ubun-ubun. Aku membeku di tempat, wajahku pucat sementara beberapa orang berlalu lalang di parkiran. Mereka pasti menertawakan kelakuanku yang ceroboh namun lucu.
“Mau ngumpet, Ras?” Dominic mendorong bahuku dengan bahunya, menunjukkan bahwa ia hanya bercanda sebelum berkata, “Mau aku periksa sakitnya?”
__ADS_1
Ujung sepatuku menginjak sepatunya dengan perasaan sebal tak karuan. Bagaimana bisa Dominic nakal begitu, oh Rastanty, jangan bodoh, memang tidak enak menempuh tiga puluh lima tahun sendirian, terlebih Dominic memiliki darah kebarat-baratan yang lepas. Aku yakin sekali dia kesepian, tapi kenapa masih di sampingku alih-alih pergi mencari pelampiasan.
“Harusnya kamu cuci otak, Dom. Minimal di sapu biar gak ngeres!” cibirku sambil menunduk.
“Cuciin dong, Ras. Sahabat yang baik membantu sahabatnya yang kesusahan!” Dominic menurunkan tanganku dari wajah seraya menatapku yang malu. Dia tersenyum, “Aku luwe Ras. Makan yuk.” Dominic mengusap-usap perutnya.
“Tapi kamu nggak usah bahas-bahas yang tadi, awas malu-maluin aku!” ancamku sambil menggandeng lengannya dengan hati-hati.
“Gak akan, Ras. Tapi wajib di kenang!” Dominic terbahak sebelum kami berjalan ke teras gedung yang berhias janur kuning yang menjuntai berjejeran di setiap pintu masuk dan keluar. Dominic mendekati sisi wajahku sewaktu mengantri dengan tamu undangan lainnya.
“Aku pernah kayak gitu. Mules banget sampai mama bawa aku ke rumah sakit. Habis itu mama trauma aku main bola takut masa depanku pecah!” bisiknya di telingaku.
Aku menahan tawa sampai pipiku kencang sembari mengeluarkan amplop dari tas seraya memasukan hasil iuran kami ke kotak angpau sebelum menulis namaku dan Dominic di buku tamu. Sementara ia mengambil dua souvernir dengan ekspresi tanpa dosa lalu ia masukkan ke tasnya.
“Lumayan, Ras. Gelasnya bisa buat ngopi!” bisik Dominic sambil menyentuh kedua bahuku.
“Dom... Ras...” teriak Paijo memenggal ucapanku dari dalam gedung setelah kami melihat-lihat kemeriahan pesta pernikahan Setyo dan Putri. “Ya Allah Gusti, kalian masih bareng-bareng sampai sekarang.” Paijo menatap kami antusias dengan langkah yang terburu-buru menghampiri kami.
Kami spontan bersalaman dengannya sambil tersenyum lebar. “Masihlah, Jo. Gimana lagi, nggak ada aku Rastanty jadi lemes, kurang sehat terus tua lebih cepat kebanyakan mikir.” aku Dominic.
Aku tertegun, enak saja dia bilang begitu. Tapi apa dayaku, mungkin benar persahabatan kami diselimuti oleh rasa sayang dan rasa nyaman yang tersembunyi di balik canda dan sikap apa adanya sampai kami tidak tahu harus berbuat apa selain bersama dalam ikatan ini.
“Wong wadon, Dom! Angel.” (Cewek, Dom! Susah) Paijo geleng-geleng kepala. “Rastanty, Rastanty...” Paijo menatapku iba lalu tersenyum sedih seakan mengingat yang sudah-sudah, “Gimana kabarmu sekarang?”
“Aku sadar mungkin ini suratan takdirku.” jawabku sambil menyandarkan kepala di lengan Dominic sejenak. “Gak kelihatan kalo udah baik-baik aja aku?”
__ADS_1
Paijo menatapku lalu Dominic bergantian sebelum menoleh ke arah belakang. Kerumunan orang silih berganti mengerumuni meja prasmanan, beberapa bersalaman dengan pengantin baru yang memilih dekorasi pelaminan gebyok dengan bunga-bunga segar panca warna yang mekar dan indah.
“Mending kita makan-makan dulu, terus cari teman-teman yang lain buat diskusi tempat reuni.” Paijo menepuk bahu Dominic dengan ekspresi wajah yang ingin meluapkan sesuatu. “Sebelum balik nanti kita ngumpul-ngumpul dulu sama yang lain.”
“Aku nggak diajak?” sahutku sengit.
“Cewek terima beres aja, Ras!” Paijo meringis.
Aku ikut meringis dengan malas sebelum meninggalkan Dominic dan Paijo yang hendak mengobrol secara pribadi karena seingatku Paijo dan Dominic memang akrab semasa kuliah jadi terserahlah kalau mau berduaan. Mungkin mereka ingin membicarakan sesuatu yang sangat rahasia sampai keberadaanku nggak berguna.
Aku menoleh di depan meja prasmanan yang beralaskan cover meja berwarna hijau tua. Dominic sedang menunjuk ke arahku tanpa melihatku sebelum Paijo menginterupsinya. Dominic tersenyum hangat.
Mereka ngobrolin aku?
Apa Pranata?
Aku mengisi dua mangkuk bakso dengan kuah hangat, kecap dan sambal lalu mencari kursi dan meja kosong.
Aku melihat Dominic dan Paijo sambil mengaduk kedua baksoku. Detik berikutnya yang kulihat sembari menyantap bakso, beberapa teman-teman kami mulai berdatangan satu persatu membentuk perkumpulan alumni circa dua ribu sembilan belas jurusan manajemen. Mereka saling melempar sapa, memeluk rindu, dan tersenyum lepas lalu menatapku sebelum senyuman iba mereka berikan padaku seolah aku tetap kelihatan menderita bagi mereka.
Aku balas tersenyum sambil melambaikan tangan. Sadar aku tidak bisa membungkam mulut mereka-mereka atas kondisiku setelah kematian Pranata yang mengenaskan dulu, namun coba sehari saja Paijo atau yang lain menjadi aku yang kehilangan Pranata saat baru lengket dan manis-manisnya seperti kue lapis. Ya, meskipun aku tidak setega itu benar-benar mendoakan mereka seperti aku.
Aku takut mereka menderita meski waktu sudah berlalu.
“Ras, suapin aku!”
__ADS_1
...🖤...