Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Semakin Utuh


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Tidak ada hari yang terlalui tanpa Dominic dan Pasty Dwayne di duniaku yang seolah lahir kembali. Rentetan peristiwa terus terjadi penuh kejutan dan menyebalkan di dunia bisnis dan konglomerat ini. Aku bahkan sudah terbiasa memandangi atau mendengar celotehan nenek silver yang tiada hentinya setiap hari tentang bagaimana aku dan Dominic mengawali kisah-kisah penuh emosi dan adrenalin.


Pasty Dwayne yang pertama kalinya mengerti aku dan Dominic adalah bekas anak petualang terperangah dengan mulut ternganga lalu seperti meledakkan kisah masa mudanya dia bercerita. Berapi-api dan bergembira atas kisah yang dia alami, nyaris seperti kami namun lebih liar lagi di kota kelahirannya—Michigan—hingga bertemu jodohnya dari Singapura.


Di atas kursi rodanya di belakang rumah. Pasty Dwayne bergembira atas kisah yang dia sampaikan sampai aku mengerti kenapa dia semenyebalkan sekarang.


Aku menatap Dominic dengan geli di sampingnya, aku takjub pada cucu favoritnya yang saban hari tidak ingin sekejap saja kehilanganku tapi kadang-kadang ia merasa malas dengan keberadaanku di sisinya.


“Jadi sekarang kamu mau di temani aku nggak, Dom?” tanyaku setelah nenek masuk ke dalam rumah untuk istirahat dengan di bantu Mbak Iyah.


Dominic tampak pikir-pikir dengan rahangnya yang bergerak ke kanan-kiri dan tatapannya menuju ke langit cerah. Langit kesukaannya, penuh awan.


“Kamu sekarang banyak mikir, banyak pertimbangan. Dulu aja langsung iya-iya nggak pernah harus mikir sekeras batu gitu? Kenapa sih Dom, akhir-akhir ini kamu menjauh.” imbuhku karena dia diam saja.


Dominic menyeringai. “Aneh rasanya sekarang, Ras.”


“Aneh gimana? Cintamu ke aku mulai luntur? Tambah bosen?” tukasku cepat. “Atau kamu belum yakin aku udah cinta sama kamu?”


Aku di serang was-was, apa mungkin dua bulan yang kami jalani tanpa sedikitpun jeda tidak menunjukkan bahwa aku telah memilikinya dengan perasaan baru


Dominic mengusapkan bibirnya yang hangat ke pipiku. “Bukan gitu, mi ayam. Tapi aku sulit merasakan rindu sekarang.” Ia tersenyum.


“Aku pingin merasakan rindu ke kamu, Rastanty.”


Aku nyengir, beberapa orang berminat melihat orang yang dipuja-puja nya setiap detik dalam waktu yang tidak bisa terulang kembali, tetapi kenapa pria ini ingin merasakan rindu? Aneh... pikirku.


”Jadi maksudnya mulai hari ini aku nggak perlu ikut kerja kamu? Aku di rumah aja?”


Dominic mengangguk seperti anak kecil yang patuh.


Aku mengamati Dominic dengan separuh rasa curigaku yang bergolak. ”Kamu nggak ada masalah sama aku kan, Dom? Atau ada masalah-masalah yang kamu sembunyikan di kantor biar aku nggak kepikiran?”


Aku menyentuh pahanya. ”Apa semua baik-baik saja di kantor?”


Dominic mengerutkan bibir lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan.


“Aku nggak tahu, Ras.”


Aku mengusap-usap punggungnya, berusaha menenangkan walau aku sendiri tidak tenang. Ini tidak lucu sih, bagaimana bisa aku menenangkan Dominic padahal aku sendiri dilanda kegelisahan yang satir.


“Biar aku tanya bapak masalahnya apa kalo kamu nggak mau cerita, Dom.”


Dominic menahan ujung bajuku dan seketika aku menoleh “Pembalutmu masih utuh di lemari ganti.”


Aku mendelik seraya menyunggingkan senyum dengan hati-hati.


“Kamu perhatiin hal kayak gitu, Dom?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.


Dominic menatapku dengan mata berseri-seri, “Bukan itu, Ras.” Ia menggeleng seraya menyusupkan tangannya ke bajuku. Ibu jarinya mengusap pusarku sembari tersenyum.


”Harusnya kamu datang bulan, Ras. Kamu hamil?” Dominic berdehem.


Aku diserang perasaan tidak karuan dan salah tingkah serta perasaan-perasaan lain yang membuatku cuma bisa tersenyum jengah. Dominic lekas-lekas menangkup wajahku setelahnya.

__ADS_1


“Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”


“Gak, ya!” sahutku cepat. “Setiap hari aku nunggu celanaku ada bercak-bercak merahnya, waktu itu sempat ada flek sedikit terus nggak ada sampai sekarang. Aku masih ragu bilangnya, takut kamu khawatir dan serumah heboh. Aku malas kehebohan.”


Dominic mencubit pipiku sembari mendengus. “Terus kamu mau bikin semua rumah tambah getir karena kamu hamil tapi kamu biarkan?” ucapnya serius.


“Bukan gitu, Dom. Aku sempat ke rumah sakit waktu aku bikin alasan pingin jalan-jalan sendiri. Aku merinding, aku memang hamil tapi aku lagi seneng-senengnya sama kamu.” kataku sambil memegang tangannya.


Dominic membenturkan keningnya di keningku. Hidung kami bersentuhan, saling membaui dan mengirimkan rasa hangat. Sekejap aku dapat melihat binar matanya berkaca-kaca.


“Sama, Ras. Aku suka semuanya yang ada di kamu. Transparan. Tapi si kecil harus di jaga.”


“Aku jaga, aku minum vitamin, susu, buah-buahan, dan sayuran setiap sarapan.” jawabku tidak mau kalah.


“Dan kamu berniat menyembunyikan isi rahimmu sampai besar? Tanpa melibatkan aku, bapaknya yang sangat tampan dan bekerja keras setiap hari? Keluarga kita? Come on, mi amor! Kamu tidak bisa memilikinya sendiri.”


Aku tersenyum getir. “Sorry... Aku ingin merasakannya sebentar sampai aku yakin si kecil benar-benar tumbuh dan aku baik-baik saja. Aku sehat, Dom. Jangan khawatir.”


“Kita ke rumah sakit!” Dominic berdiri. “Pak... Pak Tedy, siapin mobil!” teriaknya ketika ia lewat di bawah pohon cempedak sambil membawa secangkir kopi.


Pak Tedy mengangguk seraya keluar melewati pintu teralis bercat putih ke halaman rumah.


Aku mengikuti langkah Dominic ke dalam rumah, di depan anak tangga yang di hiasi dua jambangan keramik setinggi aku di bagian sisinya. Dominic berbalik, dia berdiri menjulang seraya mengulurkan tangannya untuk menahan kepalaku.


“Kamu tunggu di bawah.”


”Kenapa? He... jangan berpikir aku lemah, Dom!” mataku serius.


“Ini hukuman karena kamu menyembunyikannya dariku selama berminggu-minggu, Ras!” Dominic melengos, selang semenit Reno turun dari kamarnya dengan memakai setelan baju golf.


Aku menurunkan tanganku yang terlipat sambil menggeleng. “Ren, kapan kamu nikah?”


“Dih... ketularan nenek.” Reno mendengus. “Lagian Mbak ngapain to nunggu tangga? Nggak punya kerjaan? Mau ikut main golf aja gimana?”


“Nggak bisa! Rastanty harus ke rumah sakit.” sahut Dominic sembari menuruni anak tangga dengan cepat.


Muka Reno terlihat berubah. “Mbak sakit?”


“Nggaklah, ngawur.” sergah Dominic, mengubur kecemasan Reno secepatnya sembari mendorong mundur bahu adiknya. “Rastanty telat datang bulan.”


“Widiwwww, bakal ada bayi di rumah ini. Akhirnya... nenek bisa berhenti tanya kapan aku nikah!” Reno menyalamiku, “Selamat Mbak, mas. Nanti aku belikan hadiah mobil-mobilan.”


Aku mendesis lalu menyaksikannya pergi sambil bersiul-siul riang dan tanganku menerima baju ganti dari Dominic.


Lima menit setelah memakai gaun di atas lutut berwarna pink agak biege dan boxernya yang biru tua. Dominic menyisir rambutku dengan telaten seperti pegawai salon potong rambut.


”Kita berangkat.” Dia menggandeng tanganku bagai menggandeng neneknya yang telah rapuh.


Sejujurnya inilah yang sedikit tidak aku sukai ketika mereka sekeluarga tahu aku sudah hamil. Gelimang perhatian yang berlebihan hingga mengungkung jiwaku yang urakan.


*


*


*

__ADS_1


Rumah Sakit.


Kami menunggu di depan ruang pemeriksaan kandungan sembari sesekali menatap di tengah hilir mudik pegawai rumah sakit dan orang-orang berobat.


Teramat pelan Dominic berbisik. “Kamu gemesin.”


Hidungku mengkerut. ”Dasar labil.”


“Bukan labil.” Dominic berkelit cepat. “Aku ngerasa ada yang berubah dari kamu, Ras. Beberapa hari ini. Caramu senyum, caramu menghindar, caramu menolakku bikin aku menyimpulkan kamu mungkin capek dengan keadaan sekarang. Kamu bosen, makanya daripada kamu yang menjauh aku yang istirahat... Istirahat ganggu kamu.”


Belum pernah aku dengar Dominic berkata selembut itu sampai rasanya sekujur tubuhku digerayangi kehangatan dari setiap kata-katanya.


Aku menggenggam tangan Dominic sambil tersenyum santai.


”Itu caraku menjaganya dari bapaknya yang rakus dan nggak bisa tahan. Sekarang aku nggak sepenuhnya salah.” kataku enteng.


“Tetap salah Ras, buah dari kerja kerasku ini masa aku nggak boleh ngerti.” Dominic mencibir dengan lengan yang sudah mendarat di pundakku.


Tak lama, seorang asisten dokter memanggil nama kami di ambang pintu.


Dengan semangat dan wajah berseri-seri ketampanan Dominic menyebabkan si asisten dokter tersenyum-senyum sambil mengamati bahu dan bisep besarnya, membuat segalanya nampak membuat pekerjaan si perawat semakin semangat.


Dominic menggandeng tanganku. Menjelaskan isi hatinya yang baru saja ia alami selama satu jam terakhir di depan sang dokter yang bersiap memeriksaku.


Aku terbaring, menutup wajahku dengan kedua telapak tangan waktu alat USG berputar-putar di perutku yang licin dan dingin.


“Bagaimana Ibu dokter?” tanya Dominic bahkan sebelum acara pemeriksaan selesai.


Serentetan jawaban di perjelas dengan tenang dan terperinci. Dominic tiba-tiba mencium keningku.


“Akhirnya nenek bisa pulang, Ras.” Ia terkikik di telingaku.


Perutku bergetar menahan tawa. Aku menangkup pipinya dengan tangan kanan. Merasakan brewoknya yang baru tumbuh dan itu menggelikan.


“Biar nenek nemenin aku, Dom.”


Dominic termangu sejenak lalu menggeleng dengan senyum leganya.


“Serius, Ras? Kamu orang paling jengkel di rumah sama kelakuan nenek.”


Tawaku terlepas. Aku bangkit, merapikan rambut seraya menghela napas.


“Aku serius, nenek akan jauh lebih bahagia di masa tuanya dan memberiku banyak hadiah. He... Pinter kan aku sekarang?”


Dominic tergagap lalu memberi senyum terbaiknya sebelum keluar dari ruang obygn sambil menggandeng tanganku.


Tak mau buang waktu ia mengajakku ke pojokan yang terlihat sepi. Dominic menyeringai. “Sudah hamil sekarang.”


Aku mencebikkan bibir dan memejamkan mata. ”Ternyata aku juga doyan sama sahabatku sendiri, Dom. Hi...” Aku meringis.


“Aku nggak sabar pingin ngidam...”


Ia menjulurkan lidah dan tak mengedipkan mata barang sekejap saja. “Apapun itu, aku senang kamu mau bergaul sama nenek silver, Ras. Makasih.”


...🖤...

__ADS_1


__ADS_2