Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait ke-47


__ADS_3

“Menikah denganmu?” Kendranata berdiri.


Dua pasang mata mereka saling menatap tajam dan saling berdiri berhadap-hadapan. Bermenit-menit berlalu dalam hening yang membangkitkan bulu kuduk, menegangkan seluruh otot syaraf hanya untuk melihat mereka saling menerka seluruh maksud yang tercipta.


Kendranata melirik ke arahku dan tersenyum manis, aku sempat nyaris tersenyum lalu menundukkan kepala.


“Tidak ada wanita lain di hidupmu sampai kamu bersedia menerima hibah wanita dari sahabatmu sendiri?”


Dominic mengangguk tanpa keraguan hingga membuatku beringsut ke belakangnya. Kedua jari telunjukku masuk ke belt loop celana jinsnya untuk menahannya jikalau nanti ia hendak menyerang Kendranata.


“Adikmu memberi wasiat untuk menjaga Rastanty, menjaganya seumur hidup memang di perlukan sebuah pernikahan.” Dominic menarik tangan kiriku, memamerkan cincin di jari kiriku. “Kami sudah bertunangan.”


“Dominic Prambudi.” Kendranata bertepuk tangan. “Saya antara prihatin dan geli. Tapi sepertinya kematian kembaran saya membuatmu bahagia—”


“Noooooo....” Aku pindah ke depan Dominic cepat-cepat lalu merentangkan kedua tangan.


“Tidak ada yang berbahagia atas kematian Pranata! Gak ada yang bahagia atas sebuah kematian dan kehilangan. Orang sinting dan goblok yang bahagia dengan semua itu!” Aku menggeram. “Atau mungkin mas Kendra yang bahagia sekarang? Mas Kendra bahagia karena sudah kehilangan satu kompetitor yang seharusnya bukan menjadi ancaman sampai-sampai kalian harus bersaing dengan sodara sendiri, goblok, anj...”


Dominic membekap mulutku tiba-tiba sementara sebelah tangannya melingkar di pinggangku dan menahannya erat di tubuhnya. “Apa kamu mau menghadapi wanita seperti ini, Ken? Apa kamu berniat membuat masalah yang lebih besar di keluargamu dengan kehadiran Rastanty yang menjadi temanmu?”


Dominic mendengus, “Aku tidak akan mungkin melepas Rastanty pada orang yang sama sekali pun kembaran sahabatku sendiri atau cuma jadi teman. Karena kamu juga tidak akan mungkin bagimu sanggup menjaga dan bersabar atas semua caci maki yang keluar setiap dia kehilangan kendali!”


Aku meronta. Sudah Dom, sudah. jeritku dalam hati, tapi nampaknya kekuatan Dominic lebih kuat dari yang aku duga.


”Dua tahun aku bertahan dengan sikapnya yang dingin, tidak peduli, bahkan slalu ingat kembaranmu. Sampean pikir mudah dititipi cewek korban pengkhianatan terus hampir edan? Ajur aku, Ken. Ajur. Adikmu nikung aku. Ngaku cinta mati tapi apa? Kamu sendiri tahu adikmu seperti apa!”


Kendranata mengusap wajahnya dengan jengkel. “Maksudku bukan mau merebut Rastanty. Aku jelas nggak sudi sama bekas, Pranata. Maksudku kenapa sampean tega menikahi cewek yang sudah jelas bapak ibuku tidak suka? Mau kamu bikin bisnis kita tambah hancur dan renggang?”


“Maksudnya apa ini?” kataku setelah melepas tangan Dominic. “Kamu akur sama Kendra? Kamu punya bisnis sama dia? Tapi kamu takut aku tatap matanya? Apa ini maksudnya, Dom?”


Aku mencengkram rambutku. Menatap Dominic sebentar lalu Kendranata kemudian.


“Aku yakin kalian temanan, apa yakin kalian nguji aku?”

__ADS_1


“Aku cuma takut kamu jatuh cinta sama Kendranata, Ras!” sentak Dominic. “Aku takut kamu suka sama dia terus patah hati lagi gara-gara kamu anggap dia Pranata.”


“Aku sudah bilang, aku punya kamu!”


Kendranata kembali bertepuk tangan. “Dulu aku pikir pilihan Pranata itu bagus banget lho, anak rektor, terus pinter lagi. Ndilalah, setelah aku cari-cari bukti ternyata...” Ia menatap Dominic. “Begini selera—”


Bugh... Bogem mentah mendarat di wajah Kendranata. Aku terhuyung ke samping sebelum sadar lalu menahan Dominic dengan pelukanku.


“Jangan sekali-kali kamu merendahkan Rastanty di depanku, Ken. Urusan sekarang sudah beda, kita bukan kompetitor.”


“Memang bukan, kamu juga sahabatku. Kamu yang memberitahu pacar Pranata yang sesungguhnya, biar persaingan kita makin klop.”


Aku mendongak langsung. “Bener, Dom?”


Ekspresi Dominic tiba-tiba kecut dan menghindari tatapanku.


“Tega kamu, Dom!”


“Aku bisa jelasin, Ras... Ras!”


Keributan terjadi di ruang tamu, kursi-kursi bergeser dengan kasar bersamaan dengan pernak-pernik meja yang berjatuhan.


Aku menjatuhkan diri di kasur seraya menutup telingaku dengan posisi meringkuk. Suara-suara keributan mereka menjadi samar bersamaan dengan air mata yang mengalir di pipiku.


“Ya Allah, kenapa jadi kacau begini, Ya Allah. Salah apa to aku ini.


“Ras... Ras... Aku bisa jelasin.” ucap Dominic buru-buru setelah mendobrak daun pintu. “Aku lakukan itu karena aku nggak suka kamu bahagia dengan Pranata. Aku nunggu kamu putus dari dia, tapi bukan dengan cara seperti itu putusnya, Ras. Aku mohon, dengar.” ucapnya khawatir sampai suaranya bergetar.


“Kamu jahat, Dom." Aku memunggunginya sembari sesenggukan. “Pergi dari kamarku!”


“Aku butuh kapas dan obat merah!”


Ucapan itu otomatis membuatku bangkit. Aku menatapnya dengan mataku yang blawur.

__ADS_1


“Kamu terluka?”


“Tersakiti!”


Aku turun dari kasur seraya berjalan terburu-buru ke meja kerjaku. Mencari kapas dan obat merah di rak buku.


“Bawa keluar.” Aku mengulurkan kedua barang itu. Dominic malah melepas bajunya seraya mengusap air mata dengan jarinya yang berbau anyir.


“Aku dan Kendranata pernah ikut kelas krav maga. Mungkin banyak yang bonyok sekarang sementara tanganku cuma bisa hapus air matamu, Ras.” Dominic menatapku dengan sedih.


“Aku sudah ngomong tunggu di kamar, apa susahnya nurut!” Tangan kiriku menarik kursi seraya memposisikannya di depan Dominic.


Setelah pandanganku kembali, aku bisa melihat darah keluar dari mulut dan hidungnya, beberapa bekas tinjuan memerah di kulitnya yang bersih.


“Aku nggak tahu masalah apa yang terjadi di antara kalian sampai aku di bawa-bawa sampai rasanya sakit banget, Dom. Padahal aku tidak pernah dengan sengaja menyakiti kalian!” kataku sebelum keluar dari kamar, aku melihat kekacauan di ruang tamu bersamaan dengan ibuku yang baru saja datang dari warung.


“Ono opo iki, Ras. Ono opo?”¹ ucap ibuku kaget dengan belanjaannya yang terjatuh.


“Dominic sama Kendra berantem.”


“Yungalah, Gusti.”


“Nanti aku bersihin, buk.” kataku sebelum berbalik. Di dapur aku mengambil air bersih seraya kembali ke kamar.


“Aku capek main tebak-tebakan, Dom. Aku mau kamu cerita apa yang nggak aku tahu! Aku muak dengan kejujuran yang kamu simpan!”


“Maaf, Ras.”


“Minta maaf besok, sekarang diam.” Aku menarik kursiku lebih agar lebih dekat. “Bapak ibumu kalo sampai tahu kejadian ini aku tambah nggak punya muka, Dom.”


Ia mengernyit kesakitan saat aku menyeka darah di wajahnya dengan handuk basah dan ketika aku mengamati wajahnya dari dekat sambil berhati-hati menaruh obat merah di sudut bibirnya, Dominic tersenyum tipis.


“Orang tuaku nggak peduli kamu punya muka seperti apa, mereka hanya pingin aku bahagia terlepas dari akar masalah kita.”

__ADS_1


Aku kembali membersihkan luka-luka di tubuhnya setelah mencium sekilas bibirnya yang memar dan jontor beberapa jam kemudian.


...🖤...


__ADS_2