Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-enam


__ADS_3

Hp lama yang biasa buat nulis mati pettt dear reader, mood hancur parah hari ini padahal udah bikin setengah bab buat pertemuan Rastanty dan Pranata. Ya ampun, kezel ya ketika sudah membuat sesuatu dengan teliti harus lenyap karena kondisi yang tiba-tiba terjadi. Doakan perjalanan menulis jauh lebih baik. đź’š


.


.


Bayangkan betapa malasnya aku mengajak Pranata ke bangunan kost-kostan yang tak ubahnya seperti sarang garangan. Tetapi pertemuan pertama dengan yang terkasih pasti akan slalu terkesan, baik-busuknya, manis dan canggungnya serta sikap ketidakacuhan menggema di kepala.


Mustahil aku melupakannya bahkan ketika kepalaku melakukan perlawanan aku pusing sendiri.


“Semua kamar yang ada penghuninya pasti ada nama di setiap pintunya, jadi sementara yang kosong cuma nomer tiga, lima dan tujuh.” ucapku tanpa menatapnya.


Segepok kunci cadangan kupilih sesuai nomer yang kusebut tadi sebelum membuka kamar nomer lima.


“Semua kamar sudah ada kasur busa ukuran single dan bantal, kalau mau pake guling beli sendiri dan semua penghuni kost-kostan dapat jatah kopi satu sachet perhari, sarapan setiap pagi dan makan malam!”


“Kenapa tidak ada makan siang?”sahut Pranata.


“Biaya kost sebulan empat ratus ribu, sudah termasuk biaya listrik, gratis air putih setiap hari dan bayar sampah! Terus kalau ada makan siang bapakku bangkrut!” Aku bersedekap di kusen pintu. “Silakan di lihat-lihat dulu, komplain setelah deal tidak bapak ibuku gubris apalagi aku!” imbuhku judes. Terus karena Pranata tetap menatapku tanpa membuka bibirnya. Aku menambahkan.


“Ada WiFi gratis. Tapi kalau telat bayar kost biaya tambah dua puluh persen untuk tagihannya.”


Pranata menatapku sembari masuk ke dalam kamar sebelum melihat-lihat keadaan, ia memencet saklar lampu berulang kali sampai berkedip-kedip, membuka lemari, memeriksa engselnya, mengendus bantal dan membuka tirai.


Wajahnya tersentak ketika mendapati kuburan yang tak jauh rumah dan rimbunnya pepohonan yang menjorok ke sungai.


”Pemandangan lain?” tanyanya setelah bergeming di hadapanku. Aku menatap jarak kami yang terlalu dekat. Aku menelan saliva.


“Takut?” dalihku sambil beringsut. Bila aku terus di posisi ini, aku tidak yakin aku bisa terus bersikap judes. Mata Pranata bagus, rambutnya berantakan. Senyumnya sederhana, dan rahangnya terlihat kokoh.

__ADS_1


Pranata menarik sudut bibirnya, lalu mengerutkan dahi. “Tidak juga, aku hanya ingin menikmati sesuatu yang bagus.”


“Alasan di terima, lagian siapa yang mau pagi-pagi lihat kuburan!”


Aku menutup pintu seraya mengajaknya ke nomer tiga. Pranata kudengar menyebutkan nama-nama penghuni kamar yang masih pada molor. Kebiasaan.


“Yang ini VIP, ada aturan main yang wajib di patuhi penghuninya!” ucapku saat mata kami bertemu di bawah lampu kamar.


“Nada suaramu berubah.” kritiknya lalu pindah. Aku tersentak. Apanya suaraku goyah?


Pranata membuka tirai polos coklat dengan garis putih, pemandangan taman yang aku rawat setiap pagi dan sore terlihat nyaman dipandang ketimbang kuburan. Dia mendorong jendela seraya memasang penyangganya.


“Aturan apa yang berlaku di kamar ini?” Ia mendudukkan diri di kusen jendela sambil menatapku.


Aku menunjukkan kamar sebelah. Pranata mengendikkan bahu.


“Deal.” Pranata mengulurkan tangannya tanpa berpikir keras. “Aku ambil kamar ini.”


Aku mengangkat tangan. “Bilang aja sama ibu. Tugasku cuma jelasin!” Aku melengos dari dalam kamar sebelum lenganku di cekal tangan Pranata yang hangat.


“Kesepakatan kita, bukan dengan ibumu Rastanty!” Pranata tak melepas tanganku sebelum bibirku mengucapkan persetujuan. Apa-apaan sih dia ini, kenal juga tidak seenaknya sentuh-sentuh. Ingin sekali waktu itu aku mengatakan kita bukan muhrim, namun semakin rekat tangannya dan jarak di antara kami, tanpa pikir panjang aku memilih menginjak kakinya.


“Jangan kurang ajar!” kataku galak lalu memukul-mukul dadanya dengan jurus jitu perempuan ngamuk. “Mau apa kamu?” teriakku sampai memancing ibu dan Dominic datang ke sini. Pranata mengangkat tangannya sambil menyeringai.


“Ada apa Rastanty? Kenapa jerit-jerit?” tanya ibu panik. Bahkan sampai-sampai penghuni kost sebelah ikut nimbrung dengan bau kasur dan iler yang kentara.


“Ada apa bos? Ada apa?” ucapnya panik setelah menyusup dan menyenggol ibu dan Dominic.


“Kenapa jerit-jerit, Ras. Bayar seratus ribu, denda jerit-jerit!” Andex menengadahkan tangannya.

__ADS_1


Ibu menatapku. Asem, kebongkar rahasiaku jika selama ini yang berisik dan membuat kegaduhan yang ekstrim kena denda.


“Ini lho buk, Pranata mau kurang ajar sama aku.” kataku pelan.


“Benar, Pra? Wah jjancuk kon, nggak senang aku punya teman brengsek gini.” timpal Dominic tegas sambil mendorong lengan Pranata. “Gak usah ngekos di sini, malu-maluin aku kamu!”


“Jangan salah paham dulu. Tadi aku cuma pegang tangan Rastanty terus mau bilang terima kasih karena sudah diizinkan pakai kamar ini tapi dengan syarat.”


“Syarat?” Ibu menatapku. "Kamu bikin syarat apa, Ras?”


Aku ingin memaki, tapi aku sudah menghitung berapa banyak kata-kata negatif yang aku ucapkan sekaligus aku batin hari ini. Akhirnya aku tidak memberi respon apa pun, aku hanya menyerahkan kuncinya ke Pranata dengan semangat.


“Selamat datang di kost ini!” kataku ketus sambil berlalu.


Aku tersenyum di depan rumah orang tuaku sekarang dengan pohon rambutan yang sedang berbuah. Hatiku memar dengan kenangan yang membuai seketika. Tak kusangka pertemuan pertama dengannya menjadi awal dari segala kegilaan yang terjadi di rumah ini. Kegilaan yang membuatku susah tidur karena suaranya yang merdu.


“Rastanty...” Ibuku tergesa-gesa seraya membuka pintu gerbang. “Ya Allah, Nduk. Kamu pulang.” Ibuku mencium kedua pipiku dan memelukku erat-erat dengan rindu besar-besaran yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.


Ibuku menarik diri lalu tersenyum. “Kamu pulang, Nduk.” tangan ibuku membelai pipiku. Matanya yang berkaca-kaca terus meneliti wajahku di bawah sinar matahari Jogja yang bercahaya.


Aku mengangguk, dadaku menghangat. Detak jantungku yang seperti deru angin gunung sebelum benar-benar berada di tanah kelahiranku perlahan mereda ketika aku saksikan ibuku menyambut ku tanpa pamrih.


“Rastanty pulang, Buk. Sungguh-sungguh.” Kucium punggung tangan ibu dan mencium kedua pipinya seperti waktu aku memutuskan hengkang dari rumah dua tahun silam.


Ibuku menggubris ucapanku dengan tangisan yang menyayat hati sambil menggandengku masuk ke dalam rumah. Seharusnya aku sudah menduga kejadian ini akan terjadi di mana kenangan Pranata masih terlihat jelas di rumah ini bahkan juga di hati ibuku. Mereka berinteraksi dengan intensif dan Pranata memang bukanlah sosok menyebalkan seperti awal kami bertemu dengannya. Dia adalah manusia langka yang terus menggetarkan hatiku bahkan ketika kakiku masuk ke rumah ini.


“Kamarmu dan Pranata masih sama, Ras. Tidak pernah ibu dan bapak renovasi.” kata ibuku setelah kami duduk di kursi. Aku terperangah namun bersembunyi di balik senyumanku yang tua ini dan rasanya aku seperti asing di tempat ini. Seperti halnya Jogja, rumah ini juga mengalami renovasi yang lebih maju dan lebih bagus setelah aku pergi. Menghilangkan sebagian jejak Pranata meski tidak dengan kamar kita.


đź–¤

__ADS_1


__ADS_2