Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-40


__ADS_3

Aku memandangi jam dinding, ini sudah pukul sembilan kurang. Dominic tak kunjung bangun dari tidurnya yang nyenyak dan luwes di sampingku dengan lengan yang mendekap kedua pahaku dengan wajah yang menempel di pinggang. Dia meringkuk, selimut membungkus setengah tubuhnya.


Mataku terjaga dengan baik semenjak tubuhnya menempel di ranjang king size ini. Kecemasanku sudah membabi buta sementara fantasiku sudah ke mana-mana. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa.


Aku lega. Ujian honeymoon sudah aku jajal dengan mengatur napas dan menonton film sambil memesan makanan dari layanan intercom hotel. Sementara aku sangat yakin besok setelah pernikahan kami langsung teler, kelelahan dan honeymoon yang tadinya akan digadang-gadang akan terjadi di Malang tetap terjadi di kota itu, bukan di sini.


Aku menunduk ketika barisan teks berjalan mengakhiri film yang kulihat, tanganku mengelus pipi Dominic di bawah pancaran cahaya lampu utama.


“Domi, bangun.”Aku mengusap alisnya yang menaungi matanya yang indah. “Kita harus pulang, nanti bapak marah-marah sama aku lagi.” kataku membangunkannya.


“Belum puas, Ras.” ucapnya serak, Dominic merapatkan wajahnya di pinggangku. Tangannya mengetat di pahaku. “Bapak nggak akan marah, kamu tenang aja!”


“Gimana bisa tenang, daritadi kamu cuma tidur. Terus aku cuma jadi satpam Dominic yang lagi tidur. Bangun kek, makan malam dulu. Terus lanjut lagi di rumah tidurnya. Aku sampai kram dua kali gara-gara nggak bisa gerak.”


“Bawel...” Mata yang mengatup rapat itu perlahan terbuka, sembab dan berair tapi senyumnya menambah cerah keadaan yang mengepung kami dalam suasana intim yang kadang-kadang aku harapkan ini adalah awal mula kedekatanku ke fase yang lebih dekat. Tetapi senyuman pereda kalut itu hanya sekejap seolah dia kembali mengingat sesuatu yang terlupakan.


Dominic memejamkan mata. “Cium dulu kayak tadi siang!”


“What!”


“Biar kamu tahu rasanya nyium orang bangun tidur itu gimana!”


“Ih..., kan bukan aku yang minta kamu cium aku! Salah sendiri.”


“Yakin nggak mau pulang? Ide cemerlang!” Dominic membetulkan selimutnya.


Aku menggeleng seraya menendang selimutnya hingga sebagian jatuh ke lantai.


“Aku bakal cium kamu, tapi kamu tetap merem. Jangan ngintip apalagi ketawa. Soalnya ini perbuatan senonoh. Aku nggak menolerir kamu ngetawain aku apalagi kalau sampai bapakku tahu aku cium kamu. Kamu benar-benar akan mengibarkan panji perang!”

__ADS_1


Belum apa-apa Dominic sudah terbahak-bahak. “Nggak sekalian kamu bikin surat perjanjian, Ras?”


“Nggak, nggak perlu.”


“Oke, lakukan.” Dominic membasahi bibirnya sementara aku mengusap kedua telapak tanganku. Gugup melandaku. Aku tidak mungkin melahap seluruh bibirnya seperti yang ia lakukan tadi. Aku cukup mengecupnya seperti yang aku lihat di film tadi. Adegan itu masih terekam dalam ingatanku.


Aku tersenyum lega. Gampang, batinku.


Pertama-tama aku hanya perlu menatap wajahnya, lalu memajukan wajahku dan bibirku mencium bibirnya.


Dominic menahan tengkukku dengan jemarinya yang menyusup di sela-sela rambutku. “Lucunya, boleh di ulang? Sekali lagi yang mesra?”


Aku memanyunkan bibir dan menyentuh bibirnya. Mengecupnya lima kali, sampai aku malu sendiri. “Udah. Jangan minta lebih.”


“Iya, aku tahu aku yang pertama bagimu.” Dominic tersenyum maklum lalu mendorong wajahku menjauh dari wajahnya. “Jauh-jauh, aku harus bangun dan menghadapi kenyataan.”


Aku mendesis seraya mengikutinya ke kamar mandi.


“Harusnya kamu sadar, kamar mandi itu privasi. Ini, ntar lihat yang enggak-enggak jerit-jerit. Terus aku jadi kambing hitam.” cibirnya sembari melepas ikat pinggang.


“Ya udah minggir, aku kebablasan!” kataku jujur, sadar kenapa aku ikut masuk ke sini. Otak nggak beres kayaknya. Yakin aku, semakin mendekati hari pernikahan makin ruwet isi kepala.


Dominic mengusap-usap rambutku seraya membuka pintu. “Sabar kali, Ras. Bentar lagi juga nikah. Kemana pun aku pergi kamu boleh ikut termasuk ke kamar mandi. Kalau sekarang jangan, bahaya.” Ia membuka pintu dengan senyum mengejeknya.


Aku menegakkan tulang belakangku, meluruskan leherku dan keluar dari kamar mandi dengan angkuh.


“Yang ngebet nikah siapa, yang kena batunya siapa.” gerutuku sambil membuka pintu kaca. Aku memandang kesibukan yang mulai memudar di gerus malam. Kendaraan mulai berangsur-angsur berkurang dan aroma tengah malam yang syarat dengan suasana sepi nan wingit mengangkat sebagian jejak Pranata ke udara.


Kejahatan jalanan mengintai dimana saja, tidak pandang bulu, tua, muda, laki, dan wanita bisa kena termasuk apes yang menimpanya. Dokter mengatakan luka bacokan di punggung kanan dan pinggangnya terlalu dalam. Pranata kehilangan banyak darah, upaya untuk transfusi darah ke tubuhnya pun gagal total.

__ADS_1


Satu-satunya hal yang bisa dokter sarankan hanyalah menghubungi keluarganya, cepat-cepat waktu ini Dominic yang mengambil alih semua barang pribadi Pranata menghubungi keluarganya. Dan yang sangat teringat di benakku adalah pesan terakhirnya. “Help and sorry.” Berikut dengan shareloc tempat ia tergeletak tak berdaya.


Pukul satu pagi aku membawa mobil Dominic untuk melaju sekencang mungkin ke lokasi itu, menerobos lampu merah berulang kali dan mataku, sekujur tubuhku langsung kaku.


Berlumuran darah di atas aspal Pranata mengangkat tangannya dengan mata yang nyaris tertutup ketika melihatku.


Aku membisu di tempat, kekacauan menabrakku dalam segala arah, lidahku kelu, tak cuma aku teman-temannya silih berganti datang di waktu yang nyaris bersamaan dengan penduduk setempat.


Setyo, Paijo, Andi, Hima berusaha memasukkan Pranata ke dalam mobil. Aku mencengkram rambutku dengan frustasi, aku menjerit histeris, mobil Dominic melesat cepat ke rumah sakit setelah Setyo tancap gas. Meninggalkan kerumunan di sekitar kubangan darah dan aku, lututku tertekuk, dayaku hilang perlahan, lukaku tumbuh, matinya membekas di sanubariku seolah ingin abadi tanpa pamrih di sana.


“Ras, ngelamun?” Dominic menyentuh kedua pinggangku dan menciumi ubun-ubunku. “Sekalian mandi tadi. Kelamaan nunggu?”


“Nggak juga.” Tanganku mencengkram palang balkon. “Udah bisa cerita? Atau mau makan malam dulu?”


“Mau ke restoran bawah atau dinner di sini?”


“Bagusan di sini.” Aku mengubah posisi, sekarang aku bisa melihat rambutnya yang lembab dan wangi, kulitnya yang dingin dan segar lengkap dengan senyumnya yang manis.


“Aku tahu kamu nggak sabar, tapi tunggu dulu. Kamar ini akan jadi saksi malam pertama kita, kalo aku cerita, aku harus cari kamar lain biar suasananya beda. Kamu nggak keberatan?”


Aku menggeleng. “Kamarmu di Malang aku mau. Nggak harus di hotel. Kamarmu lebih bagus untuk membuat kenangan Ter... baik itu.”


“Terbaik apa terburuk?” ulang Dominic


sambil menyipitkan matanya.


“Teristimewa.” kataku sambil memutus jarak dengan pipinya. “Kamu istimewa, Dom. Apalagi aku.”


Dominic tergelak sambil mengencangkan pelukannya di pinggangku. “Bisa aja perayu musiman.”

__ADS_1


...🖤...


__ADS_2