
Setumpuk kenang yang pernah aku miliki dalam beragam bentuk dari Pranata terkumpul dalam kardus mi instan yang kubeli seharga seribu di warung Lek Sartini.
Aku menghela napas, kalau saja tak ada Dominic yang masih membuat sesak kamar sekaligus napasku, aku pasti sudah jengkel, tersenyum dan menangis dalam satu waktu. Tetapi yang kulakukan hanyalah mendengar darimana barang-barang ini berasal dari mulut Dominic yang menceritakan kelakuan mereka kala memilih barang ini.
“Kita milih bareng-bareng, Ras. Apalagi waktu milih pakaian. Kita bayangin body-mu lalu milih ukurannya, bentuknya dan diskusi cocok nggak buat kamu.” urai Dominic dengan antusias.
Parah!!! ... Fantasi dua pria itu sungguh-sungguh sudah mengulitiku walau aku masih berpakaian lengkap. Kurang ajar memang sahabatku. Bisa-bisanya harus membayangkan body-ku dulu yang pasti membuat mereka langsung cengengesan waktu itu.
Aku mengangkat kardus setelah ia menaruh benda terakhir yang ketinggalan di kasur.
“Kamu yakin mau buang ini semua, Ras?” tanya Dominic saat kami keluar kamar. “Yang dibeliin Pranata pakai hati lho, lumayan mahal-mahal juga. Nggak kasian kamu sama mereka-mereka?”
Aku sontak menatap Dominic yang menghalangi langkahku.
“Terus aku kudu gimana? Barang-barang ini bukannya memang seharusnya lenyap dari sekitarku. Terus itu mobil sama motor Pranata, kita kembalikan ke rumah orang tuanya!” kataku serak dengan nada suaraku yang pahit.
“Bagaimana perasaanmu tentang itu?” tanya Dominic.
Aku tahu bahwa tempat di hatinya meragukan keinginanku, karena aku juga sebenarnya ragu, kenangan ini tak cuma untukku dan Pranata, namun juga Dominic yang nampaknya ikut senang memilihkan barang-barang ini untukku. Namun aku tetap ingin membersihkan kenangannya satu persatu dari kamarku.
“Aku mau kamu yang membuangnya.” Aku menyerahkan kardus yang beratnya membuat kedua lenganku mengencang ke Dominic. Bibirnya menipis, dahinya tak benar-benar mengernyit tapi nampaknya ia paham aku membutuhkannya.
“Gini aja, Ras. Aku simpan barang-barang ini di kamarku atau di kamar Pranata.” katanya tepat ketika guruh yang keras menggelegar di langit.
Aku menggeleng kuat-kuat. Mendung nampaknya telah menghiasi langit Jogja siang menjelang sore. Tak terasa, keadaan semakin mengepungku lebih lama bersama Dominic yang berbalik ke arah. Dia masuk ke kamarnya, sementara pintu yang hendak aku masuki perlahan tertutup.
__ADS_1
“Dom? Marah?” tanyaku sambil mengetuk pintu, kupingku menempel di daun pintu. Terdengar barang-barang berjatuhan di lantai. “Dom, kasih aku masuk!” kataku lebih keras. “Jangan gini dong, aku nggak mau nyimpan itu lagi bukan karena aku nggak peduli sama pemberian Pranata, tapi aku berusaha menghargai keberadaanmu.”
Aku memejamkan mata sambil menepuk bibirku. Aku seperti penjilat, penjilat Dominic yang sudah jelas seratus persen menginginkanku dan pernikahan. Di tambah lagi otakku mendadak keruh dengan semua hal-hal yang baru aku ketahui.
Ya ampun, hilang keangkuhanku. Serta kegelisahan melilit perutku dan wajahku saat gagang pintu bergerak turun, lalu daun pintu terbuka perlahan.
Dominic menatapku dengan mata yang melembut lengkap dengan senyum jengah. Ia melangkah mundur, memberi ruang bagiku untuk masuk ke kamarnya.
Aku melongok ke dalam, barang-barang dari Pranata benar-benar berserakan di lantai.
“Mau kamu apain?” tanyaku pelan-pelan.
“Aku foto terus di jual di situs online barang kenangan mantan!”
DUAR...
Aku mengguncang kedua bahu Dominic dengan harapan dia sadar yang dia lakukan adalah keputusan yang membuat kepalaku tegang.
Dominic menangkup rahangku. Aku menelan ludah dengan susah payah ketika guncangan di bahunya kuhentikan.
“Jujur aku nggak jatuh cinta sendiri, karena dulu Pranata mengajakku ikut berpartisipasi dalam memberimu hadiah. Pilihannya adalah pilihanku juga, Ras. Jadi, biar aku simpan ini.” Dominic menatapku yakin.
Aku memalingkan wajah di sisa-sisa guruh yang kembali terdengar, aku menghela napas, tak tahan berpura-pura tidak kesal yang terlalu menusuk dada sekarang sementara senyumnya yang bebal dan jelas-jelas senang kami terkungkung bersama.
“Ngomong daritadi! Aku udah membuang waktu untuk sekedar mikirin mau di gimanain ini! Taunya...” Aku menghadiahi dadanya dengan tinjuan ringan seraya mendengus tak suka.
__ADS_1
Dominic pura-pura tersentak, namun untungnya dia sudah paham tanganku terlalu ringan jika berhadapan dengannya. Dan sekarang yang ada di benakku hanya satu, setelah Dominic meninggalkan Jogja, maka semuanya menjadi normal. Aku benci normal, betapa pun mustahil terdengar keberadaannya membuat waktu cepat berlari.
Aku menggeliat, mencoba membebaskan diri, namun Dominic tetap menangkup pipiku dengan mata indahnya yang terus menatapku. Wajahku perlahan memanas.
“Kamu gelisah, Ras?” tanyanya di luar pembahasan barang-barang yang berada di dekat kaki kami.
“Tanganmu!” Aku menatapnya tajam dan serius. “Tanganmu mulai ke sana kemari, ganggu!”
Seulas senyum samar menghiasi bibirnya. “Ayo kita mesra-mesraan?” bisiknya.
Pipiku yang berkulit sawo matang merona. Debar jantungku berpacu. Dia yang biasanya cengengesan penuh humor dan bermain-main menjadi lebih intim dan penuh perhatian.
Aku menatapnya. “Kurasa status ini membuatmu menuntut banyak hal, Dom.” kataku berani.
Dominic bergeming, dan aku mengenalnya sebaik dirinya mengenalku. Dominic sedang berpikir, sedikit was-was dan terlihat sangat mempertimbangkan lantas memberi sedikit senyum menawannya dan mimpi buruk di sore hari menimpaku sekarang. Dominic mendekatkan wajahnya, sementara kakiku terpaku bahkan seperti tertimpa beton. Aku tidak bisa bergerak saat kecupan singkat penuh makna mendarat di keningku. Ibu jarinya menyapu alisku.
“Kamu ayu, Ras.” pujinya sembari melepas tangannya dari pipiku.
Aku tergeragap seraya terhuyung ke belakang. Kesadaranku pulih, kakiku terlepas dari gravitasi bumi. Aku berdiri dengan goyah. Kekonyolanku bertambah besar ketika aku mengusap keningku.
“Ngawur.” protesku padanya meski terlambat seakan kondisi kost-kostan yang dekat kuburan ini mempengaruhi suasana sepi hingga menghidupkan hasrat-hasrat tersembunyi. “Mbok kamu ini berusaha bikin aku nyaman, ini malah... fantasimu edan!”
Dominic menyeringai, matanya yang indah berbinar-binar. Kebahagiaan terlihat di ekspresi wajahnya. Sedalam itu dia jatuh hati padaku, anehnya aku merasa senang dia terlihat bahagia. Dia tidak menyimpan gumpalan perasaan didalam hatinya saja, mungkin agar aku juga tahu perasaannya.
Bahuku tersentuh. “Udah sana keluar dari kamarku, gak baik lho cewek terus-terusan ada di kamar cowok.” usirnya sambil mendorongku lembut.
__ADS_1
Mulutku ternganga, benar kita memang yang-yangan. Cuma ini nggak normal, sama sekali tidak normal. Bagaimana mungkin dia mencuri kesempatan lalu mengusirku. Hujan di luar dan kamarku berantakan. Apalagi hatiku, dia obrak-abrik, jelas ingin kumaki dirinya tapi aku sendiri terlalu sungkan mengucapnya sekarang. Dominic pernah menangis di balik tawanya yang palsu karena aku!
...🖤...