
Dominic turun dari panggung setelah meminta salah satu dosen kami dulu memandu acara penutupan pembukaan reuni dengan mendoakan sahabat kami, teman, mahasiswa yang sering mengeluarkan pendapat dengan suara lantang di depan gedung rektorat—Pranata—dengan pembukaan kata yang meremas dada.
Aku menunduk, diremas perasaan pedih yang kembali menjalari sekujur tubuh. Aku mengamini setiap kata yang diuraikan dengan niat yang kental dengan pengharapan. Pranata tenang di alam sana.
Tak ku sia-siakan doa berjamaah ini meskipun aku tak siap mengalami uap kenangan yang terbit bagai matahari pagi setiap kali kakiku menginjak ruang dan tempat yang meninggalkan jejak kaki Pranata.
Dominic menyentuh kedua bahuku dari belakang seolah menguatkanku. “Banyak yang sayang Pranata, Ras. Lepasin dia secepat kamu bisa. Termasuk yang ada di dompetmu.” bisiknya.
Aku menoleh dan menatapnya dengan kepala yang sedikit miring ke atas. Sorot mata Dominic mengisyaratkan canda yang ia balut dengan senyum samar serta mata yang menghadap ke panggung.
Paijo menutup acara dengan mengumumkan berputarnya film dokumenter foto dan video hasil rekaman dan kumpulan cuma-cuma semua teman yang senang mengambil momen ketika kami kuliah.
Dominic menarik kursi yang dia ambil dari luar gedung seraya menaruhnya di sampingku sementara aku langsung mendamprat wajahnya dengan tatapanku yang tajam.
“Sudah lama aku tahu.” jawabnya pelan, tangan kanannya terangkat ke udara sebelum mendarat di punggung kursiku. Sebagai mantan playboy cap persahabatan. Seperti maling cinta kebanyakan, dia mencuri kesempatan yang lengang. Punggung jemarinya mengelus punggungku tanpa rasa malu.
Aku meliriknya tajam. Dominic menyunggingkan senyum lepas yang melegakan. “Aku udah pengen nikah, Ras. Nunggu kamu lama banget. Padahal yang lain udah bunting, punya istri, kita? Nyebar undangan aja belum.”
__ADS_1
“Sabar di sayang pacar, nggak sabar aku tendang!” cibirku lalu menatap layar yang mulai memutarkan film dokumenter diselingi batuk kecil Dominic yang tersendat-sendat bagai menahan tawa.
Mataku berkedip-kedip. Suasana kampus tahun angkatan kami menguap seratus persen lewat visualisasi data cctv kampus yang diedit dengan lihai oleh siapapun dia. Aku tak peduli siapa yang membuat rekaman cctv serta potongan-potongan video dan foto menjadi sebuah film dokumenter epic hingga membuatku mengeluarkan keringat dingin.
Aku lebih peduli pada setiap gerak dan nyawa yang masih bisa aku temukan di dalam film itu. Aku menelan ludah berkali-kali. Pranata terlihat hidup dengan senyum yang merekah dan tulus dia berikan kepada siapa saja sampai seorang gadis mencintainya dengan penuh obsesi.
Hetty, perempuan berbadan sintal, tinggi semampai dan berambut panjang yang di curly rapi kini ada di sini. Di antara mantan-mantan Dominic yang lebih aku pedulikan kehadirannya ketimbang ia yang mencuri perhatian kekasihku dulu.
Hetty dan Pranata terlibat obrolan santai yang berujung keakraban yang tamak. Sekali dua kali aku maklum dengan kedekatan mereka terlebih Hetty adalah anak rektor yang memberi ruang bagi Pranata untuk menyuarakan aspirasinya lebih lihai agar di terima protes kerasnya terhadap kebijakan baru universitas yang di rasa merugikan mahasiswa. Tetapi semakin lama, suasana kedekatan itu semakin menumbuhkan rasa cemburu di dadaku.
Hetty dan keluarganya menjadi garis terdepan dalam mengatur proses hukum yang menjerat pelaku klitih ( penyerangan/sejenis begal ) dengan hukuman sepuluh tahun penjara. Sementara di saat perkabungan yang menyita seluruh perhatian penghuni kost-kostan dan universitas, keluargaku dan keluarga Pranata justru bersitegang.
Pranata wajib dimakamkan di kota kelahirannya, Surakarta. Sementara dari wasiat yang di ucapkannya terbata-bata kepada dokter dan Dominic yang mati-matian berusaha bertahan dari penyakit cacar airnya dan rasa penyesalannya, Pranata ingin dimakamkan di dekat rumahku.
Ketegangan terjadi di rumah, sementara tukang gali kubur sudah di siapkan. Pranata wajib dikebumikan secepatnya untuk menyudahi beberapa hal-hal yang tidak bisa di kondisikan lagi. Cerita itu aku dapat dari Dominic. Ditengahi seorang dosen, orang tua Pranata sepakat. Putranya dimakamkan di pemakaman umum keluarga besar universitas... Tidak di dekat rumahku dan aku pun lega.
Takzim, aku menunduk. Air mataku jatuh dan kuusap dengan marah. Aku tidak tahan dengan putaran film yang masih berlanjut entah berapa menit lagi. Diantara tawa yang sedang gegar gempita dan obrolan menyangkut peristiwa yang terjadi. Aku justru sakit hati. Sebab yang lebih menyakitkan dari sebuah putaran film dokumenter yang menampilkan aktivitas mahasiswa saat itu, aktivitas-aktivitas yang membangkitkan ribuan kenangan yang tersimpan rapi meremas dadaku dengan teramat keras. Pranata tidak pernah mengakui sebagai kekasihnya, melainkan Hetty yang pernah ia bawa ke Surakarta dan diperkenalkan kepada orang tuanya.
__ADS_1
Fakta itu kudengar di rumah saat perdebatan terus terjadi penuh emosi.
“Rastanty bukan pacar anakku, pak Budi! Pranata berpacaran dengan Hetty, anak pak rektor dan dia sudah membawa ke rumah. Tidak ada nama Rastanty yang diceritakan Pranata kepada kami!” ungkap Bu Indri berapi-api.
Tangisku merebak. Pengkhianatan kah yang terungkap? Atau modal usaha Pranata untuk tetap ada di kota ini dan mengejar cita-citanya sekaligus memperlama tinggal di kost-kostanku? Memperbanyak pahit dan manisnya kenangan denganku?
Sakit hatiku tambah parah saat kudengar di depan orang tuaku, Bu Indri dan Pak Herlambang tidak akan merestui hubunganku dengan Pranata jika putranya masih hidup. Mereka pergi meninggalkan setumpuk benci dan barang-barang Pranata dengan sudi kepada keluargaku yang di pandang sebelah mata. Tak pantas jadi besan bahkan menantunya.
Aku menggeser kursi dengan kasar. “Permisi.”
“Ras... Rastanty.” Panggilan Dominic dan Priska bersahutan. Tergesa aku keluar dari gedung ikatan alumni mahasiswa. Diikuti langkah Dominic yang tiba-tiba menggeser kursi dengan spontan. Sementara beberapa orang pasti mengalihkan atensinya pada keributan yang terjadi tak terkecuali Hetty yang sedari tadi menoleh ke arahku sambil memegang tisu.
“Well done, Ras.” Dominic mencekal pergelangan tanganku seraya menarikku ke dalam pelukannya. “Just a little hurtness. It's oke, you will be fine, with me, everywhere, every time, you needed.”
( Hanya sedikit rasa sakit. Tidak apa-apa. Kamu akan baik-baik saja, denganku, di mana saja, setiap waktu, setiap kamu membutuhkanku ~ Dominic. )
🖤
__ADS_1