Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-32


__ADS_3

Jam sepuluh pagi akan terjadi lima belas menit lagi, telapak tanganku dingin, jantungku berdetak lebih cepat dari kemarin-kemarin. Aku tidak bisa kabur bahkan hanya menginjak lantai dasar untuk mengerti apa yang terjadi.


Aku di kurung dengan baju rapi, wajah penuh sentuhan tools make up, tanpa hp, hanya ditemani risol mayonaise, jus mangga dingin dan roti bakar bertumpuk-tumpuk dengan keju parut, daging sapi slice panggang, saos tomat. Itu semua belum aku sentuh sama sekali. Aku menunggu jam sepuluh tepat agar pintu ini terbuka.


“Lama banget.” keluhku seraya bersandar di tembok dekat daun pintu. “Dominic nggak asyik, giliran di bikin cantik, cuma di kurung, hilih... Tahu gitu aku nggak perlu ikut-ikutan antri dandan.”


Handle pintu berlapis aluminium merah bata bergerak, aku menoleh saat daun pintu didorong seseorang.


“Kak, waktunya ke bawah.” Michelle mengulurkan tangan. “Aku di minta gandeng kakak, mas Domi bilang kakak kesulitan pakai hak jinjit.” Michelle mencibirku saat tatapannya ke bawah. Sementara ia yang jangkung masih menggunakan hak jinjit untuk mempertinggi daya pikat.


“Lagian acara di rumah pakai hak jinjit, chell. Nyeker lebih enak to.” keluhku heran.


Michelle Prambudi, si bungsu paling di sayang kakak-kakaknya, nenek-kakeknya dan bapak ibunya semakin mencibirku dengan tatapannya yang terang-terangan.


“Mas Domi mau hari ini jadi hari yang spesial, mosok nyeker to mbak, emang pitek a, nyeker-nyeker suket teki!”


Aku menguncupkan bibir, teringat ayam tetangga yang mengubah semua masa depanku dan Dominic hanya karena maling suket teki di alun-alun kidul.


“Terus sekarang dimana Dominic?”


“Di bawah, nungguin kakak.” Michelle mengumpulkan keberanian untuk menatapku seolah sedang mengumpulkan sesuatu yang berat untuk diucapkan.


Aku mengernyit. “Kenapa?”


“Coba habis tunangan nanti kak Rasta panggil mas Dominic, sayang, baby, atau beibe, atau darling, atau mas. Biar kak Rasta itu kesannya nggak cuma anggap mas Domi tempat bersandar dan buang sampah kenangan mantan! Kasian masku.” dengusnya tak terima.


Tanpa menunggu jawabanku, Michelle kembali menangkupkan tangan di kedua lenganku seolah aku ini benar-benar tidak sanggup berjalan dengan anggun. Memang benar sih, aku justru seperti wanita jadi-jadian yang sedang berlatih menggunakan hak jinjit. Meski begitu masalahnya bukan soal sepatu jinjit ini dan kebaya yang aku gunakan untuk kondangan kemarin. Masalahnya aku dan Dominic. Hari ini benar-benar terjadi... Proses menuju suatu jenjang yang lebih tinggi ini menyulitkanku untuk fokus terhadap wajah-wajah yang duduk di ruang keluarga.


Bapak, ibu. Om Prambudi, Tante Marisa. Reno, pak Tedy, Mbok Iyah, Michelle dan terakhir Dominic. Lelaki itu memakai setelan jas. Berwarna legam seperti celana kain press body dan sepatu kulit hitamnya yang mengkilat.


“Sudah bisa kita mulai acaranya?” kata Prambudi.


Ujung kebayaku di tarik-tarik. Aku menoleh setelah kesadaranku pulih. “Kenapa, pak?”


“Duduk! Mau apa kamu berdiri terus seperti itu. Nggak sopan.” ucap bapak lirih sambil menarik tanganku. Kena lagi. Aku menunduk seraya berjalan malu-malu ke kursi di depan Dominic.


“Hai...” sapa Dominic riang.


Hatiku menciut. Aku mengangkat tanganku dan menggerakkannya seperti dada-dada sambil menundukkan kepala. “Hai...”


“Everybody.” sambung Marisa ceria sambil bertepuk tangan memancing atensi. “Kita mulai acaranya siap?” Aku mengangguk. “Lihat mama dan bapak, darling? Good.”


Aku menatap orang tua Dominic yang tampak santai bahkan senyum samar mereka sedikit-sedikit terlihat saat aku mengulum senyum malu.


“Ada apa Rastanty?” tanya Prambudi.


“Gerogi.” kataku berupa gumaman.

__ADS_1


Marisa terkekeh geli. “Santai saja dong, nanti belum menikah pingsan duluan. Iya, Dom?”


“Iya, mam.” Dominic menyeringai. “Kita buat acara ini sesantai mungkin, mam. Aku takut Rastanty pingsan lalu gagal.” Dominic memasang wajah sedih yang dibuat-buat.


“Mama oke-oke aja, ayo husband mulai acaranya.” Marisa menyentuh bahu suaminya. Prambudi beranjak, sambutan semacam membuka rapat umum di kantornya terjadi, secara formal dengan isian kalimat yang berbeda, bukan membahas keluar masuk masalah perusahaan dan uang sebab Prambudi adalah seorang akuntan dan pebisnis tersohor di kota ini melainkan membicarakan penerimaan pertanggungjawaban atas tingkah putranya yang diminta bapak semalam.


Sungguh dahsyat pergolakan batin sekarang, percakapan dua orang tua kami terus bergulir hingga membuahkan hasil.


“Pernikahan harus dilakukan di ballroom, hotel.” celetuk Marisa.


“Hotel, mahal itu pak.” sahut ibuku hingga memancing senyum lebar di bibir semua orang yang mendengarnya. Bapakku mendesis tajam. “Rastanty perlu nikah. Mau kamu anak semata wayang kita jadi perawan tua?”


Ibuku menggeleng lemah. Aku menyembunyikan wajahku di balik punggung ibu dengan senyum yang sudah tak bisa terlihat menawan lagi.


“Nanti pesta meriahnya di sini, so, habis ijab kabul di Jogjakarta, selang sehari kita pulang ke Malang, atau semuanya di sini saja, pernikahan Dominic adalah yang pertama di keluarga kami. Di sini dingin cocok untuk bulan madu.”


Aku terbatuk-batuk dengan keras, “Bulan madu” adalah perkara yang harus aku bicarakan dengan Dominic, kesepakatan malam pertama yang harus aku menangkan.


“Minum, Ras.” Sofa yang ku duduki bergelombang, Dominic menyentuh pahaku canggung. Aku menoleh dengan pipi kelu.


“Habis ini kita ngomong berdua.”


“Cie, kakak. Nggak sabar berduaan.” cibir Michelle.


“Hush... kamu anak kecil, jangan ikut campur.”


“Oh... wow...” Marisa memenggal kalimat Michelle, “Back to the topic darling...”


“Yach mama...” Michelle merengut sambil melipat kedua tangannya di dada. “Aku sudah cukup dewasa untuk ikut berpartisipasi.”


“Nanti kamu punya kesempatan tersebut. Sekarang, mama mau tanya sama Dominic dan Rastanty. Mohon jawab sejujurnya kalau tidak mama marah. Kalian selama ini sudah seru-seruan, berdua-duaan, dan benar kata pak Budi, kalian harus di beri sanksi atas kelakuan kalian, terutama kamu Dominic. Kamu nakal, mama sedih.”


Bagai tersangka Dominic mengangguk manut. “Mama mau tanya apa?”


“Apa kalian berdua bersungguh-sungguh akan membangun mahligai rumah tangga yang indah dan mesra? Saling menghormati? Saling menjaga dan sanggup melewati badai-badai rumah tangga dengan saling percaya?”


Aku tersentak. Itu mah janji pernikahan. Bisa banget ini Tante Marisa menodongkan pertanyaan seperti itu di waktu yang benar-benar spesial.


Dominic mengisi celah-celah jemariku yang terpaku di pangkuanku.


“Kami tidak bisa berjanji, mam. Tapi persahabatan yang mendasari hubungan kita saat ini akan jauh memudahkan kami untuk melewati badai di rumah tangga kami. Benar, Ras?”


Aku mengangguk, menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada Dominic hari ini dengan perasaan atas nama resah, takut, kecewa serta perasaan menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti atas keputusan itu.


“Kalau begitu silakan memakai cincin pertunangan kalian di depan kami dengan senyum bahagia.” ucap Marisa.


Dominic mengulurkan tangan setelah berdiri. Matanya tak lepas dariku seakan memandangi sesuatu yang terus dia puja-puji tanpa jengah dan bosan.

__ADS_1


Aku mengangguk sembari menapak telapak tangan Dominic dengan tanganku.


Kami berdiri berhadapan di depan dinding styrofoam sebesar lemari tiga pintu yang di hiasi beragam jenis bunga segar yang di pasang cepat-cepat dari pukul enam pagi tadi.


Reno menekuk lututnya di samping kiri kami, tangannya menyerahkan cincin pertunangan kami yang di bawa dengan nampan yang di selimuti kain putih rumbai-rumbai.


“Ku persembahan cincin ini untuk kakakku karena mama menyuruhku.”


Dominic menahan senyum sembari meraih wadah cincin. Ia meringis sewaktu Reno menontonnya dengan terkesima-sima.


Dominic menaruh kembali wadah cincin itu dengan tangan kirinya seraya mendorong wajah Reno yang cengengesan meski tersenyum ke arahku.


Reno tersungkur ke lantai dengan tangan yang masih memegang nampan berisi cincin pria.


“Nggak usah malu-malu gitu kaleee... Buruan tunangan biar aku juga nyusul mas, kelamaan kon! Joko tuek.”


“Mulutmu lama-lama tak kareti, Ren.” Dominic mengruwes wajah Reno sebelum berdehem-dehem sembari memusatkan perhatiannya padaku lagi. Dominic memajukan langkahnya.


Di depanku, seulas senyum samar dia berikan.


“Bertahun-tahun aku berusaha menyembunyikan perasaanku kepadamu, Ras. Sampai hari ini datang, aku masih berusaha memperjuangkan persahabatan kita menjadi lebih berarti.” Dominic meraih tangan kananku. “Aku yakin kecanggunganmu dan pertanggungjawabanku akan berganti dengan cinta dan kemesraan seiring waktu.”


Aku mengangguk, pipiku bersemu malu. Andaikan ini bukan acara formal yang melibatkan orang tua, baju kebaya dan segala kesakralan pertunangan super dadakan atas dasar permintaan bapakku yang masih menyisakan bara api di matanya, aku sudah mengguncang bahu Dominic dan menyadarkannya bahwa dia bisa mempunyai wanita yang tepat tapi lagi-lagi. Nasib, nasib.


Aku jatuh di tangan sahabatku sendiri yang menyimpan sejuta memori masa laluku dengan sahabatnya yang mungkin telah menceritakan bagaimana sepak terjang ku saat mencintainya. Aku takut kelemahanku menjadi sarana untuk mengelabuhiku. Tapi Dominic berbeda, dia sangat berbeda.


Caranya menyematkan cincin di jari manisku begitu pelan dan takzim seolah dia benar-benar serius memasang cincin itu di jariku sebagai pertanda aku miliknya selama-lamanya.


Dominic tersenyum lega sembari mendekatkan punggung tanganku di bibirnya.


“Gantian... gantian...” sorak Michelle dan Reno bersamaan setelah Dominic mencium punggung tanganku dan melepasnya pelan-pelan.


Aku mengambil cincin pria sambil menahan senyum. Ini parah sih, mesra-mesraan dengan Dominic membuat perutku menegang, asam lambungku naik dan pipiku nyaris kebas menahan tawa dan geli.


“Aku kesulitan berkata-kata, Dom. Tapi boleh aku tanya sesuatu ke kamu sebelum cincin ini masuk ke jarimu?”


“Katakan.”


Dominic tersenyum. Matanya berbinar.


“Kamu mau panggilan sayang?”


“Mau.”


Sepintas aku mendengar suara tawa yang ditahan-tahan Marisa dan Michelle.


“Oke kalau gitu habis ini kita diskusikan, berdua di kamar.” Aku mengerling geli sambil meraih tangan kanan Dominic, ia merenggangkan jemarinya sewaktu aku menyematkan cincin pertunangan kami dan berakhir dengan pelukan diiringi decak puas para pemirsa.

__ADS_1


...🖤...


__ADS_2