
Genap empat bulan usia kandungan ini. Dominic menyesap kopinya di depan komputer pangku yang menyala. Senyumnya sekali-kali merekah, sekali-kali serius. Dia menikmati pekerjaannya diiringi lagu jazz yang mengalun rendah dan jendela kamar yang terbuka.
Sekarang musim pancaroba, dua botol vitamin aneka jenis dan manfaat menghiasi meja lampu. Sehangat susu setiap pagi dan malam serta potongan-potongan kecil buah-buahan tak pernah luput dari jatah makan.
Aku mengamati Dominic yang sedang memiliki mood baik dan peristiwa ini kusebut anugerah. Pasalnya, terakhir kali aku ngomong karena hanya pingin di rumah untuk lihat perutku, itu benar-benar terjadi. Seminggu aku harus pamer perut yang memiliki beberapa bekas cangkrangen dengan jengah. Memuaskan dahaganya akan janin yang sedang asyik-asyiknya menikmati rumah kontrakan sembilan bulan.
“Aku mulai membesar, Dom.” kataku saat ia meneguk kopinya sembari mengelus perutku dengan tangan kiri.
“Bagus dong, tandanya kamu subur, makmur, sehat dan bahagia. Tambah empuk, tambah seksi... Menggoda dan indah, berseri-seri, tambah dewasa, tambah keibu-ibuan, tambah bikin aku sayang kamu, Ras.” pujinya seabrek-abrek dengan ketenangan di wajahnya yang stabil.
Dominic memeriksa perutku lalu wajahku. Sesuai mood hari ini ia tersenyum hangat, tidak heboh dan ekstra perhatian..
“Baru-baru ini kamu juga tambah manja, Ras. Kenapa? Pingin sesuatu tapi nggak berani ngomong?” tukasnya, menjauhkan laptop pangku seraya memindahkan posisi kepalaku ke pangkuannya.
Dominic berdehem sembari mengelus rambutku yang sudah kupotong pendek.
“Pingin apa, ngomong? Bosen di rumah?”
Aku menggeleng seraya menyusupkan kepalaku ke dalam kaosnya yang longgar. Dominic mengintip dari leher kaos. “Kenapa, Ras?”
“Bapak sama ibu kok belum datang-datang, Dom.. Mereka kasih kabar kamu nggak ada apa gitu di rumah?” Aku menyerap kehangatan dan aroma kulitnya yang penuh kelezatan ragawi. Mencari kenyamanan di celah-celah rasa penasaranku akan kabar Bapak-Ibu.
“Oalah baru kangen Bapak-Ibu...” Dominic menggulung tepi kaosnya ke atas seraya melepasnya melewati kepala. Ia bertelanjang dada dan sanggup melihat seutuhnya tepi wajahku dengan mata berbinar-binar. “Mau pulang?” tanyanya lembut.
“Aku nunggu mereka di sini, wong janjinya mau datang untuk pesta empat bulanan. Ini udah, tapi belum datang-datang.” kataku lesu.
“Ya elah, Rastanty... Rastanty... Dua tahun kamu pernah ninggalin mereka, kamu santai banget menjalani hidupmu yang ruwet itu bareng aku. Sekarang baru lima bulan kamu di sini sudah kangen, uwoww... gawan bayi ini.” Dominic mengelus perutku.
“Bapak sama ibu baru carter travel, subuh-subuh tadi telepon. Lusa baru berangkat, toh menyesuaikan jadwal libur teman-teman kita yang lain.” Dominic menghela napas.
“Hetty tadinya mau ikut, tapi Bapak tolak.”
__ADS_1
Teringat sesuatu yang telah lama mati suri, aku bangkit sembari mengerjapkan mataku yang berair. Aku memang kangen Bapak-Ibuku, tapi itu bisa nanti dulu.
Aku mengamati ekspresi Dominic penuh selidik. “Aku mendadak ingat kamu ikut ngurus perkara praperadilan kasusnya dengan keluarga Pranata. Sejauh apa kamu berkomunikasi dengan Hetty? Apa dia yang sering telepon kamu waktu kita traveling? Terus nangis-nangis?”
Dominic menggeleng malas seraya memakai kembali kaosnya. “Gak perlu di bahas, Ras. Masalah sudah rampung, kita ketemu mama sama nenek untuk persiapan pesta kehamilan ini.”
Dominic hendak menggenggam tanganku, aku beringsut mundur dengan muka masam sehingga membuat selimut tergulung tak beraturan.
“Apa kamu juga menganggapnya istimewa? Aku ingat kamu dekat dengan Pranata cilik di pemakaman.”
“Ras... Enough!” Dominic angkat tangan, “Jangan mulai, marahmu, kecurigaanmu berimbas pada emosi anak kita nanti. Tolong...” Penuh harap Dominic beringsut mendekat.
“Makanya jawab aja pertanyaanku. Itu persoalan yang belum aku tahu, betul?” Aku ikut angkat tangan.
Dominic menghela napas, raut wajahnya lantas ikut terkenang masa-masa yang penuh pengorbanan dan energi. Napasnya tertahan waktu menggenggam tanganku.
Aku menggeleng, segera aku melepas tanganku perlahan-lahan dari tangannya.
“Cuma iba aku, Ras. Kasian... Hetty bukan kamu yang tidak tahu apa-apa, dia tahu segalanya tentang sepak terjang Pranata dan keluarganya. Mau ndak mau, aku sebagai seseorang yang tahu tabiat buruk mereka ikut bantuin cari keadilan buat anak sahabatku.”
Aku menguncupkan bibir, tapi selagi ada celah untuk menggali lebih dalam. Aku menjureng saat menatapnya.
“Kamu nggak ada perasaan apa-apa to sama dia?”
“Sumpah, Ras. Aku cuma jadi saksi mata, jadi pembicara... udah itu doang, toktil, aku bersumpah.” Dominic mengetuk-ngetuk keningku dengan buku jarinya.
“Sadar... Rastanty... Sadar...”
“Kamu pikir aku kesurupan!” kataku seraya mendengus dan menjentikkan jariku di kupingnya. “Sinting juga kamu sering bantuin cewek-cewek. Apa sekarang masih?”
“Ya jelas dong, karyawanku selain kuli panggul juga banyak yang perempuan, apa iya aku harus nyebut mereka perempuan jadi-jadian... Parah kamu, Ras...” Dominic geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Perlahan aku meraih tangannya sembari tersenyum lega. Kepadanya yang sedang mangkel dan bermuram durja aku mencium pipinya sambil menelan saliva.
”Gitu aja kok aku tanyanya... Nggak parah cuma payah. Hi...”
Dominic memasang wajah jelek yang di buat-buat sembari membenturkan keningnya di keningku.
”Oalah... Ras... Ras... Kok bisa aku cinta gila sama kamu. Kayaknya aku butuh periksa Bu Dokter.”
“Cinta mati, Dom.”
“Cinta gila yang paling benar!” desaknya tegas.
“Untung sadar, jadi aku nggak perlu jadi bijaksana dan memujimu normal.” Tanganku menyugar rambutnya sembari menyeringai, “Makasih udah pilih aku, Dom. Harusnya dulu kamu bilang Pranata dan Hetty punya anak, kebodohanku pasti langsung hilang.”
Dominic tak dapat menyembunyikan seringai di bibirnya. “Terlalu cepat kamu tahu, terlalu cepat kamu bukan milikku, Ras. Kamu paling nggak akan butuh aku setelahnya... Kamu mungkin tidak akan di kamarku. Kamu berkelana sesuka hatimu dan nggak ada sejarahnya kita sampai di detik ini, bareng-bareng seperti sekarang. Aku sengaja menyembunyikan sampai waktu berkuasa untuk kita. Dua tahun, lama? Penuh makna? This is my choice, sorry.”
Dominic mengusap pipiku yang mulai berkembang seperti adonan donat dengan punggung jari.
“Untuk yang pernah singgah, biarkan singgah, Ras. Pranata bukan seseorang yang asing bagiku. Dia ada dan menjadikanmu istimewa untukku tentunya. Jadi... peluklah aku...”
Aku menggenggam balik tangan Dominic seraya mencondongkan tubuh, mencium sekilas pipinya. Segalanya jauh lebih baik bersamanya, melihatnya bahagia dan aku bisa melompat ke daratan setelah meniti jurang gelap terasa sangat menyenangkan.
Aku bisa melihat warna-warni perhatian dan kasih sayang, komedi-komedi baru yang bukan sekedar ngelucu. Aku berada di tempat yang paling nyaman dan aman.
Aku memeluk Dominic sebelum pintu kamar terbuka. Marisa melebarkan mata sembari meringis. Alih-alih pergi, ia nimbrung dengan memeluk kami berdua. “Waktunya ke rumah sakit sayang, USG.”
Dominic menguncupkan bibirnya setelah melonggarkan pelukan. ”Diana atau Budiman, Ras?”
Aku mengendikkan bahu, “Apapun itu, aku nggak akan berhenti untuk memelukmu, Dom.” Kembali aku mendekapnya sampai Marisa mendesis-desis seperti ular kobra.
...🖤...
__ADS_1