Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-26


__ADS_3

“Kita udah di Parangtritis, tapi kamu masih nangis. Apa sepanjang perjalanan tadi belum cukup kamu membasahi rompi dan kemejaku, Ras?” tanya Dominic.


Buih ombak menyentuh kaki kami yang menjorok ke bibir pantai dengan terik matahari sore yang menyengat pipi kanan kami lebih panas.


“Aku nggak minta kamu bawa aku ke sini, aku cuma butuh sendiri biar masalahku cepat selesai.” Aku menguncupkan bibir, “Sejak awal aku nggak mau reuni karena tadi. Sakit hatiku, Dom. Tapi ini bagus aku lagi pengen jauh-jauh dari rumah. Aku capek banget, film dokumenter tadi kampret.” sambungku lirih sambil meremas pasir hitam.


“Mau sewa penginapan?” Dominic menyahut.


“Makasih.” Aku menggeleng, ”Nanti ada yang cari kesempatan!” tandasku langsung.


Dominic merangkul leherku dan membenturkannya di dadanya pelan. Sebelah wajahku menempel pada dadanya yang sudah tak memakai rompi. Kemeja putih yang membungkus badannya makin terasa tipis ketika dadanya mengembang.


“Biasa aja kali curiganya, aku masih utuh. Cuma aku ini mantan playboy, kamu paham itu. Masalahnya harusnya udah nggak penting, udah kadaluwarsa, heran aku, cewek kok suka ungkit-ungkit masa lalu pacarnya. Mau apa? Pengen jadi yang terbaik apa gimana? Aya-aya wae.” Dominic mendengus.


Aku berdehem-dehem. “Aku yakin kamu tahu rahasia Pranata dan Hetty lebih dalam dan orang tua Pranata yang nggak setuju pacaran sama aku, Dom. Kenapa kamu diam aja sebagai sahabatku dulu?” katanya sambil mendongak.


Dominic menunduk, tatapan kami bertemu dalam jarak sedekat kami dengan bibir pantai Parangtritis yang menyimpan sejuta misteri dan keindahan panorama di balik ombak ganasnya sekaligus ujung selatan dari titik imajiner kota Jogjakarta.


“Diam bukan berarti nggak peduli, Ras. Aku yakin walau pun aku bilang kamu nggak akan percaya. Bagimu aku dulu cuma pengganggu, tapi bagi Pranata aku pembantu.”


“Kok bisa?” Aku mengernyit. Dalam kecanggungan yang sedari tadi membekukan tubuh ini, aku merasakan napasnya yang hangat beradu dengan napasku yang bercampur dengan aroma laut.


“Hetty berkali-kali minta Pranata putus sama kamu, berulang-ulang sampai Pranata bilang aku harus ada di antara kalian biar Hetty gak kebakar cemburu. Mau nggak mau, selain punya misi sendiri aku seneng-seneng aja di antara kalian.” Dominic meringis.

__ADS_1


“Kenapa?” tanyaku lembut. Padahal, daripada menempel di dada Dominic yang mulai bau, aku lebih memilih mencicipi dan membasuh wajahku dengan air laut yang berwarna kecoklatan itu. Biar sekalian menderita bibirku yang kering dan mataku yang pedih ini.


“Aku bisa lihat kamu dari dekat terus tahu kebiasaanmu. Lumayan daripada manyun doang.” Dominic menyeringai. “Udah ya, Pranata, Hetty, orang tuanya adalah kisah lama. Kamu hampir gila mereka nggak ada yang peduli. Cuma aku dan orang tuamu yang ada buat kamu saat hari-hari terpuruk itu. Kurang baik gimana aku coba. Udah di tampar padahal bukan salahku! Juancokk kok.”


Aku menguncupkan bibir. Kematian Pranata ada hubungannya dengan kamu, Dom. Menolak lupa.


“Tentu,” aku mengangguk serius seraua menegakkan tubuh, “makasih kamu udah slalu ada buat aku. Niat baikmu pasti ku balas cinta suatu hari nanti. Kalau sekarang aku pasti ketahuan bohongnya!” janjiku sambil menatapnya seluwes menatap Pranata.


Aku menyimak pesona Dominic yang memiliki bibir kemerahan khas ibunya yang ranum merah jambu kebarat-baratan. Hidung sederhana khas ayahnya dan mata indah yang menyedotku untuk menatapnya lama-lama.


Dominic menunduk lalu membuang muka ke arah lain dengan pipi bersemu merah yang keluar dari pesonanya yang liar dan seksi.


“Jangan lihat-lihat, ntar naksir.” selorohnya. Menggenggam pasir lalu berhamburan saat ia melemparnya ke udara untuk meredam sesuatu yang bergolak di benaknya. “Harusnya memang kamu lihat aku terus, Ras. Sini...”


Aku menatapnya di bawah cahaya matahari yang mulai surut. “Terima kasih.” kataku tulus.


Dengan canggung, Dominic memajukan wajahnya perlahan-lahan sambil menahan sesuatu yang sudah ia tahan sebegitu susah. Aku memejamkan mata tetapi bukan ciuman pertama yang aku rasakan.


Ombak menghantam sekujur tubuh. Kami tergeragap sembari mencoba berangkulan tangan beberapa saat sebelum ombak surut tanpa menyeret kami ke samudra Hindia.


Dominic beranjak, dia menarik kedua tanganku, terpogoh-pogoh kami berjalan dalam keadaan basah kuyup, malu dan tercengang menjauh dari bibir pantai. Namun kesadaran langsung menyergapku sama besarnya saat ombak ikut menyapu tasku.


Aku berlari kecil di atas pasir basah yang menenggelamkan sebagian jejakku ke dalam bumi.

__ADS_1


“Jangan, Ras. Bahaya!” Dominic setengah menyentak suaranya, dia menahan pergelangan tanganku sama tekadnya sewaktu dia menenangkanku di halaman gedung ikatan alumni mahasiswa. “Jangan, biarkan pergi.”


“Hpku, KTP-ku, dompetku, ATM-ku?” Aku berdecak.


“Gak sekalian foto Pranata kamu sebutin?” imbuh Dominic. “Nanti urusan surat kehilangan di Polsek. Hpnya aku beliin, mentang-mentang ada foto Pranata di sana takut banget kehilangan tas itu.” Dominic mendengus.


“Itu tas yang kamu beliin waktu kita ke Bali, gak ingat kamu?” sentakku langsung.


“Lho...” Mata Dominic sontak lari ke penjuru lautan yang sudah menelan tasku jauh ke arah singgasana ratu kidul. “Ikhlaskan ajalah, sudah terlanjur jauh. Toh, itu tandanya pantai ini tahu Pranata udah nggak penting lagi kamu simpan.” Dominic membungkuk hormat seolah mengucap syukur atas ditimpanya musibah yang membuat kami harus membeli baju ganti.


Dominic terkekeh sambil mengalungkan tangannya di leherku. “Batal ciuman, Ras.”


Aku mendengus sambil berjalan ke rumah-rumah penduduk sekitar yang menjual pakaian oleh-oleh khas pantai Parangtritis. Aku dan Dominic langsung memilih baju yang kamu inginkan termasuk dalamnya. Sepertinya hal ini lumrah terjadi hingga kami sempat ditawari sekalian menggunakan kamar mandi atau penginapan yang ada di sekitar pantai.


“Aku mau santai-santai terus makan, Ras. Punggungku belum apa-apa udah capek jadi tempat berlabuh tangisanmu. Aku nggak mau mandi di toilet umum!”


“Terus menurutmu kita harus sewa penginapan? Darah playboy-mu lagi berdesir-desir, iya?” Aku memunggungi Dominic untuk kembali memilih baju mana yang bagus.


Dominic mengusap punggungku yang merekat erat dengan kain satin hitam yang basah. Rambutku lepek dan berbau air laut.


“Cuma mandi, istirahat sebentar, terus keluar cari makan, Ras. Kalau untung kita bisa lihat senja di pantai ini. Atau mau ke tandem paralayang biar bisa lihat keseluruhan pantai ini dari atas?” bujuknya sesopan mungkin yang ku anggap tetap rayuan mantan playboy.


“Momennya nggak tepat!” kataku sambil menumpuk barang yang kami beli dalam satu tempat.

__ADS_1


...🤭🖤...


__ADS_2