Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-20


__ADS_3

Kita melaju menuju harapan yang diinginkan, menghadapi rintangan yang menyajikan kesedihan dan kebahagiaan di musim yang tak tentu. Seperti hari ini pagiku di isi dengan menjemur pakaian dan membereskan rumah, siangnya sampai malam mendung tanpa hujan menggelayut manja di langit sepanjang hari hingga membuatku malas-malasan di kamar.


Aku merebahkan diri sambil memulai kesedihan yang berulang di kamarku dengan suasana yang berbeda, tak ada jam weker yang berbunyi tepat sebelum subuh berkumandang dan malam pukul sembilan. Jam weker itu kini berada di kamar Dominic, yang membangunnya lebih pagi dan membuatnya kesal karenanya. Tak ayal akhirnya jam itu ia hibahkan pada mahasiswa muda yang sedang rajin-rajinnya kuliah. Sementara aku cukup lega, jam weker yang berdentang dua kali sehari adalah jadwalku dan Pranata bertemu walau belek belum hilang napas belum wangi dan kantuk masih menghinggapi mata sebelum dan sesudah aktifitas sehari-hari memisahkan kami. Romantis ya, bucin ya, menyusahkan ya, dasar kurang kerjaan!


Tapi memang itulah kami. Budak cinta yang tergila-gila pada satu kata, “Harapan!”


Ya, benar. Harapan, setiap hari aku dihantui perasaan penasaran. Kenapa Pranata sanggup jatuh cinta pada gadis biasa sepertiku sementara banyak perempuan di luar sana yang memujanya terang-terangan. Aku sering cemburu karenanya dan Pranata slalu bilang, “Cuma kamu Ras yang aku pikirkan!”


Aku yang tak sering jatuh cinta percaya menganggap Pranata jujur adanya. Cuma aku yang ada dipikirannya. Lalu harapan apa yang dia inginkan dari seorang gadis berdarah Jogja yang justru tak mengerti bahwa ada keindahan di kota ini.


Aku justru mengenal Jogjakarta lewat setiap langkah yang mengiringi Pranata menyusuri jalan-jalan di kota ini dan aku ingin mati di sini.


“Ras, kalau seandainya aku lulus kuliah duluan kamu sedih nggak aku udah nggak ngekost di tempatmu lagi?” tanya Pranata waktu kami menghabiskan waktu di angkringan kali code. Membeli pisang bakar dan roti bakar dengan ditemani susu coklat hangat.


Aku menggeleng. “Aku suka kamu lulus duluan, itu tandanya kamu udah siap mencari nafkah untukku.” kataku ceria.


Pranata tidak tertawa, dia jarang tertawa namun senyumnya yang lebar menandakan bahwa dia senang dan geli atas jawabanku.


“Oh, jadi kamu udah siap nikah ceritanya? Kok aneh ya, Ras. Setahun yang lalu waktu aku ngajak kamu pacaran, kamu masih seperti cewek kalem kurang gaul yang ogah-ogahan diajak jalan.” ledeknya sembari menghilangkan meses di sudut bibirku.


“Itu kan dulu setahun yang lalu. Masa Transformers bisa berubah hati nggak.”


Senyuman di bibir Pranata semakin melebar begitu juga pengunjung yang berada di sebelah kami yang kedapatan membuang muka sembari tersenyum-senyum seolah rasa senang kami menular.

__ADS_1


“Iya boleh berubah, aku senang dengernya kamu ada kemajuan. Nggak pasif terus.” Pranata menjentikkan jarinya di ujung rambutku yang dihinggapi lalat. “Tapi bunda bilang pasanganku harus sarjana sebelum nikah.”


“Oke deh, aku usahakan secepatnya nyusul kamu lulusnya. Cuma kamu bisa sabar kan nungguin aku, Pra? Aku agak nggak pintar soalnya kepikiran kamu terus.”


Tak kuat dengan ucapanku yang manja tak alang kepalang, pengunjung di sebelah kami tertawa. Pranata juga sama, dia bahkan terlihat ingin menceburkan diri ke sungai code yang membelah kota Yogyakarta menjadi bagian barat dan timur.


Aku mendengus, “Kenapa kayak gitu? Aku lucu?” tanyaku sangat percaya diri.


“Gak—gak, eh iya!” ralat Pranata buru-buru seraya mengatur napasnya dengan wajah semringah, “Kamu lucu, Ras. Suer.”


Aku tersenyum sekarang sembari menatap langit-langit kamar dan mendadak aku teringat pertama kali kami pergi berdua.


Aku kebingungan mencari pakaian yang pantas untuk di pakai hingga waktunya berangkat aku belum siap. Pranata mengetuk-ngetuk jendela kamarku, matanya menerobos masuk ke dalam setelah meninggikan kusen jendela. Aku tersenyum jengah.


“Kok belum siap? Cari apa, Rasty?” tanyanya terheran-heran.


Aku terbelalak, mentalku yang seperti yupi kala itu langsung panik. Seorang laki-laki ada di kamarku. Nanti bapak marah, ibu curiga, sebelum itu terjadi aku mengunci kamar lalu mendorong punggungnya ke arah jendela.


“Udah pake yang ini aja, Ras. Buruan di pakai. Keburu Dominic pulang kampus.” katanya menggebu-gebu setelah menolak keluar. Ditangannya gaunku di pegang erat.


“Kenapa emangnya?” Aku yang hanya memakai kaos dan celana legging pendek tercengang saat dress bouffant pouf putih polos milikku Pranata pakaikan. Kedua tangannya pun tiba-tiba menyusup ke leherku sebelum mengibaskan rambutku yang tertahan di balik gaun. Rambutku terurai dan ekspresinya langsung berseri-seri. “Cantik. Tinggal pakai sepatu.”


Aku mengangguk lalu ia keluar dari kamarku lewat jendela tanpa rasa was-was. Aku pun buru-buru memakai sepatu, mengikuti jejak Pranata keluar dari jendela. Dia menggeleng-geleng dengan senyum yang merekah geli setelah aku tiba di depannya.

__ADS_1


Aku tersenyum, keakraban kami mulai mengalir ketika niat baiknya mengajakku pergi ke kampus bersama aku terima enam bulan setelah dia menginap di kost ini. Rasanya aneh dibonceng seorang lelaki asing yang setiap aku mengambil pakaian kotornya di depan kamarnya, dia slalu menungguku menyelesaikannya.


“Kamu ini...” Telingaku ia jewer dengan gemas. “Gak harus ikut-ikutan lewat jendela juga, Rastanty.”


“Gak papa, Pra. Biar jadi pengalaman.”


Untuk pertama kalinya aku mendengarnya tertawa dan aku langsung jatuh cinta pada tawanya yang sebenarnya menyala namun terkenang selamanya.


Indah ya jatuh cinta, aku merasa berbunga-bunga dan lebih wangi dari kembang desa. Sampai akhirnya perjalanan kami yang lebih canggung tapi mesra dan rapi dari biasanya berakhir di Malioboro.


Aku menemaninya berjalan-jalan, mencari sesuatu yang diinginkan dari toko ke toko namun tak kunjung dia dapatkan sampai betisku kencang, kakiku pegal, tenggorokanku haus dan perutku lapar.


“Kamu cari apa sih, Pra? Kok bingung? Kok nggak ketemu-ketemu? Emangnya susah dan langkah yang kamu cari?” semburku, di depan penjual air mineral dan rokok eceran yang tiba-tiba datang menghampiri.


“Aku lagi cari waktu, Ras.” jawabnya cemas seraya membeli satu air mineral dan satu rokok eceran. Pranata langsung menyalakannya dengan korek gas yang ia pinjam dari penjual itu.


“Waktu? Buat apa, Pra?” tanyaku dengan kening mengernyit.


Pranata menarik tanganku ke salah satu sudut di Malioboro yang lebih sepi dari pengunjung. Kami bertatapan dan karena aku haus, aku meminum air mineral di tanganku sampai habis sementara dia menatapku serius.


“Pra, kenapa?” Ia tersenyum hangat, dan tanpa aku sangka-sangka, Pranata menjawab dengan gugup tapi lancar.


“Aku lagi cari waktu yang tepat untuk bilang aku suka sama kamu, Ras. Aku pengen kamu jadi pacarku.”

__ADS_1


Karena itu, malamnya aku tidak bisa tidur. Aku tersenyum-senyum terus sampai ibu mengira aku perlu di ruqyah.


...🖤...


__ADS_2