Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Cemburu


__ADS_3

Lahirnya Teja di muka bumi ini dengan cara yang penuh drama membuatku mengambil keputusan untuk menunda kelahiran Diana atau anak ketiga dengan jarak yang sangat lama. Mungkin lima atau tujuh tahun kemudian dan Dominic harus menyetujuinya.


”Enough...” aku mengangkat tangan kananku, menyudahi serentetan kalimat terkagum-kagum Dominic kepada Teja yang sangat berbeda dengan paras Budiman. Teja lebih njawani persis seperti namanya. Tetapi matanya indah persis seperti mata ayahnya. Dia jarang menangis, sangat manis sekali tingkahnya sampai aku sadar, Teja adalah penggambaran jati diriku sebelum aku terluka.


Aku jamin dia akan menjadi laki-laki kulkas ketika dewasa nanti dan itu PR santai di hidupku yang seperti naik turun gunung.


“Kita harus buat kesepakatan, Dom!” Aku menguncupkan bibir sambil menatapnya penuh harap. “Cukup Teja dan Budi sekarang, aku pingin membesarkan mereka dengan baik. Plis... Kantong mataku belum hilang dari semenjak Budiman lahir. Sementara kamu di kelilingi banyak wanita yang pakai bulu mata palsu dan tanpa kantong mata. Itu bahaya!”


Dominic mencondongkan badan ke arahku, seolah sepenggal kejujuranku terlalu mudah membuatnya trenyuh. Dia mencium keningku pelan.


“Setuju...” katanya pelan. “Itu keputusan yang tepat, kita akan melewati pertumbuhan mereka bersama-sama. Aku ngurus Budiman, kamu Teja.” Dominic tersenyum padaku, lalu meringis lebar bagaikan bos besar yang sudah meraup untung milyar.


“Aku jamin itu adil, Ras. Seenggaknya aku nggak cuma iuran santan kental doang.”


Aku mendengus sambil mencubit lengannya. “Jangan bahas-bahas itu! Wong sekarang aku sudah pintar.”


“Sudah pinter katanya.” Dominic terbahak seraya menangkup rahangku. ”Siapa gurunya?”


“Nggak ada tuh, aku belajar sendiri dari intuisi dan bahasa tubuh!” kataku mangkel.


Kekehan Dominic semakin merajalela di dalam kamar. Ciumannya yang hadir di pipiku membuatku mendengus.


“Udah kali, nafsu banget kamu jadi laki!” Aku menahan keningnya bersama lepasnya sumber air kehidupan dari mulut Teja.


Dominic ternganga sambil geleng-geleng kepala, lalu seperti mangsa yang melihat makanannya terbuka. Dia membasahi bibirnya.


“Sedikit, Ras.” katanya sambil mengambil alih Teja, Dominic menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan hingga Teja bersendawa dengan lirih sekali.


Dan berhubung aku tidak ingin. Sewaktu Dominic meracau keinginannya yang meningkat, buru-buru aku membetulkan pakaianku dan lari keluar kamar.

__ADS_1


“Eh...” Aku meringis, mendapati mas-mas yang mengantar ke rumah seminggu lalu yang anjingnya sekarang menjadi teman kencan Stacy, si anjing genit.


Nenek silver—kembali beruban—tersenyum lebar. “Nenek sudah bilang kau sedang menyusui, jadi ia menunggumu sambil mengobrol dengan nenek.”


“Oh...” Aku tersenyum sembari mendekat ke ruang tamu. Pikirku berkelana tapi ya langsung tanya saja keperluannya apa kok santai banget orang ini pakai mampir segala atau dia mau minta uang ongkos setelah mengantarku kemarin? Weleh-weleh.


“Ada apa mas? Stacy bikin masalah ya, ngerusak perabotan rumah mas atau mas pingin minta pertanggungjawaban atas kelakuan anjing kami dan makanan yang dia makan? Wah parah, ngelunjak juga Stacy, Nek!”


Dia menyeringai sambil menyuruhku duduk dengan uluran tangan. Sementara Pasty Dwayne hanya tersenyum geli.


“Saya kemari hanya untuk menjengukmu dan bayimu kemarin yang katanya dari kabar burung di komplek ini, kamu melahirkan di dalam mobil.”


Kontan aku terbahak sambil menganggukkan kepala. Siapa ini yang gosip, siapa! Juniornya Mbak Iyah pasti, si genit yang suka ngerumpi di pos satpam.


Aku mengatur tawaku sebelum tersenyum lebar.


“Kau bawa ke sini saja, Ras.” timpal nenek.


“Sebentar.” Aku kembali masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru, Dominic yang sedang ingin menaruh Teja ke kasur aku cegah.


“Ada tamu, Dom. Dia pingin jenguk bayi yang lahir di mobil.” kataku buru-buru.


“Jenguk Teja apa jenguk kamu?” Dominic berdehem.


Aku mengendikkan bahu dan memasang wajah tak peduli. “Orang jenguk bayi pasti sekalian jenguk ibunya, nggak mungkinkan jenguk bapaknya? Orang cuma iuran santan, bukan yang melahirkan.” uraiku seraya melebarkan pintu kamar.


Dominic mendengus seraya keluar dari kamar, dia tersenyum lebar sembari memanggil nama laki-laki itu. ”Morgan.”


Oalah namanya Morgan. Sesuai namanya, orangnya juga bagus. Hi...

__ADS_1


Aku duduk di samping Dominic yang memperlihatkan wajah Teja sekali ke padanya yang tersenyum hangat sambil menyentuh pipi Teja sebentar.


“Mirip ibunya.” ucap Morgan sopan. Meski begitu ucapan itu sanggup membuat Dominic menahan napasnya dan mengembuskan dengan cepat.


Aku terdiam, keduanya terlibat obrolan santai mengenai Stacy dan Dev yang ternyata sering membuat gaduh rumahnya dengan suara sampai ada tetangga yang memintanya untuk memisahkan.


Dominic menghela napas. “Stacy mungkin sedang jatuh cinta setelah lama menjadi anjing penjaga, jadi rewel... mirip saya.”


Morgan menahan senyum sambil menggeser bingkisannya. Dan menurutku ada sesuatu yang mengisyaratkan isi hati Dominic.


“Kalau anda tidak keberatan, saya bisa membawanya ke Surabaya sementara waktu untuk meredam birahi mereka lebih dahulu.” katanya ragu.


“Stacy...”


Aku menoleh, wajah Dominic kecut banget bahkan menyedihkan.


“Dipisah aja kalo kamu nggak rela kehilangan Stacy, Dom.” kataku sambil merangkul pinggangnya. “Don't be sad, i know.”


“Biarkan saja.” Dominic menganggukkan kepala tegas. “Nanti saya belikan makanan kesukaannya.”


“Easy, man.” Morgan tersenyum santai dan berdiri. “Selamat atas kelahiran anak kedua kalian, saya permisi.”


Aku mengantarnya keluar rumah seraya mengucapkan terima kasih atas kedatangannya. Morgan tersenyum manis dan mengangguk.


Di belakangku, Dominic mendengus sembari mengajak Teja ke dalam kamar.


“Lebih baik aku menyewakan kegilaan Stacy daripada melihatnya mampir untuk melihat wajahmu, Ras.”


Dih cemburu.

__ADS_1


__ADS_2