
Dominic menyambut kedatanganku dengan senyum hangat di gazebo belakang rumah.
“Maaf lama, perutku kambuh.” kataku sambil menapaki rerumputan yang menghiasi seluruh bagian permukaan tanah halaman belakang rumah ini sementara air kolam renang memantulkan cahaya matahari hingga menimbulkan kilauan yang bergerak-gerak.
Kata-kataku dan senyum maluku membuat senyumnya melebar, ekspresinya pun tak berubah sejak pertunangan kami selesai di meja makan.
“Kebiasaan.” Ia mengalungkan tangannya di leherku setelah aku duduk di sampingnya, “Udah dibilangin makan, Ras. Makan. Apa susahnya tinggal makan?” Dominic mendengus. “Seneng bikin khawatir terus diperhatiin?”
“Kamu pikir nunggu sesuatu yang bikin duduk aja nggak nyaman mudah bagiku?” Aku balas mendengus. “Lagian kamu udah janji beliin aku hp, mana? Nanti malam aku udah pulang ke Jogja, masih ngurus surat kehilangan sendiri. Dom, ikut balik yuk. Temenin.”
Dominic tertawa lepas. “Nggak bisa, Ras. Bapak udah wanti-wanti aku buat jaga jarak sama kamu sampai dua hari sebelum pernikahan kita.”
“Ya kali selama itu kamu nggak mau ketemu sama aku!” kataku tidak terima.
“Nggak bisa, Ras. Kita di pinggit!”
Aku langsung menatap Dominic dengan muka terperangah. Mengetahui mukaku jauh dari kata antusias dan keengganan Dominic mengelus pipiku dengan punggung jari telunjuk.
“Aku serius, Ras. Sebelum kita tunangan aku sudah bilang keinginanmu ke orang tua kita kalo kamu butuh waktu. Mereka setuju, sebulan dari sekarang sekaligus untuk persiapan.”
Aku menguncupkan bibir. “Terus kamu nggak punya rencana buat ketemu sama aku selama sebulan itu? Kamu angkat tangan?”
Kening Dominic mengernyit sekaligus mengangkat kedua tangannya. “Kenapa kamu yang nggak mau pisah sekarang, Ras? Kesambet setan genit darimana kamu?”
“Serius, Dominic!” kataku gemas sambil menginjak rumput dengan sebal. “Masa iya kamu setuju-setuju aja di pinggit satu bulan. Itu basi tau lagian kamu lebih liar dari aku, ayolah masa kamu terima tanpa protes. Sebulan... Dom.” cetusku menggebu-gebu lalu mendesah lelah.
Dominic mengelusi punggungku. “Aku ngerti kamu nggak mau, cuma masalahnya ini kebijakan orang tua kita. Mereka kasih jeda buat kita sama-sama sendiri, biar nanti waktu nikah ada yang meletup-letup, Ras.”
“Apanya yang meletup-letup? Kentutmu, kentut kita?”
__ADS_1
“Rastanty...” Dominic mendelik sambil menggelengkan kepala. “Bukan kentut kita sayang, tapi hasrat, cinta, kerinduan dan hal-hal yang biasa kita lakukan bersama. Ngerti kamu sekarang.”
Dengan segala ucapan yang menggelitik bulu romaku, aku mengangguk lemah. “Ngerti, tapi ngomong-ngomong soal itu. Aku mau kita ngobrol soal kesepakatan malam pertama. Kamu mau?”
“Males.” Dominic menjauh sebelum tanganku sempat mencubit pahanya. “Aku yang memimpin malam pertama, Ras!”
“Gak bisa egois kamu, Dom. Aku udah menyerahkan diri ke kamu dalam waktu singkat, sekarang aku minta kesepakatan sama kamu sebelum malam pertama terjadi. Pokoknya harus, titik! Kamu harus mau... kalau nggak aku nangis. Aku kabur waktu malam pertama terjadi.”
“Coba aja.” Dominic menantangku dengan tatapannya. “Aku tahu tempat persembunyianmu dan tempat pelarian kesukaanmu.”
Aku terperanjat. Sial, ini yang tidak aku suka pacaran dengan sahabat, celah lebar yang menganga bisa ia gunakan dengan mulus.
“Kamu nggak asyik giliran jadi tunangan. Harusnya kamu tahu aku belum siap untuk itu!”
“Secara nggak langsung kamu udah membicarakan tentang keinginanmu waktu malam pertama, Ras. Kamu belum siap, tapi aku jelas udah siap banget.”
Buahahaha. Aku tergeletak sambil menapak lengan Dominic. Tapi itu hanya sebentar, aku terdiam saat ia menatapku serius.
Aku menggaruk kepala, senyumku memudar sebelum raut wajah Dominic mengeras.
“Aku terlalu awam dengan sesuatu yang kamu anggap biasa kamu lihat di folder ‘fake friend forever’, aku tahu isinya apa. Aku lumrah kamu lihat itu sewaktu jadi sahabatmu. Tapi sekarang nggak, fantasimu campur aduk dan aku bisa simpulkan, aku cuma sebagai pelampiasan nafsumu nanti.”
“Ya ampun, Ras.” Ketenangan Dominic berubah, dia beranjak, meraih tanganku dan menaruhnya di samping tangannya yang berhias cincin pertunangan kami. Berlian milikku dan silver miliknya.
“Kita udah tunangan dan itu zaman kita kuliah, Rastanty. Lama banget semua modelnya udah uzur, udah nggak menarik, sementara sekarang sepenuhnya fantasiku cuma kamu.”
Aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah, melewati ruang keluarga yang masih tersisa bapakku dan om Prambudi yang berdiskusi soal pesta pernikahan nanti. Menaiki anak tangga, Marisa turun dengan senyum cerianya.
“Mau ke mana, darling?”
__ADS_1
“Kamar.”
“Wow...”
Kepalaku menoleh ke arah bapak yang berdiri hendak mengomel, tapi Marisa langsung menurunkan jari jemarinya ke bawah.
“Ada cctv, bisa kita pantau lewat televisi, besan. Calm down.”
“Jangan bikin malu kamu, Ras.” timpal bapakku sebelum duduk.
“Aku terus yang dimarahin, padahal aku sudah jadi anak baik-baik.” gerutuku sebal sembari meneruskan perjalanan ke lantai tiga. Dominic menurunkan gagang pintu berwarna hitam, sewarna dengan daun pintunya.
Lampu menyala, menyinari kamar yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dua tahun aku menetap di sini Dominic melarangku masuk ke sini, sekarang, seperti kamar-kamar seorang anak priyayi dan bule, kamar Dominic terlihat artistik, sentuhan warna maskulin terlihat di sana-sini. Dia menarikku masuk ke dalam sembari tanpa menutup pintunya.
“Kamar kita.”
Aku menyaksikan satu bingkai foto besar berisi fotoku seorang diri, tersenyum lebar berseri-seri saat menatap mata kamera yang membidik wajahku.
“Foto yang di ambil Pranata lewat kamera DSLR-ku. Terlihat penuh cinta, dan aku suka melihatmu seperti itu.” Dominic menyentuh ubun-ubunku dengan mulutnya berkali-kali.
“Aku harap kamu juga bisa seperti itu, Ras. Buatku.”
“Kamu beda, Dom.”
“Memang, dan aku masih menunggu kamu untuk bisa seperti itu. Tersenyum lepas dan berseri-seri di depan wajahku.”
Aku berbalik, menatap wajahnya dengan kedua mataku yang redup.
“Terus apa maksudnya kamu ngajak aku ke sini? Kamu mau ngasih aku bukti apa?”
__ADS_1
“Hapus folder fff di depan matamu dan membuatmu paham, setiap malam aku ditemani senyumanmu yang terus membuatku betah ada di sebelahmu. Rastanty.”
...🖤...