
Aku enggan bertatap muka dengan Dominic pagi ini. Sebab semakin aku pikirkan tingkah brengseknya dengan Putri semakin membuat dadaku meradang. Enak saja dia menyelundupkan seorang gadis diam-diam sementara sudah jelas aturannya tidak boleh membawa tamu perempuan ke dalam kamar. Dia ini seakan salah satu bukti dari banyaknya pasangan muda-mudi nakal yang menggunakan kost-kostan sebagai ajang mesra-mesraan.
Aku membuang napas kasar sambil menyeret langkahku ketika berangkat ke dapur. Dominic sungguh menodai kesucian kost-kostan ini dan bapak harus tahu. Dia patut di hukum meski sudah lama kegiatannya!
Aku mengambil dua centong nasi ke piringku setelah suasana dapur sepi, satu persatu penghuni kost sudah pergi dan aku tidak peduli ada Dominic atau tidak, aku lapar dan aku penguasa rumah ini. Jika dia ada di depan mataku, aku bisa mengusirnya. Sayang seribu sayang, ketika aku melahap sayur sup dan tempe dengan nikmat sambil mendengarkan radio ibuku yang baru, seseorang yang aku benci sejak semalaman menguap lebar-lebar di ambang pintu. Dia menggeliat namun tidak menyapaku barang tersenyum sekali pun.
Aku mendesis. Bisa-bisanya masih berlagak tanpa dosa setelah mukaku sudah dia lempari lumpur. Bikin kopi lagi sesuka hati lalu menghirup aromanya dengan santai. Ih, kalau dia bukan pacarku aku tanya-tanya mereka ngapain saja, tapi sekarang aku terlalu najis untuk mendengar penjelasannya lebih lanjut.
Ciuman, pangku-pangkuan, pelukan. Hah! Murahan juga Putri. Mau-maunya di rayu Dominic. Aku menggebrak meja tanpa aku duga seakan amarah masih membara di dadaku.
Dominic menoleh di depan kompor gas. “Sekali-kali minum kopi dua sachet biar ngerti ada yang lebih pahit dari kenangan.” katanya sebelum melengos pergi dari dapur.
“Nyindir terus, nyindir terus.” geramku.
Dominic menghampiriku seraya meletakkan cangkir kopinya di meja. Dia menjulang tinggi di sampingku. Secangkir kopinya berdampingan dengan mangkokku yang berkuah merah kebanyakan sambal.
“Kenapa nggak terima?” katanya. “Cemburu?”
Aku mendongak, dia menunduk. Sepasang mata kami saling menatap tajam. Alih-alih coba membujuk perkara tadi malam yang semakin panjang, aku mendengus.
__ADS_1
“Ngapain cemburu, aku sudah hafal kelakuanmu!” kataku malas.
“Terus emangnya aku nggak hafal kelakuanmu?” tukas Dominic sambil menghela napas. “Jangan coba-coba bilang kamu tanya-tanya masa laluku hanya untuk membandingkan aku dengan Pranata! Kita beda.”
“Siapa yang bandingin kamu sama Pranata. Aku cuma penasaran ada alasan apa kenapa dulu Pranata jagain aku dari kamu.” kataku sambil berdiri. Kami beradu pandang dengan mata yang sama-sama kurang tidur.
Dominic meraih tanganku dan menempelkannya di pipinya yang aku tampar semalam. “Salahnya karena kamu nampar aku, Ras. Aku nggak salah apa-apa, aku nggak menyakitimu sekarang. Yang dulu biar di belakang, kenapa kamu malah ungkit-ungkit yang udah tenggelam. Parah kamu, Ras. Mau sampai kapan?” Dominic menggeleng seraya menghela napas.
“Cuma denganmu aku keras kepala. Aku tahan semuanya sekali pun kamu tidur di kamarku pakai boxer, ganggu kerjaanku dengan curhatmu yang nggak ada habisnya dan wangimu sehabis mandi. Apa kamu kira aku ini gay sampai-sampai pesonamu tidak aku tanggapi dengan rasa sayang. Ini malah bahas yang lama, curiga berlebihan, hak apa yang kamu punya untuk menamparku semalam, Ras? Kacau kamu.”
Dadaku mengencangkan karena amarah dan rasa tidak terima Dominic memarahiku. Aku menunduk dengan tangan yang masih di pipinya yang hangat ditambah suasana rumah yang sepi dan radio yang mendendangkan lagu romantis. Aku jadi merasa bersalah sudah menamparnya semalam, tapi aku kesal, memangnya ada yang terima-terima saja mendengar pacarmu sekarang pernah tidur dengan pacarnya yang lama. Tidak kan?
Dominic memegang daguku seraya mendongkakkan kepala. Matanya menyapu wajahku dengan telaten. Napasnya yang hangat juga menerpa wajahku. Ini kenapa kok jadi sedekat ini? Kenapa tidak ada yang membantuku terlepas dari jerat Dominic. Dimana bapakku, ibuku, nenek moyangku hadirlah. Usir Dominic dengan wejanganmu jika berdua-duaan itu berbahaya eyang.
“Andai kamu tahu Ras kenapa aku sering bawa pacar-pacarku ke sini. Aku usaha meyakinkan Pranata kalo aku udah nggak suka sama kamu. Aku pengen kelihatan wajar, biasa-biasa saja waktu dia milih kamu sementara Pranata jelas-jelas tahu aku naksir kamu. Sakit? Iya sakit dadaku seperti tamparanmu semalam.”
“Ya udah maaf, jangan panjang-panjang marahnya.” rengekku.
“Apa maaf aja cukup?” Alisnya bertaut.
__ADS_1
Ya ampun, Dominic marah pemirsa. Kencang banget wajahnya. Ampun... Niat ke Jogja mau reuni kok urusannya malah ke mana-mana. Ribet lagi, Dominic marah susah merayunya. Mana malu lagi. Rasanya perutku melilit. Aku mules, karena tak tahan ditekan sana-sini, aku mengeluarkan bau gas tak sedap ke udara.
“Rastanty!” Dominic sekuat tenaga tak bernapas selama beberapa detik. Aku memasang ekspresi cengengesan walau itu hanya bertahan dalam satu helaan napas.
“Terus aku harus gimana biar kamu gak mengungkit urusan tadi malam? Aku cuma kesel kamu kurang ajar.” pungkasku untuk menyudahi tangannya yang ada di dagu dan wajahnya yang memenuhi wajahku.
Senyum tipis mengembang di bibir Dominic tanpa sedikit pun paham perutku tambah mules dan wajahku tambah panas.
“Usaha dulu kali gimana caranya biar aku terima kamu nampar aku, gak langsung nawarin sesuatu. Usaha kok mau cepat-cepat. Proses, Ras!” cibirnya lalu menelengkan kepala.
“Ya udahlah putus aja, aku nggak baik buat kamu. Aku terlalu kasar, aku gak bisa move on dan aku nggak bisa kamu tiduri seperti Putri!”
“Rastanty!” Matanya yang indah dan terang berubah menjadi gelap dan marah. Dominic mengeraskan rahangnya. “Jangan segampang itu bilang putus karena aku nggak pernah main-main sama perasaanku, Ras. Jangan kamu gugurkan usahaku selama ini hanya karena aku terlihat brengsek di matamu! Lihat aku dari mana pun kecuali masa laluku yang sudah kamu tahu!”
“Dom, tunggu!” Aku mengejarnya seraya memeluknya dari belakang. Ia mematung di ambang pintu kamarnya setelah meluapnya emosi yang mengagetkanku. “Udah marahnya. Udah.” rayuku terbata-bata, “Aku bakal usaha, tapi jangan galak-galak banget. Aku ngeri, Dom.”
Ibu jarinya membelai punggung tanganku sekejap seakan itu tanda bahwa ia melunak, sayangnya kondisi ini jauh lebih suram dari yang aku bayangkan. Dominic melepas tanganku dari tubuhnya seraya menutup pintu kamarnya dengan mata sendu yang terus melihatku dengan mulut yang terkunci. Sekarang di depan kamarnya, pusing-pusing, aku memikirkannya.
...🖤...
__ADS_1