Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-46


__ADS_3

Setelah adzan ashar berkumandang, cuaca tak semeriah siang yang terang benderang. Aku mematut diri di cermin, penampilanku cukup mengembalikan jati diriku sebelumnya. Kaos hitam, celana cargo warna army, sepatu gunung dan kemeja flanel.


“Dom...” Aku melongok ke dalam kamarnya, dia sedang berbaring sambil menyesap rokoknya dengan semua jendela kamar yang terbuka. ”Udah aku tungguin, kamu belum siap?”


“Gak akan siap!” tukasnya tidak ramah.


“Kenapa?” Aku bergerak seraya mengayunkan kakiku ke belakang agar pintu tertutup.


Aku menatapnya heran lalu menyahut rokoknya dan membuangnya lewat jendela. “Cari penyakit kamu ngerokok di kamar!”


Dominic bahkan tidak melirik ke arahku, dia malah melipat kedua lengannya, menjadikan bantalan kepala sementara matanya menatap langit-langit kamar meski kami hanya berjarak setengah meter.


“Kamu kenapa ?” tanyaku sambil menghidupkan kipas angin. “Gak jadi berangkat ke puncak becici?”


Aku duduk di tepi kasur seraya menyentuh keningnya. ”Gak demam, tapi kamu loyo.” Aku mengernyit. Dominic malah memunggungi ku setelahnya.


Dia kenapa sih, padahal semua undangan sudah beres di sebar, urusan fitting kebaya pengantin selesai, souvernir sedang di produksi, kasur sudah dibeli sampai kami numpang mobil bak demi menghemat ongkos jalan. Urusan kami tinggal mengurus surat-surat dari kantor pemerintahan datang. Dia sekarang malah mengaduk-aduk perasaanku dengan perubahan sikapnya yang dingin. Apa Dominic berubah pikiran, ingin membatalkan rencana pernikahan ini. Kasar sekali keputusannya.


Aku menyentuh punggungnya. ”Kamu belum makan? Mau aku masakin sesuatu?” tanyaku lembut.


“Aku butuh sendiri dulu, Ras.” katanya datar.


“Iya, boleh. Tapi aku minta satu permintaan dulu ke kamu.”


“Sebutkan!”


“Kamu awal mulaku.” Dengan posisi sedikit merangkak, aku membungkuk, mencium pelipisnya. Sesaat sebelum aku menggenapi kalimatku, dia memejamkan mata.


“Aku keluar.”


Dominic menahan pergelangan tanganku setelah aku bangkit dari tempat tidurnya.


“Darimana kamu tadi pagi?”


Aku tersentak. “Gimana maksudnya?”


“Ibu ngomong, kamu jam lima pagi pergi keluar. Ke mana?”

__ADS_1


“Jogging, cari sarapan di luar.” Aku menatapnya heran. “Kamu aneh, kenapa tiba-tiba curiga sana aku.”


Kedua alisnya yang tebal menjureng. “Nggak biasanya kamu bangun jam segitu. Gelagatmu mengandung misteri dan sekelumit perubahan darimu aku ngerti, Ras.”


“Ya Tuhan, Dom!” Aku mengeluarkan ponselku dari saku celana dan menaruhnya di meja, “Bawa tuh, aku ada dokumentasinya buat ngisi blog.”


Dominic terdiam sebelum beranjak dari tempat tidurnya. “Kenapa nggak ngomong?” Ia menyampirkan tanganku di bahunya sambil memasang wajah menyesal. “Aku bisa temani kamu.” Ia menambahkan serius.


“Banyak yang pingin aku datangi. Nggak mungkin aku terus-terusan nyeret kamu ke duniaku, Dom. Kamu punya urusan sendiri yang lebih penting daripada urusanku.”


“Gak boleh gitu, Ras.” Dominic menggeleng. “Jangan pergi sendiri, ya! Kerjaanku fleksibel, aku serius.” Dia menekan kalimat akhir.


Aku mengamati caranya menjelaskan. Sekejap, aku mulai merasakan kebenaran langsung dari semua orang yang menganggap aku sangat beruntung atas setiap perhatian dari pengganti Pranata yang jauh lebih besar-besaran saat perhatian.


“Aku nggak selemah itu, Dom. Jogja...”


“Kamu lemah di sini, di rumahmu yang penuh dengan kenangan Pranata!” sahut Dominic tegas, “Aku tidak senang kesendirianmu mengingatkanmu padanya dan membuatku sedih, Ras. Aku mau kamu bahagia!” Bibirnya mencium pergelangan tanganku.


“Pranata masih terekam diingatkanmu, iya atau tidak kamu membicarakannya padaku!” kata Dominic dengan emosional.


Di saat nyaris bersamaan, berita buruk mampir ke kamar ini dari ibu. Berita kedatangan tamu. Wajah ibu mengisyaratkan ketidakpastian, terperangah juga bersedih.


Firasat buruk menerjang dadaku dengan cepat. Serangan tak kasat mata itu membuatku menatap Dominic. Hasrat egois meletup dari tatapan kami berdua.


“Biar aku temui sendiri, Dom.”


“Silakan, tapi sebentar.” Dominic berdiri, dia menelengkan kepala seraya membisikkan sesuatu di telingaku dengan kedua tangan yang memegang kedua pinggangku. “Aku awal mulamu sekaligus pasangan terakhirmu, satu-satunya harapanmu dan hidup dan matimu. Jangan lupa, munafik kamu kalo sampai mengkhianatiku!”


Aku menatap Dominic dengan berani sambil menekan perasaan tidak suka dengan sikap posesif Dominic yang perlahan-lahan mulai mekar.


“Aku tidak akan kehilanganmu dan nggak mau kehilanganmu.” Aku berjinjit, menempelkan bibirku pada rahangnya sambil mendekapnya erat.


Dominic terdiam. Tangannya terpaku di sisi tubuh. Hatinya pasti kebas. Aku melepas diri darinya sambil tersenyum sesantai mungkin walau bibirku kelu, aku tahu dia cemburu dengan siapa pun yang duduk di ruang tamu.


“Aku ke sini lagi, jangan kunci kamarmu.”


“Aku tunggu.” Dominic mencium pipiku sekilas, “Kalau tamu itu benar Kendranata, jangan tatap matanya.”

__ADS_1


Hatiku merasakan nyeri yang mengganggu melihat wajah murung Dominic ketika aku meninggalkannya sementara sekarang aku berjalan di lorong kost-kostan dengan pikiran yang merayap liar. Tubuhku bergerak otomatis seperti robot yang kaku ke arah ruang tamu.


Apa benar tamu itu Kendranata, kenapa ibu sedih?


Aku menarik napas dalam-dalam seakan udara menipis di sekitarku. Hatiku kecut ketika tirai yang memisahkan aku dengan kenyataan terbuka.


Aku menyunggingkan senyum dengan kepala tertunduk.


“Sore Rastanty.”


“Sore mas,” Kami bersalaman, telapak tangannya hangat sementara tanganku dingin. “Jadi datang ternyata. Saya kira cuma bercanda.” kataku basa-basi dengan ramah sebelum duduk di seberangnya.


“Saya tidak pernah berbohong, cuma waktunya baru tepat hari ini.” Suara sopan dan berwibawa itu menyusup telingaku. Dia bukan Pranata!


Aku tersenyum simpul, memindahkan tatapanku dari jam tangannya, lubang di sofa, sarang laba-laba di bawah kaca meja, tapi hidungku mencium parfum seperti milik Pranata.


“Oh, aku buatin minum dulu mas. Ibu pasti lupa, wong pasti syok lihat mas Kendra mirip Pranata.”


“Aku cuma sebentar, Rastanty. Mampir saja untuk lihat-lihat tempat tinggal Pranata dulu.” sahutnya menahanku tetap berada di kursi.


“Oleh-oleh dari Solo, kamu terima.” Aku lihat bungkusan yang ada di sebelahnya pindah ke meja, di depanku.


“Terima kasih mas, tapi nggak usah repot-repot.” Aku menggeleng samar, “Harusnya mas bawa ini untuk Hetty, tunangannya Pranata.”


“Tapi kamu pacarnya yang asli.” koreksinya dengan cepat. “Bagaimana kabarmu? Lega sudah mengembalikan peninggalan Pranata?” tanyanya dengan tubuh tegap, lengan kekarnya mengeras saat tekanan bertambah dari lutut yang menopang lengannya.


“Dia pasti sangat berusaha untuk jadi yang terbaik sampai berusaha menyembunyikanmu dari orang tua kami yang otoriter. Kasian sekali kamu, Rastanty. Saya yakin sekarang ada sesuatu dari diri saya yang membuatmu jadi teringat kelakuannya.”


Aku mengangguk, dalam hati, Dominic nomer satu, Dominic segalanya bagiku, dan sekarang aku mengharapkanya ada di sampingku, menghadapi Kendranata berdua jauh lebih baik ketimbang aku sendiri dalam kurungan aroma Pranata yang bertebaran dari tubuh Kendranata.


“Memang mas, tapi semua sudah berlalu, mas Kendra dan Pranata berbeda, aku tidak mungkin marah-marah sama mas Kendra karena dulu Pranata selingkuh, toh kemarin niat saya hanya ingin minta maaf pada ibu Indri dan pak Herlambang atas kejadian yang menyakitkan tempo dulu bukan untuk mengungkit masa lalu.”


“Kalau begitu kita malah bisa jadi teman to?”


“Tidak bisa.” Dominic keluar dari balik tirai seraya mendekat ke arah Kendranata. “Rastanty akan menikah dengan saya!”


...🖤 ...

__ADS_1


__ADS_2