
Tiga bulan kemudian.
Kembali ke Jogjakarta.
Sejuta harap pernah ku bangun di sini meski dalam khayal yang ku tata dengan indah dan rapi. Aku bahagia meski mimpiku terwujud tidak di kota ini bahkan bukan dengan seseorang yang aku harap menemani.
Dulu di awal-awal aku bertemu Pranata semua keindahan terasa aku miliki dalam genggaman ini tapi sekaligus meluas membawaku mengenal satu masa di mana aku berada di titik terendah.
Di sini, kembali memijak tanah Jogjakarta. Menghirup dan menyerap panoramanya yang menenangkan sambil menggendong buah hati yang aku gendong dan aku timang-timang di bawah pohon rambutan, gerbang keikhlasan itu menyambutku dengan terbuka.
Di hadapan wajah tenang Budiman yang terlelap. Aku tersenyum sambil menikmati semilir angin yang berembus.
Pra..., terima kasih untuk semua pengalaman dan momen perih yang menggaungkan keakrabannya selama dua tahun ini. Belum sempat kamu menyampaikan kejujuranmu padaku namun terlepas apapun yang terjadi tapi aku kembali di kota ini dengan damai dalam hati tanpa menaruh sedikit pun dendam padamu.
Aku bahagia, Pra. Terima kasih sudah menitipkan pesan pada Dominic agar menjagaku. Kamu tahu yang terbaik bagiku. Kamu slalu tahu yang terbaik bagiku, kamu pintar, Pra. Kamu memberikan pengganti yang luar biasa... Aku tahu kamu menyayangiku dengan caramu.
Aku berbalik sembari tersenyum lebar pada teras rumah dengan pintu yang terbuka.
Masih sama rupanya, masih sama kenang yang berlari-lari kecil di sana dan tetap kurawat lebam yang membiru di hatiku dengan keikhlasan yang ku balut senyum lega. Menjadikannya wajar sebagai buah keberanian dari jatuh cinta.
Langkahku menyapa kenang di rumah ini dan kini satu-satunya yang tersisa hanyalah doa-doaku, Pra. Aku akan menyentuhmu dengan doa-doaku.
Sebab setelahnya, yang berlalu ya biarlah berlalu. Adakalanya memang begitu kan, dari satu seharusnya ke seharusnya yang lain. Akhirnya aku ikhlas memaafkan yang sudah-sudah demi diri sendiri.
*
__ADS_1
*
*
Masuk ke kamar kost paling ujung, Dominic merapikan tempat tidur Budiman sembari tersenyum setelah menyelesaikan acara tidur-tiduran.
”Selamat tidur siang boy, papi dan mami punya banyak urusan.”
Aku melepas gulungan kain jarik di pundakku seraya mendengus ketika Dominic mencium keningnya pelan-pelan.
“Banyak urusan apa? Kita ke Jogja cuma punya satu tujuan. Jajan di alun-alun kidul.” kataku sembari membetulkan ikatan rambut.
Dominic melepas celana jins sobek-sobeknya seraya melebarkan pahanya.
“I'm ready mami.”
“Kamu mau bikin penghuni kost nguber-uber ayam kampus apa kembang desa gara-gara denger kita mencetak anak masa depan di sini?” kataku sinis.
Dominic menyeringai sambil beranjak dari tempat tidur. “Gak akan dengar, Ras.” Ia menghidupkan radio dengan suara yang ia keraskan seperti waktu menjadi anak kost paling mempunyai pengaruh besar. Giliran jadi mantu tambah ngelunjak kelakuannya.
“Kita bisa pelan-pelan suaranya.” bujuknya sembari melipat kedua tangannya di depan dada. “Ini satu-satunya tujuanku ke Jogja selain nemenin kamu jajan di alun-alun, Ras. Nggak impas doang kalo aku nggak dapat apa-apa.” keluhnya sedih.
Aku ikut melipat kedua tanganku di depan dada. ”Kita impas, tapi jangan sekaranglah... Ibu mau masak-masak, keluarga besar pada mau mampir. Aku harus bantu-bantu.”
“Gampang, cuma lima menit doang nggak lama.” bujuknya sembari menyunggingkan senyum. “Nanti aku bantu, Ras. Kamu juga pakai daster. Gampang, nggak usah di lepas, di angkat saja.”
__ADS_1
Aku mendesis dan menabok pantatnya. Mencetak Diana hanya lima menit, segampang itu? Tapi memang secepat itu, Dominic memasang timer di ponselnya sebelum kami merayu dan beradu dalam percik rindu dan gairah yang menyatu. Ia tersenyum bahagia setelah puncak percikan itu memunculkan rasa lega.
Dominic mendekapku di depan jendela yang kubuka setengah untuk mengalirkan udara dari luar.
”Kenapa kamu slalu diam habis kita bertemu, Ras?"
Aku menghela napas sembari sesekali mengatur napas ini. ”Terus aku harus bilang apa?”
“Makasih, Dom. Atau enak papi, mau nambah lagi gitu?” bisiknya sembari tersenyum manis, senyuman yang terlihat menjengkelkan tapi menyenangkan.
Aku terbahak sambil menabok lagi pantatnya. ”Itu sih kamu yang pingin nambah lagi... Aku mah terima aja daripada nggak ngasih kamu kesempatan sama sekali. Ntar ngambek.”
Dominic berdecak sambil merangkul bahuku. “Jangan lama-lama di Jogja, aku takut kamu nyaman di sini setelah menerima kesalahan Pranata dengan ikhlas.”
“Harus kita bahas itu sekarang?” kataku mangkel. ”Bisa-bisanya mulutmu asal bicara.” Aku mendengus dan menantangnya untuk menatapku.
“Aku melihatmu tersenyum melihatnya, tanpa beban lagi, Ras. Dan aku paham kamu akan mengingat cinta Pranata yang manis-manis saja.”
“Sederhana. Aku akan pulang ke rumahmu setelah puas jalan-jalan di Jogja dan mengenalkan Budiman di keluargaku. Nggak butuh waktu lama dan kamu tahu itu.”
Dominic menyelipkan rambutku di belakang telinga dan mengecup bibirku. “Saranghaeyo, Rastanty.”
Aku mengusap pipi Dominic sambil memberi senyum. “Aku juga trenso sampean, Dom.”
Wajahnya berseri sebelum terbahak-bahak dan memelukku. Tetapi kemesraan kami yang mengganggu gendang telinga Budiman membuatnya menangis.
__ADS_1
“Tuh... tuh... gak jadi tidur kan dia? Mulutmu gembar-gembor terus.” Aku menginjak kaki Dominic seraya merengkuh tubuh Budiman dari atas kasur. “Batal tidur siangku. Huh.”
...༼ つ ◕‿◕ ༽つ...