
Dominic menyandarkan kepalanya di bahuku sambil mengunyah es krim wafel.
Aku tersenyum geli. Angin sepoi-sepoi mengawali senjaku bersama Dominic untuk pertama kalinya sebagai kekasih.
Aku mencoba menelaah lagi, bukan Pranata kah kebahagiaanku kemarin-kemarin, melainkan pria ini? Aku meringis dalam hati, ketahuilah ini menggelikan. Katanya dia ingin dilengkapi bukan hanya ditemani sambil menatap langit, mencabut rumput liar lalu memberinya padaku.
Aku geli saat menerimanya, Dominic mencabut rumput sampai ke akar sekaligus tanahnya. “Maksudmu gimana, Dom?” tanyaku, beberapa orang berlalu lalang di hadapan kami dan perlahan langit menggelap.
“Gak suka aku kasih rumput liar, Ras?” Dominic mengeluarkan rokoknya. Alisnya pun ikut berkerut sebelum kepulan asap membuatku mendengus.
“Terus buat apa coba?” Aku menatapnya sambil mengernyit, “Kamu mau aku bawa pulang, terus di tanam di halaman rumah?” Aku mengatakan isi kepalaku.
Dominic mengangguk berkali-kali sambil mengembuskan napasnya yang beraroma tembakau.
Aku mengeluarkan kemasan dimsum dari plastik seraya memasukan rumput liar ke dalamnya sebelum menambah air dari botol mineral dengan wajahku yang serupa mengerjakan artikel bloggers.
“Puas?” Aku menonyor belakang kepalanya, “Ngaku-ngaku nggak sinting tapi kelakuan...” cibirku gemas, enak sekali pria ini membuatku kelihatan gila atau memang pada dasarnya aku ini juga kurang waras karena itu aku di suruh. Dominic berhihihi sambil mengalungkan tangannya di leherku sampai dadaku menyentuh tulang dadanya.
Sumpah, persahabatan macam apa ini? Tubuhku kaku tapi senyumku menggelikan. Dominic jelas masa bodoh dengan istilah persahabatan kami sampai-sampai membuatku ngeri, geli, susah bergerak bahkan mengatur napas ini.
“Kamu yo sinting, Ras. Udah ngerti nggak penting, kok sampai dituruti segala. Sayang ya sama aku, takut mengecewakan aku?”
__ADS_1
“Walah,” Aku mendengus, “Kamu pikir rasa sayangku ini perlu di tanya-tanyakan? Nih... Makan, biar nggak menular kelakuanmu!” Aku menaruh kemasan dimsum ke tangan kirinya. “Udah cukup kencan pertamanya, Dom. Lepasin tanganmu!” rengekku kesal.
“Aku malu, sumpah. Nanti kita menodai tempat ini dengan kemesraan kita, Dom!” jelasku lebih rasional.
Dominic menyentuh pelipisku dengan mulutnya lalu menjauh dengan terbirit-birit sambil terkekeh-kekeh. Dia menggelepar setelahnya. Aku menjerit tanpa suara. Ngawur banget orang itu, berani-beraninya cium aku.
Wow, aku beranjak setelah menyaut plastik berisi rumput liarnya seraya menghampirinya. Kutendang kakinya pelan-pelan, “Pulang! Jangan bikin aku malu terus!”
“Santai, Rastanty. Kalem. Bukannya kita pernah tidur satu tenda di gunung mana itu?” Dominic nyengir dan tiba-tiba beranjak lalu bergeming di depanku. Senyumnya yang iseng berubah menjadi nakal.
“Terus besok kalau kita mantenan, kita nggak punya malam pertama dong, Ras? Waduh.” Mukanya mendadak panik. “Gimana ini, Ras? Udah banyak malam-malam yang kita lewati bersama!” ucapnya sambil mengguncang bahuku.
Dominic!!! Aku melengos dengan mata melotot, meninggalkannya yang nampaknya baru kumat sekali sementara ia terus memanggil-manggil namaku sampai membuat sebagian orang melihat kamu berdua. Aku menjauhinya dari tempat parkir. Saat aku berbalik, dia sudah nangkring di atas motor seraya mengejarku dengan cepat.
“Santailah, Ras. Jangan bercanda. Malu sama umur!” serunya di belakangku. Masing-masing dari kami sama-sama berhenti. Semoga Pranata masih menerima persahabatan ini setelah sahabatnya menciumku.
“Aku nggak suka kamu main cium aku! Ngerti?” kataku jengkel. “Atiku ini masih gregesi! Kok kamu malah cari enak.”
Dominic menganggukkan kepalanya. “Maaf, besok aku izin dulu sebelum cium kamu, tapi sekarang ayo pulang kalau kamu pengen tenang!”
Aku mendengus dan rasanya aku ingin sekali mengacak-acak rambutku sekarang. Bagaimana bisa ini laki-laki yang tidak pernah aku duga-duga akan menyatakan cinta lewat Paijo menjadi pacarku. Mau nangis, mau bilang ke bapak ibu jangan restui kami, tapi ibu dan bapakku. Duh biyung, belum apa-apa aku sudah di sodorkan ke Dominic secara antusias, cuma-cuma, dengan hati ikhlas dan penuh harap. Ada apa dengan mereka?
__ADS_1
“Dom, plis.” Aku menatapnya dengan sendu. “Kita makan dimsumnya dulu terus urus ini rumputmu.” Aku menyerahkan plastiknya, gimana? Sudah kelihatan betapa besar perjuanganku untuknya, esok, jika aku rindu padanya, plastik dan suket teki dari alun-alun kidul ini akan kudatangi, kuelus-elus bahkan kuremas demi melepas rinduku pada Dominic. Ia mengangguk, tapi Dominic menunda untuk makan dimsumnya setelah tukang parkir meniup peluit untuk memindahkan motor.
“Kita cari tempat aja, Ras!” ucapnya sambil memakai helm dan naik ke motor.
Cari tempat? Buat apaan? Aku mengendikkan bahu sementara motor mulai melaju, melewati Plengkung Gading sejuta sejarah sebagai gapura selatan untuk menuju kawasan penuh budaya ini.
Aku yang memegang kemasan dimsum ditengah-tengah kami menunduk malu. Dulu aku dan Pranata akan terlihat serasi dan mesra, bersama Dominic aku terlihat aneh. Belum juga sehari jadi, aku sudah sering senewen.
“Mampir ke sini bentar, Ras!” Dominic berbelok ke toko sepatu yang terletak di dekat perpustakaan kota yang sering aku kunjungi bersama Pranata.
“Mau cari apa? Gak lihat tampangku gimana? Sendalku sellow banget, Dom.” Aku menggeleng dengan jemari kaki yang bergerak-gerak.
“Gitu aja kamu pikirin, Ras. Kalau kamu malu ada orang yang menghinamu hanya karena pakai sandal jepit, cuekin aja. Kayak kamu nyuekin aku selama ini! Kamu nggak tanggap! Pranata terus Pranata terus, ngasi udan pipiku.” (Sampai hujan) Dominic mendengus.
Aku menatapnya sambil berjalan kaki, sebab tanganku sudah ia tarik ke dalam toko. Ia mengajakku melihat-lihat berputar dari etalase satu ke etalase cantik lainnya sebelum tangannya meraih sepatu datar.
“Ganti sepatu jinjit yang kemarin, kamu milih yang mana?” Kami saling menatap mata sambil tersenyum geli, mantap betul kan, tunas-tunas gila ini makin merembet ke mana-mana sampai karyawan yang sedang menunggu kami tersenyum geli saat Dominic menaruh beberapa macam model di depanku.
“Nggak akan jadi Cinderella bau terasi lagi kamu kalau ganti sepatu kayak gini, Ras.” ungkapnya baru saja.
Tanganku gatal ingin mengeruwes mulutnya, dan untuk mempercepat kegiatan membeli sepatu dengan dalih lihat-lihat dan ingin membeli sepatu baru baginya sendiri aku langsung memasukkan kakiku ke salah satu sepatu datar tanpa model apapun, sederhana saja yang penting tampangku dan sendal jepitku segera keluar dari sini.
__ADS_1
“Yakin cuma ini aja, Ras? Aku lagi baik lho, baru punya pacar lagi aku! Jadi ayo di borong, aku traktir. Nggak usah malu-malu gitulah...” Dominic menyeringai. Semprul, aku menunduk dengan pipi yang bersemu. Padahal akal sehatku ingin segera menghilang dari sini secepatnya.
...🖤...