
Aku tahu Kendranata dan Pranata lahir dari rahim yang sama di waktu nyaris tak berbeda. Mungkin cuma detik yang membedakan usia mereka. Aku tahu ambisi besar Pranata, namun apa mungkin ambisi besar itu juga mendarah daging dalam tubuh Kendranata di balik sikap sopannya yang terasa menjegal langkahku ke masa depan.
“Dendam.”
Kalimat itu seakan-akan tidak mungkin dilakukan keluarga priyayi, tidak mungkin mereka punya niat jahat kepadaku atau Dominic. Ini sudah dua tahun berlalu. Dominic tidak salah, dia bahkan tidak meminta Pranata untuk pergi menggantikannya. Tetapi Pranata sendiri yang memintanya. Persahabatan mereka sempurna, keduanya saling mendukung terlepas dari cinta yang membuat kisah ini keruh selamanya. Menjalar ke mana-mana. Dan membekas tanpa sisa.
Harusnya usai. Selesai. Setelah semua yang tertinggal di sini lenyap dari mataku, namun sosok Kendranata mengubah jalan pintas yang kuambil dengan Dominic.
Hari-hariku mulai diisi dengan kegelisahan setelah berjumpa dengannya mau pun setelah menenggak kopi hitam segelas yang membuatku terbang ke awang-awang.
Mataku sulit terpejam, pikiranku melayang kemana pun. Mengembara setiap kenangan yang mengisi ruang sepiku. Melambungkan imajinasi liar tentang Kendranata. Mungkin dia berbeda dengan Pranata, bisa saja. Tak kenal maka tak sayang. Tapi Dominic telah mengikatku. Cincin ini berkilauan di bawah sinar lampu tidur.
Aku meraih ponselku dan menghubunginya di pukul setengah dua pagi. Aku perlu menunggu sampai enam panggilan sebelum sapaannya terdengar merdu di telingaku.
“Domi... Aku ganggu tidur kamu?”
“Ganggu banget, Ras.” Terdengar ia menguap lebar-lebar sampai dia menulari ku untuk menguap. “Masih nggak bisa tidur dari tadi?”
“Aku mikirin kamu, mikirin kita.”
“Yakin? Apa cuma karena kafein terus pikiranmu ke mana-mana? Ras... Jangan coba-coba minum kopi hitam lagi, lambungmu tambah tersiksa nanti.” katanya lembut sekaligus tegas. “Yang kemarin anggap aja emosi, bukan benar-benar nyuruh kamu minum kopi!”
“Aku tahu rasanya jadi kamu sekarang, Dom. Aku mau jujur sama kamu. Sejujurnya.”
“Nggak, nggak usah sekarang ngomongnya. Aku benci nada suaramu, Ras!” sergahnya cepat.
“Kenapa?”
“Perasaanmu kacau, aku yakin!” Dominic kembali menguasai keresahanku dan tahu betul hati kecilku sedang di amuk kenangan. Sekarang aku yakin dia ikut resah karena ucapanku.
“Seminggu lagi aku ke kotamu buat ukur baju sekalian cerita.”
“Aku buat salah sama kamu.” balasku cepat. “Aku nekat ke Surakarta, aku ketemu Kendranata. Aku butuh kamu, Dom. Butuh kamu lebih dari apapun sekarang. Pikiranku capek, aku pingin tanya semuanya sama kamu. Semuanya tanpa perlu kamu tutupi lagi dan aku tutupi.”
“Ya Tuhan, jam segini curhat.” Dominic mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Aku menatap layar ponselku dengan mimik kecewa. Dominic pasti sakit hati, aku tahu, namun aku tidak mampu menyembunyikannya.
Kemarahan bapak menghantuiku.
Kedatangan Kendranata menakutkan.
Kemarahan Dominic aku hindari.
Jauh di lubuk hatiku, aku cemas. Aku takut jauh dari Dominic. Aku tidak rela dia kenapa-napa. Aku takut dendam itu menyakiti kami berdua dan menghancurkan kami hingga jauh dari kata bahagia.
*
*
*
Dalam keremangan lampu kamar. Aku menyimak paras lelaki yang duduk di tepi tempat tidur dengan saksama. Aku perlu mengerjapkan mata berulang kali untuk melihat apakah dia cuma sebatas mimpi atau nyata.
“Tidur jam berapa kamu?”
“Domi.” Aku merapatkan diri sampai menutup celah tipis dari tubuh kami yang merebah di tempat tidur. “Jangan di lepas.” Tanganku mengetat di punggungnya.
“Buset, agresif juga kamu, Ras.” Dominic terkekeh sembari membiarkan wajahku menempel di dadanya selama beberapa saat. Dia bukan mimpiku, dia datang, nyata, seseorang yang kutunggu-tunggu hadir di sini. Di pelukan penyesalan dan kenyamanan yang ku damba semalaman.
“Domi, aku susah napas.” kataku sambil menepuk pundaknya. Ia mengangkat wajahnya yang beristirahat di bahu lalu tersenyum kecil. Matanya menatapku dengan kantuk yang ia tahan sementara semburat merah terlihat di kelopak matanya yang indah.
“Kamu jauh-jauh ke sini buat aku? Iya?” tanyaku sambil memegang kedua sisi pinggangnya.
Dominic menyorotku dengan tatapan lelah dan ingin putus asa. Sebelah tangannya mengelus pipiku dan merapikan rambut, sebelah tangannya menopang berat tubuhnya. Dominic menarik napas dalam-dalam.
“Jujur aku ngantuk, Ras. Aku bosen naik kereta bolak-balik Jogja Malang cuma buat ngurus kamu dan lihat kamu kayak tadi, aku jadi pingin cepat-cepat nidurin kamu.”
Aku memaling wajah. “Banyak yang akan kita urus dan luruskan, Domi. Jangan—”
“Punyaku sudah.” Bibirnya melahap habis bibirku seolah ia benar-benar ingin melahap apa yang tersaji di depan matanya sekarang. Kakinya yang tertahan di pinggir dipan merangkak naik, menggenapi tubuhku di atas tempat tidurnya.
__ADS_1
“Niatku meminangmu sudah lurus, jangan patahkan niatku, Ras.” Dominic memandangku dengan wajah mengiba.
Aku mengusap bibirnya yang begitu basah dengan ibu jariku.
“Kamu marah sekarang? Kamu butuh pelampiasan?” tanyaku dengan suara gemetar.
“Bukan pelampiasan, tapi kamu... Ras. Kamu yang mati-matian aku singkirkan dari keluarga Pranata, tapi justru kamu sendiri yang menjatuhkan diri lagi di sana!” Dominic menjatuhkan keningnya di keningku.
“Jujur aku capek banget, Ras. Keluar dulu dari kamarku sebelum kita bicara lagi.” ucapnya tegas dan emosional.
Aku berusaha menggeser posisiku yang terbetot di bawahnya untuk memberi ruang istirahat. “Dari kemarin aku tidur di sini. Tidur gih. Aku keluar kalau kamu udah tidur.”
“Aku lupa, kadang-kadang aku bisa menghadapimu sebagai sahabat tapi juga seorang tunangan. Aku lupa, Ras. Ada dua status yang bisa kita jalani. Tapi untuk sekarang aku lebih suka menghadapimu sebagai seorang sahabat.”
“Tapi sahabat nggak ada yang cium bibir sahabatnya!” tukas ku.
Dominic menyeringai, dia melepas jaket seraya menutup lampu meja dengan barang itu hingga suasana kamar terlihat semakin gelap. Tembusan cahaya matahari tak benar-benar menyusup ke kamar ini. Mungkin di luar mendung. Mendukung suasana untuk berdua saja.
Dominic merebahkan tubuhnya di sisiku seraya mengalungkan tangannya di lenganku.
“Karena aku menerimamu apa adanya sebagai sahabat, tidak sebagai tunanganku!”
“Maksudnya?” Aku memberi jeda dengan memiringkan tubuhku menghadapnya. “Kamu juga pernah cium sahabat perempuanmu yang lain hanya karena kamu menerima mereka apa adanya?” tanyaku dengan intonasi kelu.
“Cuma kamu yang aku akui sebagai sahabat perempuan, yang lain cuma mampir lewat.”
“Oh,” Aku memasang muka kecut. “Kamu ngantuk, kamu bisa istirahat biar aku keluar. Takut bapak marah.” Berusaha bangkit dari kasur, Dominic menahan pergelangan tanganku dan membuatku menoleh.
“Tidak akan selamanya kita hidup sebagai dua orang sahabat, Ras. Mau nggak mau status kita berubah. Aturan mainnya juga berubah. Aku mau kamu lebih menghargaiku sebagai tunanganmu!”
Di keremangan siang yang berisi kecamuk batin, dan gerimis merembetkan irama hujan di atas genteng. Aku mencium kening Dominic dan mengelus pipinya sebelum gegas keluar bertepatan dengan hujan lokal. Bapak mengguyurku dengan seember air sumur dilengkapi suaranya yang terus menerus mengandung bara.
“Perawan tangi awan-awan, mau rezekimu di patok ayam?” dengusnya sebal sambil mengeluarkan kain pel dari ruang perabotan.
Aku bergeming dengan tubuh basah kuyup. “Klebus jobo-jero. Klebus!” (Basah luar-dalam. Basah!”
__ADS_1
🖤