
Masih tentangku dengan cinta pertama dan Malioboro yang tak lekang oleh waktu meski sekarang rasanya lebih nyaman berjalan di sepanjang emperan toko tanpa perlu berdesak-desakan seperti dulu.
Aku termenung sekarang, dulu kecanggunganku tidak terelakkan sampai-sampai aku sempat melihat orang yang berlalu lalang setelah Pranata memberi pertanyaan maukah aku menjadi pacarnya.
Aku tak yakin dia serius, kenapa aku dari sekian banyak gadis yang ia jumpai. Apa karena setiap hari kita bertemu, makan masakan yang sama lalu kadang-kadang berbagi cerita di bawah pohon rambutan untuk mengusir jenuh yang datang tanpa diundang-undang? Atau karena setelah enam bulan kami sering mengunjungi tempat-tempat wisata di Jogja hingga menumbuhkan tunas yang bernama asmara?
Pranata menggilas putung rokoknya di aspal. Dengan sabar dia meyakinkanku lebih tangguh dari ajakan pertama. “Aku sungguh-sungguh, Rasty. Aku suka sama kamu setelah kita melewati beberapa perjalanan kemarin walau ada Dominic di antara kita. Sekarang, aku mau bilang. Kamu mau jadi kekasihku?” ulangnya dengan lembut.
Aku yang kikuk dan ragu-ragu menerima Pranata dengan anggukan kepala. Sementara telapak tanganku basah, jantungku terus berdetak-detak dan senyum Pranata membuatku menundukkan kepala.
Habis ini gimana, gandengan tangan? Atau gimana? Kok aku bingung. Rastanty—Rastanty, kok malah mikir ke mana-mana, belum tentu Pranata benar-benar suka sama kamu. Bisa jadi dia bercanda. Eelah. Pengen aku tutupi mukaku dengan plastik hitam.
“Yakin, mau? Emangnya kamu juga suka sama aku, Ras?” bisik Pranata.
Aku mendongak dan kepalaku membentur dagunya yang terlalu dekat dengan kepalaku. “Maaf nggak sengaja,” aku beringsut mundur, menempel lebih baik pada dinding. “Tadi kamu tanya aku mau nggak jadi kekasihmu, aku jawab mau terus emangnya harus suka duluan baru bisa pacaran?”
“Rastanty,” Pranata memegang kepalanya dengan kedua tangannya seolah sedang frustasi, “kamu nggak pernah suka sama cowok? Di sekolahmu dulu gitu nggak pernah? Minimal waktu SMA?” tanyanya beruntun.
“Ya pernah, tapi nggak sampai pacaran. Kenapa, Pra? Aneh?”
“Jelas, Rastanty. Bagaimana mungkin kita jadian tapi kamu nggak suka sama aku.” urainya cemas.
“Nanti juga pasti suka, Pra. Yang penting rasa sukamu nggak bertepuk sebelah tangan dan kamu juga nggak malu udah bilang suka sama aku tapi aku tolak.”
Pranata menyunggingkan senyum lega. “Makasih ya,”
“Iya.”
Kami tersenyum diiringi rintik-rintik hujan yang mulai menyentuh wajah kami seolah alam semesta memberi waktu bagi kami untuk bermesra. Pranata menyeret tanganku dari yang tadinya kami berada di parkiran motor ke tengah sesaknya emperan toko Malioboro bersama pengunjung dan penjual yang berusaha meneduhkan jualan dan diri sendiri dari derasnya hujan yang tiba-tiba mengguyur tempat ini.
Pranata mengalungkan kedua tangannya di leherku dari belakang sementara aku sudah seperti paku yang tertancap di bumi. Pranata seolah langsung mengklaim aku kekasihnya di depan orang-orang asing
“Lapar nggak, Ras? Mau makan?” tanyanya waktu itu alih-alih bertanya apa aku kedinginan dan butuh jaketnya sementara kadangkala berhembus kencang.
“Aku cuma takut nanti waktu pulang dimarahin bapak, Pra. Aku keluar sama kamu nggak pamitan.” ucapku sambil menahan dress agar tak tersingkap angin.
__ADS_1
“Nanti aku yang bilang!” Pranata menopangkan dagunya di kepalaku, “Apa kamu suka seperti ini? Terus berangkat ke kampus mau bareng apa sendiri-sendiri, Ras?”
“Aku gak tau, Pra. Cuma kepalamu berat.”
Pranata langsung mengangkat kepalanya lalu mengurai tangannya yang membuatku langsung lega bernapas.
“Ngomong ya kalau kamu nggak nyaman sama perlakuanku.” Dalam aku menatap matanya setelah kami berdiri berdampingan sebelum mengangguk. “Aku nggak yakin kamu benar-benar suka sama aku, Pra? Aku pikir kamu punya tipe sekelas pacar-pacar Dominic yang di bawa ke kost-kostan atau jangan-jangan kamu cuma main-main.”
Secara naluriah Pranata yang tahu Dominic juga menyukaiku walau belum seratus persen mengisi jemariku dengan jarinya.
“Aku dan Dominic berbeda walau pun kita bersahabat dan karena aku ingin melindungi kamu, Ras.”
“Dari apa?” Aku mengernyit saat Pranata tak menjawab, meski sekarang aku sudah tahu jawabannya, Pranata melindungiku dari si brengsek Dominic yang menyukaiku. Dia melindungiku dari sikap main-main Dominic jika dulu ia yang menyatakan rasa suka lebih dulu kepada gadis kuper sepertiku.
*
*
*
Dua teman kost yang menemaninya langsung keluar sambil menyuruhku masuk sementara Dominic sontak beranjak setelah menaruh kartu domino di karpet.
“Belum tidur, Ras?” tanyanya dengan nada senang.
Aku berkacak pinggang dengan sebelah tangan dan menatapnya tajam. Teringat Pranata dan sikap Dominic di masa silam aku malah curiga pria di depanku ini sudah pernah nakal-nakalan dengan mantan-mantannya.
“Ras... Ras...” Dominic menepuk pipiku. “Kamu kenapa, hei... Kok tiba-tiba tegang sendiri terus cariin aku, kangen?”
“Kangen-kangen gundulmu!” Aku mendengus. “Aku ke sini buat tanya-jawab sama kamu.” kataku ketus.
“Santai, Ras.” Dominic mengangkat kedua tangannya, “Aku tertuduh ngapain nih, kok kamu tiba-tiba galak banget malam-malam? Aku salah apa?” katanya tenang.
“Aku bisa membuatmu mengingatnya.” balasku sambil menatap kamarnya yang tak pernah berubah sejak dia datang ke sini. Rasa penasaran Dominic memuncak, dia ikut mengedarkan pandangannya sama sepertiku ke kamarnya.
“Cari apa? Barang-barang dari Pranata lagi mau kamu ambil?”
__ADS_1
“Gak, tapi kamu!” sahutku sambil menatapnya serius, “Apa kamu pernah bawa mantan-mantanmu ke kamar ini?”
Sontak Dominic mengernyit keras. “Sebelum aku jawab sejujurnya, aku mau tanya dulu Ras, kamu kenapa tiba-tiba tanya-tanya itu? Apa masalahmu?”
“Masalahnya aku nggak mau menerima sisanya.”
“Sisa apa?” tanya Dominic mulai tak sabar. “Jelasin dulu maksudnya apa kenapa kamu tiba-tiba mengorek masa laluku, Ras. Aku jawab pasti!”
Aku tahu aku sudah terbiasa memiliki Dominic sendiri, aku tak yakin jika kini dia menemukan teman baru ‘cewek’ entah dari golongan mana yang lebih baik dari sikapku aku akan baik-baik saja.
Aku mengerucut bibir. “Aku ingat dulu Pranata ingin melindungiku dari sikap brengsekmu, makanya dia ngajak aku pacaran dulu sebelum kamu yang ngajak aku pacaran. Sekarang aku tanya kamu pernah bawa pacarmu ke kamar ini terus melakukan itu!”
“Itu?” Dominic tersenyum samar namun ia terdiam untuk waktu yang lama. Aku menunggunya mengakui sambil melipat kedua tangan.
Dominic tersenyum, tangannya menyelipkan rambutku di belakang telinga.
“Aku nggak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, Ras. Cuma aku tidak pernah bertindak melebihi batas. Cuma ciuman, pangku-pangkuan, terus...”
“Terus apa!” bentakku.
“Pelukan, Ras.” katanya sabar. “Udah dong, gak baik bahas-bahas masa lalu. Kita punya masa depan yang masih buram lho, jangan nambah-nambah persoalan baru.” keluhnya.
Dominic menyelipkan rambutku di telinga satunya. “Percaya ya.”
“Tapi wajahmu nggak meyakinkan, Dom. Aku nggak percaya!”
“Ya udahlah terserah.” Bibir Dominic menipis. “Lagian masa laluku di ungkit-ungkit, salah sendiri penasaran.”
“Ya kan aku cuma memastikan aku yang pertama bagimu, salahku dimana?” sahutku cemberut, “Dominic nggak seru, sebel.”
“Salah lagi, salah terus.” Dominic memegang kedua lenganku sebelum aku berusaha berbalik. “Aku pernah bawa Putri ke sini, puas?”
PLAK.
Aku menampar pipinya sebelum menginjak kakinya kuat-kuat. “Jahat!”
__ADS_1
...🖤...