
Dominic bersiul santai sembari melangkah ke sofa gemuk nan empuk di ruang keluarga. Dibelakangnya, aku sudah dia mewanti-wanti agar nanti iya-iya saja waktu rapat keluarga. Semua kendali dia yang atur, semuanya serta akal bulusnya.
Padahal bisa saja orang tua apalagi nenek silver akalnya lebih bulus dan mulus daripada dia. Tapi aku biar saja dia melangkah dengan percaya diri dan tegak tak tertandingi seolah-olah aku mendukungnya seratus persen agar rencananya berhasil padahal aku, ya, mau bagaimana lagi, menjadi Cinderella butuh perjuangan dan uang.
“Sayang... Sini duduk dekat mama.” Marisa mengelus kulit sofa di dekatnya. “Jangan sama Dominic terus nanti bosen, ya. Sama mama lebih asyik.”
Aku mengunyah permen sembari mengangguk, sesaat setelah aku duduk Marisa langsung memeluk perutku. Menempel bagai bestie yang sedang dibuai mimpi-mimpi.
“Cucu mama, cucu mama... Hei, how are you today!? All good, dear? Hungry?”
Aku menatap Dominic yang duduk di samping Bapak sembari merasakan perutku di elus-elus Marisa. Aku mengalihkan pandanganku, menatap Bapak dengan mata melebar. Tolonglah, batinku. Kendalikan istrimu... pak.
Prambudi mengulum setengah bibirnya. Tubuh jangkungnya yang telah membungkuk bersandar ke sofa dan ia mengembuskan napas lega.
“Syukurlah. Bapak tambah semangat kerja.”
Aku menyeringai. Mataku beralih ke pria yang telah memilih nama anak pertama, kedua dan ketiga semalam sampai jam dua pagi. Bayangkan betapa ngantuknya aku mendengarnya memilih, menimbang-nimbang baik dan buruknya, lalu mengesahkan nama-nama anak kami baik laki atau perempuan ke dalam selembar kertas.
“Kok kebalik, Pak. Mas Dominic saja katanya jadi malas kerja lho. Maunya cuma di rumah, lihat aku sama perutku.”
Marisa menghentikan keakraban dan obrolan ga jelasnya dengan janin yang sedang tumbuh di perutku.
“Mama tidak izinkan kamu hanya leha-leha di rumah, Domi. Kau harusnya semangat kerja... kerja... kerja... untuk pesta kehamilan cucuku ini! Kamu malah cuma pingin lihat perut? Why, ada apanya?” Tatapan Marisa menusuk ke mata Dominic dengan serius.
Dominic meraba saku celananya. Selembar kertas yang terlipat rapi ia buka perlahan dengan gerak-gerik yang sudah aku pahami. Seringai komedinya terlihat, kembali ia meraba isi saku celananya. Keluarlah pulpen hitam sebagai alat terakhir untuk melakukan pengagalan atas niat seisi keluarga memberi anaknya nama pertama tanpa persetujuannya.
Dominic menatap orang tuanya, neneknya, dan tersenyum.
“Aku dan Rastanty mengajukan permohonan kepada yang terhormat Bapak-Ibu kandung/mertua dan nenek tercinta bahwa nama anak pertama kami, kami harus iuran pendapat. Ini hak eksklusif selaku orang tua dan pembuatnya.” Dominic meletakkan kedua alat negosiasinya di meja. ”Jadi mama, bapak dan nenekku yang tercinta ini nama-nama yang kami pilih, urusan nama besar kalian bisa atur sesuka hati.”
Prambudi menyahut kertasnya dan membacanya dengan teliti sambil sesekali tersenyum-senyum.
__ADS_1
“Semua orang di rumah wajib mencentang salah satu nama dan tanda tangan.” Bapak menjelaskan duduk perkaranya, Dominic berdehem disertai anggukan kepala.
“Milih nama anak saja mirip pemilu!” Prambudi geleng-geleng kepala dan kembali mengamati nama yang sudah Dominic buat semalam. Aku menyeringai dalam hati, emang dasar keturunan sampean semuanya aneh pak... eh aku juga iya, ya... ketularan.
Marisa geleng-geleng kepala, giliran ia yang memilih namanya sembari menyilangkan kakinya dengan anggun. Bibirnya komat-kamit, sedikit-sedikit wajahnya terlihat memperhitungkan segala keputusannya.
“I love Diana, ini saja bagus.” Tanpa pikir panjang sekali lagi dia menyelesaikan. Tibalah kertas itu ke tangan nenek serba benar yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan.
“Saran yang baik. Nenek tebak semalaman kalian langsung berdiskusi dan menghamburkan banyak waktu untuk memilih nama-nama terbaik ini.” Pasty Dwayne berdecak kagum.
“Nenek pilih Diana Dwayne... tunggu.” Ia mengamatiku, ”Apa nama keluarga besarmu, Rastanty?”
“Nama keluarga besar hanya untuk kalangan priyayi, Nenek. Keluargaku tidak ada nama besar, bebas. Biasa-biasa saja.”
“Siapa nama bapakmu?”
“Budi.”
“Di sini nama besar rata-rata hanya berlaku untuk keluarga priyayi atau suatu golongan tertentu, mama. Kalau seperti keluarga Rastanty, yang penting artinya baik dan normal diucapkan lidah orang Jawa.” jelas Bapak santai.
“Oh... Begini saja, jika anak kalian laki-laki, beri nama Budiman. Itu jalan pintas yang bagus. Tidak Budi atau Prambudi.”
Yungalah... Selain nenek, kami semua langsung menyandarkan tubuh ke sofa sembari menggelengkan kepala.
“Kenapa?” tanya nenek sambil berkacak pinggang, ia memuaskan matanya menatap ekspresi kami yang diguncang komedi. “Apa pilihan nama nenek tidak bagus?”
“Bagus nenek, bagus sekali dan adil.” Aku mengangguk lega dan mengucapkan terima kasih atas saran yang menggelitik ulu hatiku. Sudah seneng banget punya suami setengah internasional, giliran punya anak namanya klasik banget. Nenek...
Dominic merenggangkan kedua lengannya ke atas dan memungut kertas di pangkuan neneknya setelah terbatuk-batuk untuk mengurangi keinginannya tertawa.
“Kita cari pak Tedy dan Mbak Iyah, Ras. Urusan pemilu anak kita harus diselesaikan secepat-cepatnya.” Dominic berdiri dengan sikap patriotisme. “Kami permisi sebentar para pini sepuh, selamat pagi.”
__ADS_1
Marisa mengomelinya panjang pendek, tidak terima di sebut pini sepuh sementara kulitnya masih bersinar, halus dan lembut.
Aku mendorong bahu Dominic dari belakang ketika sudah di halaman rumah, “Iseng banget kamu, tahu mama sering senewen kalo kulitnya yang hampir tua kamu bicarakan.”
Ganti Dominic yang mendorong keningku. “Hampir tua?” Ia berdecak, “Sama aja coyyy... Ma... Mama, Rastanty bilang mama hampir tua!!!”
Kami terbahak diiringi jeritan tidak terima dari Marisa. Sebelum ia menemukan kami untuk mengomel, Dominic mengajakku ke tempat persembunyian. Berjongkok di atas rumput, di balik pagar rumah, napasku terengah, jantungku berdetak kencang, tetapi dengan situasi begini aku dan Dominic terkikik geli seraya mengintip dari celah-celah sempit seperti maling di pagi hari.
Marisa celingukan sambil berkacak pinggang. Ia bertanya Pak Tedy kami dimana, Pak Tedy yang sudah di ancam Dominic geleng-geleng kepala. Marisa menggerutu seraya masuk ke dalam rumah.
“Lagian anak belum lahir sudah diperebutkan.” keluh Dominic memutar tubuh, sekarang kami menghadap jalan perumahan yang lengang dan asri. Di depan kami tumbuh berderet-deret pohon pucuk merah yang terawat.
Aku menggaruk keningku. “Terus kamu setuju anak kita di beri nama Budiman?”
Dominic memperhatikan sejenak nama-nama yang ada di kertasnya sebelum menyimpannya di saku celana.
“Semalam aku sudah pusing-pusing cari nama yang keren-keren biar nanti jadi idola sekolah dan idola wanita, sementara nama Budiman langsung mengambil posisi paling atas nominasi nama anak kita.. Edan tenan iki rek.” Dominic mengacak-acak rambutnya.
“Tapi kamu tetap setuju gak?” tanyaku penasaran.
“Gimana aku bisa nolak, nenek yang minta, Ras!”
Hanya beberapa saat setelah tertawa hahaha hihihi di luar rumah. Hujan tanpa mendung dan tidak terprediksi kan mengguyur tubuh kami. Seember air yang wadahnya ikut terjatuh menutupi kepala Dominic.
“Mama balas perbuatan kalian! Rasakan akibatnya!!!” Tawa penuh kemenangan memekakkan telinga, tetapi yang paling dzalim dalam pembalasan ini, kertas pemilu hasil pemilihan umum nama anak-anak kami ikut basah dan pasti hancur.
Aku menyingkirkan ember dari kepala Dominic sambil menahan tawa. Wajahnya yang kuyup terlihat kecut seperti mangga muda.
“Diana dan Budiman, itu pilihannya untuk nama anak pertama kita. Kamu nggak usah pusing, mi amor. Mending kita mandi, main busa.” Aku menaik-turunkan alisku sambil mengusap air di kedua alisnya. ”Terus makan, ke kantor, mau kan? Mau dong, kamu laki-laki terhebat dan terkeren yang aku miliki.”
Dominic menyugar rambutnya dengan gaya seraya mengangguk-anggukkan kepala. “Itu pasti, Ras! Aku yang paling hebat.”
__ADS_1
(´-﹏-`;)Dasar