
Begitu mendapatkan hot news yang lebih panas dari matahari pagi ini dari ibuku, Dominic langsung berkacak pinggang. Dia menatapku, suket teki versi baru di tanganku, dan satu-satunya ayam yang ada di halaman rumah.
Aku sudah sangat yakin dia akan memprotes tindakanku, kenakalan ayam itu juga kecerobohannya sendiri menaruh pot ayam sembarangan di bawah pohon rambutan yang jelas-jelas sering menjadi tempat nongkrong para ayam tetangga.
Kami lupa tempat ini bukan hanya menjadi tempat nongkrong anak-anak kost, aku pun sama. Semalam aku tidak tahu harus mengungkapkan apa selain membatin bawah kita berdua terlalu sinting. Berniat menumbuhkan suket teki ini yang kadang hanya menjadi hama tanaman. Terus jika begini menjadi salah siapa? Ayam yang menyenggolnya, membuat mati suket teki Dominic yang kini berada di kantong celanaku. Oh sungguh mengenaskan pagi hariku. Dan pasti berita serta bukti yang kusimpan akan menggores kesadaran Dominic.
Dominic berdecak, saling pandang denganku. Apakah ini sudah waktunya mengeluarkan hot news di kantongku?
Aku meringis lebar, sampai gigiku kering. Aku tak sanggup berucap ditambah ibuku yang sedang menyapu mengeluarkan hot news lainnya saat aku mengomel tadi hingga kekalahanku semakin telak ketika tangannya meraba kantong celanaku.
Dominic mengeluarkan rumputnya yang sudah tak berbentuk. Di depan mataku dia gantung satu daun langsingnya.
“Sudah mati sebelum tumbuh.” ucapnya sedih lalu tangannya meremasnya semakin hancur. “Yaudalah, aku lupa ayam tetanggamu suka main terus nggak bisa baca tulisan!” tandasnya pasrah. Ia campakkan rumput itu ke tanah seraya menghela napas.
“Padahal aku sudah percaya dia akan tumbuh dan kuat sepertiku!” katanya mangkel.
__ADS_1
“Terus?” tanyaku dengan alis terangkat sebelah. Setelah beberapa saat aku mati-matian mencoba bertahan dengan menahan pot rumput liar ini sendirian, aku menaruhnya ke tanah. Kami sama-sama tak memakai alas kaki. Memijak bumi, menyatu dengan alam.
“Kok kamu nggak inisiatif buat ngasih perlindungan gitu, Ras? Kayak aku melindungimu selama ini lho. . .”
“Maksudmu aku harus ngasih pagar gitu? Atau penutup?” Aku berkacak pinggang, tidak bisa mundur lagi. Aku sudah sangat kalah dan argumentasi Dominic memancingku menuju kekesalan. Bagaimana mungkin kami harus segila ini? Ya Tuhan, hidup memang pilihan, dan yang telah datang bahkan yang telah pergi akan slalu memberi arti. Tetapi jika hamba bisa protes, kenapa harus Dominic Tuhan?
Mulut Dominic yang sudah terbuka, urung mengatakan sesuatu saat aku mengomelinya lagi.
“Gak usah ngada-ada ya, kita bisa menumbuhkan yang lain. Yang lebih bisa kita rawat dan membuahkan hasil. Bukan suket teki Dominic, ayolah. Ini cuma rumput walaupun dari alun-alun kidul. Aku bakal mengingatnya terus dari kamu.” sumpahku sungguh-sungguh, akan kuingat semua rumput menjadi jelmaan Dominic atau jika perlu aku akan menempeli jidatku dengan fotonya.
Di saat nyaris bersamaan ucapanku selesai, ibu nimbrung masih dengan membawa sapu lidinya. Dia menatapku dan Dominic bergantian dan rupanya ibu masih ketagihan untuk nimbrung dengan urusan kami.
Aku buru-buru membetulkan celanaku yang melorot sebelah ketika tadi Dominic menjejalkan tangannya terlalu kuat.
“Gak berantem, buk. Cuma Domi ini lho, ngajak edan. Masa aku harus inisiatif ngasih tanamannya perlindungan. Ini kan cuma suket buk, kalo mau dijual juga nggak laku. Kurang banyak, emang cocoknya jadi mainan ayam!” cerocosku panjang.
__ADS_1
Ibu meringis lebar, seolah aku bagai badut yang membawa tawa dan cerita. Dua orang ini kompak terkikik kemudian tanpa sedikit pun rasa berempati padaku yang telah berusaha ngacir ke alun-alun kidul.
“Rastanty, Rastanty.” Dominic terlihat menahan tawa gelinya dan buru-buru dia meraih pinggangku. “Aku suka lho caramu berjuang untuk menutupi kesalahan ayam itu, Ras. Kamu pasti mau jaga perasaan aku kan? Kamu pengen hubungan ini terlebih baik-baik saja?” godanya dengan senyum yang merekah, mata indahnya menusuk mataku yang hanya beberapa centimeter dari wajahnya.
Dominic mendekatkan tubuhnya, perlahan-lahan wajahku mulai memerah.
Ibu berdehem-dehem tanpa berminat memisahkan orang ini dari anaknya yang mulai ternodai sikap Dominic. Beliau seakan telah sangat berminat melihat anaknya di pinang, tak mendapat slogan perawan tua dan kemudian mempunyai cucu yang lucu yang bisa ia timang-timang dan ia nyanyikan nina bobo.
Aku mendesis marah. Belum waktunya ibu, belum waktunya. Tunggu dulu, sekurang-kurangnya setahun lah. Ini juga tangan kenapa sering banget ke sana kesini sekarang.
“Yee, lepasin gak?” Aku spontan menusuk perutnya dengan jari telunjukku. Dominic sontak melonjak mundur, kegelian. Dia memegang perutnya dengan ekspresi yang tak surut dari kegelian.
“Aku sulit berkata-kata, Ras.” ungkapnya sambil menghela napas. “Kamu lucu banget, pantas Pranata dulu sering cerita kelakuanmu mirip ulat bulu. Dia gatel sama kamu, cuma nggak berani garuk-garuk kamu takut lecet.”
Dominic mengacak-acak rambutku dengan tatapan lembut. “Aku udah sangat-sangat mengerti mu, Ras. Jadi nggak usah coba-coba bohong sama aku ya!”
__ADS_1
Rahangku jatuh, mulutku ternganga. Siapa yang coba-coba bohong. Aku cuma... Percuma aku menyangkalnya. Aku hanya mencoba membuat hari ini baik-baik saja untuk menjalani jam-jam berikutnya dengan santai dan tenang. Tapi semua ambyar seketika gara-gara ibuku, gara-gara kepekaan hati Dominic dan ayam sialan milik tetangga itu. Oh tiada maaf bagimu ayam, tunggu pembalasanku!
...🖤...